Meramal Nasib PKS

Setelah terungkapnya patgulipat dalam impor sapi dan ditangkapnya LHI, PKS berada dalam turbulensi tinggi. Kemantapan PKS dengan targetnya masuk tiga besar pemilu 2014 mulai goyah. Melalui Cyber army-nya di jejaring sosial, PKS lancarkan pembelaan dengan berargumen bahwa PKS dizalimi, konspirasi Yahudi dan serangan media.
Kasus ini memang meruntuhkan brand utama PKS sebagai partai bersih, dibandingkan dengan partai-partai lainnya. Brand ini dibangun susah payah sejak kelahirannya dan ter simbol melalui jargon “bersih dan peduli” yang entah kenapa sekarang digantikan ” cinta, kerja dan harmoni”.

Citra bersih PKS juga dibangun dengan dukungan media. Ya, media tentu saja antusias memberitakan PK dan kemudian menjadi PKS sebagai partai bersih, banyak melakukan kegiatan bakti sosial, didukung kalangan terpelajar dan ketika kampanye selalu berjalan tertib dan tidak meninggalkan sampah di tengah hitam-kelamnya dunia politik di Indonesia.

Inilah logika berpikir media dalam memberitakan sesuatu yang tidak lazim sebagai magnet pemberitaan. Sebagaimana kemudian media juga antusias memberitakan (kader) PKS terlibat korupsi sebagai sesuatu yang tidak lazim. Wajar kan?

Cyber army sebagai strategi pembelaan PKS pun nampaknya hanya menjadi blunder belaka. Apalagi Kader PKS gencar menyerang KPK yang dianggap sebagai benteng pertahanan melawan korupsi di Indonesia. Semakin gencar kader PKS menyerang KPK, bisa jadi semakin tinggi kemuakan kelas menengah terhadap mereka.
Kelas menengah yang selama ini menjadikan PKS sebagai pilihan alternatif bisa jadi memilih pilihan lain, bisa jadi partai lain atau golput.
Tapi apakah PKS lantas bernasib kelam di pemilu 2014.

Jawabannya adalah tidak juga.

PKS sudah membangun strategi meluaskan basis dari urban ke rural dan kelas menengah ke kelas bawah dengan menguasai kementrian yang mengurusi segmen ini. Kementerian pertanian misalnya, terlepas dari hiruk pikuk soal impor sapi, kementerian ini mengurusi hajat petani dari soal pupuk, bantuan alat pertanian sampai yang terpenting adalah penyuluhan pertanian. Penguasaan sektor ini membuat PKS secara luar biasa mampu  meluaskan basis sampai ke akar rumput.

Pun Kementerian Sosial yang berurusan langsung dengan para penyandang masalah kesejahteraan sosial. Sebagai contoh, kegiatan Mensos yang cukup sering dilakukan dan mendapat sorotan media adalah bedah rumah di berbagai pelosok Indonesia.

Kalau kementerian komunikasi dan Informasi sebetulnya strategis untuk masuk ke kelas menengah, namun nampaknya Tifatul sudah kedodoran sejak awal.

***

Sebetulnya jika saja elit PKS bisa menahan diri untuk tetap bersahaja dan konsisten, tidak bergaya hidup mewah dan apalagi terlibat korupsi (yang terungkap) menjelang pemilu, PKS memang bisa masuk tiga besar. Di kalangan kelas menengah PKS tampil sebagai penangguk untung ditengah terpuruknya (citra) partai-partai besar seperti Golkar dan Partai Demokrat. Di kalangan bawah, PKS telah meluaskan basis melalui kementerian Pertanian dan Kementerian Sosial.

Namun strategi gemilang ini dihancurkan oleh LHI sendiri, sebagai panglima perang PKS.

PKS tentu hanya bisa berharap bahwa LHI tidak bersalah dan atau jikapun tidak bersalah strategi terbaik tentu saja “menggarap” petani dan kalangan miskin secara lebih serius.

Itupun jika menteri PKS tidak dipecat oleh SBY karena menikam dalam lipatan dalam kenaikan harga BBM.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s