Hari senin lalu aku pulang ke Kyoto. Pesawatku Korean Air baru akan terbang pukul 22.05.

Setelah beres check in, aku duduk di depan musola dekat ruang tunggu, menunggu waktu sholat isya. Ada kakek-kakek berbaju koko, bersandal dan bertopi luntur “Singapore”. Kopernya koper jadul kotak, mirip punya almarhum Bapakku.

Screenshot 2014-10-29 12.51.48

“Permisi Pak”, kataku minta izin duduk di sebelahnya. Aku segera melepas jaket dan duduk santai.

Haji Deden asal Garut, Ia ternyata hendak menengok anaknya di Melbourne yang sedang sekolah S3. Haji Deden  berumur 78 tahun, seumur kakek-ku,  namun tampak sehat dan bugar.

Dalam hati aku berprasangka baik, anaknya yang sedang kuliah di luar negeri mungkin senasib denganku, sedang ngos-ngosan menunggu beasiswa dikti yang telat berbulan-bulan. Maka aku membangun percakapan bernada empati

Aku: “Anaknya sudah lama di Australia Pak?”

Haji Deden (HD): “Baru setahun ini, sama tiga anaknya disana”

(hmm kasihan ya pasti kerepotan sekolah sambil ngemong tiga anak, bisa jadi uang beasiswa gak cukup dan mesti cari pekerjaan sambilan)

Aku: “Wah repot ya Pak, sambil ngasuh anak sambil sekolah?”

HD: “Iya, makanya istri bapak sudah sebulan disana, nanti pulangnya bareng sama bapak. Wah di Melbourne  sulit ya cari apartemen, repot”

(Aku tambah empati, wah pasti karena budget terbatas dan mungkin beasiswanya telat, aku juga mengalami di Jepang)

Aku: “Tapi bisa dapet apartemennya Pak?”

HD: “Gimana lagi, karena repot akhirnya ya beli aja, lumayan sih harganya enam em” sahutnya datar

(Kaget banget, tapi gak boleh kelihatan, he he)

Aku: “Ooo begitu ya Pak”

(ternyata beda kelas sosial toh sama aku 🙂 )

Si bapak memang pengusaha yang tinggal di Bandung, yah dia cerita soal anak-anaknya yang memang semua berbisnis. Tak ada satupun yang jadi pegawai baik swasta maupun negeri. Alasannya, biar tidak jadi maling, soalnya semua anaknya ingin jadi kaya.

Sudah lima kali ini dia bolak-balik Jakarta – Melbourne, nengok cucu. Jadi hampir setiap dua bulan Ke Melbourne. Pulangnya mau singgah ke Kuala Lumpur barang seminggu untuk berlibur. Dulu pernah tinggal hampir dua tahun di Singapore untuk merawat cucunya yang sakit Leukemia, alhamdulillah sembuh katanya. “Disembuhkan Allah melalui dokter di Singapore”.

Anaknya yang di Melbourne punya kantor notaris di Bandung dan tetap dioperasikan oleh pegawai anaknya. Suami anaknya bekerja sebagai Aranger bagi para investor yang mau bisnis di Indonesia. “Alhamdulillah, setiap dapet fee satu em dua em langsung dikeluarkan 2.5% sama mantu saya”, katanya. Mantunya itu setiap week end juga pergi ke Melbourne bertemu anak istrinya. Pak Haji menjadi kontraktor selama 30 tahun dan sebelum pensiun membagi perusahaannya menjadi enam bidang, dibagi ke anak-anaknya. Prinsipnya dalam bisnis amat kuat, bekerja baik, tidak serakah, tidak boleh menyuap, tidak boleh mengambil hak orang lain.

Pak Haji Deden cerita dia bawa oleh-oleh dari garut, jaket kulit. Makanya bagasi-nya kelebihan, ya gak apa-apa, bayar aja, hampir sejuta katanya ringan. Nada bicaranya itu loh, gak sama sekali mengesankan sombong, biasa saja. Gak seperti orang kaya “nanggung”yang masih bicara soal merek HP ter-anyar, ganti mobil  atau renovasi rumah.

Mengobrollah kami ngalor ngidul, soal keluarga kami masing-masing, soal esbeye, prabowo, jokowi, partai politik dan sebagainya. Tak ada nada-nada angkuh atau menggurui dalam nada bicaranya. Santai dan mengalir saja. Bahkan aku sempat menitipkan barang bawaanku karena hendak solat Isya.

Ya, lumayan menghibur ditengah penantian cairnya beasiswa dikti. Bertemu orang kaya… betul-betul orang kaya: duit, pengalaman hidup dan prinsip. Aku belajar banyak malam itu.

Btw, masih merasa kaya ?

Iklan

3 tanggapan untuk “Bertemu Orang Kaya

  1. alhamdulillah …..sangat mengispirasi kang……semoga masih banyak orang kaya yg ‘bersih’ bisnisnya bisa bantu pendidikan di negara kita. amiin salam….. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s