Lazada Indonesia
Sulitkah menjadi guru besar?

Tanyakan pertanyaan itu pada para dosen di sekitar anda. Jawabannya hampir pasti: SUSAH.

Muncul berbagai alasan, seperti: merasa belum saatnya, susah mengumpulkan kum, pertanggungjawabannya sulit, harus menemukan teori baru, atau malas mengumpulkan berkas-berkas administratif.

Hmm, mari kita tanyakan pada Eko Prasojo atau Agung Endro Nugroho. Eko, menjadi Guru Besar di FISIP UI pada usia 35 tahun 10 bulan. Pada usia 43 tahun, Eko diangkat menjadi Wakil MenPAn-RB. Sampai sekarang, Eko masih tetap membimbing skripsi (http://ekoprasojo.com/2012/06/04/eko-prasojo-tetap-jadi-dosen-pembimbing-skripsi/). Silahkan juga lihat pidato pengukuhan Guru Besar Eko yang di bagian akhir terdapat riwayat hidupnya. Tahun 1997 menjadi PNS Dosen, tahun 2002 Asisten Ahli, tahun 2004 naik ke Lektor dan tahun 2006 lompat ke Guru Besar. Hanya butuh 9 tahun dari sejak berstatus dosen tetap hingga jadi Guru Besar.

Contoh lain adalah Agung Endro Nugroho yang menjadi Guru Besar di usia 36 tahun (kelahiran 15 Januari 1976) pada 1 Oktober 2012 di Fakultas farmasi UGM.

Tentu saja Eko dan Agung tak lantas menjawab bahwa menjadi guru besar adalah soal gampang. Butuh kerja keras untuk menghasilkan karya-karya akademik bereputasi di level nasional maupun internasional. Usia muda digunakan secara produktif untuk berkarya dan bukan sekedar mengejar jabatan-jabatan di kampus, ngobyek sana-sini atau menjadi selebritis.

Hanya ada 4 (empat) anak tangga dalam karir profesional seorang dosen (baca: jabatan fungsional) : Asisten Ahli – Lektor – Lektor Kepala –  Profesor/ Guru Besar. Masing-masing jenjang bisa dicapai dengan mengumpulkan angka kredit (kum) sebagai berikut

Screenshot 2014-08-05 12.29.09

Logika yang dipakai dalam dunia karir perdosenan adalah, jabatan fungsional mendahului golongan. Jika seorang dosen naik dari asisten ahli IIIa ke lektor dan ternyata mampu mengumpulkan kredit sebesar 315, maka ia akan menjadi lektor dengan kum 300 (sisa 15). Artinya ia berhak naik ke golongan IIIb, IIIc dan IIId TANPA  perlu mengumpulkan kredit (kum) lagi setiap dua tahun secara berkala dan berkelanjutan, hanya berkas penunjang saja. Tapi bila ia hanya mengumpulkan kum sebesar 205, maka ia jadi lektor 200 (sisa 5) sehingga hanya berhak naik secara berkala dan berkelanjutan setiap dua tahun sampai IIIc saja. Jika ia mau ke golongan IIId dari IIIc, maka ia HARUS mengumpulkan kum sebesar 300-205 = 95.

Jadi, pangkat/golongan saya akan naik otomatis setiap dua tahun. Otomatis disini artinya tidak perlu mengajukan angka kredit, namun tetap saja berkoordinasi dengan pihak kepegawaian kampus.

Ruwet? Tapi kalau dijalani, tidak juga kok. Hanya saja memang selain produktif, dosen perlu rajin dan telaten mengumpulkan setiap berkas seperti SK, surat tugas, karya ilmiah,  sertifikat-sertifikat (pembicara, penyaji, moderator, dll) karena pasti dibutuhkan untuk kenaikan jabatan fungsional.

Guru Besar, Prof. Dr. Eko Prasodjo (berbatik merah) bersalaman dengan Guru berperut besar (berbatik biru) ;)
Guru Besar, Prof. Dr. Eko Prasodjo (berbatik merah) bersalaman dengan Guru berperut besar (berbatik biru) 😉

Lazada Indonesia

Nah penting juga dipahami, masih ada anggapan dan tahayul di sebagian orang yang menganggap bahwa kenaikan ke Guru Besar mensyaratkan golongan IVc atau IVd. Sampai sekarang tidak ada peraturan tertulis seperti itu. Kemudian, itu adalah penafsiran keliru terhadap tabel diatas, seakan-akan Jabatan Fungsional HANYA bagi mereka yang sudah IVd dan IVe. Cara membaca tabel tersebut persis seperti lampiran SK Lektor kepala di atas. Jadi kalau anda mendapatkan SK Guru Besar/ Profesor, maka akan ada tulisan dalam lampiran SK: “….dapat dinaikkan pangkatnya secara bertahap menjadi….” sesuai dengan angka kredit yang diakui dalam SK Guru Besarnya. Misalnya kalau anda jadi Guru Besar dengan kum 900 maka anda hanya bisa naik golongan sampai IVd dan butuh mengumpulkan kum ketika akan naik dari IVd ke IVe.

Menurut saya, pekerjaan dosen adalah pekerjaan yang amat fair. Cepat atau lambatnya karir seorang dosen ditentukan oleh seberapa produktif ia menghasilkan karya ilmiah (penelitian), mengajar dan melakukan pengabdian pada masyarakat. Bobot karya ilmiah dan pengajaran memiliki prosentase terbesar dalam penghitungan kredit.

Semakin berbobot sebuah karya semakin besar nilai kredit yang diperoleh. Katakanlah, satu buah artikel di jurnal internasional dihargai 40 kredit, jurnal nasional terakreditasi dikti 25 kredit dan jurnal nasional (baca: ber-ISSN) dinilai 10 kredit. Artinya jika seorang dosen produktif menulis di jurnal internasional akan lebih cepat dia menjadi guru besar dibandingkan seorang dosen yang “hanya”mampu menulis di jurnal nasional saja. (Baca soal penghitungan kum jurnal di sini) Oh ya, untuk menjadi guru besar juga harus bergelar Doktor, wajar inimah.

Nah, berbagai aturan juga memberi insentif untuk mereka yang berprestasi. Sebagai contoh, jika kita mampu menulis di jurnal internasional,ada banyak kemudahan seperti loncat jabatan fungsional sampai naik jabatan fungsional lebih cepat. Tentu saja asalkan kredit-nya (kum) mencukupi. Saya sudah membuktikan dengan (masih aturan lama) mengajukan kenaikan ke Lektor Kepala walaupun baru satu setengah tahun menjadi Lektor, karena memiliki artikel di Jurnal terakreditasi Dikti dan memiliki kum yang mencukupi.

Nah, selain mencukupi kum, apa sih syarat dosen mencapai jenjang Guru Besar (Permenpan 46 2013 (pasal 26 ayat 3):

1)  ijazah Doktor (S3) atau yang sederajat;
2)  paling singkat 3 (tiga) tahun setelah memperoleh ijazah Doktor (S3);
3)  karya  ilmiah  yang  dipublikasikan  pada  jurnal internasional bereputasi; dan
4)  memiliki pengalaman kerja sebagai dosen paling singkat 10 (sepuluh) tahun.

ditambah:

(4) Dosen yang berprestasi luar biasa dan  memenuhi persyaratan lainnya dapat diangkat ke jenjang jabatan akademis dua tingkat lebih tinggi atau loncat jabatan.

(5) Dikecualikan paling singkat 3 (tiga) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c angka 2), apabila Dosen yang  bersangkutan memiliki tambahan karya ilmiah yang dipublikasikan pada  jurnal internasional bereputasi setelah memperoleh gelar Doktor (S3) dan memenuhi persyaratan lainnya.

Hmm. Jadi jika anda dosen serius, kira-kira anda sudah tahu sekarang berada di posisi mana dan kapan jadi Profesor kan? Memahami aturan ini penting, seperti misalnya jika anda sedang kuliah S3, sedang aktif-aktifnya nulis di Jurnal Internasional, tapi ingin keluar dari jebakan aturan “paling singkat 3 (tiga) tahun setelah memperoleh ijazah Doktor (S3)”.

Caranya ya mengatur ritme publikasi. Karena selama kuliah publikasi di jurnal internasional dan jurnal terakreditasi diakui, (baca aturannya di sini) maka melakukan publikasi di jurnal internasional bisa menggugurkan satu syarat sulit. Nah, tinggal mengatur ritme, dengan melakukan satu publikasi internasional selepas tanggal mendapatkan ijazah Doktor.

Walaupun yang amat disayangkan, dengan aturan baru tersebut, tak ada yang bisa jadi Profesor dengan pengalaman kerja kurang dari 10 tahun, setidaknya memecahkan rekor Eko yang sejak jadi dosen tetap sampai jadi profesor hanya butuh 9 tahun.

Oh ya, satu hal yang amat penting, menjadi Guru Besar  juga menaikkan penghasilan. Seorang guru besar bisa mendapatkan penghasilan empat kali gaji pokok: gaji pokok + tunjangan sertifikasi dosen satu kali gaji pokok + tunjangan kehormatan gubes dua kali gaji pokok.

Saya tidak mendorong para dosen untuk menjadi mata duitan. Jumlah ini tidak terlalu besar dibandingkan jika kita bekerja di perusahaan swasta bergengsi atau multinational corporation. Tapi jumlah ini rasanya cukup untuk membuat guru besar betah di kampus, meneliti dengan serius, melakukan publikasi, membimbing mahasiswa dengan rajin dan mengajar dengan dedikasi tinggi tanpa harus pusing memikirkan biaya sekolah anak atau kredit sepeda motor.

Jadi, Guru Besar sebetulnya tak punya alasan lagi ngobyek atau mengamen sana-sini, jadi konsultan palu gada (apa yang elu mau gue ada) sikut sana-sini berebut jabatan kajur atau dekan, jadi selebritis di tipi-tipi atau melamun terus berharap mendapat remunerasi. Kita bisa menjaga integritas sebagai intelektual dan fokus pada pekerjaan utama: mengembangkan ilmu pengetahuan.

Bagi institusi banyaknya Guru Besar juga pastinya bermanfaat untuk akreditasi dan pengembangan institusi. Sebaliknya, institusi yang tak peduli dengan perencanaan karir dosen-dosennya juga bisa mengalami masalah. Belum lama ini saya mendengar sebuah prodi S3 favorit di kampus favorit di Indonesia terancam ditutup karena Guru Besarnya sudah dan akan pensiun segera semua dan belum ada dosen yang memenuhi syarat untuk jadi Guru Besar. Miris kan?

Nah bagaimana kewajiban Profesor? Secara administratif, kewajiban khusus Profesor  juga tidak sulit-sulit amat, dalam lima tahun seorang guru besar “hanya” diharuskan menghasilkan satu buah buku, satu tulisan dalam jurnal internasional dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui berbagai forum ilmiah. walaupun tentu saja kewajiban khusus ini mesti dibaca sebagai produktifitas minimal, mosok lima tahun cuma nulis satu artikel sih ?

(Baca tulisan soal kewajiban Guru Besar disini)

Jadi, untuk para dosen (termasuk aku juga atuh), tak ada alasan untuk bermalas-malasan kan? mari jadi guru besar :)

Monggo disimak juga, artikel terkait dan Panduan Komplit dengan regulasi terbaru:

1. Menjadi Dosen di Indonesia

2. Paparan Terbaru Dikti tentang PAK Dosen

3. Daftar Jurnal Terakreditasi Dikti Lengkap.

~@ abdul hamid Fisip Untirta
Lazada Indonesia

Iklan

32 tanggapan untuk “Mari Menjadi Guru Besar

  1. Assalamualaikum. Mohon maaf pak, saya Dian siswi SMKN 14 jakpus jurusan akuntansi. Saya baru berumur 16th dan udh kls 3. Saya berniat utk menjalani karir sy sbg dosen akuntansi. Namun, apa yg harus sy lakukan ya pak? Sy bingung sdgkn dosen itukan min.s2 nah sy aja pas nanti lulus mau kerja dulu utk nabung kuliah. Menurut bpk apa yg harus sy lakukan ya pak? Krn pressure sy utk menjadi dosen dan jd gubes itu sgt kuat. Sy pengen karya2 sy bs brmanfaat bg org2. Ditunggu balasannya ya Pak. Trmksh byk. Wsslkm.

    1. Yups, syarat menjadi dosen sekarang memang S2. Saran saya, belajar yang keras sehingga kamu bisa dapat beasiswa. SNMPTN memberi beasiswa Bidim Misi kan? nah untuk S2 juga ada banyak beasiswa baik di dalam maupun luar negeri. Selamat belajar ya.

      1. Saya S2 dari Beasiswa Unggulan khusus calon dosen. Nanti ada penempatan, dan mengabdi menjadi dosen. Lulus februari 2013. Makasih postingannya pak, informatif bgt apalagi buat yg baru berkarir dan tidak punya kerabat dgn profesi yg sama..ahaha..

  2. Mas Abdul Hamid, tampaknya ulasan anda di atas yang secara tersurat mengatakan bahwa “Cepat atau lambatnya karir seorang dosen ditentukan oleh seberapa produktif ia menghasilkan karya ilmiah (penelitian), mengajar dan melakukan pengabdian pada masyarakat” akan menemui kendala, sebab dalam lampiran draft pedoman operasional permendikbud (hal 41) yang dapat diunduh di http://www.kopertis12.or.id/2013/12/25/draf-pedoman-operasional-penilaan-angka-kredit-kenaikan-pangkatjabatan-akademik-dosen.html, akan ada revisi bahwa untuk naik jabatan dari LK ke GB maka harus memiliki pengalaman sebagai dosen minimal 10 tahun. Jika draft ini benar-benar menjelma menjadi pedoman maka hal ini akan menghambat dosen yang berprestasi untuk menjadi GB (Anggap saja jika seseorang dosen dengan pengangkatan awal lektor di usia 30 tahun, maka ia baru boleh menjadi GB di usia 40 tahun walaupun dalam 5 atau 6 tahun ia memiliki segudang karya ilmiah yang sangat berbobot). Menurut saya peraturan-peraturan yang terus berubah ini akan berpotensi mengakibatkan demotivasi bagi para dosen di Indonesia dalam mengembangkan karirnya. Mungkin rekan lain dapat menanggapi. Terima kasih.

    1. Mas Oscar, betul sekali. Saya perhatikan ada ketidakjelasan arah dalam berbagai kebijakan dikti akhir-akhir ini. Mulai dari diskriminasi untuk dosen pns kemdikbud dengan perpres 88 sampai tidak jelasnya aturan yang sekarang berlaku dalam kenaikan jabatan fungsional. Kasihan rekan-rekan yang tahun ini sedang dalam proses kenaikan jafung jadi terkatung-katung. Termasuk rencana dikti merevisi permenpan adalah bagian dari ketidakjelasan ini. Ke depan perlu ada organisasi dosen yang solid dan berani melakukan advokasi terhadap berbagai persoalan tadi. Salam.

  3. Mas Abdul Hamid yang baik, sebagaimana yang telah saya utarakan dalam diskusi kita di luar blog ini. Saya akan melakukan segala upaya baik litigasi maupun non litigasi untuk mengawal kejelasan peraturan-peraturan bagi para dosen di Indonesia. Selama aturan tersebut memiliki substansi logis untuk pengembangan kualitas dosen tentunya kita bisa menerima, namun bila aturan tersebut dibuat untuk sekedar menghambat maka sudah saatnya kita tidak hanya berdiam diri dan menjadi obyek kebijakan saja.
    Saya akan lakukan perlawanan baik secara individu maupun kolektif, mungkin saja saya kalah namun paling tidak tindakan saya dapat menginspirasi dosen lain dan dosen lain yang berhasil. Mohon saya diundang di link Dosen Indonesia untuk memulai gerakan advokasi ini. Demikian terima kasih.

  4. Assalamualaikum
    Pak, mau tanya..saya sekarang mash menjadi dosen LB, karena di Univ saya status hanya dosen LB atau PNS. Alhamdulillah saya aktif dalam penelitian. Kalau nanti saya menjadi dosen tetap atau PNS, apakah hasil penelitian saya bisa diakumulasi dari sebelum saya menjadi dosen tetap/PNS? Terima kasih..

  5. Artikel yang sangat menarik, terimakasih atas sharingnya Pak Hamid !
    Saya adalah seorang lulusan baru dari sebuah PTS di Indonesia dan berkeinginan mengabdi menjadi dosen di almamater tercinta sepulang dari proses menuntut ilmu S2 di luar negeri yang akan saya jalani tahun depan. Untuk itu kalau boleh saya ingin bertanya beberapa hal terkait kenaikan jabatan akademis seorang dosen di Indonesia.
    1. Apakah jurnal dan penelitian saya yg dipublikasikan oleh jurnal internasional saat saya masih berstatus sebagai mahasiswa S2 dan belum diangkat menjadi dosen di almamater saya dapat diperhitungkan sebagai penambah angka kredit jabatan akademis jika saya menjadi dosen sekembalinya dari lulus S2 nanti?, Karena saya baru akan diangkat menjadi dosen di almamater saya setelah saya menyelesaikan S2 dan pulang ke Indonesia.
    2. Sewaktu menjadi mahasiswa saya pernah menjadi presenter dan memperoleh sertifikat dari sebuah konferensi di luar negeri serta pernah memenangkan berbagai lomba paper, makalah, dan karya tulis di tingkat nasional, regional, dan lokal kampus, dan beberapa karya saya juga dipublikasikan secara nasional maupun regional, apakah sertifikat2 tersebut dapat digunakan sebagai penambah angka kredit akademis saat saya menjadi dosen sekembalinya dari S2 nanti?
    Demikian beberapa pertanyaan saya. Jujur, menjadi dosen dan mengabdi di dunia akademis adalah sebuah panggilan bagi diri saya, dan lewat membaca blog dari Pak Hamid ini saya menemukan berbagai informasi baru yang sangat bermanfaat bagi saya dalam menentukan pilihan menjadi seorang dosen.
    Terima kasih dan salam sejahtera untuk Pak Hamid dan keluarga.

    1. Mas Theo yang baik, senang mendengar anda berniat menjadi pendidik. Ketika lulus S2, maka jabatan akademik/fungsional pertama adalah asisten ahli IIIb. Posisi tersebut hanya membutuhkan kum 150 yang sudah tercukupi oleh ijazah saja. Memang diperlukan tambahan 10 dari pengajaran dan penelitian. Jumlah segitu bisa didapatkan dari mengajar satu atau dua semester. Nah, dalam pengangkatan pertama itu, kum duluar 150 dianggap hangus alias tidak dihitung. Kalau kenaikan ke tingkat selanjutnya (Lektor, LK, Profesor, baru kelebihan bisa dihitung). Artinya dalam kasus Mas Theo, mesti memulai lagi mengumpulkan kum dari 0 begitu mendapatkan jabatan akademik asisten ahli. Inilah sistem karir kita sekarang. tetap semangat ya

  6. Asslamualaikum pak hamid.
    Mau share ttg saya nih pak, dan minta solusinya ya.
    Jadi dosen adalah cita2 utama sy dri sma. Skrang saya bru d trima di PTN, dan ambil jurusan biologi murni. Kalo membca tulisan anda, sya, serasa masih awal sekali un meraih cita2 sya it.
    Nah! ,d pkiran saya it masih bl0m jelas pak tentang step2 yg harus saya ambil/jalani kdepanya. Supaya bisa jadi dosen dg mempunyai gelar guru besar.
    B0leh minta saran gak dari bapak.
    D tunggu y, makash.

    1. Waalaikum Salam. Senang sekali kalau anda sudah punya cita2 jadi Dosen sejak awal. Langkah awal adalah mencintai ilmu yang dipelajari, belajar sebaik mungkin dan belajar meneliti dan menulis. Ini modal utama. Buat rancangan S2 dan S3 sekaligus, seawal dan secepat mungkin. Perbaiki bahasa Inggris biar memudahkan mendapat beasiswa. Oh ya cari tahu juga minat keilmuan yang lebih spesifik, perkuat dan dekati dosen di bidang tersebut. Ini dulu deh langkah awalnya.

  7. Salam kenal Pak Hamid, dengan segala hormat saya ingin bertanya…S1 saya Teknik Informatika dengan skripsi “sistem monitoring ruangan menggunakan webcam dengan HP”. S2 saya Ilmu Komunikasi dengan Tesis yang sama, hanya saja di terapkan pada kantor kelurahan sebagai proses penelitian. Kemudian S3 saya Teknolgi Pendidikan yang Disertasi nya “meneliti tentang pengaruh metode pembelajaran pada matakuliah pemrograman WEB”.
    PERTANYAAN:
    – Bagaimana menurut pak Hamid kualifikasi yang saya miliki tersebut??
    – Masih bisakah untuk saya dapat menjadi Guru Besar (Profesor)??
    – Kalo tidak, apa solusi untuk saya ?? Apa saya harus sekolah kembali??

    1. Sebenarnya jelas tidak linier. Yang S1 ada di rumpun teknik (sub rumpun elektro/informatika), S2 rumpun sosial (sub rumpun sosial humaniora)dan S3 rumpun pendidikan. Namun untuk menentukan karier juga dilihat publikasi dan riset selama kuliah terutama disertasi. Akan ada banyak pendapat yang muncul pastinya. Semoga ada jalan yang terbaik ya Pak.

  8. Assalamu’alaikum wrwb.
    Salam kenal Bapak Abdul Hamid, dengan hormat, saya mau menanyakan 2 hal, namun sambil jelaskan konteksnya sedikit. Pertama, sy sudah berstatus dosen tetap yayasan sejak 1995 dan doktor 2003, namun baru pertama kali urus pangkat 2007 dengan jabatan fungsional lektor (300). Waktu usul lektor tersebut, saya pakai artikel di jurnal internasional dan bab dalam buku internasional, masing2 satu, dan juga satu artikel di jurnal nasional terakreditasi A. Namun, sebenarnya ada publikasi saya yang lain berupa bab dalam buku tingkat nasional dan artikel ilmiah populer di Jakarta Post, Kompas, pidato ilmiah, dll yang terbit sebelum 2007 tidak sempat saya masukkan. Pertanyaan saya yang pertama: apakah publikasi2 yg tidak saya pakai tersebut otomatis hangus karena waktu atau dapat digunakan untuk usulan pangkat berikutnya?
    Kemudian menuju pertanyaan kedua… sekarang (2014) saya diharapkan ajukan usulan ke lektor kepala. Sebenarnya publikasi pasca 2007 (setelah keluar jabatan lektor) sudah agak banyak, termasuk 3 buku ber-ISBN, dan 3 artikel di 3 jurnal nasional yang berbeda. Walaupun ketiga jurnal tersebut sangat baik dari segi mitra bestari (bahkan ada dari luar negeri) dan asal penulisnya dari perguruan tinggi yg berbeda-beda, ketiganya belum berstatus nasional terakreditasi. Oleh karena itu, saat ini saya belum yakin dapat mengusulkan kenaikan pangkat ke lektor kepala walaupun akumulasi kum saya bisa melampaui 550 karena belum ada publikasi di jurnal nasional terakreditasi sejak menyandang jabatan akademik lektor (2007). Dalam hal ini, pertanyaan kedua saya adalah: apakah publikasi2 nasional terakreditasi dan internasional yang dipakai dalam usulan jafung sebelumnya hanya dilihat kontribusi jumlah kumnya secara kumulatif dalam usulan jafung selanjutnya (lektor kepala dan GB), sementara kategori publikasi tersebut tidak dianggap berkontribusi atau sebaliknya? Dalam Permenpan dan permendikbud terakhir, tidak ada penjelasan atau batasan spesifik tentang hal ini. Untuk itu, saya minta tolong ada pencerahan nich… Terlepas dari masalah pangkat2 ini, saya secara pribadi merasa harus terus menulis untuk publikasi sebanyak mungkin di jurnal-jurnal nasional terakreditasi dan internasional bereputasi, hanya karena sempat sibuk sana sini beberapa tahun terakhir (jadi anggota dprd, aktivis sosial, buat perguruan tinggi sendiri, dll… proyek idealisme Pak), saya mengutamakan tulisan saya bisa terbit dulu dan belum sempat milih2 jurnal…. sekali mohon pencerahan Pak Hamid. Makasih,
    wsslm wrbwb,
    Iwan Jazadi

    1. Waalaikum salam Pak Iwan Jazadi, terima kasih telah mampir ke blog ini. Sepemahaman dan berdasar pengalaman saya, angka kredit yang dihitung adalah berdasarkan aktivitas atau publikasi yang dihasilkan berdasarkan periode tertentu, yaitu semenjak TMT di SK jabatan fungsional terakhir. Jadi nampaknya berbagai publikasi sebelum tahun 2007 tidak bisa dihitung. Selanjutnya, adanya publikasi di jurnal terakreditasi adalah syarat mutlak administratif, artinya ya mesti ada sebagai persyaratan kenaikan ke jabatan fungsional lektor kepala. Saran saya, mulai berburu jurnal nasional terakreditasi. Berikut daftar jurnal terakreditasi dikti yang masih berlaku, semoga bermanfaat: http://dosenindonesia.net/daftar-lengkap-jurnal-terakreditasi-dikti/

      1. Thanks Abah untuk jawabannya, insya Allah saya target publish di jurnal nasional terakreditasi dan internasional dah, mudah2n bisa kejar jafung Abah nanti, wsslm

  9. Assalaamu’alaikum Pak Abdul Hamid,

    Saya ingin menanyakan: apakah mungkin untuk ‘membawa’ (mentransfer) jabatan fungsional yang kita miliki sekarang ini dari universitas di luar negeri ke universitas di dalam negeri. Misalnya, jika seseorang sekarang ini mempunyai jabatan akademik sebagai Associate Professor pada salah satu universitas di luar negeri dan suatu hari ia memutuskan untuk pulang kampung, apakah jabatan akademik tersebut bisa ‘dibawa’ juga ketika ia bergabung dg salah satu universitas di dalam negeri, katakanlah sebagai Lektor Kepala (setara Associate Professor)?

    Terima kasih sebelumnya.

    Rudi

  10. Assalaamu’alaikum Abah,

    Saya ingin menanyakan: apakah mungkin untuk ‘membawa’ (mentransfer) jabatan fungsional yang kita miliki sekarang ini dari universitas di luar negeri ke universitas di dalam negeri. Misalnya, jika seseorang sekarang ini mempunyai jabatan akademik sebagai Associate Professor pada salah satu universitas di luar negeri dan suatu hari ia memutuskan untuk pulang kampung, apakah jabatan akademik tersebut bisa ‘dibawa’ juga ketika ia bergabung dg salah satu universitas di dalam negeri, katakanlah sebagai Lektor Kepala (setara Associate Professor)?

    Terima kasih sebelumnya.

    Abah (juga)

    1. Punten Abah, baru bales
      Sepemahaman saya, belum ada mekanisme semacam itu dalam sistem pendidikan tinggi kita.
      Jika menjadi “dosen tetap” di Indonesia dalam arti betul2 masuk sistem (Punya NIDN, Jafung, dsb), maka mesti dari awal.
      Kalau sudah Doktor ya bisa langsung lektor (setara Assistant Professor), tapi walaupun berprestasi (dalam arti banyak riset dsb) maka mesti 10 tahun jadi dosen tetap di Indonesia baru bisa jadi Profesor (Guru Besar).
      Memang ini lubang yang ada dalam pendidikan tinggi kita.
      Kira2 seperti itu.

      Salam

      1. Hatur nuhun Abah atas tanggapannya.

        Lubang itulah yg kadang2 membuat kawan2 yg sudah berkarir akademik di luar negeri, jadi mikir2 dulu kalau mau balik kampung. Masa’ seorang dosen senior yg sdh pada posisi Professor penuh (misalnya) di luar negeri, harus mulai lagi dari nol (Assistant Professor) klo mau gabung pada salah satu institusi akademik di dalam negeri.

        Negera kita sepertinya belum punya mekanisme utk transfer jabatan akademik ini. Klo saya berpikiran, kenapa tidak diadakan semacam ‘penyetaraan jabatan akademik’ saja (seperti apa yg terjadi pada penyetaraan ijazah luar negeri). Klo memang misalnya seseorang itu sudah memenuhi (baca: setara) dengan syarat2 utk jabatan akademik tertentu di dalam negeri, langsung ditransfer saja tanpa perlu menunggu 10 tahun pengabdian sebagai dosen tetap dulu utk menjadi full Professor di dalam negeri.

        Terima kasih.

  11. Assalamu’alaikum pak, mohon informasinya..
    Saya PNS non dosen yg beralih ke PNS dosen TMT 1 Des 2015. Sy S2, saat ini menuju jafung asisten ahli, Insya Allah sampai akhir tahun sudah bisa asisten ahli. Saya sudah ingin melanjutkan S3 ke luar negeri, tapi khawatir kum yang akan saya dapatkan dari ijazah S3 dan jurnal nanti akan mubazir pada saat pengusulan jafung yang lebih tinggi, sehingga saya berpikiran untuk menunda lanjut sekolah sampai setelah jafung lektor. Pertanyaan saya pak : (1). Apakah saya bisa lompat jabatan ke lektor kepala bermodalkan kum yang nanti akan saya dapatkan setelah selesai S3? Apakan lompat jabatan dari asisten ahli ke lektor kepala berarti bahwa tidak perlu mengumpulkan kum dan mengajukan berkas untuk penerbitan SK lektor, tetapi mengajukan berkas untuk langsung penerbitan SK lektor kepala??
    Saya sangat yakin balasan bapak bisa menjawab keraguan saya untuk segera melanjutkan pendidikan atau menundanya, terima kasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s