Aku kini betul-betul mulai mengerti makna musibah setelah mengalaminya sendiri. Begini ceritanya

(dereng deng deng deng … musik mulai…)

Waktu itu kamis tanggal 14 Maret 2013, dua hari setelah seminar di LIPI selesai. Aku baru agak sehat setelah dua hari tumbang gara-gara sakit peyut dan meriang. Kepala masih agak berat, namun harus mulai berangkat memulai kegiatan. Pagi sampai siang mengurus surat hilang kepolisian dan pembuatan ATM yang hilang di bandara. Alhamdulillah lancar.

Rencananya ke Pandeglang, disuruh bawa mobil karena tak ada yang jaga di Kalibata. Hmm ini pertama pegang setir setelah enam bulan tak bermobil di Kyoto. Jadilah kami ke Bandara mengantar Dimas yang hendak menengok Ayu dan Ilham di Kyoto. Sementara mertua memilih mau pulang naik bis saja, “mau tidur di bis”, katanya sambil menunjukkan jalan yang macet dari arah bandara.

Perjalanan menyetir dilakukan amat hati-hati. Aku berjalan pelan di jalur kiri, mencari jalan Lingkar Luar Barat Jakarta ke arah Kembangan dan Merak.  Menurut informasi, banyak orang sukses nyasar ke arah pluit atau kapuk, untung waktu di bandara aku membaca blog ini (thanks a lot buat penulisnya). Blog ini amat membantuku mengenali medan yang benar. tapi nampaknya rambu sudah dipasang dengan rapi, jadi aku tak kesulitan masuk ke tol yang seharusnya, lancar jaya. Sempat ada kesulitan ketika hendak keluar tol, kembangan atau tomang? hampir nyasar kembali ke arah jakarta via kembangan, untuk bisa banting kanan karena ada tulisan merak di penunjuk arah tomang, musti hati-hati disini masbro.

Perjalanan sampai serang lancar. Aku sempat mampir ke Persada menengok Aiman dan makan malam bersama Firman dan Anis. lama tidak bertemu soalnya, saling bercerita.

Sekitar setengah sembilan aku berpisah dengan Anis menuju Pandeglang. disinilah sebuah peristiwa mengerikan terjadi

(tereng teng teng teng.. musik berubah mencekam)

Aku sampai di daerah tembong, sesudah waterpark punya chasan sochib itu, berjalan di sebelah kanan, sekitar 40km/jam. Di sebelah kiri ada motor melaju kencang dan menabrak angkot yang mogok. Cilakanya, si penumpang motor terlempar persis ke depan mobil yang aku kemudikan. otomatis mengerem mendadak, alhamdulillah tidak melindas orang. Akibatnya ada hantaman keras ke belakang mobilku.

Aku mundur perlahan dan meminggirkan mobil. Si korban yang berdarah-darah juga dibawa ke pinggir. Situasi ramai.

Namun dalam situasi seperti itu orang berteriak-teriak saling menyuruh mengangkut korban ke rumah sakit, namun tak ada yang berinisiatif. AKu akhirnya menawarkan mengangkut korban dan meminta supir angkot membantu mendampingi.

Alhamdulillah perjalanan lancar ke RS dan aku meyakinkan sopir angkot bahwa kejadian tadi murni musibah. Sopir angkot terus mengeluh lapar dan ditelepon terus oleh istrinya yang marah-marah, karena kosmetika barang dagangannya ada di angkot yang ditinggal. Aku juga mengingatkan, nanti barang kita selamatkan, yang penting nyawa orang dulu. Alhamdulillah, korban siuman dan bergerak-gerak. Nah kesempatan, aku bentak-bentak tuh anak sampai puas, naek motor ugal-ugalan bikin susah orang. Sampai di UGD RSUD serang, ternyata ada banyak korban kecelakaan lain juga. Korban kita papah dan naikkan ke dorongan beroda. Setelah itu kita kembali ke TKP.

Ternyata di TKP sudah banyak mobil polisi, sekitar tiga orang. Aku sendiri langsung mengenalkan diri ke polisi, dan sempat dikira sopir angkot. Aku menjelaskan posisiku dan memberikan keterangan kejadian, memastikan bahwa kecelakaan ini murni kesalahan si pengendara motor, bukan sopir angkot. Dataku di KTP dicatat dan aku memastikan bersedia bersaksi. Setelah itu pamit pulang.

Hmm sepanjang pulang, mulai kepikiran banyak hal dan muncul banyak pertanyaan. Kenapa tidak langsung pulang ke Pandeglang dari Bandara? Kenapa pake acara makan dulu di Simpang raya? Bagaimana nasib korban? kenapa pake menolong segala, nanti jadi repot? jangan-jangan ada pihak yang nakal dan mencari keuntungan? bagaimana mengganti kerusakan di bagian belakang mobil akibat ditubruk gara-gara mengerem mendadak? bagaimana nasib sekolahku di Kyoto? Terbayang wajah orang-orang terkasih yang ditinggal di Jepun sebulan ini…. (musiknya melo)

semua bercampur baur.

jam setengah sebelas, aku sampai di Maja Indah, disambut Mamah, te Otih  dan ka Maman. Bukannya cerita pengalaman di Jepun, eh malah cerita kejadian tadi 😦

Semaleman tak bisa tidur, banyak pikiran. Aku terjaga sampai subuh, mendengarkan nyamuk menari, anjing hutan bersahutan melolong dan suara sayup-sayup balapan motor liar.

Namun paginya, sambil membersihkan darah korban di jok tengah — ada semacam keyakinan bahwa sikap yang aku ambil benar. Menyelamatkan nyawa orang, membela pihak yang tak bersalah, menjelaskan ke polisi. itu sikap yang benar. Biarlah jika ada kerepotan aku hadapi.

hmm, satu hal yang mengganggu, benerin belakang mobil gimana ya? bempernye meleot 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s