Skenario Sempurna

Jakarta 11 Maret 2011

Saya berjuang mendapatkan beasiswa ke luar negeri sejak tahun 2006 dan baru mendapatkannya di tahun 2012.

Puluhan lamaran, rekomendasi dan CV sudah saya buat dan nyaris tak menghasilkan apapun kecuali surat penolakan demi penolakan. Ada kalanya sulit mendapat pembimbing, mekanisme kampus tujuan yang ribet sampai bahasa inggris yang pas-pasan. Nyaris adalah kata yang selalu menempel di setiap usahaku.

Tahun 2007, akhirnya saya memutuskan mengambil kuliah master dengan beasiswa unggulan double degree di Undip-Wyoming Univ., dengan harapan tahun kedua dilaksanakan di USA. Apa lacur program di tahun kedua berantakan karena depdiknas tak memberi pembiayaan. Padahal ketika studi tahun pertama, seorang Sensei dari Kyodai  sempat menelepon dan memarahi saya karena kurang ngotot untuk kuliah disana, karena dia sudah membuka jalan.

Selesai S2, saya akhirnya memutuskan ndaftar beasiswa Dikti berbekal LoA Research Student dari Graduate School ASAFAS Kyodai. Ternyata LoA tersebut ngak laku di Dikti. Dikti maunya LoA Ph.D student bukan LoA research student. Saya sudah jelaskan bahwa ini adalah mekanisme yang berlaku di tempat saya akan studi, tapi tetap tidak bisa. Saya memang sempat ke Jepang dua kali, ke Kyodai, namun bukan untuk kuliah, tapi hanya menjadi visiting researcher dan pembicara seminar saja. Solusinya, Graduate School ASAFAS Kyodai mensyaratkan saya untuk dateng ke Jepun bulan januari untuk seleksi di tempat, nah lho, pake duit siapa???

Hmm sempat mengalihkan ke Aussie, sudah dapat dua Professor, namun IELTS gak cukup (padahal udah ngursus di malang 3 bulan, parahhhh) sehingga hanya mendapat LoA conditional dari Murdoch dan UWA. Mengirim aplikasi ke Jerman lebih parah, tak ada satupun Profesor yang berminat :(.

Akhirnya melamar ke Tsukuba Uni. dan langsung direspon baik oleh seorang Sensei. LoA bahkan beliau bawa sendiri ke Jakarta dan saya sempat membantu beliau untuk melakukan wawancara penelitian. Ndilalah di LoA juga tertulis saya mesti dateng ke Tsukuba untuk test bulan februari, sami mawon 😦

Di tengah putus asa, saya kirim email minta tolong ke Sensei di Kyodai untuk membantu mencarikan Universitas yang proses melamarnya cukup dengan berkas. Akhirnya beliau menyarankan saya ndaftar ke Doshisha Uni yang proses aplikasinya berbasis dokumen, alias gak pake musti datang ke Jepun untuk test. Apalagi di Doshisha programnya berbahasa Inggris. Pendek kata, gayung bersambut dan berjalanlah proses aplikasi resmi ke Doshisha setelah Prof. Oyamada resmi menerima saya. LoA Unconditional datang persis ketika saya pulang konferensi dari Marseille dan siap untuk memenuhi semua kelengkapan administrasi di Dikti.

Wawancara berjalan dan — akhirnya — resmilah saya menjadi penerima beasiswa Dikti dan akan berangkat ke Kyoto September mendatang. Menariknya adalah tahun ini pula istri saya selesai mengambil master di belanda (Juli) sehingga bisa bergabung di Kyoto bersama anak-anak (ini seperti memenuhi mimpi kami untuk setidaknya pernah merasakan menetap sekeluarga di luar negeri); saya juga sedang mengikuti pelatihan bahasa inggris di IALF yang pengajarnya bule — senin-jumat <pagi-sore> enam bulan — yang akan selesai agustus, persis menjelang saya berangkat ke Jepun (asal sodara-sodara tahu beratnya proses sampe bisa ikut pelatihan disini dan saya gagal terus mau ndaftar pelatihan pake duit sendiri karena duitnya gak kumpul-kumpul) dan ; ketiga saya juga sempat memasukkan berkas fungsional Lektor Kepala karena kum-nya memenuhi dan memiliki jurnal terakreditas (jika lancar, pulang Ph.D tinggal urus Guru besar ;)).

Gile bener, ini skenario sempurna yang diberikan Allah untuk menampar mukaku menyadarkan keraguanku atas kuasa-Nya setelah cukup lancang saya  menggugat-Nya atas kegagalan-kegagalanku buat sekolah ke luar negeri.

Sekarang saatnya bersyukur dan memersiapkan diri sebaik mungkin biar persiapan dan selama sekolah semuanya berjalan lancar.

Kyoto 13 September 2012

Sudah sekitar sebelas hari saya di Kyoto, memulai hidup baru sebagai mahasiswa. Sebelum berangkat, ada sebuah skenario sempurna lagi yang berjalan indah. Skenarionya adalah, dalam pelatihan bahasa Dikti saya mesti mendapatkan skor IELTS diatas 6.5, memenuhi absen diatas 90% untuk mendapatkan allowance. Target utama ikut program kursus memang hanya dua, melancarkan komunikasi dalam bahasa Inggris dan mendapatkan allowance sebagai tambahan sangu ke Jepun. Berbeda dengan kawan-kawan yang target utamanya tentu saja mendapatkan skor tinggi sebagai syarat aplikasi sekolah ke luar negeri.

Alhamdulillah, tak disangka nilai IELTSku mencapai 7.0, diatas prediksi 6.5. Lucu juga, padahal setahun lalu berjuang keras mendapatkan 6.5 susah setengah mati — gak pernah kesampean, untuk merubah Conditional Offer menjadi Unconditional Offer di Murdoch Uni. dan UWA. Nah, begitu beberapa hari sudah akan berangkat sekolah ke Jepun, ndilalah skor IELTS mencapai 7.0. aneh memang, skor dikejar sulit-sulit untuk disimpan rapi di lemari arsip di rumah 🙂

Nah, skenario menambah sangu untuk ke Jepun juga berjalan lancar jaya dengan skor 7.0 dan absen 91%. Saya mendapatkan allowance dari dikti sebesar 6 bulan kursus, lumayan buat bertahan hidup di Kyoto karena ternyata beasiswa LN Dikti, sampai tulisan ini dibuat, juga belum turun. Allowance juga didapatkan dengan langsung menembak Pak Dedy di Dikti lantai 5, sehari menjelang berangkat.

Skenario yang agak meleset memang membawa keluarga ke Jepun pada kesempatan pertama. Tapi ke-meleset-an tersebut justru baik karena telatnya beasiswa tadi dan belum siapnya akomodasi di Jepun. Sampai hari ini saya masih menumpang di apato J, kawan baik yang menjadi peneliti di CSEAS Kyodai. Bahkan berangkat dari jakarta sudah bersama J pula, dengan pesawat yang sama pula. Kebetulan?

Disini sempat susah cari Apato, lagi-lagi ada jalan keluar yang indah. Sempat mendapat rumah dekat kampus dengan harga lumayan rendah, 68ribu perbulan kosong. namun sulit dapat Guarantor karena kawan-kawan baik yang berkebangsaan Jepun pada sedang di luar negeri. Nah ternyata ada kabar bahwa seorang kawan, penerima beasiswa Dikti akan pulang dan mencari orang yang akan melanjutkan menyewa apato-nya.  Jadilah keesokan harinya bersama J menengok TKP. Gayung bersambut, Saya bisa menyewa rumah dengan sewa yang lebih murah, 50rb/bulan beserta segala isinya (mesin cuci, springbed, karpet, microwave, sofa, dll) yang diberikan penyewa lama, Pak Fajar Goembira dari USA (Urang Sunda Asli) yang mengajar di Unand.  Alhamdulillah, bisa masuk ke rumah “sendiri” nanti tanggal 26 september. Tak terlalu dekat kampus memang, yang berarti harus bersepeda sekitar lima belas menit  setiap menuju ke kampus, itung-itung kembali berolah raga ria biar kembali singset.

Terlalu banyak kebetulan untuk tak mengatakannya sebagai skenario Allah. Saya sih hanya bermimpi dan mengejarnya dengan bekerja keras. Itu saja…

5 Desember 2013

Sudah setahun lebih di Kyoto, alhamdulillah banyak kabar baik. Satu jurnal internasional sudah terbit, dua lagi sedang dalam proses. Tiga presentasi internasional sudah dilakukan. Sensei memintaku untuk menjadi teaching Assistant, sudah berjalan dua semester. Beberapa bulan lalu mendapat kabar bahwa pengajuan Lektor Kepala akhirnya disetujui dan SK sudah keluar. Kabar ini diikuti oleh keluarnya SK Golongan 3C. Alhamdulillah kawan-kawan di tempatku bekerja –Untirta– memberi dukungan yang hebat.  Semua keluarga kecilku di Jepun sehat, istriku memiliki banyak kawan disini, anak-anak masuk ke sekolah lokal dan sudah agak lancar berkomunikasi dalam bahasa Jepun.

Skenario sempurna?

“Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban” فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” [Surah al-Rahman 55-13]

Iklan

12 comments

  1. luar biasa…
    tak sebarkan ke teman2 di kampus ya mas, untuk menginspirasi teman-teman2 kmrn yang patah arang, ga lolos tes untuk ikutan pelatihan krn IELTSnya dibawah 5

  2. Subhanallah.. sungguh perjuangan yang berat dan begitu indah skenario Allah.. Selamat buat pak Hamid dan keluarga.. selamat atas segala usaha dan kerja kerasnya… dan memang benar.. semua indah pada waktunya…Terimakasih pak buat sharing nya.. semoga bermanfaat buat semua.. dan semoga kita semua bisa istiqomah dalam bersyukur merasakan indahnya skenario Allah.. Amin Ya Robbal Alamin…

  3. Inspiratif sekali pak…..
    saya juga seorang scholarship hunter sejak 2010. Saat ini masih nungguin LoA dari birmingham UK dan saat ini juga lagi di Taiwan ikut program bridging di taiwan. Kalau kuliah di UK saya bingung biaya riset dan apakah disana PHd students dibiayain konferensi? Kalau kuliah di Taiwan,mahasiswa disini dapat fasilitas konferensi dan saya bisa riset di Indonesia. Bagaimana menurut bapak?

    • waduh, lebih baik ditanyakan di grup beasiswa LN dikti di facebook, banyak yang dari UK. kalau saya kan di Jepun, nah dapat jatah untuk riset seperti untuk beli tiket pesawat atau biaya hidup selama penelitian. semoga sukses ya

  4. Allohu Akbar…Subhanalloh….kata2 indah pada waktunya sangat menyentuh hati saya abah…banyak faktor yang menentukan kepuasan diri dan keberhasilan menurut versi masing2…tulisan yang sangat insipratif semoga memberikan semangat untuk saya agar tidak mudah menyerah, semangat bersabar, semangat untuk bersyukur, semangat positif thingking kepada ujian dari Alloh, semangat menyebarkan kebaikan berupa ilmu yang bermanfaat(amalan yang tidak akan putus-putusnya setelah ajal menjemput)…
    pak hamid apakah hak dan kewajiban dosen tetap non pns yang mempunyai nidn, itu sama…dari segi gaji, tunjangan, lanjut kuliah s3, serdos…tapi kok sampai sekarang di kampus ptn kami kok sedikit berbeda..mohon nasehat dan masukannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s