Deadline

Dalam dua hari mendapat dua surat elektronik. Surel pertama dari panitia int seminar lipi yang mengingatkan bahwa aku sudah melewati deadline pengumpulan makalah tgl 18 february. Untungnya deadline diperpanjang jadi tgl 25 february.
Surat kedua juga reminder dari panitia seminar di Mokpo Seoul yang mengingatkan bahwa deadline paper tanggal 10 april.
Duh sudah setua ini masih aja jadi deadline-man, menunda-nunda pekerjaan. Padahal sebuah pekerjaan mestinya diselesaikan jauh jauh hari. Mungkin kebiasaan ini yang membuat aku susah tidur nyenyak beberapa waktu ini.

Iklan

Defisit Pemerintah, Lahirnya Kekuatan Masyarakat

Sudah lebih dari satu dekade Banten menjadi Provinsi. Tak banyak perubahan positif, kecuali bertambah megahnya bangunan-bangunan pemerintah, semakin macetnya jalan karena tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan dan menjamurnya jumlah restoran, hotel mewah dan mall.

Jika kita jalan ke kampung-kampung, situasi tak justru membaik, namun nampaknya memburuk. Jalan-jalan rusak, fasilitas umum tak terawat,  banjir yang tetap rutin datang, pasar rakyat yang jorok, jembatan kampung yang rusak, orang sakit yang tak bisa berobat atau anak sekolah tak bersepatu masih jadi pemandangan biasa.

Yang berbeda, jika dulu hasil pembangunan jalan bisa bertahan bertahun-tahun, kini  bertahan dalam hitungan bulan bahkan hari saja. Jalan baru diaspal sudah berlubang parah walaupun baru diperbaiki dengan anggaran milyaran. Jembatan langsung rusak walaupun baru saja diresmikan.

Celakanya, budaya politik masyarakat banten belum sampai pada budaya evaluative.  Pola pikir bahwa pemerintah harus bertanggungjawab dengan hasil kerjanya belum dipahami masyarakat secara luas. Sebagian besar masyarakat tak menganggap ada korelasi kualitas pembangunan yang amburadul sebagai kinerja sebuah rezim dengan apakah rezim tersebut mesti dipilih lagi atau dihukum. Ada gap yang menganga lebar, yang membuat justru di tempat-tempat dengan infrastruktur terburuk, biasanya incumbent menang dengan mudah.

Penyelamat Banten

Namun untunglah, ketika pemerintah bekerja dengan amat buruk, muncullah lembaga-lembaga masyarakat yang bekerja dalam sunyi langsung memberi untuk masyarakat.  Mereka bukan penikmat APBD karena bukan bagian dari jejaring kekuasaan, namun mampu memberi manfaat yang luar biasa besar bagi masyarakat. Tumpulnya kinerja pemerintah membuat lembaga-lembaga ini seperti malaikat penolong.

Oke, kita sebut mereka: Rumah Dunia yang bergerak membangun budaya literasi; TaBu Village yang berupaya membangun ekosistem pesisir lebih baik dengan konsep ecotourism; Relawan Kampung yang membangun jembatan-jembatan kampung dengan pendanaan dari donator-donatur Indonesia dan mancanegara, begitu juga Relawan FBN yang melakukan aksi social pendampingan pasien-pasien miskin yang berobat di rumah sakit dan berdiri paling depan dalam penanganan bencana banjir.

Tentu saja masih banyak yang lain, tak terpublikasi luas namun memberi manfaat banyak sekali untuk masyarakat. Merekalah yang menyelamatkan Banten, bukan mereka yang menikmati kejayaan dari uang-uang rakyat.

Lantas apa yang masih jadi kegelisahan saya?

 

 

 

 

 

Ekspektasi Berlebih pada Jokowi

Sebuah berita mengalir di timeline facebook,

Dera, bayi yang sakit pernapasan ditolak 5 RS di Jakarta

http://id.berita.yahoo.com/dera-bayi-yang-sakit-pernapasan-ditolak-5-rs-074544768.html.

Seorang kawan di facebook langsung berkomentar menyalahkan Jokowi dan program kartu jakarta sehat-nya. Komentar kawan tersebut tidak salah  dan memang menunjukkan bahwa program kartu sehat di Jakarta berlum berjalan dengan baik di level teknis. Namun ini juga menunjukkan ada selapis masyarakat yang amat was terhadap apapun yang dilakukan dan tidak dilakukan Jokowi.

Tantangan terbesar Jokowi memang merubah mental birokrasi yang terlalu lama merasa menjadi kelas elit di masyarakat. Selama puluhan tahun birokrasi di Jakarta menikmati  gaji tinggi dan juga pendapatan-pendapatan tidak sah dari pungli di berbagai tingkat. Seorang kawan bercerita bahwa orang tua-nya termasuk menikmati bagi hasil dari loket pembuatan KTP yang jumlahnya bisa lebih dari sekali gaji.

Rumah sakit pemerintah-pun menurut seorang kawan membisniskan layanannya. Ada kabar burung mengatakan kalau kamar disebut penuh itu sebetulnya belum tentu penuh. Tergantung dari negosiasi dengan administrasi. Wallahua’lam bissawab tentunya.

Persoalan termutakhir bagaimana pengelola rusun menghalangi proses relokasi warga korban banjir dengan menghilang berhari-hari dari kantornya ketika warga membutuhkan layanan pendaftaran. Tersiar juga kabar pungutan liar dan berbagai perilaku mem-ersulit lain dari pelaksana.

Inilah gap yang mesti dihadapi Jokowi. Karena itu  mutasi 20 pejabat di berbagai level di pemerintahan Jakarta mesti dilihat sebagai “memaksa” birokrasi bekerja keras, berprestasi dan melayani masyarakat. Karena jika tidak ekspektasi berlebihan bisa berakhir dengan kekecewaan karena pelaksana tak mampu dan tak mau mengikuti irama kerja Jokowi.

Tentang Diaspora

Danet akhirnya pulang ke Amerika.

Bagiku ini berita sedih. Bukan soal nasib Danet, tapi tentang bagaimana negara ini selalu membuang kesempatan untuk melompat lebih tinggi. Akhir kisah Danet seperti pengumuman bagi kawan-kawan kita yang memilih bekerja di luar negeri sebagai dosen, peneliti atau insinyur: Jangan Pulang Bung, negara gak butuh kamu !

Idealisme memang tak pernah cukup. ia mesti dilengkapi dengan kekuatan ekonomi dan politik. Politik? Ya, karena politik memang sedang menjadi panglima di negeri ini ketika ia berselingkuh dengan ekonomi. Para bedebah yang berkuasa di negeri ini akan selalu menghalangi orang-orang pintar untuk pulang. Mereka rugi jika rakyat jadi ikut pintar, karena menjadi sulit dibohongi.

Jadi janganlah pulang wahai para diaspora, kecuali jika kalian sudah siap beradu otak dan otot dengan para bedebah itu, menguatkan hati untuk sedikit lebih tega. Jika para bedebah itu memanggilmu, percayalah dia cuma mau memperdayamu. Teruslah tinggal di negeri orang dan berbuatlah bagi sebanyak-banyaknya umat dunia.

 

 

My Gadgets

Hmm, saya tak menggilai gadget dan menjadikannya sebagai status sosial. Namun tanpa disadari ternyata saya pernah menjajal hampir semua gadget dengan os mainstream. Semua berjalan dengan begitu saja, sesuai kebutuhan.

Ya, sebelum memutuskan membeli gadget canggih atau HP berfitur sederhana, pikirkan dulu apa kebutuhanmu? Jika anda pebisnis MLM dan butuh berjejaring, BB mungkin pilihan utama karena ada fitur BBM yang kondang di Indonesia. Jika anda pengembang aplikasi maka android atau iphone bisa jadi pilihan.

nah karena saya ceritanya dosen dan cukup suka menulis, maka fitur edit dokumen menjadi penting. Maka gadget seperti PDA dari HP atau Nokia 9500 pernah jadi pilihan, dipakai sampai rusak atau hilang. Nokia 9500-ku sering bermasalah, mungkin karena beli second. Maka Erik di pasar baru menjadi tempat langganan untuk membetulkan handphone.

Nah pernah karena kebutuhan berinternet pernah juga memakai Soner G502, salah satu HP tertangguh untuk dipakai berselancar karena sudah berjaringan HSDPA. nah seringkali saya pakai juga sebagai modem. hanya sayang kualitas konektornya jelek sekali, sehingga sulit dicharge atau disambungan ke kabel data.

Akhirnya walaupun dihindari terjebak memakai blackberry, pake-nya BB Gemini. Ini BB pertama dan (so far) terakhir karena tak tertarik meng-upgrade-nya ke model terbaru. Hampir saja gemini ini pensiun setelah keypad A-nya tak berfungsi. gara2 itu beberapa waktu dianggap penguna bahasa alay.

Nah ini dia android jagoanku. Dia dibeli ketika si gemini bermasalah dengan keypadnya. Namanya Huawei Honor, bukan mainstream tapi menjadi pilihan menarik karena cukup bongsor dan upgradable ke ICS dari gingerbread bawaannya. Nah yang keren baterenya sebesar 1930 mAh dan kamera-nya 8MP. Ndilalah begitu si Honor yang dibeli dari honor ini masuk kantong, ternyata si gemini bisa dibenerin dengan harga 50rb saja.

Enam bulan setelah mengantongi huawei, ternyata aku hijrah ke Jepun untuk sekolah. Nah, masalahnya disini memakai HP pake sistem berlangganan (bundling) handset dan paketnya. Huawei tak bisa dipakai, jadi mesti ambili pilihan lain. Iphone 4s jadi pilihan karena ternyata iphone 5 tak begitu menarik dan paket android lebih mahal. Ihone 4s ini kompatibel dengan segala aksesoris milik Ipad1 yang dibeli beberapa tahun lalu, jadi bisa dipakai untuk presentasi juga disambung ke proyektor dengan sofware keynote.

Nah, sekarang ada tiga smartphone yang masih hidup jadinya: BB yang diistirahatkan dicabut batere-nya, huawei honor yang dipakai berwi-fi ria dan sukses diupgrade ke ICS, serta Iphone 4s yang dipakai sehari-hari.

BB sudahlah, disini gak banyak yang pake BB jadi tak usah diulas. Kelebihannya juga cuma BBM-an saja kok, peran yang sekarang digantikan oleh whatsapp. Nah, iphone dan androidku sih bersaing ketat. Sebetulnya cukup puas pake iphone 4s. masalahnya ada di  contacts yang seringkali hilang dan muncul kembali, amat mengganggu. Selebihnya sih oke-ok saja. Kameranya cukup memuaskan, namun tak terlalu istimewa sih, setara dengan si android. Kekurangan lain adalah karena hilangnya google map native diganti apple map yang kualitasnya berantakan. Jadi kadangkala teteup bawa ipad atau huawei jika butuh navigasi. Oh ya, layar dan kapasitas batere juga lebih besar huawei honor. Hanya kualitas perekaman video iphone 4s jauh lebih baik, huawei honor punya bug di kualitas suaranya.

Memasak

Tinggal di perantauan membuat memasak menjadi kegiatan yang penting. Jika sehari-dua hari sih tidak masalah membeli makan di luar, itung-itung mencicipi masakan native. Tapi jika setiap hari beli, wah jebol juga kantong. Apalagi haga makanan jadi di Jepun amat  cukup mahal. Ya, sekali makan agak lumayan minimal 500 yen-lah. Tapi makanan serius ya mesti diatas 1000 yen.

Nah, akhirnya memasak jadi pilihan terbaik. Tentu saja dimulai dengan masakan agak instan seperti roti bakar (dibakarnya juga pake roaster) atau pasta-pastaan yang dicampur dengan berbagai seafood. Nah ketika kangen masakan Indonesia, maka mulai mengolah daging-dagingan yang dibeli di toko halal di mesjid atau beli di Pak Nurdin atau Bu Dearlyn. Mencoba pake bumbu racikan dengan resep hasil googling walau kadang masih ditambah dengan bumbu instant, he he. jadilah walaupun berada di negeri wasabi masih bisa menikmati sop iga, gule kambing ato soto ayam.

 

2012-10-10 08.49.21

Integritas

Saya akhirnya menemukan jawaban, mengapa Indonesia sulit untuk beranjak untuk maju menjadi salah satu kekuatan dunia, meskipun banyak ramalan mengatakan itu. Jawabannya adalah karena bangsa kita, masyarakat dan elit tak memiliki cukup integritas. (Sebagian besar) elit kita sibuk menggemukkan diri, keluarga dan kroni-nya sekalipun itu mengambil hak orang lain. Cukuplah kasus suap daging sapi menunjukkan hal itu. Seorang pemimpin partai islam yang tentunya paham dan bahkan mengajarkan sifat dan tindak-tanduk Rasulullah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bukan hanya itu, ia mengakibatkan harga daging sapi membumbung tinggi sehingga rakyat tak bisa mendapatkan gizi yang baik atau menikmati bakso yang enak. Ia pun–  jika kelak terbukti — mesti bertanggungjawab atas dikonsumsinya daging celeng dalam bakso oleh ummat Islam.

Kasus ini seperti puncak gunung es, hanya contoh kecil bagaimana partai politik menjadikan kementrian yang dipimpin kadernya menjadi ATM. Tentu saja kasus-kasus lain harus diungkap dan dibawa ke pengadilan. Belum lagi di level lokal, elit-elit politisi dan birokrasi lokal berpesta diatas jalan rusak dan jeleknya fasilitas umum. Rakyat membayar pajak yang harusnya dikembalikan kepada mereka dalam bentuk fasilitas umum yang baik, namun para penjahat itu mengambil keuntungan dan membiarkan rakyat tetap kesusahan.

Bagaimana dengan masyarakat kita? Masyarakat juga punya persoalan dengan integritas. Serobot-menyerobot trotoar, parkir sembarangan, buang sampah di sungai adalah contoh bagaimana integritas masyarakat kita berantakan. Hal ini berangkat dari kegagalan pendidikan kita menanamkan integritas sebagai pilar dasar dalam pembentukan karakter. Maka ketika bodoh menjadi preman jalanan dan ketika pintar menjadi penjahat berdasi.

 

Merebut Bendera

Ini kata kiasan untuk mengambil alih kekuasaan. Namun sahabatku Maly mengingatkanku tentang makna harafiah dari merebut bendera. Alkisah di tahun 2000, anak-anak FISIP UI sedang kompak-kompaknya melakukan demonstrasi menentang pemberlakukan DPKP (Dana Peningkatan Kualitas Pendidikan) yang membuat biaya kuliah melambung berlipat-lipat. Nah, aksi demo tentu saja tak seru tanpa bendera sebagai simbol dan panji pasukan. Alhasil beberapa kawan melakukan pengambil-alihan spanduk yang ada logo UI-nya di beberapa titik dekat FISIP. Kita mengira spanduk sudah tak berlaku karena sudah menempel lama. Ternyata berbuntut, PD3 FISIP marah-marah dan mengusut kejadian itu, heboh deh. Tapi di benak kita yang masih muda, heroik banget 🙂

Bangsa Suap?

LHI ditangkap karena diduga terlibat suap menyuap impor sapi. Konon ini adalah puncak gunung es bagaimana partai politik menjadikan kementrian sebagai ATM.

Tapi ada sebuah pertanyaan besar, apakah suap sesuatu yang lumrah di masyarakat kita? sebegitu pemisifkah kita dengan aksi suap-menyuap? apa batasan suap-menyuap?

Banyak yang masuk jadi PNS pake suap. Minta dukungan partai untuk pilkada pake mahar. ditilang polisi pake uang damai. ketemu kiai bawa amplop. mau dapat proyek harus memberi uang dulu.

Jangan-jangan kita memang sedang berada dalam gawat-darurat suap. Makanya gerakan hidup halal yang diinisiasi oleh NU dan Muhammadiyah tidak laku, karena masyarakat — terutama elit –kita tak siap hidup halal. 

Masih Soal Sapi

Menurut berita di Detik, harga sapi di Indonesia termahal se-Indonesia. Jika benar, memang mahalnya daging sapi karena permainan suap dalam impor sapi, kurang ajar betul ya? Korupsi tak hanya memiskinkan, membuat bodoh, membuat jalan cepat rusak dan jembatan rubuh tapi juga membuat kita sulit menikmati daging sapi.

Rasanya doa kita sudah mesti dirubah, jika selama ini kita mendoakan agar pemimpin diberi hidayah dan kekuatan, mungkin lebih baik kita doakan pemimpin yang korup segera dicabut nyawanya dengan jalan mengerikan: ketabrak kereta sampai hancur, kesetrum sampai gosong atau terkena penyakit kelamin.

salam.

Anti Korupsi = Membela (Tersangka) Koruptor

Hari ini di media sosial riuh sekali soal penetapan Presiden PKS. LHI sebagai tersangka. Para pembela LHI menebar argumen dengan mengutip ayat-ayat Al Qurán, hadits dan siroh nabi. Di sisi lain, ada sekelompok netters yang tampaknya bersuka ria dan bertepuk tangan dengan penangkapan LHI oleh KPK tersebut. Banyak juga yang menyerang LHI dan PKS ke arah aktivitas beragama dan atribut keagamaannya.

Menurut hemat saya keduanya kampret belaka. LHI adalah manusia biasa yang tentu saja memiliki nafsu untuk memiliki harta banyak dan mungkin juga istri banyak (Kata Yusuf Supendi ada 3). Membela LHI dengan ayat-ayat Al Qurán sama dengan merendahkan agama. Apalagi perbuatan yang diduga dilakukan LHI adalah suap-meyuap, perbuatan yang pemberi maupun penerima-nya diancam masuk neraka. Pantaskah dibela?

Pun pihak yang menyerang aktivitas agama dan atribut keagamaan LHI. Silahkan menyerang pelaku dan perbuatannya, tapi sama sekali tidak relevan membawa-bawa agama dalam urusan tersebut. Bahwa agama seharusnya membuat orang takut berbuat dosa (dan korupsi adalah dosa besar), itu betul, tapi LHI yang presiden sebuah partai islam maupun HM yang pemimpin Walubi (keduanya tersangka KPK) manusia biasa yang mungkin tergiur jam rolex atau mobil hummer.

Kalau saya sendiri justru sedih. Penangkapan dan kemudian nanti pesidangan jika nanti terbukti menunjukkan korupsi betul-betul kanker jahat stadium tertinggi yang membuat bangsa ini terperosok jauh ke dasar peradaban.