Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Aku-pun menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana dan kemudian melanjutkan kuliah S2 dan sekarang S3 dalam status sebagai dosen tetap. Artinya titik berangkat menjadi dosen di Indonesia jauh lebih mudah daripada di negara lain yang saya ketahui.

Dalam kondisi semacam ini, tentu saja wajar jika kualitas pendidikan tinggi di Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain yang semua dosennya bergelar Doktor. Hal ini nampaknya disadari pemerintah dengan menggelontorkan beasiswa S2 dan S3 baik di dalam dan luar negeri. Jumlah beasiswanya amat banyak, kabarnya kuota tak pernah tercapai. Namun sayang, pengelolaan beasiswa-nya berjalan buruk, datangnya uang sering terlambat dan banyak ketidakpastian informasi. Walaupun begitu, jumlah penerima manfaat (baca: beasiswa) dari pemerintah cukup besar, sampai tahun 2012, tercatat 29.632 dosen/calon dosen sedang disekolahkan di dalam negeri dengan berbagai skema dan 3662 dosen/calon dosen juga sedang disekolahkan ke luar negeri dengan berbagai skema. (studi.dikti.go.id)

Artinya akan ada lonjakan dosen bergelar master dan doktor dalam beberapa tahun ini, sedangkan diharapkan tak ada lagi dosen bergelar sarjana.

Namun Dosen di Indonesia memang menghadapi persoalan yang tak mudah untuk menghasilkan performance yang baik.

Diluar buruknya fasilitas, perpustakaan atau seringnya tak ada meja kerja bagi dosen (di beberapa banyak kampus), persoalan yang cukup sering dibahas memang soal  penghasilan. Hal ini sudah bolak-balik dibahas di berbagai forum. Terakhir seorang dosen PNS bergelar master lektor IIId diomeli dan dianggap tidak bersyukur karena mengeluhkan gaji-nya yang lebih kecil dari tukang sampah dan penjaga apartemen di perancis. Aku juga pernah menuliskan perbandingan menjadi dosen di indonesia dan malaysia di sini.

Seberapa besar/kecil-kah gaji dosen di Indonesia?

Gaji pokok seorang dosen di Indonesia sama kecilnya dengan PNS lain di Indonesia. Silahkan dilihat disini, golongan satu dan dua PNS di Indonesia lebih kecil dari UMR beberapa Provinsi di Indonesia. kalau dosen pengangkatan pertama IIIb MKG 0 tahun ya gaji pokoknya Rp. 2.278.900, beberapa puluh ribu diatas UMP Jakarta ;). Memang ada tambahan tunjangan beras/istri/anak, jumlahnya beberapa ratus ribu saja. Silahkan bandingkan dengan gaji pertama beberapa perusahaan swasta/bumn berikut disini. Oh ya, ada juga sih beberapa kampus swasta yang menggaji dosennya dengan standar perusahaan swasta yang baik, gaji pertamanya sekitar tiga atau empat kali gaji pertama dosen PNS di Indonesia.

Hmm tapi sejujurnya, dibandingkan dengan pekerjaan lain, dosen adalah pekerjaan yang menarik. Cepat atau lambatnya karir seorang dosen, lebih tergantung dari kapasitas dan produktivitasnya. Semakin produktif menghasilkan karya ilmiah, terutama di Jurnal terakreditasi dikti atau jurnal internasional, semakin cepat laju karirnya.

Seorang dosen di Indonesia memiliki empat jenjang jabatan fungsional (Jafung)/ jabatan akademik dosen.

Mari kita simulasikan bagi mereka bergelar S2 jika berkarir menjadi dosen.

Ketika melamar dan diterima statusnya Tenaga Pengajar, artinya dosen yang belum memiliki jabatan fungsional dosen.  Setelah setahun biasanya sudah boleh mengajukan jafung asisten ahli. Angka kredit asisten ahli IIIb hanya 150 yang sudah pasti bisa didapatkan dari ijazah S2, namun tentu saja mesti tetap ditambah 10 kredit dari kegiatan penelitian, pengajaran dan pengabdian, plus ditambah mesti punya publikasi minimal di jurnal nasional. Sesuai Perpres 65 tahun 2007 tunjangan fungsional jumlahnya Rp.375.000,- sedangkan lektor Rp. 700.000,-

Dua tahun kemudian bisa mengajukan kenaikan ke jabatan fungsional lektor dengan angka kredit 200-399. Artinya mesti mengumpulkan angka kredit sebanyak minimal 100 dari kegiatan tridharma: pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Proses pengajuan ke lektor bisa lebih cepat jika memiliki Jurnal nasional terakreditasi dikti .atau Jurnal internasional bereputasi, bahkan bisa lompat jabatan fungsional.

Nah dua tahun kemudian bisa mengajukan kenaikan ke jabatan fungsional lektor kepala. Jumlah kredit lektor kepala adalah antara 400-849.  Berapa tunjangan lektor kepala? Rp. 900.000,-

Nah, kasta tertinggi di dunia perdosenan adalah menjadi Profesor. Dulu, menjadi profesor syaratnya memiliki angka kredit 850, bergelar doktor, minimal 3 tahun jadi lektor kepala dan punya satu tulisan di jurnal terakreditasi dikti, gampang kan?

Kini sesuai permenPAN 46 2013, syaratnya menjadi jauh lebih sulit karena selain angka kredit minimal 850 seorang LK baru bisa mengajukan menjadi Profesor setelah tiga tahun memiliki ijazah Doktor (kecuali punya tulisan di jurnal internasional berputasi setelah meraih gelar doktor), dua tahun menjadi LK dan memiliki tulisan di Jurnal Internasional bereputasi sebagai penulis pertama, dan minimal 10 tahun menjadi dosen.  Tunjangan seorang Profesor memang hanya Rp. 1.350.000,- namun bisa mendapatkan tunjangan kehormatan sebesar dua kali gaji pokok.

Oh ya, untuk anda yang cemerlang, ada kesempatan lompat dari asisten ahli ke lektor kepala dan dari lektor ke guru besar. Perhatikan tabel di bawah ini:

Screenshot 2014-08-05 12.51.28

Hmm berikut tabel tunjangan fungsional dosen menurut Perpres 65 tahun 2007 yang beberap kali saya sebutkan di atas:

Screen Shot 2013-05-18 at 6.45.16 PM

Oh ya, sumber pendapatan lain bagi dosen adalah sertifikasi dosen yang sudah berjalan beberapa tahun lalu. Jumlah tunjangan sertifikasi dosen adalah satu kali gaji pokok. Namun baru 47% dosen di Indonesia yang tersertifikasi, sisanya 57% belum bersertifikasi yang artinya juga belum mendapatkan tunjangannya.(http://www.koran-sindo.com/node/313281).  baru 39% dosen Indonesia yang sudah tersertifikasi. Sisanya, 69% belum tersertifikasi. Syarat sertifikasi juga (dibuat) semakin berbelit dan aneh sulit. Tahun ini ada syarat berkas tambahan, sertifikat TOEFL dan TPA yang entah apa hubungannya dengan sertifikasi dosen.

Karena itulah, menjadi Profesor secepat mungkin adalah jalan terbaik dalam berkarir sebagai dosen. Dari sisi finansial, bisa mendapatkan empat kali gaji pokok, plus tunjangan fungsional guru besar. Mari kita hitung secara kasar, katakanlah seorang profesor golongan IVd dengan MKG 10 tahun dengan gaji pokok Rp. 3.412.000, maka take home pay-nya adalah (Rp. 3.412.000,-X4) + Rp. 1.350.000,-. = Rp. 14. 998.000,-.

Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dari Lektor Kepala IIId MKG 10 tahun yang mendapatkan (Rp. 2. 801.000,- X 2) + Rp. 900.000,- = Rp. 6.502.000,-.

Jika punya jabatan, maka akan mendapatkan pendapatan tambahan sebagai berikut (Perpres 65 tahun 2007):

Screen Shot 2013-05-18 at 6.27.20 PM

Maka, karena besarnya jumlah pendapatan Profesor, jumlah dosen yang mengajukan diri menjadi profesor melonjak drastis. Menurut Supriadi Rustad, hanya 30% yang diterima dalam pengajuan menjadi Profesor setiap bulannya. Sisanya, 70% ditolak karena berbagai alasan antara lain: karena alasan pelanggaran etika dan profesionalisme, seperti pemalsuan dokumen karya ilmiah. Pemalsuan itu seperti mencantumkan jurnal rakitan, jurnal ”bodong”, artikel sisipan, label akreditasi palsu, nama pengarang sisipan, buku lama sampul baru, dan nama pengarang berbeda. (www.suaramerdeka.com). masih menurut Supriadi Rustad, pada tahun 2012 di Ditjen Dikti dari pengajuan Profesor  sebanyak 115 orang, hanya 77 orang yang layak menjadi Profesor. (http://www.jpnn.com/read/2013/02/09/157651/Gelar-Guru-Besar-tak-Sembarangan-)

Namun tentu saja tak bisa kita menggeneralisir bahwa semua orang yang mengajukan jabatan fungsional adalah mereka yang menghalalkan segala cara. Entah kenapa, ada saja orang-orang yang membuat opini negatif tentang orang-orang yang mengajukan diri menjadi Profesor. Coba saja baca tulisan ini http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/28/akal-akalan-dosen-busuk-untuk-menjadi-profesor-550981.html. Sayangnya tulisan tak berimbang semacam ini tersebar luas dan kemudian membuat opini kuat bahwa mereka yang mengajukan jabatan fungsional Profesor adalah dosen mata duitan dan menghalalkan segala cara.

Apakah semua begitu?

Padahal  kalau mau berpikir lebih seimbang — tanpa memungkiri banyak yang curang juga — ada juga dosen yang menjadi Profesor karena bekerja keras dan jujur, bahkan mendapatkannya di usia muda. Contoh cukup baik misalnya Agung Eko Nugroho di UGM atau Eko Prasojo dan Ibnu Hamad di UI. silahkan baca tulisan tentang menjadi Profesor (Guru Besar) disini. Kemudian menurut peraturan terbaru, profesor juga memiliki kewajiban khusus berupa menulis di jurnal internasional, menyebarluaskan ilmu (presentasi di seminar) dan menulis buku, yang dievaluasi setiap lima tahun.

Jadi seperti ide awal di tulisan ini, karir dosen memang tergantung dari seberapa kompetensi dan produktivitas seorang dosen. Jika Ia produktif dan bersekolah dengan semangat sampai S3, maka laju karirnya juga bisa cepat. Namun jika malas sekolah dan juga tidak produktif meneliti dan publikasi, tentu saja akan terlindas zaman.

Berbagai perubahan ini menimbulkan dampak serius. Ada (sebagian) dosen yang telanjur berumur dan belum sekolah Doktor yang karirnya terancam  mengalami stagnasi.  Sebaliknya ada juga (sebagian) dosen  yang sudah/ sedang bersekolah Doktor baik di dalam dan luar negeri yang bisa melaju karirnya. Namun juga tidak mudah karena harus terus berproduksi (baca: meneliti dan publikasi). Jika malas, juga sulit untuk mencapai karir tertinggi menjadi Profesor. Bahkan Lektor Kepala yang sudah berijazah doktor-pun sekarang tidak mudah menjadi Guru Besar karena harus memiliki publikasi di Jurnal internasional bereputasi. Bahkan bagi yang telanjur jadi profesor-pun sekarang muncul aturan pencabutan tunjangan jika tak mampu menghasilkan publikasi di jurnal internasional,

Oh ya, satu lagi. bagaimana nasib dosen yang masih S1 ya?, secara misalnya peraturan-peraturan baru sudah tidak mencantumkan dosen S1 di dalamnya. Pendidikan minimal dosen sesuai UU Guru dan Dosen No. 14 2005 adalah magister untuk mengajar jenjang Diploma dan Sarjana. Nah dosen berpendidikan S1 memiliki waktu sampai 30 Desember 2015, persis sepuluh tahun setelah UU Guru dan Dosen diundangkan. Penjelasan super-komplit dari Bunda Fitri bisa dibaca di sini.

Hmmm… inilah dunia dosen, bagaimana menurut anda?

disclaimer: Oh ya, tulisan ini lebih banyak soal dosen PNS, maklum tak tahu banyak dunia dosen swasta, mungkin baik juga jika ada yang mau menuliskannya 🙂

update:

Penting ! Artikel terkait dan Panduan Komplit dengan regulasi terbaru:

1. Panduan Memulai Berkarir Sebagai Dosen di Indonesia Jika Anda Bergelar Doktor

2. Panduan Memulai Berkarir Sebagai Dosen di Indonesia Jika Anda Bergelar Master

3. Mari Menjadi Guru Besar

~@ abdul hamid Fisip Untirta

Iklan

301 tanggapan untuk “Menjadi Dosen di Indonesia

      1. aslm. sy pak dodi mau bertanya, saya seorang PNS mau pindah ke Perguruan tinggi, sebelum terjaring PNS daerah sya udah mengajar di kampus swasta dan punya NIDN. S1 saya jurusan pendidikan Biologi dan S2 Pendidikan lingkungan Hidup
        kira-kira bagaimana solusinya, makasih

    1. Aslkm. Pa Hamid, saya (Irwansyah dg S-1) tmt. 1 Jan 1986 pernah menjadi Asisten Ahli Madya (AAM) dan di-inpassing ke Asisten Ahli. Lalu 1988 ditugaskan Rektor mengalih untuk menjadi Ka. Subbag (bukan maunya individu). Kemudian pada 2011 mendapat ijazah S-2 (yang NonLinear dg. S-1 nya). Kemudian Feb. 2012 mengajukan PENGAKTIFAN KEMBALI sebagai dosen. Namun Dekan yang dituju merespon (Mei 2012) TIDAK BISA diaktifkan, dengan alasan karena ijazah S-1 dan S-2 nya NonLiniear. Saya berargumentasi bahwa PENGAKTIFAN KEMBALI tidak ada kaitannya dengan S-1 dan S-2 nya NonLiniear, karena saya BUKANLAH REKRUTMEN DOSEN BARU, akan tetapi PENGAKTIFAN KEMBALI YG PERNAH SBG. DOSEN. di PT saya, pernah ada pengalaman 2 orang yang BISA diaktifkan & TIDAK ADA MASALAH. Apakah hal ini adil? Apakah saya diZhalimi? Mohon pendapatnya. Terima kasih

      1. Salam kenal Pak Irwansyah. Ikut prihatin dengan peristiwa yang Bapak alami. Pertanyaan Bapak sungguh sulit saya jawab, karena bekaitan dengan alih status kepegawaian (struktural ke fungsional dan sebaliknya) yang kurang saya pahami. Karena itu saya sarankan untuk bertanya ke ahlinya, namanya Bu Fitri, silahkan email ke beliau fitrith@hotmail.com atau sila bergabung dan tanyakan di milis evaluasi-ps-dikti@yahoogroups.com, ada banyak kawan yang berkompeten menjawab. Semoga sukses selalu ya Pak.

  1. Kalo saya melihat, pemrintah kita ini selalu berkiblat dgn kemajuan atau mutu yang ada di luar negara kita. Tapi tdk melihat apa sebenarnya yg mereka buat kepada karyawan/pegawainya shgga menghsilkn mutu yg berkwalitas. Hendaknya para pembuat kebijakan turun ke lapangan, lhtlah fasilitas apa yg sdh diberikn kpd kita yg dosen ini utk menghsilkan dosen yg berkwalitas itu. Saya sbg dosen yg mengajar sejak thn 1987 sampai saat ini tdk ada ruang khusus ataw meja kerja untuk memnuhi syarat yg dimnta oleh pembuat kebijakan. Utk memnuhi Tridharma Perg Tinggi itu tentu hrs ada ruangan yg berisi meja, rak buku, komputer besrta printer. Kebetulan saya punya sdr di neg tetangga Malaysia, dia tanya brp pndapatn saya perblan, saya brtahu sekitar Rp 8jt = RM 2500. Dia tercengang, lalu mengtakn klo di M`sia gji yg paling tinggi itu adalah gji dosen, pegawai bank, bru yg lain2. Kebetulan saya jg sdng melanjut S3 di sana, memang saya menmukan setiap dosen punya ruang kerja lengkp dgn fasilitas meja,rak buku, komputer + printer, AC. walaupun dinding penyekat ruang antra satu ruang dgn yg lain terbuat dri plywood serta daun pntu dr bhan yg sama. Kapan ya..kta dpt sprti ini..? lina_muskar@yahoo.com

    1. Betul Bu Lina, saya pikir fasilitas standard (meja atau ruang kerja dengan akses internet memadai ditambah sumber bacaan berkualitas) adalah syarat minimal jika mau mendorong lahirnya karya berkualitas dari dosen. Jika tak ada ruang kerja dan hanya ada lounge/ ruang bersama buat kongkow ya para dosen hanya akan jadi ahli gosip saja karena tak bisa mengerjakan pekerjaannya di kampus. Padahal bersamaan dengan kebijakan remunerasi di tahun ini, nampaknya salah satu ukuran kinerja yang dipaksakan ke dosen adalah kehadirannya di kampus.

    1. Sebentar lagi penerimaan PNS, termasuk mungkin penerimaan PNS Dosen, dipantau saja berita-beritanya di internet. Kemudian beberapa kampus seperti Univ Brawijaya juga membuka peluang menjadi dosen non pns. Semoga sukses ya

  2. bisa ga ya, jadi guru besar kalau strata satunya jurusan ekonomi syariah dan strata duanya manajemen sdm trus strata tiganya manajemen sdm juga or setiap jurusannya berbeda-beda, bisa ga jadi guru besar?

  3. Assalamualaikum pak,
    salam kenal pak Abdul Hamid,
    saya mempunyai cita-cita untuk menjadi dosen pak, bapak mungkin punya saran untuk saya, agar saya bisa mempersiapkannya sejak S1 pak. terima kasih pak 🙂

    1. Salam kenal juga ya Arif. Kalau sudah niat jadi dosen, sebaiknya mulai agak fokus ke bidang/mata kuliah yg kamu minati, dekati dosen yg mengajar dan kalau bisa jadi asistennya. Kalau bisa skripsi di bidang tsb dgn dosen ybs sebagai pembimbing. Setelah lulus langsung ambil S2 pada kesempatan pertama karena syarat dosen sekarang S2. Selebihnya silahkan ikuti tulisan ttg dunia perdosenan disini ya.oh ya, jadikan membaca, menulis dan meneliti sebagai hoby ya.

  4. Hallo mau nanya, maksudnya linear tu apa ya? Klo s2 program magister ilmu ekonomi pasar modal terus s3 doktor ilmu ekonomi managemrn bisnis bisa jd guru besar?

    1. Bisa Pak, sama-sama Ilmu ekonomi, jadinya satu rumpun, cekidot di http://www.kopertis12.or.id/rumpun. Sepemantauan saya, itu tergantung juga disertasi yang ditulis ketika S3 dan bagaimana reviewer yg menilai nanti. Ada kawan yang S1 dan S2 komunikasi dan S3-nya penyuluhan pembangunan bisa jadi Profesor. yang penting kum-nya mencukupi ya Pak dan bejo dapat reviewer yang tidak pake kacamata kuda, tapi melihat substansi keilmuan.

  5. Salam kenal pak
    saya Safrul, skrg kuliah di IPB dgn beasiswa calon dosen, tetapi selama ini sdh mengajar sbg dosen honorer di almamater S1 (Swasta). Kadang sy berfikir mungkin tdk ya bs nanti menghidupi diri sendiri dan keluarga kelak setelah menikah dgn gaji dr universitas almamater sy mengingat kecilnya gaji pokok di bawah UMR. Selain itu mau tdk mau sy harus memilih homebase universitas almamater untuk mengabdi setelah lulus nantinya karena sdh byk berjasa. Menjadi dosen memang hal yg sy inginkan tetapi kadang ragu dgn gaji yg minim apalagi skrg ini harus menanggung kedua orang tua jg.
    Mohon sarannya pak.

    1. Menjadi dosen swasta di almamater S1 pilihan yang mulia, walaupun tentu saja Mas Safrul punya hak bekerja di manapun yang bisa menjamin pemenuhan kebutuhan. Sebetulnya jika sudah Serdos, setidaknya dosen swasta-pun bisa mendapatkan pendapatan lumayan dari tunjangan serdos yang dibayarkan pemerintah yang besarnya sebesar kira-kira satu kali gaji dosen PNS. Yang jelas mesti rajin mengurus dokumen seperti NIDN, jabatan fungsional dan inpassing dengan dimulai segera menyelesaikan S2. Oh ya, ada banyak skim penelitian juga yang bisa didapatkan dari dikti, termasuk insentif penerbitan buku ajar dan penerbitan jurnal internasional. Semoga sukses ya.

  6. Sy seorang guru PNS dan pernah juga menjadi dosen dikampus swasta, dan setelah sy jalani ke dua profesi pengajar ini, maka saya lebih tertarik jd dosen, sy berencana melanjutkan S2 sy agar bisa mutasi menjadi dosen kopertis. yg ingin sy tanyakan adalah :
    1. Apakah mungkin bisa mutasi dari guru menjadi dosen kopertis?
    2. Klu bisa, apa saja yg harus sy lengkapi?
    3. Apakah bisa alumni S2 Swasta bisa menjadi dosen kopertis dan bisa ikut Serdos?

    Saya mohon pencerahan dari Bapak. Terimakasih

      1. Terima kasih infonys mas. Saya rencana melamar mnjadi dosen. Apakah ada aturan terkait dosen yg ingin aktif juga di luar kampus misalnya membuka lembaga konsultan, aktif di lsm atau usaha lainnya yg terkesan rangkap jabatan. Thx

  7. Saya seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri. saya diangkat menjadi dosen PNS tahun 2005, sekarang pangkat saya IIIb (asisten ahli) dan saya bergelar master (S2). pendapatan saya per bulan setelah ditambahkan dengan tunjangan dosen maka gaji yang saya terima setiap bulan sebesar Rp. 2.745.000. silakan bandingkan dengan pegawai/karyawan di instansi lainnya.
    kenaikan pangkat dosen tidak mudah. seorang dosen harus mengumpulkan kum melalui pengabdian, penelitian dan pengajaran.
    Pengabdian diperoleh dari: seorang dosen harus memberikan pelatihan atau penyuluhan di masyarakat. saya setiap tahun melakukan penyuluhan ke beberapa desa, biayanya dari gaji yang saya peroleh setiap bulan (sungguh menderita). jika tidak ingin menggunakan biaya pribadi, seorang dosen dapat membuat proposal kemudian kirimkan ke dikti atau PEMDA (ke pemda harus ada kenalan artinya saya harus KKN lagi…untuk penelitian lebih sulit lagi. Kesimpulannya gaji yang saya peroleh setiap bulan lebih banyak saya gunakan untuk menunjang pekerjaan saya sebagai dosen sedangkan untuk memnuhi kebutuhan hidup setiap hari, biasanya saya utang di warung, toko atau pinjam duit teman.

    1. Pak Luhur, kenapa dari tahun 2005 sampai sekarang baru mencapai asisteh ahli? Apakah sudah serdos juga? Saya pikir sebagai dosen kita mesti memahami aturan main berkaitan dengan pekerjaan kita. Sepemahaman saya, jika kita produktif dan telaten, insyaAllah tidak sulit dalam mendapatkan karir yang baik. Mengumpulkan kum itu tidak terlalu sulit kan Pak? hanya saja kadang-kadang ada hambatan mental dari diri kita. Di blog ini saya banyak menuliskan tentang beberapa orang yang mencapai jenjang Profesor dalam waktu singkat. Saya pahami intinya memang hanya dua: produktif dan telaten. Silahkan dibaca: https://abdul-hamid.com/2013/03/22/mari-menjadi-guru-besar/.
      Pendapatan akan membaik seiring dengan karir kita (baca: jabatan fungsional) dan itu tergantung seberapa produktif kita berkarya (menulis, meneliti, publikasi) dan seberapa sabar menghadapi keharusan mengumpulkan berkas2 yang menggunung. Semoga Pak Luhur semakin sukses

  8. Pa hamid, mohon masukannya. Sy sedang mengurus kepangkatan asisten ahli dikopertis. Stelah hampir 3thn mengajar dikampus swasta. Apakah stelah kepangkatan bisa mengajukan utk dosen pns? Sy lulusan S2 ekonomi, berniat lanjut S3. Mohon masukan sebaiknya dimana dgn biaya gratis?

    1. Bu Nining, semoga pengurusan asisten ahli-nya berhasil ya. Nah jika hendak sekolah lagi ke S3 ada banyak beasiswa baik untuk dalam negeri (BPPDN) atau luar negeri (BPPLN), dengan syarat memiliki NIDN, silahkan mampir ke studi.dikti.go.id. JIka belum punya NIDN ada beasiswa LPDP di: http://www.lpdp.depkeu.go.id. Tidak ada hubungan antara jabatan fungsional dengan menjadi dosen PNS, prosesnya berbeda, mesti melalui penerimaan PNS dosen. Sedangkan kalau alih dari PNS non dosen ke PNS dosen silahkan download dan baca: https://forlap.dikti.go.id/downloadfile/12..

      1. Tulisan yang bagus. Pak, saya baru saja lulus S2 dan awal tahun depan berencana lanjut S3 di luar negeri.

        Berdasarkan kabar burung yang saya dengar, jika diterima sebagai dosen (baik dosen tetap ataupun dosen tunggu), kesempatan untuk lanjut ke luar negeri harus ditunda beberapa tahun. Hal ini karena ‘budaya’ yang mendahulukan senior. Apakah benar seperti itu yang terjadi di lapangan?

        Lebih baik mana secara karir:
        (i) lulus S2, mendaftar dosen, sekolah S3, lulus S3, kembali menjadi dosen atau
        (ii) lulus S2, sekolah S3, lulus S3, mendaftar dosen?

        Terima kasih banyak Pak.

      2. Jika sekarang memenuhi syarat untuk ndaftar menjadi dosen tetap, sebaiknya mendaftar saja. Namun setelah diterima memang setidaknya ada beberapa hal yang mesti diikuti seperti masa menjadi cpns, prajabatan, dll. Mungkin setelah setahun atau dua tahun baru bisa lanjut ke S3. Tapi daftar sekolah, apalagi mencari beasiswa kan tentu saja tidak mudah, apalagi jika ke luar negeri, jadi sambil melalui masa2 awal menjadi dosen, bisa sambil mencari-cari sekolah dan beasiswa.
        Laih halnya jika memang sudah tinggal berangkat sekolah S3, katakanlah anda sudah diumumkan mendapat beasiswa, ya sebaiknya sekolah dulu. Tapi jika belum, tak ada salahnya mendaftar jadi dosen sambil mendaftar-daftar sekolah.
        Oh ya, jika sudah dosen dan memiliki NIDN ada banyak sekali peluang beasiswa luar negeri yang disediakan dikti, tapi jika bukan dosen bisa melirik beasiswa lpdp. Kabarnya, dosen tak bisa lagi mendaftar lpdp.

      3. Saya sudah mendapatkan Letter of Acceptance namun tanggal 15 oktober ini DAAD baru dibuka. Yang saya tanyakan berikutnya’, jika beasiswa sudah didapatkan dan di saat yang sama menjadi dosen PNS, apa berarti beasiswa saya harus tidak saya ambil?

        Terima kasih atas jawabannya.

      4. Wah seperti simalakama ya? Saya sendiri berprinsip, ambil yang lebih pasti. Toh dua-duanya (dosen tetap dan beasiswa) belum di tangan kan? Jadi apply dosen tetap dan beasiswa saja, mana yang didapatkan duluan, itu rejeki yang diambil dengan menunda yang lain. Jadi kalau dapat dosen, ya ikuti proses awal sebagai dosen, pelajari aturan main, dekati pimpinan dan senior disana. Maklum kadang2 soal izin tak cuma soal aturan (setahu saya boleh tugas belajar 2 tahun setelah diterima jadi PNS) tapi hubungan baik dengan pimpinan dan senior disana. Jadi ketika saatnya sekolah semua bisa berjalan lancar. Oh ya, soal karir dosen tak cuma soal sekolah, sambil menunggu sekolah anda bisa menulis jurnal ilmiah dan mengurus jabatan fungsional, jadi tak ada waktu terbuang.

  9. Pak, saya mau bertanya. Saya adalah dosen S1 pada PTS. Saya sedang manjalankan program S2 yang Insya Allah 1 tahun lagi selesai. Saya lihat pemgumuman ada pembukaan pendaftaran CPNS untuk Dosen PTN. Nah, apakah dengan status saya yang sudah manjadi dosen swasta dan sedang studi S2 tingkat akhir, apa saya bisa melamar CPNS Dosen PTN? terima kasih.

  10. Assalamualaikum Pak..
    Saya ingin bertanya,namun sebelumnya terimakasih banyak atas informasinya..
    jadi begini pak, saya sudah lulus S1 PGSD dan sekarang saya sedang melanjutkan S2 pendidikan dasar disalahsatu Universitas negri di Surabaya. Alhamdulillah linier. Masalah yang saya hadapi sekarang yaitu saya bingung untuk menentukan pilihan hidup. Kebetulan di daerah saya yaitu kota Sidoarjo membutuhkan159 guru SD untuk dijadikan CPNS. Namun, cita2 dan impian saya dari dulu ingin menjadi dosen. Dan latarbelakang keluarga saya bukanlah dari kalangan kaum pendidik, jadi satu keluarga juga bingung tentang pilihan kerja yang harus saya pilih. Akhirnya, banyak teman2 bapak saya yang menyarankan saya untuk daftar CPNS karena ini adalah peluang emas. Namun ada juga yang menyarankan untuk fokus kuliah S2 agar kedepannya jadi dosen. Setelah berunding dengan keluarga saya, akhirnya saya dan keluarga mengambil keputusan untuk tetap fokus kuliah S2 agar bisa menjadi dosen. Sehari setelah keputusan itu dibuat, alhamdulillah ada yg menawari untuk kerja di universitas swasta yang ada di surabaya ketika semester 2 nanti. Rencana saya, saya mengajar di PTS tersebut selama setahun atau 1,5 tahun untuk mencari pengalaman. Kemudian setelah lulus saya ingin kembali ke PTN alumni saya dahulu. Nah yang ingin saya tanyakan, apakah keputusan yang saya ambil ini tepat pak? kadang disisi lain saya merasa galau karena saya takut klo kedepannya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Hal ini dikarenakan belum tentu juga saya ditrima di PTN alumni saya dulu. Jika saya tetap menjadi dosen PTS kemudian saya mengetahui bahwa kesejahteraan guru SD PNS lebih besar daripada dosen swasta betapa hati ini merasa kecewa kedepannya. Namun,ini semua memang saya perjuangkan demi menggapai mimpi dan cita2 saya pak. Hal yg paling saya takutkan sebenarnya satu hal yaitu saya takut mengecewakan orangtua saya yg selama ini telah membiayai dengan dana yang cukup banyak namun pilihan yg saya pilih ternyata salah. Menurut bapak apakah keputusan ini salah? kemudian apa solusi dari bapak untuk saya? terimakasih banyak pak atas segala kebaikan bapak. Semoga sukses selalu. Mohon di balas ya pak 🙂

    1. Mbak/ Mas Nurul yang baik. Hidup memang soal seni dan keterampilan memilih. Namun setiap pilihan tentu saja memiliki konsekuensi. Saya pikir anda sudah punya rencana cukup matang untuk menjadi dosen dengan memilih S2 yang linier kan? Menurut saya lanjutkan saja kuliah dan kejar terus cita-cita menjadi dosen tersebut. Namun jika serius menjadi dosen, perjalanan masih panjang. berbeda dengan menjadi guru SD yang kualifikasi-nya cukup S1. Misalnya tentu saja mesti siap juga dengan perencanaan S3 dan mulai menulis di jurnal ilmiah. Publikasi ilmiah, terutama di Jurnal menjadi penting sebagai potofolio ketika nanti melamar sebagai dosen. Belajar bahasa asing juga sangat penting untuk bisa mengakses bacaan bermutu dan mempersiapkan diri baik untuk tes jadi dosen, sekolah S3 maupun mencari beasiswa, siapa tahu bisa ke luar negeri. Oh ya, mulai mengajar di PTS sebagai ajang belajar boleh juga, namun ada baiknya menjalin silaturahim dengan kampus PTN yang menjadi “target”, mulai menjalin kontak dengan dosen2 disana atau mencoba kesempatan menjadi asisten disana sambil mencari tahu kesempatan di tempat2 yang lain. Soal kesejahteraan, sulit dibandingkan ya, yang jelas profesi dosen cukup menjanjikan baik secara finansial dan memberi peluang kita berkembang secara intelektual, tentu saja jika kita produktif dan sabar. Oh ya, salah satu “perjalanan” saya bisa dibaca disini. selamat berjuang ya !!!

  11. Kenalkan pak Abdul Hamid, saya Muzammal umur 36 tahun..saat ini guru MTs swasta, dan ijazah s1, tp api untuk menjadi dosen masih menyala sampe sekarang..dan sekarang nyalanya semakin terang akibat labil ekonomi yg semakin saya jauhi. bisakah saya menjadi dosen di PTN sesuadah usia saya 39 tahun misalnya? apakah di usia itu bisa mendaftar sebagai dosen? terima kasih

    1. Normalnya, umur yang bisa mendaftar adalah antara 18-35 tahun, tapi bisa sampai 40 jika ada kebutuhan khusus dan memiliki masa kerja minimal lima tahun di lembaga pemerintahan atau swasta yang menunjang kepentingan nasional. Sila dibaca disini

  12. Menarik dan merasa tertanntang untuk menadi seorang dosen, tertarik karna ilmu pengetahuan, tertantang karna anak-anak bangasa generasi penerus bangsa harus segaeara di di bekali ilmu pengetahuan yang baik demi kemauan bangsa… saya baru mulai mengajar sekitar 3 tahun, memulai mejadi asisten dosen, hingga menadi dosen …saya berumur 30 th, sekarang sedang melanjutkan S2, saya mohon saran bagaimana syarat menadi dosen terbaik?

  13. Pa Hamid untuk memulai menjadi seorang dosen, perguruan tinggi seperti apa yang bisa saya plilih, karna secara pengalaman saya belum banyak..mohon sarannya

    1. yang terpenting S2-nya segera selesai, karena S2 (linier) itu syarat mutlak untuk menjadi dosen. Selain itu bangun portofolio dengan membuat publikasi ilmiah di jurnal. Kalau perguruan tinggi-nya ya tergantung, bisa PTS atau PTN. Nah kalau PTN rekrutmennya berbarengan dengan PNS yang lain dan biasanya setiap tahun ada, sila dicek di website kemdikbud.

  14. Pak Hamid, arigato sharingnya, sangat bermanfaat buat saya yg mencoba belok haluan dari dulunya kontraktor terus berniat mau jadi dosen.

  15. Salam Kenal Pak Hamid, saya sekarang sedang kuliah S3 di Luar negeri, saat ini teman menyarankan saya untuk kut tes dosen cpns. klo misalkan jadi, gimana tentang perizinanan tugas belajarnya ya Pak? kan harus mengabdi 2 tahun dulu pak, padahal kuliah saya kan ga mungkin ditinggal..mohon sarannya..terima kasih.

    1. Sebetulnya tugas belajar baru bisa diberikan setelah berstatus PNS, artinya sudah mengikuti prajabatan, ya sekitar 1 atau 2 tahun sesudah lulus seleksi. namun dalam beberapa kasus atasan di kampus bisa saja memberikan peluang untuk menyelesaikan sekolah, namun perlu pendekatan yang cukup baik termasuk menjelaskan manfaat untuk institusi. AKan banyak kerepotan terutama dalam aspek administratif. Paling ekstrim jika nanti ijazah S3 tidak diakui atau tidak bisa disetarakan karena administrasi tugas belajar tidak lengkap (SK Tubel, Sp Setneg, dll). Kalau saran saya justru menyelesaikan masalah satu persatu: secepatnya selesaikan S3 dan bertarung melamar CPNS. Dalam kondisi sudah S3 nanti bisa langsung Lektor IIIC. Salam.

  16. Selamat malam pak … senang sekali bisa membaca artikel anda. Saya salah satu dosen praktisi (pekerjaan utama adalah auditor). Sejak kuliah semester 3 di Magister Akuntansi Universitas Airlangga Surabaya sekitar tahun 2011, saya sudah menjadi dosen tetap di salah satu Politeknik di Surabaya dan mendapatkan NIDN. Ya risiko yang harus saya terima adalah berkerja double dalam sehari, jika pun ada workshop maka mau tidak mau harus meninggalkan pekerjaan utama saya. Dulu saya sangat ingin sekali menjadi dosen tetap dan pernah lolos sampai dengan tahap wawancara dengan Rektor di Universitas swasta di Surabaya tapi sangat disayangkan pendapatan yang diperoleh sangatlah terbatas. Maka dari itu sampai sekarang saya tetap bertahan menjadi dosen praktisi karena saya masih sangat ingin menyampaikan ilmu yang sudah saya peroleh selama ini ke anak-anak muda jaman sekarang. Nah tahun depan saya ingin sekali mengikuti Sertifikasi Dosen, mungkin ada saran atau kritikan, mohon disampaikan agar saya tahu langkah-langkah apa yang harus saya ambil. Terima kasih.

  17. assalamu alaikum.

    saya pay, karyawan dan dosen honorer di salah satu kampus di makassar. s1 saya komputer, s2 saya magister manajemen. kl dilihat kn tidak linier. apakah ada jalan untuk melinierkan pak? krn minimnya informasi. apakah bisa saya kuliah lagi s1 ekonomi utk melinierkan? dan apakah tahun kelulusannya tidak memperngaruhi krn sudah pasti umur ijasah s2 lebih tua dari ijasah s1 nantinya.

    mohon pencerahannya

    salam

  18. assalamu alaikum. saya profesi sbg karyawan, namun juga sbg dosen honorer di salah satu kampus. s1 saya komputer, s2 magister manajemen. apakah ada jalur khusus (misalkan perkuliahan) untuk melinierkan? ataukah saya harus kuliah lagi s1 ekonomi? tdk apa2 umur ijasah s2 lebih tua dari s1? mhn pencerahannya.

    1. Sekarang memang linieritas menjadi salah satu isu di dunia pendidikan tinggi. Sebetulnya jika S1 dan S2 tidak linier tetap bisa diangkat menjadi dosen tetap dengan persyaratan tertentu yaitu angka kredit 7,5 untuk bidang A dan angka kredit 6.25 untuk bidang B kemudian dutambahkan angka kredit maksimal 1,5 untuk bidang C dan angka kredit maksimal 2 untuk bidang D. Untuk lengkapnya silahkan buka silahkan buka link berikut: http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2011/05/jabatan-fungsional-dosen.pdf
      Saran saya justru bukan kembali mengulang S1 tapi mengambil S3 yang sesuai dengan S2 sehingga tetap bisa naik hingga Guru Besar.

  19. mohon informasinya pak hamid jika ingin alih status dari pns non dosen ke dosen. sebagai informasi saya sudah pns di dinas sejak 2006,saat ini saya lagi tugas belajar S2 (s1 dan s2 linier), niat saya kalau nanti selesai S2 saya ingin mengabdi sebagai tenaga pendidik (dosen) dengan meninggalkan kedinasan (alih status).mhn dengan peraturannya.trmksh

  20. Baca tulisan diatas masih beruntung.. Saya menjadi dosen Di PTS daerah Kedu sejak jan 2005 dan diangkat dosen tetap tahun 2006 sudah Asisten ahli. Selama 9 tahun menjadi saya malah tidak pernah mendapatkan gaji pokok ataupun tunjangan lain dalam bentuk apapun. Selama ini hanya dapat honor yang besarannya tergantung JAM NGAJAR yang diberikan kampus, itu aja. Bagaimana mana mau meningkatkan diri klo tuk kebutuhan dapur juga harus ngode sana sini. Dan ini banyak dialami dosen swasta. Oya pendidikan saya sekarang sudah Master dan jumlah mahasiswa dikampus kami hampir 2.000 orang.

  21. saya seorang dosen pns golongan III A baru saja menyelesaikan gelar Doktor mau naik pangkat, berapa nilai kredit ijazah s3 saya. apakah harus ditambah dengan penelitian (jurnal ) dan pengabdian.. mohon info pak hamid. trims

    1. Saya sulit menjawabnya, apakah sebelumnya sudah memiliki Jabatan Fungsional? Kemudian maksudnya naik Jabatan fungsional atau pangkat golongan? Karena harus diketahui dulu jabatan fungsional dan jumlah angka kredit sebelumnya yang dikumpulkan. Jika belum bisa langsung ke lektor IIIC.

      1. Berarti waktu berangkat sekolah masih S1? Jadi Pak Ridwan bisa naik ke Lektor dengan nilai ijazah doktor 100 (200-100) tapi tentu saja dengan kum lain seperti minimal ada publikasi di jurnal ilmiah. Selanjutnya dilihat dari jumlah kum terkumpul bisa naik sampai golongan berapa, walaupun naiknya tetap bertahap setiap dua tahun. Sebagai contoh terkumpul kum 150, maka jumlah total kum 250, naik ke lektor. Nah setelah itu naik golongan ke IIIB dan bisa naik golongan setiap dua tahun tanpa perlu mengumpulkan kum lagi sampai ke IIIC.

  22. Pak Hamid, apakah bisa menjadi dosen di swasta/negeri dengan menggunakan S1 teknik, S2 manajemen/bisnis? artinya antara S1 dan S2 merupakan 2 rumpun ilmu yang berbeda. terima kasih

    1. Di negeri mungkin sulit karena linieritas sekarang menjadi hal yang amat penting. kalau di swasta mungin bisa dengan menggunakan ijazah S2 dan mengajar sesuai ijazah S2, dengan tentu saja nanti S3 mesti linier dengan S2-nya.

  23. pak hamid…
    saya mau tanya ttg persyaratan jadi dosen..
    saya skrg ambil s1 jrusan ekonomi syariah,, nanati s2 rencana ambil magister ekonomi atau magister studi islam fokus ekonomi islamnya…,,
    untuk s2 menurut bapak yang cocok harus ambil magister studi islam atau magister ekonominy..? termakasih

  24. Dear pak hamid,
    Saya sangat terbantu dengan artikel mengenai dosen yang bapak tulis. Kebetulan saya sedang mencari informasi caranya mendidik bangsa dg menjadi dosen. Tapi saya minin pengetahuan mengenai hal itu. Sudah 5 tahun sy kerja di BUMN, alhamdulillah gaji yg sy terima 8 jutaan. Namun smakin lama sy merasa perbedaan visi makin da

    1. Mbak Nuning, terima kasih sudah berkunjung. Menjadi apapun memang mesti total dan memahami betul aturan main di dalamnya. Saya membuat beberapa tulisan tentang perdosenan karena merasa banyak kawan2 yang banyak mengeluh soal kesejahteraan dosen dan sulitnya berkarir sebagai dosen karena kurang mendalami aturan main di dalamnya. Saya percaya kalau kita total dan merencanakan karir dengan baik menjadi dosen tidak harus hidup sulit kok. Apalagi ke depan nampaknya pendapatan pegawai publik (termasuk dosen negeri) akan semakin baik. Dosen swasta-pun banyak yang mendapatkan penghasilan baik, termasuk mendapatkan tunjangan serdos dan bisa mendapatkan tunjangan kehormatan Profesor dari negara jika menjadi Guru Besar. Selain itu untuk yang rajin banyak kesempatan beasiswa dan juga grant untuk penelitian. Salam.

  25. assalam…
    Pak maaf mau tanya, kalau statusnya saat ini dosen tetap PTS (sudah punya NIDN), namun bekerja di PTS bukan karena pengabdian (BU/ BPPDN, artinya tdk terikat masa pengabdian), apakah masih bisa/boleh ikut ujian CPNS dosen atau CPNS kmentrian tahun depan dan apa saja syaratnya pak? ataukah harus ubah status dulu? jika PTS tidak bersedia ubah status apakah sudah tidak bisa ikut cpns dosen?

    1. Kalau ujian CPNS Dosen memang bisa agak repot nanti dalam urusan NIDN-nya, jika PTS asal tak mau melepas. Tapi jika PTS mau melepas, maka sebetulnya tak masalah. Nah kalau CPNS non dosen sih tidak ada masalah apa-apa. Semoga sukses ya.

  26. luar biasa..sangat iformatif dan mencerahkan pak informasi mengenai karir dosen ,dan segala atributnya.kebetulan kita satu profesi.

  27. Salam Pak Hamid… Saya sebenarnya ingin meneruskan kuliah ke jenjang S2 sejak lulus S1 tahun 2007 yang lalu karena ingin menjadi dosen, namun karena beberapa faktor termasuk faktor ekonomi untuk membantu orang tua menyekolahkan adik-adik saya, saya menunda niat saya itu. Sekarang semangat saya untuk melanjutkan kuliah masih sangat tinggi di bidang ilmu yang sama dengan S1 saya (Biomedical Science & Biotechnology). Oleh sebab itu, tahun depan (2014), saya mau apply S2, ingin mencoba apply scholarship ke luar negeri, tapi kalaupun gagal, saya akan melanjutkan S2 saya di salah satu PTN teknologi di Jawa Barat yang sama dengan alamater S1 saya. Yang saya mau tanyakan:
    –> Usia saya tahun depan 29 tahun, jika saya mengambil S2 (2 tahun) dan setelah itu langsung S3 (4 tahun), maka pada saat saya memeperoleh gelar Doktor, usia saya tepat 35 tahun. Apakah pada saat itu saya masih bisa apply menjadi dosen di PTN? Mohon saran dan masukannya Pak.
    Terima kasih.

    1. Mbak Eliana yang baik, syarat usia menjadi PNS Dosen sesuai pengumuman Dikti tahun ini (soalnya mungkin tahun depan berubah) adalah 18-35 tahun, kecuali memiliki pengalaman minimal 5 tahun masa kerja baik di instansi negeri maupun swasta yang menunjang kepentingan nasional (apa maknanya ya?) dan saat mendaftar masih bekerja disana, maka batas usianya bisa 40 tahun. Hmm saran saya, jika memang berniat jadi dosen, kenapa tidak melamar beasiswa unggulan luar/dalam negeri saja? nanti dapat beasiswa dan ditempatkan menjadi dosen oleh dikti. bisa dicek persyaratannya di studi.dikti.go.id

  28. salam pak hamid,saya kuliah di fak pend bio sem 1 ingin pindah ke FK.Dan saya ingin menjadi dosen PNS dermatologi/kulit.kira2 butuh waktu brpa tahun kuliahnya agar bisa menjadi dosen bidang ini?.dan bagaimana prosesnya untuk jadi dosen PNS?

    1. jadi dosen syaratnya S2, jadi setelah lulus S1 lanjutkan ke S2 yang linier. Setelah itu baru eligible sebagai dosen. Tapi untuk mencapai karir tertinggi ya harus berpendidikan S3, jadi nanti lanjut lagi. Selamat berjuang dan belajar ya

  29. Ass…
    Tulisannya inspiratif Pak..
    saya Alumni s2 dri Salah satu Univ di Surabaya, dlam beberapa wktu k dpan saya mmulai karir saya menjadi dosen di salah satu Univ swasta di jatim, Apa saja yg harus sy lakukan demi klancaran proses kuliah dn karir yg baik ke depnnya ? Mohon tipsnya… Trims…

    1. Pak Alan, selamat ya. Utamanya, karir dosen ditentukan oleh dua hal penting: Pendidikan (secepatnya S3) dan Produktivitas kerja, terutama penelitian. Nah, karena baru mulai bekerja, langsung urus aspek administrasi dosennya: NIDN, Jabatan fungsional, dsb. Lakukan juga penelitian dan publikasi, tentunya dengan tidak mengesampingkan mengajar. Nah, setelah beberapa waktu sudah bisa berburu beasiswa untuk S3.

  30. Aslm alkm pak Hamid.. salam kenal.
    saya mohon informasinya mengenai kemungkinan untuk ke jenjang guru besar. pangkat terakhir IVc tahun 2011. alhamdulillah tahun 2012 telah selesai S3. adapun bidang ilmu saya adalah S1 teknik sipil, S2 teknik sipil dan S3 Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. berdasarkan informasi ini kapan dan apakah saya bisa mengajukan untuk ke jenjang berikutnya (IVd) ? bagaimana liniearitas ilmu saya. perlu diketahui kenaikan pangkat ke IVc saya adalah pengajuan otomatis pada saat studi S3 karena saya telah IVb dari tahun 2007. Terimakasih atas bantuannya.

    1. kalau berdasarkan Permenpan 17 2013, Bapak bisa mengajukan kenaikan ke Profesor 3 tahun setelah selesai S3, yaitu di tahun 2015. Kecuali punya jurnal internasional setelah mendapatkan S3, maka bisa kurang dari 3 tahun setelah S3. Oh ya, tentu saja syarat lain adalah dipenuhinya jumpah dan prosentase kum dan memiliki paper di jurnal internasional. Kalau soal linieritas, mungkin bisa mengacu ke http://www.kopertis12.or.id/rumpun. Tapi tentu saja penafsiran soal linieritas juga salah satunya akan dilihat dari disertasi S3 yang dilakukan tim PAK Univeristas/Kopertis dan Dikti. Smeoga sukses jadi Guru Besar ya Pak.

  31. Salam Pak Hamid yg baik..
    Perkenalkan nama saya Diah saat ini sdg menempuh semester 2 magister hukum di UGM, dan dlm perjalanan ini saya lulus ujian cpns di salah satu lembaga negara non kementerian.
    Saya berencana tetap melanjutkan studi yg sdh berjalan separuh jalan ini sementara juga menjadi cpns. Terus terang saya pribadi memiliki hasrat yg kuat untuk menjadi dosen. Yang ingin saya tanyakan, apakah memungkinkan di kemudian hari setelah sy menyelesaikan s2, sy dpt menjadi dosen tetap di PTS dgn mempertahankan status sy sebagai PNS di lembaga negara? Dgn status PNS (jabatan fungsional) di lembaga negara ybs, apabila sy dapat menjadi dosen tetap PTS apakah sy tetap bs mendapatkan hak2 dosen seperti tunjangan fungsional dosen dan sertifikasi?
    mohon sekalian informasi dasar hukumnya njih Pak,,
    Terimakasih banyak atas kesediaan Bapak berbagi.. salam..

  32. Semua baik, tapi aneh aja koq yg mengajar s3 juga lulusan s3 boleh? Ini aturan yg dibuat tergesa gesa tanpa mau tau kondisi dilapangan, mesti sdh 15 th yg lalu semua ptn tidak menerima lulusan s2 melamar menjadi dosen.
    Dan syarat menjadi prof yg guru besar adalah krn beliau sdh mendidik mhs selama 20 th, ut prof riset ya tidak ada korelasinya dgn pendidikan tgt prestasi penelitian ybs.
    Patut menjadi perhatian kita guru di vietnam saja gajinya 600 dhong dn yg dimakzn keluarga guru 400 dhong shg mereka setiap bulan bisa saving 200 dhong atau 1/3 gaji lah di indonesia yg tercinta gaji gayus 17 juta anggota dpr 80 juta, dosen pns 3juta,direktur pertamina 400 jutA , skk migas 250 juta belum termasuk biaya perumah………..luar biasa…….dimanz letak keadilan?????

  33. Assalamualaikum,, pak abdul hamid artikelnya begitu bagus, bahasnaya begitu mudah dipahami dna informatif. Pak saya ingin bertanya, kebetulan saya diterima beasiswa Dikti yang memungkinkan lulusan S1 langsung S3 tanpa jenjang S2, apakah ini nnatinya bis amenjadi masalah ketika saya mengajukan kenaikan jabatan karena tidak memiliki ijazah S2??. OH ya pak, sekarang kan ada undang-undang terbaru menegnai dosen Tetap Non PNS, Bapak bisa ndak jelaskan sedikit kepda saya apa sebenarnya perbedaan mendasar Dosen tetap non PNS dengan dosen PNS, Karena jik saya baca di Internet yang dijelaskan hanya kesamaan hak dengan Dosen PNS, saya belum melihat apa perbedaan mendasar hak dan kewajiban mendasar antara Dosen tetap non PNS dengan dosen PNS,, Mohon informasinya pak, terimakasih. Salam kenal dari saya Abdul Mutolib dari Lampung pak,

    1. Mas Abdul Mutholib, wah hebat sekali ya bisa S1 langsung S3. Secara aturan, kalau nanti melamar dosen tentu saja yang dipakai ijazah S3nya, nilai kum ijazah juga adalah nilai ijazah S3 (200) dan bisa langsung jadi lektor 3C. Seharusnya sih tidak akan ada masalah, apalagi ini program Dikti. Namun biasanya akan ditemui masalah2 administratif yang butuh penjelasan, karena biasanya jenjang normal kan S1-S2 dan S3. Nah, antisipasi saja dari sekarang dengan mendokmentasikan semua dokumen yang membuktikan bahwa ini adalah program Dikti, dan simpan kontak orang2 yang mengurusi prorgam ini siapa tahu di masa depan ada yang butuh klarifikasi. Dosen tidak tetap ke depannya akan menjadi bagian dari implementasi UU ASN tentang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, silahkan baca UU ASN disini: http://humas.kemsos.go.id/download/hubungan_antar_lembaga/peraturan_perundang-undangan/RUU_Tentang_Aparatur_Sipil_Negara.pdf.

  34. assalamualaikum…
    Pak Abdul Hamid, saya ingin ikut bertanya.. jika statusnya PNS non dosen dengan kualifikasi S1 tapi sudah memiliki ijazah S2 (saat masuk menggunakan ijazah S1) apakah bisa berpindah jadi PNS dosen? jika bisa, berarti harus menunggu penyesuaian ijazah dulu ya? kira2 minimal berapa tahun kerja baru bisa mengajukan pindah untuk tenaga dosen? saat ini belum memiliki banyak pengalaman mengajar, dan ingin rasanya memulai menjadi pengajar tidak tetap dulu di swasta bagaimana caranya ya? apakah bisa melamar ke PTS dengan status pns yang bekerja senin-jumat?terimakasih

      1. wah trima kasih ya pak..Kalau pindahnya ke PTN bisa tidak pak? S2 saya linier, masih satu rumpun tapi beda pminatan, kalau dari panduan yg bpk kirimkan, berarti saya harus mencari sendiri dan melakukan pendkatan ke PT yang mau mnerima saya menjadi dosen mutasi ya… lalu apa ada syarat untuk mutasi harus sudah mencapai golongan berapa dulu pada jabatan trakhir? saya mau mengusahakan sejak skarang jika bisa

      2. Betul, mesti pendekatan baik ke PT yang diincar maupun ke atasan. Kalau harus golongan berapa, rasanya ya syarat dosen S2, berarti minimal 3B. Nah perbanyak jam terbang saja dulu di swasta di mata kuliah yang diminati, biar kuat alasannya ketika nanti pindah.

  35. selamat pagi pak.,, saya senang sekali bisa menemukan halaman ini.. saya ingin meminta pendapat dari pak hamid.. Saya lulusan S1 pendidikan fisika dengan gelar S.Pd pada tahun 2012 kemaren. Sebelumnya saya belum ingin melanjutkan sekolah saya ke S2 karena malas kuliah lagi, namun kakak saya mengharuskan saya tahun ini kuliah lagi. Yang menjadi permasalahan, magister pendidikan fisika yang paling dekat (saya di Mojokerto) adalah di PTN malang dan PTS jogja dan dua duanya orang tua tidak mengijinkan karena tempatnya yang jauh sehingga saya tidak bisa PP dan juga saya sekarang sudah mengajar di sekolah dekat rumah jadi kalau bisa jam ngajar saya di sekolah tersebut tidak saya lepaskan. Sedangkan di Surabaya hanya ada PTN pendidikan sains dengan gelar M.Pd.. yang mau saya tanyakan :
    1. Misalkan saya jadi ambil di Pendidikan Sains dengan gelar M.Pd ,apakah linier pak karena dari S.Pd ke M.Pd?
    2. Menurut bapak lebih baik sama-sama pendidikan fisika apa pendidikan sains juga boleh?
    3. Menurut bapak saya lebih baik ambil magister di PTS apa PTN?
    Maaf pak panjang lebar. Saya benar benar bingung. Terimakasih Pak.. saya sangat senang membaca halaman ini. 🙂

    1. Saya coba jawab ya. Sebetulnya ini tergantung tujuan akhirnya. Jika memang berniat menjadi Guru, tidak apa-apa ambil Magister Fisika di PTS terdekat. Tapi jika memang berniat menjadi dosen ambil saja magister pendidikan fisika di PTN. Jika mengambil magister pendidikan sains walaupun berada dalam satu rumpun ilmu (rumpun pendidikan) bisa saja dianggap tidak linier (soal linieritas banyak sekali penafsiran). Saran saya juga ambil saja di PTN dengan asumsi kualitas lebih baik, begitu juga dengan kesempatan beasiswa, sarana dan tentu saja jaringan dan kesempatan biasanya lebih terbuka.

  36. terima kasih pak hamid… betul memang, apalagi jadi dosen baru di PTS, take home pay dibawah UMR daerah lulusan SMA… buat beli susu anak saja sudah tinggal separo, belum bayar kontrakan n makan…tu pun gak beli bakso…hehehe…. akhirnya pekerjaan jadi “ojekpun” (bukan pendeskriditan status pekerjaan) dilakoni….hehehehehe….luar biasa memang….. ada pertentangan antara idealisme dengan kebutuhan dasar….apalagi kalo pas libur semester jika income tergantung sks…harus cari objekan lain…
    karena saya dosen baru di PTS n baru berkeluarga, single fighter dan belum banyak tahu tentang dosen…yang saya tanyakan…
    gimana caranya biar tetap fight n survive jadi dosen baru di PTS… karena jadi dosen adalah hal yang luar biasa kebermanfaatannya…. terima kasih pak hamid…..

    1. Sebelum jadi dosen PNS saya juga menjadi dosen luar biasa di UI dan mengajar di beberapa kampus swasta. Bayarannya sama, per-SKS juga. Namun memang selalu ada rejeki. Yang penting di dunia akademik, berupaya terus meningkatkan jejaring dan kompetensi serta produktif melakukan publikasi ilmiah. Jika belum S3 kejar beasiswa yang banyak tersedia. Dikti punya beasiswa dalam dan luar negeri yang setiap tahun tidak pernah terserap 100%. Kemudian jangan sepelekan aspek administrasi, diurus NIDN dan jabatan fungsional, ini tiket buat beasiswa dan berbagai skema penelitian. Semohga sukses ya.

  37. Salam Kenal, Pak Hamid:) terima kasih untuk layanan tanya jawab ny, sangat membantu. Sy S2 Pendidikan Bahasa (Ind), linier. Apakah tugas akhir mahasiswa mempengaruhi kelinieran jurusan. Ex: S1 skripsi sy ttg linguistik, S2 novel. Sy menempuh S1″gelar ganda” yg pertama ttg linguistik yg kedua hny laporan PPL. Gelar ny S.S., S.Pd. Kl sy lanjut S3, Baik ny lingustik/ bahasa?? Skr sdg proses pengajuan NIDN. Sdh 3tahun d poltek tp blm mnjabat apapun/ menulis. Kmrn sy hny fokus mengajar&kul S2. Target sy, dosen pend bhsa pd PTN/S&serdos. Ad saran Pak?? Sulit menembus PTS d tmpt sy wl sy sdh sesuai jurusan. Yg d serap mlh S1 dg KKN. Sy ingin mndptkan hasil dg fair bkn hasil minta2.

  38. Assalamu’alaikum…salam kenal dan hormat untuk Pak Hamid.
    Salam kenal dari Harry. Saya lulusan S1 UIN Bandung tahun 2009 jurusan MANAJEMEN DAKWAH dengan gelar S.Sos.I Setelah lulus S1 saya mengajar di SD islam Swasta di Bandung selama 4 tahun,,,memang dulu mengajar di SD bukanlah pilihan utama,karena keinginan saya yang utama adalah menjadi dosen. Dulu Kepala Jurusan saya datang ke rumah menyarankan untuk langsung mengambil S2 setelah lulus S1,tapi saya mundur dulu dikarenakan kondisi yang belum memungkinkan.
    bulan november 2013 saya sudah keluar dari SD tempat saya mengajar dulu, rencananya saya ingin meniti karir menjadi dosen. Tidak lama setelah saya keluar, ternyata saya dipinta mengajar di SD swasta lain lagi (berbeda), tapi dengan kesepakatan yang saya ajukan saya akan mengajar hanya 4 jam pelajaran. Saya mohon arahan dari bapak, langkah kedepan apa yang harus saya pilih untuk menjadi dosen? Apakah untuk menjadi dosen saya bisa mengambil MANAJEMEN PENDIDIKAN (karena sy jg sambil ngajar di SD)….apakah jurusan tersebut linear dengan S1-nya dan bisa berkesempatan menjadi dosen?

    1. Kalau S1 manajemen dakwah yang masuk rumpun agama, mungkin sebaiknya ambil S2 manajemen dakwah juga. Linieritas ini mutitafsir, paling gampang kita meihatnya dari rumpun keilmuan. Kalamu manajemen penidikan masuknya ke rumpun pendidikan.

      1. setuju dengan pak hamid. linieritas ini multitafsir. kalau mau aman, ambil S2 yang sesuai dengan program studi S1. kalau ada S2 Manajemen Dakwah sebaiknya diambil, yang gelarnya mungkin, M.Ag atau M.Si.

  39. Salam kenal bapak Hamid…
    Jujur berkat artikel bapak, saya semakin mantap dan sudah tidak ragu-ragu dengan pilihan saya untuk melanjutkan karir dengan menjadi dosen (baru lulus S1)…..
    sebelumnya terima kasih untuk artikel nya bapak yang sangat bermanfaat ini..

    pertanyaan saya mengenai ini bapak…
    berdasarkan pertanyaannya bapak pada jawaban dari pertanyaan saudara FIFI diatas yang berbunyi “Jika mengambil magister pendidikan sains walaupun berada dalam satu rumpun ilmu (rumpun pendidikan) bisa saja dianggap tidak linier (soal linieritas banyak sekali penafsiran)”, maka saya juga ingin menanyakan mengenai alternatif pilhan jrusan Magister yang rencana saya ingin melnjutkan di salah satu PTN di kota Malang pak…jrusan tersebut sbb pak :
    saya lulsan S1 Pendidikan Teknik Informatika (S.pd) dan rencanya ingin mengambil,
    1. S2 Pendidikan Kejuruan (M.pd)
    2. S2 Teknologi Pendidikan (M.pd)
    3. S2 Teknik Informatika (MT)
    jurusan manakah pak dari ketiga alternatif jurusan tersebut yang linier dengan jrusan S1 saya pak??
    terima kasih pak atas perhatian dan jawaban dari bapak..
    semoga bapak dan keluarga sukses selalu..
    Amieen… 🙂

  40. to achmad hamdan; saran saya ambil S2 pendidikan teknik kejuruan kalau progam studi strata satu anda berada di Fakultas Teknik Kejuruan.

  41. pak hamid,
    saya sudah baca tulisan bapak. begini pak, saya sudah punya pengalaman menjadi dosen di univ swasta di jkt 7 tahun 4 bulan, sudah punya jenjang akademik IIIC dari kopertis wilayah III, pendidikan S1 dan S2 linier yaitu Teknik Industri. sekarang saya menjadi PNS sudah 8 tahun 5 bulan dan terdaftar juga sebagai dosen swasta di medan lebih kurang 2 tahun, sudah punya NIDN tetapi selama di medan saya tidak pernah mengajar karena mahasiswanya sedikit. Saya masih berniat S3 karena pingin balik jd dosen. Yang saya mau tanya apakah saya bisa beralih menjadi dosen PTN atau dosen kopertis? Kalo S3 apakah jurusan manajemen bisa dikatakan linier dengan Teknik industri? Mohon jawabannya pak. Terima kasih

    1. kalau di permenpan 17 2013, syarat alih pns menjadi dosen memiliki pengalaman mengajar dua tahun. Memiliki nidn bisa jadi kelebihan, namun bisa jadi masalah juga karena pns sebetulnya dilarang menjadi dosen tetap pts. untuk lengkapnya silahkan buka link ini: http://forlap.dikti.go.id/downloadfile/12. Oh ya. soal S3, jika berniat menjadi dosen ambil saja teknik industri, karena jelas manajemen dan teknik industri tidak linier.

  42. salam kenal pak Hamid, tulisan bapa sangat informatif..
    saya mau tanya, mengenai linieritas, s1 dan s2 saya adalah pendidikan bahasa Arab,
    menurut saran bapa, prodi apa yg tepat untuk sarat linier,,,untuk s3 saya
    1. linguistik
    2. kajian timur tengah konsentrasi linguistik Arab
    menurut bapa apakah keduanya linier?

  43. Assalamu’alaikum …
    Terima kasih sharingnya, Pak Hamid … Saya jadi semangat …

    Saat ini umur saya 36 tahun, bulan Juli nanti 37 tahun …

    Pendidikan saya :
    S1 hukum UGM
    S2 hukum Unibraw, Malang
    dan saat ini sedang menempuh S3 hukum di Unibraw (semester 1)

    Selama ini saya bekerja di perusahaan swasta pertambangan batubara (masa kerja 10,5 tahun) …

    Pertanyaan saya :
    – apakah saya masih bisa menjadi dosen?
    – apakah lebih baik sekarang saya melamar dosen, atau nanti kalau sudah lulus S3?

    Saya dari dulu memang bercita-cita menjadi dosen … mohon pencerahannya, pak … Terima kasih.

    1. Jika memang berniat menjadi dosen, jika memang ada kesempatan maka mendaftar saja Pak. Kadang-kadang formasi tidak dibuka setiap tahunnya. Soal sedang kuliah, bisa sambil didiskusikan dengan kampus dan pastinya mengambil posisi izin belajar, jika diijinkan tentunya. Namun jika mendaftar setelah S3, posisi Bapak sebetulnya bisa langsung ke jenjang Lektor/3C, secara karir ini lebih menguntungkan juga. Monggo ditimbang-timbang, tentunya juga soal ekonomi keluarga. Soalnya awal-awal menjadi dosen tentu saja tidak se sejahtera dunia swasta, kecuali di kampus-kampus swasta besar. Salam.

  44. TERIMA KASIH INFONYA PAK HAMID
    saya mau bertanya pak.. menurut penjelasan bapak Dosen harus S2. terakhir berlaku hingga Desember 2015. rencana tahun ini (2014) saya baru mau mendaftar S2 di PTN kota Medan
    saya mulai Juli 2013 menjadi Dosen PTS di kota Medan. karena saya memang bercita-cita ingin menjadi dosen hingga dapat Profesor. yang ingin saya tanyakan apakah saya masih bisa tetap menjadi dosen hingga desember 2015 sementara saya belum lulus S2 karena kemungkinan saya lulus tahun 2016.???
    karena kl tidak bisa mengajar saya kehilangan pendapatan untuk biaya kuliah dan biaya hidup..
    Apakah mengajar di POLITEKNIK sebagai dosen swasta setelah lulus S3 bisa mendapatkan jabatan fungsional guru besar/ Profesor karena kabar burung yang saya dengar untuk mendapatkan Profesor harus menjadi dosen di UNIVERSITAS???
    Terima kasih.

    1. Mengenai konsekuensi setelah tahun 2015 kita masih menunggu. Jumlah dosen berstatus S1 masih cukup banyak, bisa dicek di forlap.dikti.go.id bagian rekap dosen. Saran saya, selesaikan saja secepatnya S2 nya Pak. Jadikan itu prioritas, karena karir dosen memang tergantung jenjang pendidikannya.

  45. Pak Abdul Hamid yang baik.. bagaimana caranya melamar menjadi dosen paruh waktu/tdk tetap di PTN/PTS? kalau sehari2 bekerja di institusi pemerintah, jd hanya punya waktu sore hari atau sbtu-minggu tp ingin rasanya mengajar krn sudah punya ijzh S2.. sayang kl ilmunya dianggurkan, nt lupa n ga maju2
    baiknya sy melamar lewat pos atau datang langsung atau bgmn? lalu di lamarannya apakah disebutkan bhw kita ingin melamar paruh waktu? lalu ditujukan ke HRD atau kemana?trimakasih

    1. PNS boleh saja melamar ke PTS atau PTN, jika dibutuhkan. Prosedur melamarnya tentu saja sesuai lowongan dan kebutuhan tiap-tiap kampus. Tapi sekarang PNS tidak bisa menjadi dosen tetap, walaupun di PTS. jadi statusnya dosen tidak tetap dan tidak bisa mendapatkan NIDN, tapi NUPN. Melamarnya bukan dosen paruh waktu, biasanya disebut Dosen Tidak Tetap. Salam

      1. terimakasih ya pak,, iya memang bukan unutk jadi dosen tetap, kl untuk jadi dosen tetap sy dah baca2 diatas harus pindah jadi dosen PNS/DPK.. mudah2an suatu saat nanti bisa.. yang penting sekarang bisa merasakan mengajar saja sy sudah senang. semoga ada jalannya nanti..

  46. Pak hamid dan rekan2 dosen sekalian, bagaimana tanggapannya tentang wacana perguruan tinggi dibawah kementrian ristek yang disampaikan dalam temu Forum Rektor Indonesia 2014 di solo? Disampaikan juga selama ini dosen lebih banyak melakukan penelitian hanya untuk syarat naik pangkat dibanding manfaat riset tersebut untuk umum sehingga lebih disibukan dengan pekerjaan administratif dibanding membuat karya ilmiah yang bermanfaat. untuk itu diperlukan integrasi riset dan pendidikan tinggi untuk sejalan dalam satu wadah

  47. Assalamu’alaikum, Bapak, semoga sehat dan selalu dalam lindungan dan rahmat Allah, amin. Blog dan tulisan Bapak sangat bermanfaat. Jazakallah khair. Saya jadi banyak belajar dan oleh karena itu saya izin curhat dan mohon nasihat Bapak. Saya baru menyelesaikan S2 Desember 2014 lalu namun karena tempat kuliah masih mengurus akreditasi dan banyak hal, ijazah baru bisa didapat tahun 2015 depan, sehingga saya masih menggunakan ijazah S1 untuk melamar kerja atau Surat Keterangan Lulus S2. Dosen Pembimbing Tesis saya mengabarkan kalau beliau merekomendasikan saya untuk membantu mengajar salah satu mata kuliah beliau semester depan (mungkin maret 2014 karena belum ada kabar). Saat ini saya sedang berusaha melamar kerja ke sana ke mari namun belum ada yang keterima karena saya masih bimbang dengan jadwal mengajar yang belum saya ketahui dan saya sungkan menanyakannya karena posisi saya “masih proses direkomendasikan mungkin asisten honorer lepas atau mungkin sukarelawan wallahu a’lam”. Sedangkan menghitung hari hingga Maret tiba rasanya seperti berabad-abad karena saya butuh bekerja dan membantu keluarga. Usiapun semakin tua. Jika saja saya orang yang kreatif dan dapat menciptakan lapangan kerja sendiri. Mohon nasihat Bapak. Terima kasih banyak. Mohon maaf, Bapak. Jazakallah.

  48. saat dapet serdos ga ribut kenapa tenaga adm ga dpt tambahan…
    sekarang giliran tenaga adm dapat tunj kinerja baru ribut..
    saat tenaga dosen di atur seperti tenaga adm mereka ribut..banyak juga dosen yang bertahun2 ga naek fungsional juga ga ada sangsi apa2.
    kita lihat saja kenyataan yang ada skrg..banyak sekali kita punya guru besar..tapi apakah itu membawa manfaat buat rakyat?? tapi justru yang banyak keluar karyanya justru adalah anak2 SMK yang notabenenya belum lulus sekolah..tapi ya wajar saja..lha wong guru besarnya kebanyakan guru besar KUM
    aneh banget…mau menang dan bener sendiri

  49. Salam pak Hamid. Menarik membaca blog bapak. Sy salah st dosen yayasan, Btw ada kendala yg sy hadapi. NIDN saya tiba2 berubah menjadi NUPN padahak sy memikiji pangkat akademik (asisten ahli) kira2 apa penyebabnya pak?

    Kedua, sy telah mendapat LoA dr univ.luar negeri dan pd saat mendaftar di beasiswa dikti tdk bs login krn hrs pake NIDN. Bisakah dgn NUPN dpt appky di LPDP sbg alternatif pak? Mohon pencerahan pak.

    Salam,

    1. Dear Pak Patta,
      Maaf baru balas,
      Kalau tidak salah memang di bulan November ada validasi dosen berNIDN dan diminta menyertakan berbagai persyaratan, salah satunya SK yang berisi hak dan kewajiban dosen dan yayasan. Mungkin bisa dicek kembali ke operator kampus/kopertis mengenai persoalan tersebut, sehingga bisa diketahui alasan perubannya. Nah, jika terlanjur tidak memenuhi memang mesti mengajukan permohonan NIDN. SIlahkan dicek di web berikut: http://www.kopertis12.or.id/2013/11/28/kebijakan-baru-nidn-dan-nupn.html
      Saran saya, silahkan bergabung ke evaluasi-ps-dikti@yahoogroups.com, disana ada banyak kawan yang bisa membantu langsung persoalan tersebut, beberapa yang bergabung juga operator di kampus/operator.
      Soal beasiswa, nah justru kesempatan melamar ke LPDP Pak, karena dosen ber NIDN malah tak bisa daftar LPDP.Oh ya, syarat beasiswa dikti memang NIDN.

      1. Dear Pak Abdul

        Atas pencerahan bapak sy bergabung di evaluasi dikti yahoo group dan sangat bermanfaat bagi saya. sekedar info ke Pak Abdul saya sudah dapat kontak professor di Dosisha University nama beliau Professor Anne Gonnon. smga NIDN saya bisa selesai dan bisa apply ke Dosisha.

        mungkin pak Abdul kenal sama professor itu karena bapak saya lihat di blognya mahasiswa PhD di Dosisha 🙂

        Salam

  50. saya guru honorer yang memiliki nuptk telah selesai s2 pendidikan matematika berencana menjadi dosen, akan tetapi tidak diterima dengan alasan saya memiliki nuptk. katanya guru tidak bisa menjadi dosen walaupun ia hanya guru honorer. apa benar seperti itu peraturannya untuk sekarang ini menjadi dosen?

  51. Pak Hamid,
    S1 saya Teknik Industri, namun karena suatu hal saya mengambil S2 Psikologi Perkembangan.. Ini memang tidak linier.. Saya ingin bisa menjadi dosen non pns, menurut pak hamid, apakah masih ada peluang itu? Apakah saya sebaiknya melamar ke jurusan teknik industri atau psikologi? Saya memiliki rencana melanjutkan S3.. Namun jurusan yg akan saya ambil tergantung dari jurusan yg sudi menerima saya sbg dosen.

    1. Jika melamar menjadi dosen, yang dipakai tentu saja ijazah terakhir. Namun karena linier nampaknya sulit dterima di PTN. Nah mengajar di PTS bisa jadi pilihan. Jika menlanjutkan ke S3, tentu saja ambil yang linier dengan S2 agar bisa menjadi Guru Besar.

  52. jadi bagaimana solusinya pak? saya telah menghapus nuptk guru saya secara permanen dan mengundurkan diri menjadi guru honorer (saya bukan honorer I dan II cuma honorer di sekolah aja), apakah masih bisa menjadi dosen?atau ada cara lain agar saya dapat diterima jadi dosen?

  53. Assalamualaikum,
    Saya sekarang sedang kuliah S2 jurusan penelitian n evaluasi pendidikan tetapi jurusan S1 saya pendd kimia.saya tau ini tidak linier pak, tapi apakah masih adaa peluang saya untuk menjadi dosen? Dan bila saya ingin melamar jadi dosen, saya harus melamar ϑΐ fakultas apaa pak? D falkultas FMIPA atau FIP? Mohon solusi dari bapak..terimakasih..

  54. salam kenal pak,
    saya sekang sedang kuliah S2 jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan dan dulunya jurusan S1 saya Pendidikan Kimia, saya tahu ini tidak linier pak, tapi apakah masih ada kesempatan saya untuk menjadi dosen? dan bila saya melamar menjadi dosen nantinya, saya harus melamar di fakultas apa?fakultas FMIPA atau takultas FIP atau lainya? mohon bantuan dan solusinya pak, terimakasih.

  55. Trims pak hamid, tulisan bapak sangat bermanfaat, namun dsini saya mau menanyakan, saya ini kan baru saja desember kmrin dinyatakan diterima menjadi dosen pns di uinsa surabaya dan baru saja lulus dr ITS th 2013, sehingga saya dibwah kemenag, apakah perbedaan antara dosen kemenag dan kemendiknas..?, serta jurusan yg akan saya ajarkan kan jurusan baru berdiri sehingga msh sangat kurang terkait sarana dan prasarana, mohon saran bapak menyikapi kondisi tersebut sehingga saya dpt lancar dlm karir saya pak.., usia saya saat ini 24 th serta jujur msh sangat minim sekali pengalaman.. trims sekali pak hamid.

    1. Dosen Kemenag dan Kemendikbud memiliki fungsi, hak dan kewajiban yang sama. Hanya saja, PTAI berada dalam koordinasi Kemenag, sehingga alur kepangkatan dan juga beberapa persyaratan memiliki aturan internal sendiri. Oh ya, Dosen Kemenag juga sama bisa mendapatkan sertifikasi. Karir dosen ditentukan utamanya oleh pendidikan dan produktivitas. jadi rajin-rajin melakukan publikasi ilmiah (tentunya disamping mengajar ya) dan juga berburu sekolah sampai S3. Informasi perdosenan terbaru ada di http://www.dosenindonesia.net 🙂

  56. Pak Hamid,
    S1 saya Sastra Jawa. Sekarang saya sedang S2 semester 1 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia disalah satu PTN. Apakah nantinya saya bisa menjadi dosen? sedangkan jurusan yang saya ambil sekarang berbeda dengan S1 saya. Kalau ingin melamar menjadi dosen ijazah mana yang dipakai, ijazah S1 apa S2?

  57. Salam
    pak abdul saya sangat antusias dengan web bapak..
    saya mo sharing sedikit, soalnya saya masih benar pusing….. tolong bantuanya ya pak..
    begini pak, saya s1 pendidikan agama tahun 2004 dan s2 ilmu komputer jurusan management sistem informasi tahun 2007 dan skrg dosen di salah satu perguruan tinggi di jawa … bisa ga untuk mendapat jabatan fungisional dan sertifikasi? kl dilinearkan s1 lagi diakui ga pa? soale saya coba kuliah s1 ilmu komputer
    mohon pencerahaanya ya pak…
    terima kasih

  58. Ingin pencerahan nih bang..
    Saya dosen tetap PTS, nah sekarang saya sdg melanjutkn kuliah S2 linier dgn pembiayaan BPPDN. Ototmatiskan terikat n+1 setelah lulus nanti d PTS asal saya.
    Tapi kenyataan sekarang saya malah diberhentikan mjd karyawan dan tidak diberikan 1 sks pun mengajar mahasiswa. Skrg sy dimutasikan ke SMK mjg staf gutu disana.
    Yg saya ingin tanyakan, bisakah saya pindah homebase ke PTS lain? Bgmn dgn BPPDN saya agar tdk harus mengembalikan? Trims.

  59. Assalammu’alaikum…
    salam kenal pa.. Alhamdulillah tulisan bpk sgt informatif sekali. Sy jd ingin ikut bertanya. Smg bpk bs membantu.
    Sy adalah dosen d PTS sejak 2008. Sempat mempunyai NIDN tp kemudian d hapus krn sy dinyatakan mempunyai NUPTK pdhal sy sdh tidak mengajar d SMP sejak sy menjadi dosen. Akhirnya sy mengurus penghapusan NUPTK & alhamdulillah sdh terhapus. Pertanyaan sy, kapankah PTS bs mendaftarkan NIDN sy kembali? Apakah bs langsung stlh NUPTK sy terhapus atau ada batasan wkt utk menunggu agar bs d daftarkan kembali NIDN sy?
    Demikian.. Terima kasih byk atas imformasinya..

    1. Setelah NUPTK dipastikan terhapus, kampus bisa mendaftarkan kembali NIDN Mbak/Mas Reren. Namun sepertinya sudah mengacu ke aturan baru, diantaranya ikut test TPA/TOEFL yang diselenggarakan dikti. Tapi dicek saja ke operator, apakah NIDN sudah betul2 terhapus (artinya mesti bikin baru) atau diperbaiki. Salam.

  60. Oiya pa satu lg. PTS tmpt sy mengajar termasuk dlm PTS binaan krn ada kasus dmn ada dosen ber nidn ganda dg no induk pns n nuptk serta dosen berpendidikan s1 yg memiliki NIDN. Pertanyaan sy, apakah bila nama sy didaftarkan utk mendapatkan NIDN akan membuat PTS masuk status binaan kembali?
    Terima kasih atas jawabannya

  61. Saya sekarang sedang menjalani proses percobaan dosen tetap di PTS di Bandung yang cukup terkenal. Yang saya sayangkan adalah tidak dihargainya pendidikan di Indonesia secara umumnya. Bayangkan saja, pendidikan terakhir saya S3 dari Jepang (baru pulang tahun 2013), masuk ke PTS ini hanya digaji sebesar Rp. 1.195.000…jauh dibawah UMR dan juga di bawah gaji PNS seperti yang Bapak jelaskan. Saya hanya geleng-geleng kepala saja dan berfikir sampai sekarang, kasarnya…ngapain saya sekolah sampai S3 kalau hanya dapat gaji segini di Indonesia??? 😦

    Yang lebih parah lagi, segala pencapaian saya yang sebelum ini bekerja di Malaysia selama 7 tahun dan publikasi2 yang telah ada sebelum kita mengurus jabatan akademik tidak akan diperhitungkan dalam menentukan golongan jabatan akademik. Sampai sekarang saya masih nggak abis pikir aja Pak. Gaji pembantu saya aja lebih besar dari gaji saya :((

    1. Yah itulah Mbak Mia buruknya sistem pendidikan tinggi kita, kurang memberi insentif bagi mereka yang produktif secara akademik. Soal pekerjaan, mungkin tidak ada salahnya ngintip2 kampus lain. Ada juga beberapa kampus swasta besar di jakarta yang berani menggaji dua digit.Kemudian, kalau tidak salah sekarang banyak PTN juga yang membuka penerimaan dosen tetap non PNS. Hak dan kewajiban setara dosen PNS bedanya status dan pensiun saja.

  62. aslmkum pak hamid..saya mas’ud lulusan s2 hukum islam linier, mao tanya kira2 ada lowongan dosen gak yah?baik perguruan tinggi atau swasta barangkali bapak punya infonya?tetapi lowongannya dareha jakarta pak..kareba saya tinggal d jakarta barat trimaksih pak

  63. salam,
    saat ini saya menjadi dosen tetap disebuah PTS yg cukup besar (dibawah yayasan ‘milik’ bumn). di pts tsb saya mendapat takehomepay sebesar 4,6jt (cat:saya belum punya jabatan fungsional,pendidikan s2).menurut informasi saya akan dapat gaji sekitar 7jt lebih, bila sudah memiliki jabatan fungsional.
    fasilitas yg bisa saya gunakan cukum baik,mulai dari meja kerja,makan siang gratis,hingga tunjangan untuk seminar2.
    beberapa waktu lalu,saya diterima jadi dosen pns di sebuah ptn.
    saat ini saya sedang bingung untuk memilih antaranya. menurut bapak,manakah yg lebih baik?

  64. mencerahkan sekali mas tulisannya, saya mau tanya, apakah bisa menjadi dosen pns di PTN dengan latar belakang s1 ilmu ekonomi dan s2 manajemen keuangan? Ataukah hanya bisa melamar menjadi dosen di PTS saja? terimakasih mas

  65. Bah… sya kan lulusan dr Pend.Seni Rupa(pekuliahanya mmpelajarai ttg patung,lukis,pend.seni dsb) nah…sya tetarik buat kembangin kemampuan sya d bid.patung dg harapan disamping bs lebh matang,sya ingin juga bisa jadi Dosen khusus patung. alias pny spesialis. Nah mlihat lapangang skarang ttg adanya linieritas itu apa jln yg mau tak tmpuh buat ending jd dosen ini udh benar? ataukah sya harus ambil yg s2 Pendidikan Seni saja? sya masih rancau dg ini. Mohon arahanya.. baiknya gmana?? klo dilogika seorg dosen harus profesional d bid.ny..sya pgn ambil s2 penciptaan dan pengkajian khusuny s.patung…it pas bgt. tp kok y ad linieritas itu yg blm jels pasti gmn….. trimakasih.

  66. Salam kenal pak hamit. Saya lulusan s1 hukum PTS dan lnjut s2 hukum PTN (baru apply) .. cita2 saya ingin mjd dosen. Pertyaan sya . Hal2 serta kegiatan apakah yang harus sy lakukan slma perkuliahan S2 agar kiranya dapat mempermudah langkah sy menuju cita2 tsb pak.. mohon saran dan spirit bapak.

  67. Salam Kenal Pak.
    S1. Pend. Agama Islam, s2, Teknlgi Pend. Agam Islam, S3. Teknologi Pend. (Tdk Ad Islmy)
    Apakah ini bisa dikatakan linier?

  68. Setelah bekerja di industri sambil mengajar part-time di universitas, saya baru benar-benar bisa mengapresiasi mereka yang memilih profesi dosen di Indonesia. Luar biasa sekali perjuangan menjadi dosen itu, setelah meraih pendidikan S2-S3 dengan susah payah, mereka harus mengajar, riset, menerbitkan publikasi, melakukan pengabdian masyarakat, mengikuti sertifikasi ini dan itu, melakukan pekerjaan administrasi, terus menerus belajar dan mengupdate ilmunya…mengajukan grant, melakukan bimbingan…. melakukan paper review….
    dan penghasilan serta fasilitasnya ? jauh sekali dengan industri.

    Di Industri jauh lebih santai daripada di akademia, pekerjaannya jauh lebih simpel dan kita jarang membawa pekerjaan pulang.

    Saya ngajar part-time honornya hanya cukup untuk beli pulsa, di program MM univ yg katanya top dan mahal di Indonesia….padahal capek mempersiapkan bahannya, sampai sabtu minggu saya pakai untuk mempersiapkan bahan kuliah.

    Viva dosen Indonesia….. nasib bangsa di tangan dosen-dosen Indonesia… Insya Allah semua akan menjadi amalan yang baik…

    Semoga banyak profesional yang mau jadi dosen part-time juga. Lumayan buat beli pulsa, eh maksud saya untuk menyumbang ilmu bagi generasi muda Indonesia.

  69. Tanpa harus meniti karir hingga jenjang professor, take home pay saya sudah mendekati angka tersebut. Saya juga tidak perlu melakukan penyetaraan ijazah S2 yang saya dapatkan dari universitas luar negeri. Life is beautiful!! Disclaimer: komentar ini ditulis oleh seseorang yang secara sadar menolak menjadi dosen dan memilih karir di bidang lain.

  70. Wawasan saya tentang dosen menjadi lebih terbuka setelah membaca tulisan bapak. TerIma kasih Pak.

    Saya memang bercita-cita jadi dosen semenjak SMA. S1 saya Psikologi, baru saja lulus november 2013 lalu. Saat ini saya memang ingin melanjutkan S2 jurusan Performance Psychology. Alhamdulillah saya sudah mendapatkan tempat di univ yang saya inginkan, namun masih menunggu proses seleksi beasiswa agar saya bisa benar-benar lanjut sekolah S2.

    Sebenarnya yang mau saya tanyakan, apakah bisa saya mengirimkan lamaran dosen ke PTN, mengingat lowongan dosen CPNS tidak dibuka sepanjang waktu? Jika bisa, apakah PTNnya harus sama dengan almamater waktu kuliah dulu? Terima kasih.

    1. Mbak Irrestry yang baik. Selamat ya sudah diterima sekolahnya, semoga lancar dapat beasiswanya. Untuk menjadi dosen tetap PNS memang waktunya hanya pad saat pembukaan CPNS saja. Namun demikian ada juga tak ada salahnya investasi, membuka jaringan dan pengalaman dengan menjadi asisten dosen atau di lab. Sehingga begitu pendaftaran kita punya pengalaman dan juga dikenal. Oh ya, selain itu ada juga kesempatan menjadi dosen tetap non PNS yang waktu pendaftarannya ditentukan oleh masing2 PTN. Kemudian tidak ada ketentuan menjadi dosen hanya di almamater.

  71. Salam kenal, pak. Sblmx terima kasih buat infox. Berharga sekali 🙂 Pak, saya kan baru sj tamat SMA dan ingin melanjutkan pendidikan sy d slh satu PTS d Salatiga, jurusan Sastra Inggris. Cita-cita saya kan pengen jadi dosen juga pak, cm ad pertanyaan yg terus mondar-mandir d pkrn sy. Gini loh, pak, mnrt bpk walaupun S1 sy d PTS yg katakanlah gak ngetop amat lah, m’pengaruhi peluang sy jd dosen atw tdk ya, pak ? Trs mnrt bpk kira-kira kalau sy ngambil S2 baiknya jurusan ap ya pak ? Mhn dbls ya, pak. Trm ksh.

    1. Yang harus dilihat bukan swasta atau negeri, tapi akreditasi program studi yang diminati, sebisa mungkin kuliahlah di prodi yang terakreditasi A atau setidaknya B. Jika mau jadi dosen, syaratnya adalah linieritas untuk semua jenjang pendidikan, jadi ambil saja sastra inggris untuk jenjang S2 nya. Semoga sukses ya.

      1. Terima kasih, pak. Nnt kalau ad yg ingin sy tanyakan boleh mampir ksni kan ? Trm ksh byk, pak. Tulisan dan semua jwbnx sgt sgt sgt b’manfaat 🙂

  72. Selamat malam pa, ada hal yg perlu saya tanyakan, istri saya mau melanjutkan kuliah S2, S1 jurusan pendidikan bahasa inggris, rencana melanjutkan S2 ke sastra Inggris, mohon saran dari bapak apakah juusn yg akan di ambil linier apa tidak, karna rencana kedepan berkarir di jadi dosen, atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.

    1. Saya khawatir bisa dipersepsikan tidak linier. S1 pendidikan bahasa inggris masuknya ke rumpun pendidikan, sedangkan S2 sastra inggris masuk rumpun bahasa. Tapi linieritas ini soal persepsi. Bisa jadi tafsiran satu pihak dengan pihak lain berbeda dalam kaitannya dengan penerimaan dosen, dan jenjang karir nantinya.

  73. Selamat pagi pa, punten mau bertanya, s1 biologi murni (S.Si) tapi kuliah akta 4 lα̲̅g̲̅î untuk mengajar, S2 manajemen pendidikan (M.Pd) apakah linear ataw satu rumpun? Untuk mengajar ϑΐ PTN dan sertifikasi dosen, apakah harus S3 manajemen pendidikan, s3 biologi murni, s3 pendidikan biologi? Atau harus kuliah S2 biologi murni lalu S3 biologi murni? Mohon pencerahan dan balasan nya. Hatur nuhun

    1. S1 biologi murni dan S2 manajemen pendidikan tidak linier. Jika mau sempurna ya sebaiknya ambil S2 biologi murni dan S3 biologi murni. Nanti jadi dosen bisa di Biologi atau di pendidikan bioloi. Kecuali pindah ke pendidikan, ambil S3 manajemen pendidikan. Nanti jadi dosen di FKIP.

  74. Hmm, ini lagi, masih berkaitan dengan artikel kesejahteraan dosen malaysia vs. dosen Indonesia. Baru saya tulis komen saya diartikel tersebut dengan username “Anon”. Sekali lagi, think about it, think twice…

    Apakah dunia pendidikan tinggi di Indonesia pantut disebut sebagai higher education jika sesungguhnya lebih pantas disebut further education, alias SMA kelas 13, 14, 15 dan 16. Saya singkat saja disini, hal ini dikarenakan dosen atau peneliti yang konsensus global -nya harus bergelar doktor, atau setara s3, tidak bisa memaksimalkan kompetensi yang diperolehnya dalam pendidikan doktor -nya dikarenakan tidak adanya dukungan dari pemerintah dan swasta. Kompetensi disini adalah utamanya mengembangkan ilmu pengetahuan yang dilihat outputnya dengan dipublikasikannya karya ilmiah sang dosen tersebut di jurnal akademik dengan impact factor yang tinggi (kalau seminar/konferensi akademik umumnya kurang dianggap sebagai wadah para dosen dan ilmuwan saling berbagi karya ilmiahnya agar saling mengutip tulisan 😉 ). Ini semua terjadi karena sang dosen, atau peneliti, terpaksa “mengamen” di 2 atau bahkan 5 lembaga pendidikan tinggi atau “kreatif” menjadi manajer didunia profesional agar bisa bayar listrik, PAM atau bahkan menyekolahkan anak2x -nya. Demi menyambung hidup dikota besar (boro2x mendapat tunjangan fasilitas lab dan peralatan pengembangan ilmu pengetahuan lainnya yang memadai untuk menunjang kegiatan karya ilmiah). Jadi saya mohon sekali lagi agar jangan menekan kolega kita dengan konsep nasionalisme bagi mereka yang berjuang dinegeri orang disaat maraknya pemimpin atau pengambil kebijakan negeri ini berjamaah dalam korupsi atau dengan konsep bahwa profesi dosen adalah pengabdian disaat mereka terpaksa dengan sangat berkompromi dengan kompetensi mereka dalam memajukan bangsa ini melalui penelitian dan pengembangan (R&D).

    I’m sorry to say, but in reality, “higher education” in Indonesia is nothing but “further education” in reality. Silahkan baca komen saya selengkapnya diartikel Pak Abdul Hamid mengenai “kesejahteraan dosen Malaysia vs. kesejahteraan dosen Indonesia.” Semoga bisa dijadikan bahan perenungan.

    Think about it, think twice…

  75. Pak sy dari S1 Pendidikan Teknik Elektro,sy sudah ikut seleksi S2 dan lulus di 2 PTN.menurut bapak sy pilih yg mana??
    1. Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
    2. Biofisik
    Yang mana yg sesuai untuk menjadi dosen??
    Yang mana yg lbh banyak prosek kerjanya??
    terima kasih

  76. saya mau bahas NIDN, jujur ini kebijakan yang berat khususnya pada bagian toefl.

    saya baru jadi dosen, saya bingung apa kaitannya TOEFL dengan pengajaran.

    secara dalam mengajar lebih banyak menggunakan bahasa indonesia, bahasa inggris saya gunakan dalam pemrograman dan penggunaan aplikasi komputer.

    apalagi syarat minimal : Memiliki kemampuan Bahasa Inggris pada tingkat TOEFL internasional 500 atau IELTS 5.5

    saya baca syarat yang satu itu sepertinya lebih condong untuk memajukan lembaga bahasa asing, lumayan bayar testnya dan si pembuat kebijakan belum tentu TOEFLnya mencapai 500.

    saya ga paham sama kemdiknas sekarang, banyak pengajar yang berkata pendidikan sekarang menuju ke arah kemunduran, dengan beranak pinaknya syarat dan kurikulum yang mengorbankan banyak tenaga pendidik.

    banyak teman-teman pengajar yang lebih memilih urus proyek dan berhenti mengajar, akibat aturan yang terlalu banyak, pendapatan yang tidak sepadan dan status tidak jelas.

  77. Salam
    Mohon pencerahannya,
    Saya PNS Pemda Golongan III C, sekarang dinas di kecamatan dan sedang menyelesaikan beasiswa studi S-2. Saya berkeinginan menjadi dosen, tapi kurang paham caranya pindah dari Pemda ke lingkungan PTN.
    Mohon pencerahannya, Pak.Terima Kasih
    Salam

  78. Bapak Yang terhormat, saya lulusan S1 Desain (sarjana Seni) dan sekarang mengajar Desain sebagai Dosen Luar Biasa di kota saya ini, Kebetulan saya punya gelar S2 Psikologi jadinya tidak linier. Pertanyaannya jika saya memakai S2 saya dan melamar menjadi dosen tetap psikologi apakah bisa? (kemudian melanjutkan s3 psikologi).

  79. pak, gmana klo pendidikan S1 saya Pendidikan Seni Rupa dan S2 saya penciptaan dan pengkajian seni rupa,, apakah liniear atw tidak dan apakah bisa diterima sebagai staf pengajar (dosen) d suatu universitas,,?.. dan apakah suatu saat nanti tidak akan bermasalah bgi seleksi PNS?? mhn penjelasannya pak

    1. Kalau dari aspek rumpun pendidikan, S1 masuk ke rumpun Pendidikan dan S2 anda rumpun ilmu seni. Tapi saya mencermati ada lowongan dosen, bahkan di PTN yang menerima calon dosen dengan fokus ke core ilmunya, misalnya: S1 bahasa inggris dan S2 pendidikan bahasa inggris, atau sebaliknya. Yang jelas, ketika menjadi dosen dan berniat melanjutkan ke S3 sebisa mungkin linier dengan jenjang S2nya. Salam

  80. Pak, Saya lulusan Ekonomi Pembangunan (S1). Saya sedang menjalani program Magister Manajemen (MM). Rencananya mengambil jurusan Manajemen Keuangan. Saya ingin menjadi dosen setelah selesai MM saya. Apakah ilmu yg saya ambil ini termasuk linier dan nantinya tidak menjadi masalah. Rencananya saya nanti ingin mengambil S3 jurusan yang sama Manajemen Keuangan. Terima kasih

  81. Pak saya seorang sarjana yang baru lulus tahun ini jurusan pendidikan Jasmani kesehatan dan rekreasi. Dan hendak mensruskan s2 untuk jurusan psikologi olahraha . Apa itu bisa disebut linier dikarenakan kedua nya berbeda fakultas ? Mohon bantuanya pak . Terimakasih

    1. Sebetulnya tidak linier. Akan ada kesulitan ketika mendaftar menjadi dosen dalam aspek administratifnya. Tapi sebetulnya dalam beberapa kasus yang dilihat hanya S2nya. Tapi ketika nanti ambil S3 ambil yang sesuai dengan S2 nya ya. Silahkan juga berdiskusi dengan pihak2 terkait ya. Semoga bermanfaat.

  82. salam sejahtera pak…
    Saya udh 5 tahun menjadi dosen diPTS swasta dan sampai skrg blm punya jafung apalagi sertifikasi dosen…udah hopeless pak…kenapa kesejahteraan dosen jauh kami dapatkan? Lebih nyaman menjadi guru…? Tolong pencerahannya pak.

  83. Assalamualaikum Pak. Mohon maaf sebelumnya jika pertanyaan saya terlalu panjang. Program studi S1 saya adalah Pendidikan Ekonomi dengan Konsentrasi Pendidikan Tata Niaga di salah satu Fakultas Ekonomi PTN. Tema penelitian skripsi saya mengenai sumber daya manusia karena di dalam prog. studi saya masih berkaitan erat dengan MSDM. Pertanyaannya:
    1. Saya berniat melanjutkan S2 di Magister Ilmu Administrasi dengan Konsentrasi Administrasi Bisnis dalam FISIP. Apakah itu linier Pak? Saat saya cek dalam rumpun ilmu Dikti dalam UU Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi dan Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_academic_disciplines), ilmu pendidikan dan ilmu administrasi berada dalam satu rumpun yang sama, yaitu Rumpun Ilmu Terapan.

    2. Menurut Bapak, dengan latar belakang S1 dan tema penelitian skripsi saya, apakah saya bisa dikatakan linier jika mengambil program studi S2 yang berkaitan dengan SDM, seperti Magister MSDM? Karena sejujurnya saya ingin sekali bisa menjadi dosen dalam ruang lingkup MSDM.

    3. Apakah Bapak mengetahui info mengenai rumpun ilmu program studi Manajemen sesuai UU Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi Pak? Karena saya masih rancu apakah Manajemen masuk ke lingkup Ilmu Ekonomi dalam Rumpun Ilmu Sosial atau ke lingkup Ilmu Bisnis dalam Rumpun Ilmu Terapan. Jika berdasarkan artikel ini http://www.pers-upn.com/mainsite/informasi/berita-utama/435-pertimbangkan-rumpun-ilmu-fakultas-ekonomi-berubah-nama-menjadi-feb.html, Manajemen masuk ke dalam lingkup Ilmu Bisnis di Rumpun Ilmu Terapan.

    Terima kasih sebelumnya Bapak. Semoga Bapak berkenan untuk menjawab pertanyaan saya.

  84. Aslkm.., salam kenal pak hamid, nama saya tahjuddin saya sudah 3 tahun menjadi dosen luar biasa disalah satu universitas swasta, dan saya masih S1, ada ngak info beasiswa s2 utk seseorang yg telah lama mengabdi dan beasiswa nya itu langsung khusus utk org2 yg seperti saya tanpa TOEFL, dan saya juga belum ada NIDN??

  85. Dosen bukan hanya banting tulang, namun juga banting harga diri di depan siswa yang lebih kaya, yang memperlakukan dosen sebagai orang upahannya.
    Selain itu , Dosen juga banting perut (puasa), karena menghasilkan karya terbaik perlu energi berkualitas yang bisa minim bisa dibeli dengan standar gaji yang masih rendah. Tuntutan karya ilmiah dengan standar jurnal internasional juga terlalu tinggi, jika berbasis pada penghasilan dosen, belum lagi akses rendahnya kualitas internet di kampus, biaya penelitian yang di potong-potong, inflasi terhadap atribut keperluan penelitian, bayar pajak HR penelitian, turunnya dana dan HR penelitian yang lama, masih di kritisi lagi, serta adanya kecemburuan sosial antar dosen.
    Bagaimana tanggapan Bapak mengenai kehidupan dosen yang penuh dengan polemik ini, dan kalupun dosen mengajar banyak diluar, bagaimana dengan mutu pengajarannya, yang penting kan uangnya untuk bertahan hidup. HArusnya ini menjadi wacana pemerintah, mengenai nasib intelektualitas penerus bangsa ini, mau di didik dengan cara bagaimana jika dosennya sendiri masih berkekurangan?. Ibarat bebek yang di dorong terus untuk bertelur emas, tapi inputnya tidak memadai. Ibarat pula kran air yang makin di perkecil debit airnya, hingga menetes saja, itulah mekanisme kemapanan kehidupan seorang dosen. Terlalu ribet persyaratan yang harus dipenuhi. Di negara lain, seperti yang Bapak sebutkan aturan ini tidak menjadi masalah karena kemudahan -kemudahan yang ada yang mendukung dan memfasilitasi. Namun bagi yang tidak, tentu saja hal tersebut merupakan pengorbanan luar biasa. Mungkin lagu yang memposisikan guru, dosen, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa harus di hapuskan. Bagaimanapun profesi dosen harus di junjung tinggi, karena Allah saja menempatkan profesi ini sebagai profesi terhormat yang patut mendapat imbalan surga akhirat karena kontribusi dosen dalam mentransfer ilmunya. Bagaimana tanggapan Bapak mengenai hal ini, dan Terimakasih banyak atas pemikiran Bapak.

  86. Pak saya saat ini sedang menempuh S1 teknik industri dan saya berencana untuk melanjutkan S2 dan S3 di jurusan teknik sipil, apakah bisa ? Jika bisa apakah nantinya saya bisa diterima jadi dosen ?

  87. setelah saya baca beasiswanya utk yg uda ada NIDN, jadi gmn nih pak?? mungkin saya agak curhat dikit nih, di universitas ini seringkali nepotisme selalu bermain, ada beasiswa tapi yg dikasih sanak family nya, ini benar2 terjadi, kita mau cari beasiswa tapi kayaknya kadang dikti persyaratannya terlalu berat dan berbelit-belit, dan juga terjadi nepotisme, informasi ke daerah2 sangat kurang sehingga beasiswa banyak diambil oleh org2 yg mempunyai akses ke dalam instansi yg mengadakan beasiswa itu sendiri.

  88. Aslmwrwb.. Pak Hamid, saya Irwansyah. Rencananya tahun ini saya mengikuti tes CPNS dosen. Saya sekarang sedang pendidikan doktor dan rencana tahun depan lulus. Apabila saya lulus PNS dosen tahun ini dan lulus doktor tahun depan, apakah pas sy lulus nanti ijazah S3 saya bisa langsung diakui (i.e. dengan adanya penyesuaian pangkat dan golongan sesuai dengan ijazah S3)? atau saya harus menunggu beberapa tahun baru ijazah S3 saya bisa diakui? Terima kasih sebelumnya pak. Wassalam

    1. Waalaikum salam Pak Irwansyah, semoga lolos testnya. Nah, SK CPNS dan PNS tentu saja akan mengikuti formasi yang diikuti ketika test. Hanya saja pastikan bahwa anda mengajukan izin belajar ke atasan segera setelah diterima. Konsekuensi izin belajar artinya ijazah nanti diakui dalam proses kenaikan jabatan fungsional/ golongan. Nah sepemahaman saya, tak ada penyesuaian pangkat/golongan otomatis, yang ada adalah begitu lulus, dalam pengajuan golongan/jabatan fungsional ijazah S3 bisa langsung dimasukkan ke penilaian. Salam.

  89. Salam Kenal Pak Abdul Hamid. Nama saya Dony. Saya tertarik sekali untuk mengabdi di PTN di Indonesia. Bidang saya teknik Elektro. Saat ini saya sedang S3 di Belanda Pak dan sedang di tahun terakhir (tinggal revisi thesis dan moga2 bisa segera dapat approval dari Professor untuk sidang akhir). Masalah saya adalah umur pak. Saat ini usia saya 37 tahun 4 bulan. Kira2 mungkin saya lulus 38 tahun. Kalau lihat persyaratannya untuk dosen PNS, saya sepertinya bahkan sudah nggak diperbolehkan ikut test karena maximal usia adalah 35 tahun. Usia 35-40 tahun katanya boleh tapi harus memenuhi banyak syarat tentang pengalaman kerja. Sementara riwayat saya:
    Oktober 2000-December 2003 => dosen tetap (full time) di PTS, Januari 2004-Juli 2005 (sekolah S2), September 2005-December 2005 => dosen tidak tetap (paruh waktu) di 1 PTS, Januari 2006-Juli 2007 =>dosen tetap di PTS, September 2007-Agustus 2009 (ambil s2 lagi), Januari 2010-Juli 2010 (dosen tidak tetap (paruh waktu) di 2 PTS), September 2010-sekarang ambil S3. Sepertinya kok nggak cukup untuk memenuhi persyaratan pengalaman kerja. Oleh karena itu sekarang saya agak berpikir tentang dosen Non PNS di PTN. Tetapi saya kok belum bisa menemukan link yang menerangkan detail apa beda dosen Non PNS dan dosen PNS di PTN karena saya mendengar ada complain mengenai kesenjangan antara keduanya. Apakah bedanya cuman yang satu dapat pensiun dan yang satunya tidak? Terima kasih Pak Abdul Hamid.

    1. Salam kenal Mas Donny. Betul, sekarang terbuka kesempatan menjadi dosen di PTN dengan status Dosen tetap. Artinya memiliki kesempatan yang sama dalam aspek karier, bisa ikut serdos dan mencapai jenjang Profesor. Soal perbedaan, ya pensiun memang salah satunya. Ini bisa dipelajari di UU ASN dan permendikbud tentang Dosen tetap non PNS.

  90. Salam kenal. Sayang forum ini hanya menyoroti dosen PTN.
    Saya bagi pengalaman yg sedang saya jalankan sampai sekarang.
    Saya menjadi dosen di sebuah PTS di Kebumen sejak desember 2004 s.d sekarang (10 tahun) dan diangkat jadi dsn tetap sejak ags 2006 (8 th). Selama itu pula saya tidak pernah mendapat Gaji Rp.1 pun dari lembaga. Hanya mendapat honor kalau saya ngajar. Klo gak ngajar ya ga dpt apa2. Besaran honor tergantung kebaikan akademik memberikan banyaknya jam kuliah. Miris memang miris. Saya sudah mempunyai JAFA (Asisten Ahli). Shg utk memenuhi dapur ya hrs cari objekan diluar. Sekarang jml mhs di Pts kami hampir 2.000. Ironis banget . Kesejahteraan dosen sangat tdk di gubris.
    Bagaimana menurut pendapat Bapak jalan terbaiknya mengingat usia saya sudah 45 th. Sebelum jadi dosen saya lama di Jkt bekerja sbg Auditor di KAP.

  91. Salam kenal Pak Abdul Hamid. blognya bagus.. saya googling2 akhirnya nemu tulisan Bapak. (mohon maaf cuma reply diatas panjang, saya belum membaca semua, jadi mungkin ada yang menanyakan hal yang sama)
    Usia saya 35 tahun. Saya mau menanyakan apa masih ada kesempatan jadi dosen PTN dengan status PNS? saya lulusan s3 LN & sudah kerja di LN, tapi ada rencana kembali ke Indo (ke daerah saya). apa ada penjelasan singkat bisa tidaknya jadi dosen PTN dengan status PNS diusia saya? saya sudah menanyakan ke teman2 maksimal 35thn untuk PNS, tapi mungkin ada jalan lain tentunya dengan syarat2 & waktu berapa lama dan tentunya kepastian menjadi PNS nya.
    Salam.

    1. Mas Fauzi, usia antara 35-40 tahun dimungkinkan jika memenuhi syarat sesuai pengumuman penerimaan CPNS 2014 ini: “Berusia antara 18 (delapan belas) tahun dan 35 (tiga puluh lima) tahun pada tanggal 1 Desember 2014. Bagi pelamar yang berusia 35 tahun dan kurang dari 40 tahun per tanggal yang ditetapkan oleh Panselnas, harus memiliki masa kerja terus menerus sejak 1 April 1997, pada instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang berbadan hukum yang menunjang kepentingan nasional.”
      Nah jika sulit, kenapa tidak mencoba menjadi dosen tetap non PNS? Hak dan kewajibannya tidak jauh berbeda dengan dosen PNS, bahkan bisa jadi Profesor juga. Pembukaan formasinya dilakukan oleh setiap perguruan tinggi sesuai kebutuhan. Nah dalam UU ASN terbaru, posisi ini nanti sepertinya akan cukup kuat. Dasar hukum dosen tetap non PNS ini adalah Permendikbud 84 2013.

  92. salam kenal pak…saya ayu…saya baru lulus s2 dan diterima jadi dosen di sebuah pts dan NIDN sayapun segera di urus sm pihak yayasan…yg jadi pertanyaan saya, apabila suatu saat saya berhenti dan ingin mengajar di pts lain luar provinsi sedangkan NIDN saya sudah di keluarkan apa masih bisa saya pindah ke pts lainnya? terimakasih..

  93. Aslm Pak Hamid, salm knal n sukses slalu !! Sy aswan, lulusan s1 PTS pendidikan bahsa inggris. Rencana Insya Allah tahun depan (2015) sy ingin melanjutkan s2 pendidikan bahsa inggris. Yg ingin sy tanyakan, apakah ada informasi beasiswa yg bisa didapatkan Pak ? mohon infonya !!!

  94. Assalamu’alaikum pak Abdul Hamid.. menurut bapak lebih yang mana dosen PNS sama dosen Tetap Yayasan (Non PNS) entah dari segi finansial ataupun masalah hak dan tanggung jawab.. terima kasih pak sebelumnya.

    1. Secara umum Dosen PNS memang lebih jelas hak dan kewajibannya dibandingkan dosen tetap yayasan. Namun tentu saja tergantung Yayasan atau PTS-nya. Sekarang bermunculan PTS-PTS yang berkualitas dan menemberi gaji yang amat tinggi serta berbagai fasilitas dan benefit yang jauh lebih baik daripada di PTN.

  95. tulisanya sangat membantu untuk gambaran.

    saya mhsiswa S1 smester akhir lulus sbntr lg, klo dihitung 5 taun tp IP saya kcil dbawah 3.
    saya brncna ambil S2 linear, dan ingin mnjadi dosen di PTS saya dlu.

    apakh IP wkt S1 brpngaruh dlm karir dosen?
    saya brtekad S2 saya lulus dgn sempurna

  96. tulisanya sangat membantu untuk gambaran.

    saya mhsiswa S1 smester akhir lulus sbntr lg, klo dihitung 5 taun tp IP saya kcil dbawah 3.
    saya brncna ambil S2 linear, dan ingin mnjadi dosen di PTS saya dlu.

    apakh IP wkt S1 brpngaruh dlm karir dosen?
    saya brtekad S2 saya lulus dgn sempurna

    terima kasih

  97. para dosen seharusnya usulin aja ke pak anies soal toefl dan sejenisnya di hapus.

    seperti agtiknas (asosiasi guru TIK) pada gencar nuntut minta dikembalikannya TIK ke sekolah.

  98. Luar biasa pak Hamid, saya juga alumni Japan, APU, sekarang merupakan pns Pemda gOL III c, usia 36. Pendidikan s-1 Ad Publik dan s2 double degree ad publik. Saya sudah di terima di salah satu universitas negeri, namun ternyata proses alih status tak semudah yang dibayangkan. Pertanyaan saya, ketika (katakanlah) dapat melalui semua proses dan resmi alih status, apakah saya sudah bisa langsung mengajar dan menyandang status dosen dengan segala haknya seperti bersaing untuk mendapat beasiswa S3? ataukah ada fase yang harus saya lewati lagi? salam sukses

    1. Ketika resmi alih status, yang mendesak diurus adalah NIDN sebagai pengakuan resmi sebagai dosen, tentu sambil melaksanakan tugas yang diberikan institusi (mengajar, penelitian, dsb). Nah setelah NIDN baru segala hal berkaitan dengan hak seperti jabatan fungsional dan beasiswa bisa diproses.

  99. Asalamualkum pak Abdul hamid,saya ingin berkarier menjadi dosen,usia saya sekarang 31,saya sedang bingung dengan linearitas ijazah dosen,S1 saya Manajemen keuangan,dan sekarang saya sedang kuliah semester 1(baru selesai ujian semester) jurusan Magister Ilmu ekonomi,apakah ijazah saya termasuk linear? dan apakah saya bisa melamar menjadi dosen setelah lulus S2? jika saya lihat di rumpun ilmu dikti,manajemen dan ilmu ekonomi itu satu rumpun yaitu rumpun ilmu ekonomi tapi beda sub rumpun.atas jawaban dan pencerahannya saya ucapkan terimakasih

  100. Pak abdul hamid yth.
    Sebelum sk wasbangpan no.38 tahun 1999 dicabut pada pasal 22 dan 23 mengatur tentang pengangkatan PNS dari jabatan lain ke dalam jabatan fungsional dosen. Mohon penjelasan lebih lanjut tentang syarat sekurang-kurangnya telah menduduki jabatan lektor dan juga adakah syarat ini berkenaan dengan syarat minimal pangkat/golongan PNS non dosen berdasarkan sk no. 38 tahun 1999 tersebut? Atas penjelasan detilnya diucapkan terima kasih.

  101. Pak mau tanya, kalau sudah diangkat menjadi PNS guru SD, apa bisa dg syarat tertentu dialihkan mejadi dosen tetap yang PNS juga untuk saat inii??
    Terimakasih.. 🙂

  102. Mohon pencerahan.
    Syarat terakhir menjadi profesor adalah 10 tahun menjadi tetap. Ini yang paling berat, karena harus menunggu 10 tahun.
    Kalau dosen berpindah-pindah PT, apakah 10 tahun bisa dihitung secara kumulatif.

    Terima kasih,

  103. Pak hamid, saya mau tanya tentang dosen tetap non PNS. Ada yang mengatakan bahwa dosen tetap non PNS tidak mendapatkan uang pensiun. Namun saya menemukan di permen NOMOR 84 TAHUN 2013 pasal 9 ayat 2 bahwa dosen tetap non PNS berhak “mendapat jaminan hari tua dan jaminan kesehatan”. Nah yang dimaksud jaminan hari tua dan jaminan kesehatan pada ayat tersebut itu bagaimana pak? Terimakasih sebelumnya..

    1. Hak tersebut tentu saja mesti dipenuhi oleh Yayasan yang menaungi (mempekerjakan) dan tertuang dalam kontrak kerja. Namun tentu saja, mestinya ada perangkat hukum yang mengatur, bahkan sampai sekarang tidak ada kebijakan Gaji Minimal Dosen (semacam UMR) sebagai perangkat untuk membuat dosen dibayar layak.

  104. Assalamu’alaikum.
    Salam kenal pak Abdul Hamid.
    Saya baru sj lulus S2 Filsafat Islam, dan S1 sy jurusan Hubungan Internasional.
    Tapi tema tesis yg saya ambil msih di lingkup topik HI namun dg alat analisis teori dlm filsafat Islam.
    1. Seberapa besar peluang sy untuk bisa ikut cpns dosen HI?
    2. Mungkin gak sy jg bisa ngajar mata kuliah dasar filsafat/logika?
    Terimakasih..

  105. asslmkm mas, mau tanya kalo dari pns pemda ingin menjadi pns dosen kopertis gimana caranya /misbar
    dan apa persyaratannya, pendidikan atau pangkat gol mempengaruhi tdk? terima ksih ditunggu jawabannya
    wasslmkm!

  106. numpang tanya, saya baru selesai S1 pend. bhs indonesia dan sekaraNG saya mendapat tawaran dr ortu untuk melanjutkan ke S2. tp saya bingung, apakah lebih baik saya kerja dulu atau langsung melanjutkan ke S2?
    mowon pencerahannya 😀

    1. JIka hendak menjadi dosen, baiknya langsung S2 karena itu persyaratannya. Jika hendak menjadi Professional sebaiknya bekerja dulu untuk mengenal kebutuhan dunia kerja, nanti S2 menyesuaikan dengan kebutuhan tersebut.

  107. Assalamualaikum Wr. Wb

    Mas Abdul Hamid, bolehkah saya sedikti bertanya tentang sistem linear sebagaisyarat S2 sekarang.
    Saya alumni Akuntansi, untuk mengambil S2 akuntansi mungkin saya sedikit sulit dikarenakan posisi saya di daerah kalimantan dan belum adanya konsentrasi S2 untuk akuntansi.

    Pertanyaan saya, apakah jika saya mengambil S2 Ilmu Ekonomi apakah saya dapat berkesempatan menjadi seorang dosen dalam PTN?

    karena jika saya liat rumpun ilmu, akuntansi masih termasuk dalam Rumpun Ilmu Ekonomi.

    Sekarang saya sebagai pegawai swasta di perbankan syariah, namun saya sangat bercita-cita untuk menjadi seorang pengajar terutama sebagai seorang dosen.

    Selain dapat berbagi ilmu, dan saya dapat berbagi pengalaman hidup serta pengalaman kerja saya.

    Mohon bantuannya untuk penjelasan akan linear dalam rumpun akuntansi

    terimakasih

    Wassalamualaikum Wr Wb

    1. Jika mengambil S2 ilmu ekonomi maka nanti bisa mengajar di Ilmu ekonomi karena untuk mengajar biasanya dilihat ijazah S2-nya dulu sebagai basis. Kalau apakah bisa atau tidak mengajar di PTN tergantung penentuan formasi di tiap PTN. Sebagai contoh ada penerimaan dosen Bahasa Inggris yang menerima juga calon dosen dengan ijazah S1 atau S2 Pendidikan Bahasa Inggris dan begitu sebaliknya. Tapi yang terbaik tentu saja mengambil S2 akuntansi.

  108. Assalamualaikum Wr. Wb

    Mas Abdul Hamid, bolehkah saya sedikit bertanya tentang sistem linear sebagai syarat S2 sekarang.
    Saya alumni S1 Akuntansi, untuk mengambil S2 akuntansi mungkin saya sedikit sulit dikarenakan posisi saya di daerah kalimantan dan belum adanya konsentrasi S2 untuk akuntansi.
    Untuk menempuh S2 akuntansi saya harus ke daerah jawa seperti UI dan UGM. Namun PTN di dearah saya sudah membuka S2 untuk jurusan Ilmu Ekonomi.

    Pertanyaan saya, jika saya mengambil S2 Ilmu Ekonomi apakah saya dapat berkesempatan menjadi seorang dosen dalam PTN dalam konsentrasi akuntansi maupun ilmu ekonomi?

    karena jika saya liat rumpun ilmu, akuntansi masih termasuk dalam Rumpun Ilmu Ekonomi.

    Sekarang saya sebagai pegawai swasta di perbankan syariah, namun saya sangat bercita-cita untuk menjadi seorang pengajar terutama sebagai seorang dosen.

    Selain dapat berbagi ilmu, dan saya dapat berbagi pengalaman hidup serta pengalaman kerja saya.

    Mohon bantuannya untuk penjelasan akan linear dalam rumpun akuntansi

    terimakasih

    Wassalamualaikum Wr Wb

  109. Asslamu.. Pak saya mau bertanya dan minta pendapat. Saya sedang melanjutkan kuliah s2 saya di salah satu ptn di jakarta, waktu s1 saya kuliah di ptn palembang jur pendidikan dan s2 sayapun jurusan pendidikan krn , saya mau jadi pns dosen, target saya adalah 2016 lulus S2 dan mau menjadi dosen di ptn asal daerah saya di palembang, menurut bapak apa saja yg harus saya persiapkan dari sekarang agar cita cita saya menjadi PNS dosen di tahun 2016 tercapai? Apa saja syaratya?

    1. Wah jika memang sudah berniat menjadi dosen tentu mulailah meneliti, seminar dan melakukan publikasi ilmiah. Ini namanya membangun portofolio di bidang keilmuan kita. Selain itu tentu saja membangun dan menjaga silaturahim dengan kampus yang akan dituju. Ganbatte kudasai !

  110. Assalamualaikum. wr. wb

    Salam Kenal Pak Abdul Hamid,
    Saya Yessy, salah satu dosen PTS di daerah kecil Kabupaten di Sumatera Selatan. Jika membandingkan antara salary yang di dapat antara dosen PTN dan dosen PTS sangat timpang. Dosen PTS di gaji oleh Yayasan dan faktanya ada saja gaji pokoknya lebih kecil dari UMR. Seperti buah simalakama, dosen PTS harus menerima alasan “kondisi keuangan yang tidak memungkinkan” ketika ingin menuntut penyetaraan. Apa yang sebaiknya dilakukan, disatu sisi kita ingin mencerdaskan anak bangsa yang berada di pelosok agar mengenyam pendidikan tinggi, namun disisi lain seorang dosen dituntut untuk melaksanakan tridharma tetapi salary yang diterima tidak seidealnya profesi dosen. Misalnya beberapa hak dosen seperti tunjangan dosen yang ditiadakan karena alasan keuangan yayasan.

    Mohon masukan dari Bapak. Terima kasih untuk tanggapannya.

    Wassalamu’alaikum.wr.wb

    1. Mbak Yessy yang baik. Inilah lubang aturan dunia pendidikan tinggi kita. Kalau untuk buruh ada UMK/UMP, mestinya ada aturan semacam itu untuk dosen sehingga bisa tenang bekerja. Kemudian mesti ada aturan lebih longgar untuk urusan lolos/butuh, dalam hal ini melepas/mengambil-alih NIDn bagi dosen yang hendak pindah. Jika ini dilakukan maka pengelola PTS akan lebih concern terhadap kesejahteraan dosen karena asset yang baik bisa lepas jika tak dikelola dengan baik dan diberi kesejahteraan.

  111. Assalamualaikum pak.. saya ingin bertanya pak..
    Kemarin saya mendaftar sebagai dosen tetap di salah satu universitas swasta yg akan berdiri. Sesuai dengan peraturan pemerintah, jika akan mendirikan universitas baru maka harus mentaati beberapa persyaratan. Salah satunya hrs memiliki 6 dosen. Nah ketika universitas baru tersebut sudah berdiri dan mendapatkan ijin dikti, bagaimana status keenam dosen tersebut? Apakah otomatis menjadi dosen tetap? Atau masih ada tahapan test dgn sistem gugur? (mengingat tdk adanya test saat saya mendaftar). Jika masih ada tahapan test dgn sistem gugur, apakah itu artinya universitas tersebut hanya “pinjam nama” saya untuk mendirikan univ mereka jika saya dinyatakan gugur? Berdasarkan info yg saya dapatkan, 6 dosen yg mendaftar sebagai persyaratan pendirian universitas baru namanya sudah tercatat di dikti. Mohon info pak.. terima kasih..

  112. Permisi pak, saya mau tanya mengenai linieritas yg cukup membingungkan bagi saya. Saya lulusan s1 jurusan pendidikan bahasa inggris, dan saat ini saya sedang mulai kuliah s2 jurusan manajemen pendidikan. Apakah itu linier? Dan apakah saya bisa jadi dosen pak? Dan ilmu yang saya ajarkan menggunakan dari s1 atau s2 pak? Kiranya bapak bisa membri saya pencrahan mengenai hal ini. Trimakasih

  113. ass.wr.wb,
    permisi pak, saya mau tanya tentang perhitungan angka kredit jabatan fungsianal..jika saya ngambil jurusan tidak linear, apa nilai yang diambil ijasah terakhir saja, atau ada penjumlahanya…, makasih sebelumnya

    1. Mas Chandra, dalam pedoman operasional PAK dijelaskan: Apabila bidang ilmu untuk gelar akademik yg diperoleh tdk sesuai dengan bidang penugasan Jafungnya, angka kredit S2 10 dan S3 15. Maka perlu betul2 dilihat soal linieritasnya ini. Tapi jika sudah berijazah S2 dan baru melamar jadi dosen, maka yang dilihat hanya ijazah S2nya dengan nilai kredit 150.

  114. maap numpag di wall bapak chandra

    Assalamualaikum Pak..abdul hamid
    Saya radiet ingin bertanya,namun sebelumnya terimakasih banyak atas informasinya..
    jadi begini pak,saya salah satu dosen PTS hampir 5 tahun, saya lulus s2 satu tahun yang lalu,dan saya belum mempunyai jabfung,sekarang mau mengajukan asisten ahli…apakah berpengaruh jika saya mengambil s2 nya tidak linier dengan s2..atau nilai kreditnya 150.
    makasih sebelumnya

    1. Kalau di buku pedoman terbaru (Buka di sini), halaman 11 yang dihitung hanya ijazah S2 saja sebesar 150. Jadi yang dipakai untuk urusan karir ke depan (Jafung, mata kuliah yang diajar, penugasan, dll) adalah ijazah S2. Nah yang penting adalah ketika nanti ambil S3 mesti linier dengan S2nya. Salam.

  115. Assalam..maaf Pak Hamid, saya dosen di salah satu PTS dan audah mempunyai NIDN serta berencana mengajukan jafung. Yang ingin saya tanyakan:
    1.apakah dosen yang mempunyai NIDN dan jafung di PTS boleh mengikuti CPNS untk dtempatkan di PTN?
    2. Apakah ktika lolos CPNS, NIDN dan jafung sebelumnya hangus ato bisa mengikut dng melampirkan surat lolos butuh?
    Trima kasih

  116. Maaf Pak,saya ingin bertanya.saya lulusan s1 pendidikan matematika.sekarang saya bekerja si sekolah swasta,tapi sebenarnya saya ingin kuliah s2 di luar negeri.dan mungkin setelah itu ingin menjadi dosen.saya ingin tanya pak,apakah s2 nya harus mathematics education?kan setau saya sekarang dosen harus linear? Kalau semisal s2 nya education apakah itu juga linear?atau LLEES?

  117. salam pak hamid,
    mau tanya pak, saya S-1 Bahasa dan Sastra Arab. saya berencana mau mengambil S-2 Kajian Wilayah Timur Tengah. Apakah itu cocok pak?,,,, terus apakah jika S-1 Bahasa dan Sastra Arab dan S-2 Kajian Wilayah Timur Tengah linear?,,,,

    trima kasih pak…

    1. Menurut saya masih linier jika tesisnya berkaitan dengan bahasa dan sastra arab (dalam arti luas tentunya). Namun lagi-lagi ada banyak penafsiran soal linieritas, mungkin lebih baik berkonsultasi dengan yang berwenang.

  118. pak saya s1 akuntansi terus s2 magister manajemen keuangan, saya di terima di salah satu pts, kalau saya di tempatkan untuk mengajar akuntansi apakah bisa? atau sebaiknya bagaimana pak? untuk pengurusan nidn atau jabatan fungsionalnya

  119. Assalamualaikum Pak Hamid, Saya adalah seorang dosen Tetap (Surat Yayasan) yang mendapat Homebase di D3 di Salah satu Universitas Swasta. Saya Lulusan S1 di Universitas tempat saya menjadi dosen tersebut. Karena saya menjadi dosen. saya harus kuliah S2, dan Maret 2016 Saya mulai kuliah S2 dengan Prgram yang linear. April 2015 Hingga Sekarang. saya hanya mendapatkan kurang dari 10 Jam seminggu. dengan penghasilan kurang dari 500 ribu. (dengan status S1). saya pernah mengajar 2 Kelas sore S1 dan mendapat Honor 1.5 Selama 2 bulan. ada yang berbeda antara saya mengajar D3 dan S1. ada keraguan dalam hati kecil saya mengenai karir saya menjadi dosen. yaitu mengenai Penghasilan. menurut bapak,
    apakah langkah selanjutnya yang harus saya lakukan ?
    dan Apakah situasi diatas adalah wajar ?
    Usia saya 23 Tahun, menginjak 24 bulan juli mendatang. saya merasa masih ragu dengan karir saya.

  120. Assalamualaikum Pak Hamid, Saya Bayu, adalah seorang dosen Tetap (Surat Yayasan) yang mendapat Homebase di D3 di Salah satu Universitas Swasta. Saya Lulusan S1 di Universitas tempat saya menjadi dosen tersebut. Karena saya menjadi dosen. saya harus kuliah S2, dan Maret 2016 Saya mulai kuliah S2 dengan Prgram yang linear. April 2015 Hingga Sekarang. saya hanya mendapatkan kurang dari 10 Jam seminggu. dengan penghasilan kurang dari 500 ribu. (dengan status S1). saya pernah mengajar 2 Kelas sore S1 dan mendapat Honor 1.5 Selama 2 bulan. ada yang berbeda antara saya mengajar D3 dan S1. ada keraguan dalam hati kecil saya mengenai karir saya menjadi dosen. yaitu mengenai Penghasilan. menurut bapak,
    apakah langkah selanjutnya yang harus saya lakukan ?
    dan Apakah situasi diatas adalah wajar ?
    Usia saya 23 Tahun, menginjak 24 bulan juli mendatang. saya merasa masih ragu dengan karir saya.

    1. Saran saya selesaikan S2 secepatnya dan jika masih berminat menjadi dosen sebaiknya cari Universitas yg bisa memberi penghargaan lebih baik. Tapi prosesnya baik2 agar kampus yg ditinggalkan mau melepaskan NIDN-nya. Salam.

  121. Assalamu alaikum pak slm kenal, sya mau tanya,sy lulusan s2 kimia dn sedang diusulkan mnjdi dosen ttp di D3 prodi analis keshatan,apakah hal ini akan menghmbt karir sy k dpn krn sy bkn dari analis kesehatan? Mhon pencerahannya pak..

  122. Yang ini sungguh-sungguh terjadi dan banyak yg melakukan
    Menulis paper dengan hanya mencantumkan nama sendiri pada karya mahasiswa bimbingan, agar yang bersangkutan dapat menikmati sendiri nilai kum paper tersebut. (catatan penulis: walaupun sang dosen ikut “menulis” juga skripsi atau tesis tersebut. Tapi bukankah mahasiswanya yang lebih banyak menulis tugas akhir ini?)

  123. Assalamualaikum pak hamid.
    Saya adalah mahasiswa baru PTN di Jember.
    Saat saya SMA, sy memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi dosen. Memang bnr prodi sy saat ini sesuai dengan kemampuan n minat saya. Tetapi sy juga baru menyadari kalau sy baru membuat keputusan salah, dimana saya mengambil prodi D-IV. Dari keseluruhan artikel yang saya baca rupanya menjadi dosen harus linier dr S1 , S2, S3. Sedangkan prodi yang saya tempuh saat ini untuk s2 nya tidak ada yang mau menerima dr lulusan D4. Bagaimana solusinya supaya ttp bisa mengejar target saya ? Jika tidak ada apa memang sy harus batal berkeinginan menjadi dosen?
    Terimakasih pak
    Wassalamualaikum.

  124. Salam pak hamid, maaf mau minta solusi nya.
    Pak, sy sdh mengajar sbg DLB di PTN slma 3 th. Selain itu sy jg mengajar sbg guru swasta di sebuah smp slma 6 th tp blm punya NUPTK.
    Pertanyaan:
    1. Apakah jika sy sdh mmpy NUPTk akan mempengaruhi karir sy sbg dosen? Kalo iya, dalam hal apa?
    2. Apakah DLB memungkinkan diangkat sbgai PNS?
    Terimkasih atas bantuannya

  125. Maaf mau tanya, saya sedang ditawari untuk membuat NIDN di suatu PTS. Namun saya masih ada ketertarikan mencoba mendaftar CPNS dosen. Apakah NIDN itu akan mempersulit saya untuk mendaftar CPNS? atau apakah PTN mau menerima dosen yang sudah ber-NIDN? apakah PTS asal akan mempersulit untuk melepaskan NIDN saya kelak jika diterima di PTN?
    Terimakasih

  126. Salam kenal pak Hamid,
    Saya tidak punya kewarganegaraan Indonesia tetapi saya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Saya ada rencana untuk pulang kembali ke Indonesia untuk membantu bisnis keluarga tetapi disisi lain ingin turut mengabdi dan berkontribusi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Saya kebetulan mempunyai gelar S3. Pertanyaannya apakah mungkin untuk dapat menjadi dosen tidak penuh waktu? mungkin mengajar satu atau dua mata kuliah selama saya ada di Indonesia, lalu seandainya pak Hamid punya informasi juga tentang perijinan untuk orang asing bekerja seperti itu.

    1. Salam Kenal. Aturan resmi Dikti memang belum ramah kepada WNA. Bisa dibaca di Permenristekdikti No. 26 2015, pasal 7 (2) Dosen yang berkewarganegaraan asing dapat memperoleh NIDK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1).
      (3) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
      bagi Dosen berkewarganegaraan asing berlaku persyaratan khusus sebagai berikut:
      a. memiliki izin kerja di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
      b. memiliki jabatan akademik paling rendah associate professor; dan
      c. paling sedikit memiliki 3 (tiga) publikasi internasional dalam jurnal internasional bereputasi.
      Mangga selengkapnya bisa dibaca di: http://forlap.ristekdikti.go.id/files/download/MTM~

  127. Assalamu’alaikum wr wb,,,pak hamid.
    saya mau nanya,,,saya masih SMA,skrng sy sklh di MAN,trus jurusan IPS.cita-cita saya ingin menjadi seorang DOSEN(gk apa-apa kan bercita-cita,walaupun setinggi langit sklian).Nah,,,menurut bapak,kira-kira setlah lulus SMA,sebaiknya ambil jurusan apa ya???
    untuk mempersiapkan diri pak.
    sblumnya terimakasih!!!

  128. Asslm. Pak, sy lulusan s1 jurusan sist.informasi di univ negri. Saat ini sy sdh bekerja, namun berkeinginan melanjutkan s2…
    Minat saya lebih ke manajemen bisnis, apakah syarat menjadi dosen saat ini harus linear dg fakultas yg sy ambil saat s1 (komputer)? Atau bisa sy ambil s2 manajemen, pak?
    Satu lagi pak, apakah benar melanjutkan s2 di univ swasta dpt mempersulit ‘calon’ dosen ybs?
    Trims sebelumnya pak…

    1. (1) Ketika mendaftar dosen yang akan dilihat adalah ijazah S2-nya, termasuk formasi jurusan dan mata kuliahnya. Namun beberapa kampus mensyaratkan ijazah S1 dan S2-nya sama. (2) Tidak, yang mesti dilihat adalah akreditasinya.

  129. salam kenal mas.. mohon pencerahannya.. jika ingin menjadi dosen,,s2 apa yang seharusnya di ambil jika s1nya pgsd? apakah jurusan pgsd memungkinkan untuk berkarir sebagai dosen? kira2 bagaimana peluang kerjanya nanti? Terimakasih banyak mas.. ^_^

  130. salam kenal mas.. terimakasih atas tulisannya yang sangat membantu.. btw,,saya mohon pencerahannya ya mas.. saya sedang menjalani s1 pgsd,,bentarlagi dah mau lulus.. saya ad keinginan mau jadi dosen.. kira2 langkah saya kedepan harus bagaimana mas? tentunya terkait dengan jurusan s2 nnti.. lalu menurut mas,,bagaimana peluang kerja untuk dosen pgsd?? trimakasih banyak ya mas.. Tuhan memberkati

  131. Assalamualaikum
    pak sy ingin bertanya
    sy pns kementrian/non dosen dg masa krja 2 thun..tapi saat melamar dulu formasi s1, smentara sy sdh punya ijazah s2..shingga sampaj skrg blum disesuaikan.jika sy ingin pindah jadi dosen di pt bagaimana langkah pertamanya? Apakah bisa?terimakasih

  132. maaf pak mau tanya.. nama sy Bambang umur nya 52 thn misal baru lulus S3 Akuntansi di PTN Semarang misal Undip. belum pernah jadi dosen perguruan tinggi swasta.. Bisa tidak saya jadi dosen dgn status S3 Doktor di PTS or Universitas Terbuka ?
    Terima kasih pak.

  133. saya s1 ilmu pemerintahan dan s2 ilmu hukum, apakah saya dapat diterima secara administratif utk menjadi cpns dosen? dan apakah pendidikan saya ini linear ? jujur saya blm mengetahui masalah kelinearan. trmksh

  134. Assalamualaikum
    Pak maaf mau nanya perkenalkan saya gilang firmansyah mau kuliah tahun sekarang, gilang berkeinginan menjadi dosen pak , sekarang gilang sudah diterima di d3 polban sama d4 ugm, nah yang ingin ditanyain pak kalau mau menjadi dosen pak itu bagusnya itu mending dari d4 langsung s2 terapa, atau d3 ektensi ke s1 terus lanjut s2 biasa pak ?

    Soalnya setau gilang kalau s2 terapan itu untuk lebih jadi tenaga kerja bukan pendidik gitu tapi kata guru katanya kalau mau jadi dosen s2 terapan juga bisa.

    Nah mau minta sarannya pak.
    Terima kasih

  135. Assalamualaikum Pak Abdul Hamid,

    Saya ingin sekali menjadi seorang dosen di bidang manajemen atau pemasaran. Latar belakang pendidikan saya Sarjana teknik sipil dan Master Manajemen dan pemasaran. Saya berencana untuk melanjutkan S3 di bidang manajemen agar bisa menjadi dosen yg berkualitas. Namun terkendala masalah biaya. Saya ingin coba mengajukan beasiswa Dikti tapi ternyata hanya untuk dosen tetap saja. Pertanyaan saya:
    1. Apakah dengan latar pendidikan yg berbeda dari S1 dan S2 memungkinkan saya menjadi seorang dosen? Minimal di STIE atau universitas swasta. Bisakah saya mendapatkan NIDN?
    2. Berapa lama waktu mengabdi sebagai dosen ber-NIDN agar bisa melanjutkan S3 dengan beasiswa DIKTI?

    Terima kasih banyak atas jawabannya Pak.

    Salam,
    Dandy

  136. Assalamulaikum pak.
    Pak saya guru PNS lulusan S1 bahasa inggris, sy bercita- cita ingin mengajar Bahasa Indonesia di Luar negeri, apakah jd dosen atau guru biasa. mungkin bapak bs membrikan penjelasan agar sy bisa meraihnya ?
    sy pun berencana ingin melanjutkan ke S2 bahasa Indonesia . apakah jika sy nantinya bisa linier ? terima kasih

  137. Assalamualaikum, bapak Abdul Hamid, saya Maulidi, Mahasiwa akhir (proses pengajuan diseratsi) di England, UK dengan jurusan MSc Forensic Accounting. Saya berumur 23 tahun dan sudah punya 4 publikasi di International, dan saya di nobatkan Top Student dari line manager di kampus saya saat ini, dan saya penerima beasiswa LPDP. Kampus saya di England mau memberikan beasiwa S3 dan saya harus menandatangani kontrak kalau saya akan mengabdi di Kampus saya saat ini. Kondisi ini membuat saya bingung, karena saya fresh graduate, tidak punya arahan bahkan kemana saya akan mengajar di Indonesia. Saya tidak punya tujuan kampus untuk mengajar kalau saya langsung kembali ke Indonesia. Saya mohon pencerahannya bapak Abdul Hamid. Trims

  138. Assalamualaikum , pak saya minta pendapat. saya baru lulus S1 akuntansi bisa dibilang fresh graduate dari pts, saya berasal dari keluarga pendidik yang mana ayah saya adalah seorang dosen. dan saya pun diminta untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2 untuk menjadi dosen. namun saya ragu dimana saya belum punya pengalaman menjadi asdos, ipk tidak cumload, organisasi biasa saja tidak aktif2 amat. yang ingin saya tanyakan apakah saya harus langsung melanjutkan S2 tersebut atau ada yang harus saya pelajari terlebih dahulu seperti mencari pengalaman.lalu ibu saya pun menyarankan untuk melanjutkan S2 di pts sebelumnya sewaktu saya kuliah S1. apa S2 lulusan pts juga peluang menjadi dosennya lebih besar atau bagaimana ? mohon saran nya ya pak
    terimakasih banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s