PRASYARAT UNTIRTA MAJU di 2025

Menarik sekali mebaca tulisan Dodi Nandika di Radar Banten  (25/3) yang berjudul Untirta Tahun 2025. Ia menggambarkan berbagai kondisi Indonesia dan Banten, serta menggambarkan bagaimana Untirta (seharusnya) di tahun 2025. Optimisme terpancar dari tulisan tersebut bahwa Untirta bisa menjadi  bagian dari 10 besar kampus di Indonesia.

Prasyarat

Sebuah keinginan, mimpi atau visi tentu memiliki prasyarat untuk pencapaiannya. Sebuah prestasi tak berada di ruang hampa. Pun demikian, jika Untirta memiliki mimpi pada 2025 menjadi Universitas sepuluh besar di Indonesia dan nomor satu di Banten.

Jangan salah,  di Banten-pun Untirta tak sendiri. Terdapat UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat yang bertransformasi dari  Institut Keagamaan menjadi Universitas yang juga memiliki Fakultas umum seperti FISIP, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan atau Sains dan Teknologi. Universitas swasta bermutu baik juga terdapat di Banten seperti Universitas Pelita Harapan, Swiss German University atau Universitas Multimedia Nusantara. Bahkan Surya University yang digadang-gadang menjadi Universitas Riset terbaik di Indonesia, juga berdomisili di Tangerang, Banten.

Perlu ada upaya luar biasa, not as business as usual – untuk mewujudkan cita-cita Untirta di tahun 2025.  Karena itulah penulis menawarkan beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk mencapai prestasi tadi. Tawaran ini melengkapi catatan Dodi Nandika tentang tantangan yang mesti diperhatikan: internasionalisasi dan globalisasi, perkembangan iptek, pengembangan nilai karakter, dan kemampuan income generating.

Penulis menawarkan beberapa hal yang tak bisa diabaikan dalam membangun kualitas di bidang pendidikan tinggi: integritas, peningkatan SDM dan pemaksimalan potensi lokal, Pemosisian dan Peran Strategis dan kualitas infrastruktur.

Integritas

Integritas menjadi salah satu esensi dalam dunia pendidikan.  Ia tergambar dari kredo bahwa “dosen boleh salah, tapi tidak boleh bohong”. Sebagai pilar terpenting, integritas menjadi ruh bagi Universitas sebagai basis pengembangan ilmu pengetahuan.

Harus diakui, dunia pendidikan tinggi di Indonesia mengalami krisis integritas yang cukup akut. Catat saja, menurut Supriadi Rustad 70% pengajuan berkas calon Guru Besar di Indonesia ditolak Dikti karena terindikasi pemalsuan karya ilmiah seperti  membuat jurnal rakitan, jurnal “bodong”, artikel sisipan, label akreditasi palsu, nama pengarang sisipan, buku lama sampul baru dan nama pengarang berbeda. (www. Suara merdeka.com, 17/12/12).

Krisis integritas juga terjadi dalam tata kelola kampus. Sejumlah kampus – termasuk Untirta – terseret persoalan korupsi pengadaan alat laboratorium bernilai miliaran rupiah. Persoalan ini bukan saja membuat kampus kehilangan marwah, tetapi juga membuat dosen dan mahasiswa kehilangan kesempatan meningkatkan kualitas karena rendahnya kualitas alat laboratorium.

Karena itu, pemulihan integritas kampus dalam dua aspek tersebut: keilmuan dan tata kelola menjadi prasyarat yang tak bisa ditawar. Jika Untirta mampu kembali memiliki integritas yang kuat, maka Untirta akan mampu menjadi kekuatan moral yang disegani dan menjadi motor perubahan bangsa ke arah yang baik. Tanpa integritas, maka kampus hanya jadi pabrik sarjana belaka.

SDM dan Pemaksimalan Potensi Lokal

Upaya  simultan sembari menegakkan integritas adalah peningkatan SDM dan memaksimalkan potensi lokal. Walaupun seperti disampaikan Dodi Nandika secara kuantitatif tingkat pendidikan dosen Untirta 86% bergelar S2/S3, melebihi target rata-rata nasional, kualitas tetap mesti ditingkatkan.

Lompatan bisa dilakukan dengan memfasilitasi para dosen untuk studi ke luar negeri dengan skema yang sekarang tersedia luas seperti beasiswa luar negeri Dikti, beasiswa unggulan, beasiswa lpdp atau beasiswa-beasiswa yang disediakan negara-negara sahabat. Jika ini dilakukan dengan antusias dan sistematis, maka dalam beberapa tahun akan didapatkan dosen-dosen yang tak hanya mendapatkan pendidikan luar negeri, tapi juga membuka kesempatan lebih banyak kerjasama internasional. Pun ini memudahkan jika kelak di kemudian hari Untirta hendak membuka program internasional untuk mahasiswa dari luar negeri.

Selain itu, Jika hendak bergerak cepat, tentu saja Untirta harus memiliki keunggulan kompetitif. Untirta mesti membangun kekhasan sendiri sesuai dengan potensi lokal di Banten. Hal ini penting untuk membuat Untirta mampu bersaing tanpa harus apple to apple dengan kampus yang terlanjur besar seperti UI atau UGM.

Saatnya kampus dan dosen/ peneliti Untirta mengambangkan keahlian berbasis konteks kebantenan. Sudah saatnya ada ahli badak cula satu dari Untirta, ahli golok ciomas dari Untirta, ahli vegetasi gunung pulosari dari Untirta atau ahli santet dan pelet dari Untirta. Untirta mesti menjadi gerbang yang disinggahi peneliti nasional dan internasional yang melakukan studi di Banten. Studi tentang lokalitas –lokalogi – menjadi strategi yang paling jitu yang membuat Untirta menjadi tempat paling memiliki legitimasi untuk bicara Banten.

Banyak sekali peneliti asing yang melakukan penelitian di Banten baik ilmu alam maupun ilmu sosial. Sebagai contoh, ketika penulis berbicara dalam International Colloqium: Anthropologie de l’ ethique  di University de Provence Aix-Marseille tahun 2011, penulis dipanel dengan dua ahli Banten berkebangsaan asing: Gabriel Facal yang mendalami studi antropologi pencak silat Banten dan Daromir Rudynkyj yang studinya tentang spiritual economic di Cilegon “Spiritual Economies: Islam, Globalization, and the Afterlife of Development mendapat penghargaan 2011 Sharon Stephens Prize dari  the American Ethnological Society .

Selayaknya akademisi Untirta berperan, tak hanya mereproduksi riset di tema yang sudah sering diteliti dimana-mana, namun menemukan topic-topik baru yang diteliti dan kemudian dipublikasi di level nasional dan internasional. Research Locally, Publish Globally.

Pemosisian dan Peran Strategis

Selain itu, Untirta mesti menempatkan diri sebagai mitra strategis bagi stakeholder di Banten maupun nasional sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.  Kampus bisa berperan sebagai mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah  masyarakat maupun pihak swasta. Sebagai mitra kritis, Untirta harus mampu membedah persoalan-persoalan pembangunan atau sosial kemasyarakatan dengan obyektif dan otonom.

Sebagai mitra konstruktif      Untirta juga bisa memberi solusi atas berbagai persoalan tersebut sesuai intellectual capital yang dimiliki. Sumber daya yang dimiliki harus mampu berkontribusi dengan kemampuan inovasi dari berbagai aspek mulai dari sosial, ekonomi sampai teknologi.

Infrastruktur

Terakhir namun menjadi yang terpenting adalah peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur. Kapasitas kampus pakupatan sudah tak memadai, perlu segera pindah ke tempat yang baru dan lebih lega. Pun peningkatan kualitas perpustakaan,  ruang belajar, ruang dosen dan staf, lapangan parkir, atau ruang publik menjadi persoalan yang mesti diselesaikan.

Penulis sendiri percaya bahwa berbagai persoalan di masa lalu dan yang sekarang dihadapi menjadi refleksi bagi segenap pengelola Untirta saat ini untuk meningkatkan kualitas, membangkitkan marwah dengan tentu saja: integritas dan kerja keras. Wallahua’lam bissawab.


Oleh Abdul Hamid Dosen FISIP Untirta, Mahasiswa Doktor Doshisha Unversity, Kyoto. Email: doelha@gmail.com.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s