Karir dan Remunerasi Dosen di Indonesia I

Sudah sebulan ini konsentrasi saya terpecah antara mengerjakan kewajiban menulis beberapa paper tentang politik lokal dan ketertarikan mengamati perkembangan dunia perdosenan. Ya, dunia saya sendiri setidaknya sampai nanti berumur enampuluh lima tahun.

Baru-baru ini muncul Draf Permenpan tentang Jabatan Akademik Dosen, Draf Permendikbud tentang Pengangkatan Dosen Tetap di Perguruan TinggiDraf Permendikbud tentang Pemberian Tunjangan Profesi dan Tunjangan Kehormatan bagi Dosen yang Menduduki Jabatan Akademik ProfesorLampiran Juknis III-Penetapan Angka KreditLampiran Juknis I berisi Jabatan Akademik, Kualifikasi, Kriteria, Tugas, Tanggung jawab, Wewengan dan Indikator Penilaian Dosen, dan Permendikbud tentang Tata Cara Penugasan dan Pemberian Insentif Dosen PNS dari PT Sumber ke PTN Sasaran.

Ada beberapa hal menarik dari draft-draft tersebut. berikut saya kompilasikan.

Pertama, Untuk menjadi dosen tetap, pendaftar mesti memiliki nilai toefl 500/IELTS 5.5 dan juga publikasi ilmiah di jurnal.

Kedua, dosen yang hendak mengajukan jabatan fungsional lektor mesti memiliki publikasi di jurnal terakreditasi dikti. Ketiga, dosen yang hendak mengajukan jabatan fungsional lektor kepala mesti sudah (tiga tahun dari) doktor dan memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis pertama. Keempat, dosen yang hendak mengajukan jabatan fungsional profesor mesti  sudah (tiga tahun dari) doktor dan memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis pertama, serta bertugas minimal sepuluh tahun sebagai dosen. Kelima, pengajuan jabatan fungsional dari satu jenjang ke jenjang selanjutnya minimal empat tahun. Keenam, ada keistimewaan bagi dosen berprestasi tinggi dalam hal pengajuan jabatan fungsional (mis. bisa kurang dr 3 tahun setelah doktor), tapi tak dijelaskan kriterianya. Keenam, Profesor memiliki kewajiban menulis buku, publikasi di jurnal terakreditasi dan menyebarluaskan gagasannya dalam kurun tiga tahun untuk mendapatkan tunjangan kehormatan, jika tidak maka tunjangan kehormatannya dihentikan sementara.

Nah, beberapa hari lalu juga muncul surat edaran yang menyatakan bahwa portofolio sertifikasi dosen tahun 2013 ditambahkan syarat menyertakan sertifikat TOEFL dan TPA. Sila suratnya dibaca disini.

Belum lagi pekerjaan yang overload di Dikti membuat diadakannya moratorium pengajuan jabatan fungsional Lektor kepala dan Guru besar sampai maret 2013. Sila suratnya dibaca disini. Alasannya menyelesaikan tunggakan pengajuan dan penggunaan sistem online (soal sistem online sebetulnya sudah siap sejak 2011 namun entah kenapa tidak jalan-jalan, sila main ke pak.dikti.go.id). Hanya saja tidak jelas apakah setelah maret 2013 tetap memakai aturan lama atau aturan baru yang masih berupa draft diatas sudah berlaku.

oke sekarang saya beri analisis. Jika dilihat secara positif, maka seperangkat aturan ini adalah untuk meningkatkan kualitas dosen yang berdampak pada peningkatan kulitas pendidikan tinggi di Indonesia. Bayangkan, semua dosen dan calon dosen memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik. Artinya mereka mampu membaca text book dan jurnal berbahasa Inggris. Lompatan besar akan terjadi disini. Begitu juga kewajiban menulis di jurnal terakreditasi (bagi calon lektor) dan jurnal internasional (bagi lektor kepala dan profesor) akan mendorong lompatan dalam jumlah publiksi dari bapak/ibu dosen di Indonesia. Dirjen Dikti pasti girang jika jumlah publikasi dari Indonesia bisa mengalahkan malaysia, he he.

Nah, tapi selain pembebanan terhadap dosen, Dirjen Dikti dan kawan-kawan musti membuat juga aturan standar fasilitas dosen. Sederhana saja, ada perpustakaan berkualitas dengan akses memadai ke buku dan jurnal internasional. Serta mesti ada ruang kerja atau meja kerja yang memadai bagi semua dosen. Nah, cantumkan standar ini dalam aturan akreditasi (atau udah ya, cuma gw aja gak tau) sehingga perguruan tinggi memaksakan menyediakan fasilitas ini bagi para pengajarnya.

Nah, tapi kok beberapa aspek terasa menghambat karir dosen ya? Misalnya aturan naik jenjang minimal sudah empat tahun di jabatan fungsional sebelumnya padahal sebelumnya hanya tiga tahun. Atau mesti jadi doktor selama tiga tahun baru boleh mengajukan kenaikan ke lektor kepala/ profesor. Juga mesti sepuluh tahun bekerja baru boleh mengajukan ke Profesor. Aturan-aturan ini amat menghambat.

Juga aturan lama bahwa dosen yang tugas belajar tidak dihitung publikasinya selama kuliah dengan alasan publikasi tersebut dianggap prasayarat lulus dan dapat ijazah dan nanti yang dihitung cuma ijazah saja. Lha dosen yang izin belajar malah tetap bisa dihitung publikasinya selama kuliah, he he. makanya banyak kawan memilih izin belajar dan bukan tugas belajar, masih dapat serdos dan publikasi juga dihitung, benefit tak beda jauh jika kuliahnya di dalam negeri.

Nah, selidik-punya selidik aku menduga keras jika ini berkaitan dengan rencana remunerasi yang akan berlaku mulai tahun depan. Jika tak meleset pegawai kemendibud (termasuk dosen) akan mendapatkan remunerasi mulai tahun 2013. hanya saja karena belum WTP maka pegawai kemendikbud hanya akan mendapatkan remunerasi sebesar 40% daripada yang diterima instansi yang sudah WTP.

Memang ini masih rumor karena upaya mendapatkan dokumen otentik sulit sekali. Namun nampaknya upaya mengerem karir dosen berkaitan dengan mengerem jumlah pengeluaran dalam pembayaran remunerasi ketika diterapkan.

update penting !!!!!

Malam ini kembali mencari beberapa informasi soal remunerasi dosen. ada info yang bisa dibaca disini tentang remunerasi di kemendikbud (sila baca atau dowload di http://www.slideshare.net/haris5782/kebijakan-reformasi-birokrasi-dan-evaluasi-jabatan?ref=http://www.kopertis12.or.id/2011/12/25/kebijakan-reformasi-birokrasi-dan-evaluasi-jabatan-di-lingkungan-kemdiknas.html)

nah, tapi di powerpoint tersebut kata dosen sama sekali tidak disebut. dan eng ing eng, ketika memelototi website kemenpan RB, di http://www.menpan.go.id/faq/570-faq-job-grading, ditemukan tanya jawab berikut:

———

T    :  Apakah jabatan fungsional dosen juga dimasukkan dalam daftar penilaian dan pengusulan tunjangan kinerja melalui job grading?

J : Tidak, sampai saat ini jabatan fungsional dosen sudah mendapatkan tunjangan kinerja melalui sertifikasi (kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).  Dengan prinsip, bahwa tidak ada duplikasi dalam pemberian reward and punishment, maka untuk saat ini fungsional dosen tidak dimasukkan dalam pengusulan tunjangan kinerja melaluijob grading.

———

jadi buat bapak/ibu dosen saya sendiri tidak tahu mana yang valid, maaf  info ini cukup mengejutkan dan membuyarkan lamunan bapak/ ibu semua ya :(.

Semoga saja dalam beberapa bulan ini ada kejelasan apakah dosen menjadi jabatan fungsional yang mendapatkan remunerasi atau tidak.  Pesan saya, jangan putus asa, terus berkarya saja, capai karir akademik tertinggi sebaga Guru Besar. Di titik itulah ketenangan bekerja sebagai dosen (baca: mengajar dan meneliti) bisa didapatkan, tak perlu mengamen kesana-kemari.

lanjutkan perkembangan terbaru di Karir dan Remunerasi Dosen di Indonesia (II).

Update lagi:

Update:

Finally, Dosen di Kemdikbud bernasib lebih buruk daripada dosen di instansi lain.

Dalam Perpres 88 tahun 2013, dosen dikecualikan sebagai penerima tunjangan kinerja. Menyedihkan sekali. berarti asumsi, analisis dan prediksi saya yang dibangun berdasarkan pengalaman beberapa dosen di instansi yang sudah menikmati tunjangan kinerja semuanya gugur. Selanjutnya silahkan dibaca disini: https://abdul-hamid.com/2013/12/13/dosen-tidak-dapat-tunjangan-kinerja/.

Iklan

Refleksi 2012

tahun 2012 sudah akan berlalu. Tahun ini amat keras tapi juga manis, dilalui dengan penuh cinta dan perjuangan.

Apa saja yang sudah diraih, aku coba tuliskan dibawah, bukan buat riya, tapi untuk catatan pengingat agar senantiasa bersyukur:

1. Mendapat kepastian beasiswa Dikti ke Doshisha University Jepang

2. Mendapat pelatihan IELTS gratis di IALF, berakhir dengan nilai 7, he he

3. Ibun beres kuliah Master di Tilburg, pulang dan bergabung ke Indonesia

4. Pengurusan berkas ke Lektor Kepala selesai walaupun nampaknya sampai akhir tahun belum ada hasilnya.

5. Beberapa persoalan finansial selesai, mulai ambil rumah serius di Villa Rizky Ilhami Karawaci untuk sepulang dari Jepun, tapi juga melego rumah persada.

6. Berangkat sekolah ke Jepun, keluarga juga menyusul ke Jepun, alhamdulillah keluarga berkumpul kembali.

7. Mendapat warisan apato beserta isinya dari Pak Fajar setelah menginap gratis di hotel J selama sebulan, terima kasih buat kawan2 yang banyak membantu 😉

8. Ayu dan Ilham pindah sekolah ke Jepun, Ayu di Yotoku Elementary School dan Ilham di Otto Kindergarten. Thanks juga buat semua yang membantu Ayu dan Ilham baik di SDIT Insan Mandiri, PAUD, Ulfa Sensei, Yotoku, Otto, Mihoko, J, dll

9. Ibun bisa kursus juga…

10. LoA untuk presentasi paper di Jakarta, San Diego, Macao dan Seoul, fiuh semuanya di 2013 … mesti tetap semangka

11. Oh ya, sempat juga jadi dosen terbaik di ANE FISIP Untirta 🙂

12. Mengakhiri amanah di Lab ANE, alhamdulillah berakhir khusnul khotimah

13. Bisa bersepeda, prestasi banget deh ini

Menjelang Libur

Mendekati akhir tahun kok suasana semakin temaram. Maksudnya konsentrasi terbagi kemana-mana sehingga sulit mengerjakan pekerjaan pokok: menulis dan membaca.

Apalagi musim dingin begini, membuat perut cepat lapar dan semangat mudah hilang. bagaimana caranya biar tetap semangat ya? secara butuh konsistensi menyelesaikan berbagai target di akhir dan awal tahun ini, hufff

Melawan Diri Sendiri

Kesulitan terbesar kuliah es tiga adalah melawan diri sendiri. Sulit menjaga fokus, irama dan konsisten pada target yang hendak dicapai. Mahasiswa dituntut lebih mandiri membaca dan menulis.

Saya pernah punya rencana one day one chapter journal. Sederhana dan tidak sulit melakukannya. Yang sulit memastikan bahwa tetap bisa melakukannya dikala punya kesibukan lain atau sama sekali gak sibuk (week end misalnya). Apalagi kalau sudah di rumah dan bercengkrama bersama keluarga.

Lha, yang disalahin kok keluarga?

Facebook juga masalah tersendiri, soalnya kadung jadi jalur komunikas yang lebih efektif dengan sebagian kawan. Tapi bisa berjam-jam terperangkap disana. 

Ke Kampus Setiap hari kerja

Setiap hari kerja aku mengusahakan banget berangkat ke kampus. Ya, sebetulnya kerja di rumah juga bisa, wong data sebagian ada di rumah dan akses internet juga ada. Apalagi untuk es tiga nyaris gak ada kuliah wajib karena gak ada kredit yang musti diambil. Cuma ada beberapa alasan kenapa ke kampus setiap hari menjadi penting. Pertama, ini alasan idealis: aku kan kuliah di Jepun dibiayai rakyat Indonesia, jadi rasanya berdosaaaaaa banget kalo waktu kerja itu masih bermalas-malasan di sofa. Lagian kalo di kampus bisa bekerja dengan fokus sambil sesekali fesbukan dan melaksanakan tugas dari Ayu ato Ilham, mendownload video dari yutup, he he. Kedua, alasan praktis: menggowes sepeda pancal setiap hari terbukti menurunkan berat badan secara signifikan. Rasanya kalo gak gowes kok fat-belt muncul kembali, he he.

terus kalo gowes aku berusaha mencari jarak terjauh sambil cari pemandangan bagus. Contohnya seperti dibawah ini. Ajib kan?

Image

Hidup Berkualitas

Sudah tiga bulan lebih beberapa hari aku tinggal di Kyoto. Kami (ya, belakangan keluarga bergabung) tinggal di sebuah apato kecil yang sempit menurut ukuran Indonesia tapi cukup nyaman. Apato kami berjara 3.3 kilometer dari kampus, jadi aku harus mendayung sepeda angin untuk pulang dan pergi, hampir setiap hari. Alhamdulillah, badan rasanya makin ringan, aku hampir kehilangan delapan kilogram dalam tiga bulan ini.

Ayu dan Ilham juga bersekolah disini. Ayu masuk ke SD Yotoku dekat rumah. Walaupun tak berbahasa Jepang, Ayu menikmati sekolah dan mulai memiliki beberapa teman. Sistem pemerintahan dan sekolah mensupport Ayu untuk sekolah. Oh ya, Ayu mendapatkan subsidi untuk membayar biaya makan siangnya di sekolah. Itu diluar subsidi dari pemerintah kota untuk Ayu dan Ilham (Kodomo Tate) yang jumlahnya lumayan, kalau digabung sekitar sebesar UMP Jakarta. Ilham, karena Ibu-nya tak bekerja/sekolah terpaksa tak bisa masuk nursery, tapi masuk ke TK swasta, Otto Kindergarten. Ilham juga amat menikmati sekolahnya, dia sudah bisa menyanyikan satu lagu kanak-kanak berbahasa Jepang. Ibun, bekerja sebagai fulltime mother dan mengambil kursus bahasa Jepang.

Akhir pekan, kami bisanya melakukan hal yang sederhana, misalnya piknik di sungai kamo atau bermain di lapangan di dekat rumah. Hal menyenangkan yang sulit dilakukan di jakarta.