Pagi ini, Ayu dan Ilham seperti biasa pergi mengaji. Ayu akan mengikuti lomba bercerita dalam bahasa Inggris tentang bahaya narkoba, sedangkan Ilham akan menjadi supporter setia mbak-nya itu.

Aku membuka macbook, menggunakan waktu berharga sekitar dua jam tanpa gangguan anak-anak. Yups, bukan tak senang bertemu dan bercengkrama dengan Ayu dan Ilham, tapi ketergantungan mereka terhadap Abahnya memang amat tinggi. Ilham misalnya, nyaris tak mau beranjak dari sisiku setiap kali aku di rumah. Setiap membuka macbook, ilham pasti langsung mengambil alih kendali dan mulai membuka aplikasi photo booth untuk mengambil foto atau video.

Ayu lain lagi, sudah sekitar dua minggu ini ia mendeklarasikan dirinya sebagai anak paling jelek se-dunia. ia menulis di ipad, bahkan di tangannya, “aku jelek”.

Hmm sebagai single parents yang ditinggal emaknya anak-anak bersekolah ke belanda setahun ini, aku memahami inilah cara anak-anak mencari perhatian abahnya.

Tentu saja, tak ada ibu adalah sesuatu yang berat. Maka sebisa mungkin aku bersikap baik dan lembut, bahkan konyol pada anak-anak. Sebisa mungkin tak boleh terlihat berat, berkeluh kesah atau mellow di depan mereka. Ya berat dan sedih tentu saja ditinggal istri, apalagi mesti mengurusi buntut berumur enam dan 3 tahun. Tapi aku percaya, kesedihan anak-anak lebih berat daripada kesedihanku. Gak boleh nampak menye-menye, malu sama Ayu dan Ilham.

Di tengah ketiadaan partner inilah, membangun nilai menjadi sebuah persoalan besar. Biasanya dengan partner ada diskusi, sharing dan tentu saja kerjasama tim. Tanpa partner semua dikerjakan sendiri. Tentu saja dalam banyak hal peran De Onah amat besar dalam pengasuhan dan penjagaan Ayu dan Ilham. Tapi soal membangun nilai, tetap saja tanggung jawab Abah dan Emaknya. Maka aktivitas bersama (bahasa kerennya quality time) banyak kami lakukan bersama seperti sholat berjamaah, mengaji iqro, mendongeng, memasak, beli martabak atau bubur ayam ke pasar dan mengerjakan PR. Konsekuensinya memang aktivitasku di ruang publik banyak berpindah ke ruang domestik.

Nilai-nilai baik aku coba sosialisasikan dengan dongeng. Kami punya tokoh rekaan bernama Moni. Mungkin jika dihitung dongeng Moni sudah sampai edisi ke 27. Mulai dari Moni yang kebanjiran karena buang sampah sembarangan, malas mengaji sampai sekarang memiliki kekuatan super dari putri siluman yang membuat Moni bisa terbang dan menolong orang lain. Moni punya kawan bernama Moli, Mosi, Ayu, Ilham dan Mio. Tapi tetap saja seringkali muncul perdebatan besar karena Ayu dan Ilham tak pernah sepakat soal jenis kelamin Moni dan apakah Moni monyet atau manusia. Ilham percaya Moni adalah anak perempuan bernama Moni(ka) dan tentu saja manusia. Ayu percaya bahwa Moni adalah anak monyet bernama asli (As)moni, (baca: Asmuni).

Sekarang anak-anak mulai berkenalan dengan konsep mubazir. Ilham memanggilnya mau banjir. Mulai dari  menghabiskan makanan dan susu. Hmm soal ini anak-anak pernah gak mau makan sampai akhirnya diceritakan tentang seorang anak afrika yang kelaparan dan hendak dimakan burung vulture. Cerita yang disertai foto dari mbah google ini nampaknya mengguncang mereka sehingga akhirnya mau makan.  Anak-anak juga mulai membiasakan mematikan keran yang tak dipakai (kata Ayu, patroli air) dan mematikan lampu yang menyala di siang hari atau di ruangan tak terpakai.

Soal bangun pagi juga menjadi nilai yang dibiasakan. Ayu dan Ilham mesti percaya dan dibuat percaya bahwa orang sukses memulai sesuatu seawal mungkin. Ayu sudah amat terbiasa bangun pagi karena anak SD di jakarta memang disuruh bangun pagi oleh Bang Foke. Ilham masih terkendala males, namun beberapa waktu ini selalu bangun pagi karena takut ditinggal Abahnya ke Serang.

Kepekaan terhadap persoalan sosial juga menjadi nilai penting untuk disosialisasikan. Sejak bayi, Ayu di nina bobokan dengan lagu darah juang. Ia bahkan hafal lagu tersebut. Ilham amat akrab dengan lagu iwan fals. Jika kami lewat pancoran, matanya selalu menelisik ke luar mencari sosok si budi yang berjualan koran tanpa jas hujan. Ayu dan Ilham mulai paham bahwa tak semua orang tidur di kasur empuk di ruang ber-AC dan bisa bermain game di Ipad.

Tentu saja tak semua nilai baik yang tersosialisasi. Bagiku waktu setelah solat subuh adalah waktu terbaik untuk bekerja : menulis atau sekedar membaca dan membalas email. Cilakanya adalah anak-anak kemudian lebih sering melihat abahnya yang gemuk ini pagi-pagi duduk manis sambil monum kopi hitam di depan macbook daripada bercucuran keringat di lapangan.

Ini ceritaku, ceritamu mana?

 

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Cerita Pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s