Ini cerita pribadi tentang bagaimana interaksi dengan siapapun tak boleh didasarkan pada prasangka-prasangka belaka. Tulisan ini lahir pada kegelisahan dan kegeraman melihat kampanye sebagian kecil orang di Jakarta yang menebarkan kebencian pada sebagian yang lain atas dasar agama dan etnis untuk tujuan politik dan ekonomi.

Saya lahir di keluarga muslim yang taat.

Almarhum Bapak saya seorang guru di PGAN/ MAN Cihideung Pandeglang. Ajaran dan praktek berislam dijalankan secara ketat di keluarga  kami. Perubahan bentuk rumah (dari panggung, lantai tanah sampai lantai keramik) selalu menyisakan satu ruangan, yaitu Mushola. Dan setiap waktu sholat, kami mesti meninggalkan aktivitas apapun, salah satu anak lelaki melantunkan azan dan kami sholat berjamaah, lima waktu.

Walaupun hidup amat sangat sederhana, keluarga kami memiliki lemari berisikan buku-buku agama karangan HAMKA, Hasan Al Banna sampai Sayid Qutb. Selain itu kami juga membaca Panji Masyarakat yang dilanggan Bapak, sebagai makanan sehari-hari. Selain itu nyaris tak ada keistimewaan soal materi, semua apa adanya. Tak ada simbol kemewahan seperti televisi berwarna, tape recorder atau sepeda yang bisa dinikmati anak-anaknya. Saya ingat, untuk menonton MacGyver atau Doraemon yang sedang happening di masa itu, kami mesti menahan malu, nonton di tetangga depan rumah. Saya juga cuma bisa gigit jari melihat teman sebaya mengendarai sepeda federal yang amat ngetop di masa itu.

Bapak dan Ibu memiliki delapan anak, tujuh diantaranya mendapatkan gelar sarjana atau lebih,  sementara satu lagi keburu meninggal dunia ketika kuliah.

Bagaimana rahasia Bapak saya bisa menyekolahkan anak-anaknya dan membangun rumah? Sederhana saja, ia berhubungan baik dengan beberapa orang yang tak segan membantu ketika Bapak berada dalam kesulitan, termasuk meminjam uang untuk biaya sekolah kami, anak-anaknya. Sebagai PNS yang memilih jadi guru dan meninggalkan jabatan struktural di Depag,  gali lubang tutup lubang adalah hal yang amat biasa kami dengar.

Salah satu orang paling dekat dengan Bapak adalah Giok Sin, pemilik Toko Gentong di Pasar Pandeglang. Bapak memiliki hubungan baik dengan Giok Sin karena sering membeli dan juga kasbon bahan bangunan untuk membangun rumah kami. Giok Sin juga memiliki kebun persis di depan rumah yang dijaga oleh Bapak saya, dan kadang dibersihkan oleh kami, anak-anaknya. Hubungan baik  mereka ditandai oleh beberapa hal. Saya masih ingat ketika Kakak saya melanjutkan sekolahnya ke pesantren Daar el Qolam di balaraja, Bapak meminjam truk barang milik Giok Sin untuk mengangkut barang-barang keperluan di pesantren, termasuk kami anak-anak kecil yang menikmati naek bak terbuka di belakang beralaskan tikar. Begitu juga ketika saya masuk UI, saya paham bahwa sebagian uang yang didapatkan untuk membiayai berasal dari pinjaman bapak kepada kawan-kawannya termasuk Giok Sin. Tak ada kebencian walaupun kami tahu bahwa Giok Sin beragama Kristen dan taat beribadah ke gereja di Rangkasbitung. Tak ada keberatan dari Giok Sin, ketika Bapak meminjam Truk barangnya untuk mengantar anaknya berangkat ke pesantren.

Sekarang saya di Kyoto, sudah sebelas hari. Belum punya alamat tetap karena apartemen yang mau disewa baru bisa dimasuki tanggal 26 September nanti. Siapa yang menawari saya tinggal sementara dan mau direpotkan karena saya buta dan bisu disini karena tak bisa bahasa Jepun? J, senior di UI yang walaupun namanya ke-arab-araban ia  berasal dari etnis Tionghoa dan bukan muslim.  Ia amat berhati-hati ketika di rumah makan, memilihkan makanan yang tak mengandung barang yang diharamkan oleh Islam untuk saya makan walaupun merepotkan dirinya sendiri.

Tak ada alasan bagi kita untuk membenci atau menebarkan kebencian kepada orang hanya karena prasangka belaka. Tak ada yang bisa memilih lahir sebagai orang banten, madura, jawa, betawi atau tionghoa. Jikapun mereka berbeda agama, bukan berarti mereka musuh atau pasti memusuhimu. Jika memang ada satu, dua orang yang brengsek, mereka adalah representasi diri mereka sendiri dan bukan representasi etnis atau agama mereka.

Salam.

Iklan

2 tanggapan untuk “Kami dan Mereka

  1. Selamat p hamid sdh tercapai apa yg diinginkan, tetap semangat!!!
    saya baca catatan p hamid sungguh menyentuh hati dan menimbulkan inspirasi…, dengan bahasa yg sederhana dan tercerna oleh saya, terus menulis ya pak dan share pengalaman anda dr hari ke hari d Jepun smg Allah Swt memberikan kemudahan dan kekuatan utk anda dan keluarga aamiin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s