Kyoto, Aku Kembali

Gak terasa sudah sepuluh hari aku kembali ke Kyoto. Ya, kembali karena ini kedatanganku ketiga kalinya. Cuma bedanya, kalo di tahun 2008 dan 2010 cuma jadi turis, sekita dua minggu-an saja sebagai undangan buat konferensi di Kyodai, kali ini akan menetap selama tiga tahun sebagai anak sekolahan di Doshisha. Mangkanya begitu sampai bandara, langsung dapet residence card di imigrasi.

Alhamdulillahnya, ada teman yang bareng berangkat dari jakarta yang sekaligus jadi tempat numpang selama cari Apato di Kyoto, J. Doi, senior di UI dan sekarang jadi peneliti di CSEAS Kyodai.

Tak banyak yang berubah di Kyoto, tetap saja perpaduan ciamik antara budaya tradisional yang dipertahankan, modernitas dalam berbagai aspek kehidupan dan landskap alam yang indah dan terjaga. Kamo river tetap menjadi tempat favoritku buat bengong dan jadi tetenger untuk mencari jalan kalo sudah mulai kebingungan (baca: nyasar, he he). Penghuni Kamo juga masih tetap yang dulu, ikan-ikan besar yang gak ada yang mancing, bebek, bangau, gagak dan sedikit gelandangan dengan tenda biru di bawah beberapa jembatan.

Pemandangan orang bersepeda juga jamak disini. Orang lalu lalang di pedestrian yang luas, berbagi antara pejalan kaki dan pesepeda. Anak-anak, emak-emak sampai orang lanjut usia bersepeda ria. Nah, sepeda motor yang justru tak banyak terlihat. Kemacetan ada, tapi tak banyak, hanya antrian di lampu merah saja.

Teramachi juga tetap jadi tempat yang asyik buat hang-out dan cuci mata, ada toko pakaian army look yang menarik hati, dapur kyoto buat cari gorengan sehat (akar aja jadi gorengan) dan tentu saja toko seratus yen buat belanja benerannya. Yang agak berbeda tentu saja starbucks di beberapa sudut kawasan karasuma, shinjo dan jalan-jalan utama lain. Dulu kayaknya gak sebanyak ini…

Kombini juga ada dimana-mana, Lawson, seven-eleven ato family mart tersebar banyak sekali. Konon, keberadaan kombini-kombini inilah yang membuat retail besar semacam carrefour tak betah berbisnis di Jepun. Hanya bedanya dengan di Indonesia, sevel dan Lawson ini hanya tempat buat belanja, bukan buat nongkrong anak alay :).

Nah, kampusku, Doshisha University berada persis di seberang imperial palace, istana Kaisar jaman Kyoto masih jadi ibukota Jepun, itu lho jamannya Kenshin Himura. Nah beberapa kali ke kampus sengaja jalan kaki masuk ke kebun/ hutan kota sekitar bangunan istana. Nyaman sekali, cocok buat olahraga ato ngadem.

Soal makanan juga istimewa, istimewa rasa dan harganya. Soal cita rasa, ya enak kalo gak biasa mungkin di bilang aneh. Yoshinoya yang di Jakarta jadi tempat keren, disini jadi tempat favorit kelas pekerja yang mengantri di jam makan siang. Yah, tentu saja sebagai mahasiswa beasiswa dikti, ini juga bakal jadi tempat favorit πŸ™‚ selain tentu saja ke depannya bakal bawa bento. Nah, sementara belon bisa masak, maka aku sama J mencoba berbagai tipe makanan di rumah makan, mulai dari Tori yaki (apa yaki tori, sate ayam deh pokoknya), makanan vegetarian, udon, bento set, omelet nasi (apa bahasa jepangnya ya), bimbimbap (makanan korea inimah), makanan kantin kampus2, makanan thai dan makanan india. Rasanya ada yang enak dan ada yang aneh, harganya bervariasi deh, yang jelas jangan dikurs-kan ke rupiah, nanti gak enak makannya.

Nah, karena kali ini bakal jadi warga Kyoto, setidaknya untuk tiga tahun, tantangnnya gak gampang. Tentu saja mencari Apato untuk keluarga. nah ini agak susah-susah gampang, tapi penting karena surat domisili jadi syarat buat sdministrasi kampus, asuransi, beli handphone, dll. (Nanti aku ceritakan perjuangan cari apato)

Bahasa juga jadi kendala, karena aksara dan oral masyarakat jepang kan menggunakan bahasa Jepun. Amat sedikit yang bisa berbahasa Inggris. Nah, karena itu belajar bahasa mutlak penting untuk survive karena gak mungkin selalu tergantung ke orang lain. Untunglah selama ini dibantu J yang gape berbahasa Jepun, sehingga berbagai urusan selalu lancar jaya.

Selanjutnya ya tantangan studi itu sendiri. Beasiswa dari dikti hanya selama tiga tahun. Harus cukup karena tak ada perpanjangan. Berarti betul-betul mesti fokus ke studi, tak boleh teralih ke hal-hal yang lain. Belum lagi beasiswanya belum turun sampai tulisan ini dibuat 😦

Huff baru sepuluh hari, masih tiga tahun kurang sepuluh hari, he he

Iklan

4 thoughts on “Kyoto, Aku Kembali

  1. riki

    bang saya mau tanya
    saya mendapatkan tawaran dari sahabat saya atau orang tua angkat saya sewaktu bekerja dijepang 3 bulan lalu saya baru pulang magang dijepang selama 3 tahun

    saya mendapatkan tawaran menjadi anaknya di jepang bagaimana saya harus mengurus tawaran tersebut,??
    apakah sulit?

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      wah tawaran jadi anak? saya kurang paham soal mengurus adopsi. ada yang punya pengalaman? tapi mungkin info ini bermanfaat. Kalau misalnya nanti jadi anak angkat dan menyandang nama keluarga dan kemudian punya hak waris. Ketika pengalihan waris dari orangtua ke anak di Jepang, dikenakan pajak yang amat besar, sekitar 40% dari nilainya. Jadi misalnya nanti dapet rumah senilai 1juta yen, anak yang mewarisi mesti membayar pajak sebesar 400.000 yen ke pemerintah. Walaupun saya percaya tentu saja nanti lebih ke aspek menjaga ikatan silaturahmi kan? bukan soal waris. Cuma info dari sensei saya ini mungkin bisa jadi salah satu pertimbangan saja.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s