Defisit Pemerintah, Lahirnya Kekuatan Masyarakat

Sudah lebih dari satu dekade Banten menjadi Provinsi. Tak banyak perubahan positif, kecuali bertambah megahnya bangunan-bangunan pemerintah, semakin macetnya jalan karena tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan dan menjamurnya jumlah restoran, hotel mewah dan mall.

Jika kita jalan ke kampung-kampung, situasi tak justru membaik, namun nampaknya memburuk. Jalan-jalan rusak, fasilitas umum tak terawat,  banjir yang tetap rutin datang, pasar rakyat yang jorok, jembatan kampung yang rusak, orang sakit yang tak bisa berobat atau anak sekolah tak bersepatu masih jadi pemandangan biasa.

Yang berbeda, jika dulu hasil pembangunan jalan bisa bertahan bertahun-tahun, kini  bertahan dalam hitungan bulan bahkan hari saja. Jalan baru diaspal sudah berlubang parah walaupun baru diperbaiki dengan anggaran milyaran. Jembatan langsung rusak walaupun baru saja diresmikan.

Celakanya, budaya politik masyarakat banten belum sampai pada budaya evaluative.  Pola pikir bahwa pemerintah harus bertanggungjawab dengan hasil kerjanya belum dipahami masyarakat secara luas. Sebagian besar masyarakat tak menganggap ada korelasi kualitas pembangunan yang amburadul sebagai kinerja sebuah rezim dengan apakah rezim tersebut mesti dipilih lagi atau dihukum. Ada gap yang menganga lebar, yang membuat justru di tempat-tempat dengan infrastruktur terburuk, biasanya incumbent menang dengan mudah.

Penyelamat Banten

Namun untunglah, ketika pemerintah bekerja dengan amat buruk, muncullah lembaga-lembaga masyarakat yang bekerja dalam sunyi langsung memberi untuk masyarakat.  Mereka bukan penikmat APBD karena bukan bagian dari jejaring kekuasaan, namun mampu memberi manfaat yang luar biasa besar bagi masyarakat. Tumpulnya kinerja pemerintah membuat lembaga-lembaga ini seperti malaikat penolong.

Oke, kita sebut mereka: Rumah Dunia yang bergerak membangun budaya literasi; TaBu Village yang berupaya membangun ekosistem pesisir lebih baik dengan konsep ecotourism; Relawan Kampung yang membangun jembatan-jembatan kampung dengan pendanaan dari donator-donatur Indonesia dan mancanegara, begitu juga Relawan FBN yang melakukan aksi social pendampingan pasien-pasien miskin yang berobat di rumah sakit dan berdiri paling depan dalam penanganan bencana banjir.

Tentu saja masih banyak yang lain, tak terpublikasi luas namun memberi manfaat banyak sekali untuk masyarakat. Merekalah yang menyelamatkan Banten, bukan mereka yang menikmati kejayaan dari uang-uang rakyat.

Lantas apa yang masih jadi kegelisahan saya?

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s