Perjalanan Ke Eropa (9) edisi Belanda

12 November

Istriku sibuk mengerjakan tugas-tugasnya. Hari ini kami cuma belanja dan memasak bersama. Mmmm makan pasta yang enak.

13 November

Kami menuju Amsterdam. Awalnya mau ke Volendam (itu lo buat berpose dengan baju tradisional belanda), namun batal dan kami memilih berjalan-jalan di sekitar stasiun Amsterdam Centraal. Hmm, nampaknya banyak sekali wajah-wajah Indonesia disana, buanyak sekali.

Perjalanan ditutup dengan menyusuri kawasan Red Light District, namun karena terlalu sore (belum malam) baru sex shop yang buka, para PSK belum pada keluar.

14 November, Senin

Ibun ke kampus untuk kuliah, aku menyibukkan diri di kamar, menyelesaikan beberapa hal di laptop.

15 November, Selasa

Ke KBRI di Denhaag mengurus surat kuasa Ibun. Belanja bekal buat perjalanan besok.

Toko di Denhaag yang memamerkan aksesoris Free West Papua


Iklan

Perjalanan Ke Eropa (8)

11 November

Gabriel mengantarku ke Airport Marseille untuk menuju Dusseldorf, Jerman. Tiket ke Dusseldor paling rasional harganya untuk menuju Tilburg, kota tempat istriku tinggal. Awalnya dari Dusseldor mau langsung ke Hamburg, tempatnya Adit, kolega dan sahabatku di UI. Ternyata kondisi kantong gak memungkinkan.

Aku sampai di Dusseldorf sekitar jam 2 dan berjalan-jalan di sekitar Dusseldorf HBS (Central Stasiun). Hmm sepertinya sedang ada festival, banyak orang tumpah ruah di jalanan sambil minum bir.

Perjalanan kami ditutup di tepi sungai Rhein, sebelum melanjutkan ke Tilburg dengan kereta api.

Catatan Perjalanan Ke Eropa (7)

10 November

Hari ini bedah buku Daromir di kelas-nya Ghislaine.Namun paginya Jean Marc mengajakku hiking dulu ke Mt. Victoria, olahraga sambil menikmati udara pagi yang segar dan tak terlalu dingin.

Daromir beberapa kali menyebut namaku dalam presentasi-nya, nampaknya karena konteks penelitiannya — Banten — sudah mengalami berbagai perubahan. sesudah presentasi aku diminta menyampaikan tanggapan dan pertanyaan. alhamdulillah, diskusi berjalan lancar dan peserta cukup antusias.

Siangnya aku dan gabriel berjalan-jalan sebentar (banget) di pusat kota Aix. cuaca amat cerah, tak dingin seperti hari-hari sebelumnya. berikut beberapa foto-nya

malamnya kami pergi menuju Jean-Marc, memenuhi undangan makan disana. Malam ini rupanya terakhir semua peserta berkumpul, karena besoknya Daromir akan kembali ke Kanada, dan aku berangkat ke Belanda. Makan berlangsung akrab dan gembira, walaupun mata para peserta sudah nampak amat kelelahan, karena hampir setiap hari, pagi sampai larut malam berkumpul.

Catatan Perjalanan Ke Eropa (6)

9 November

Ini hari kedua simposium. Beberapa peserta meledekku, “tenang saja, kau bisa bernafas karena sudah presentasi”. beberapa juga bertanya apakah aku mengerti materi-materi dalam bahasa perancis. aku jelaskan ada Gabriel yang membantuku memahami.

Simposium kali ini berjalan lancar dan cepat, siang hari semua materi selesai dipresentasikan. Pada saat penutupan, Ghislaine menyampaikan bahwa peserta diminta memperbaiki tulisan untuk nanti diterbitkan dalam jurnal Mousson. Selain itu ia mengundang peserta simpoisum untuk makan malam di rumahnya.

Siang sampai sore Gabriel bimbingan disertasi dengan Jean-Marc dan aku menghabiskan waktu membuat perencanaan perjalanan di depan internet. hmm, cilaka-nya uang tiket ternyata tak diganti segera. penggantian baru akan dilakukan via transfer setelah aku pulang ke Jakarta dan mengirim boarding pass ke panitia. waduuuuuh.

Malamnya kami bertiga berangkat ke rumah Ghislaine yang besar dan unik, mirip kastil kecil. kebiasaan di Perancis, tamu datang bukan langsung makan, tapi membantu memasak juga. jadilah para tamu berbagi tugas, memotong sayuran, merebus, membuka bungkus kacang, dan lain-lain. Aku sendiri sebagai tamu kurang ajar malah asyik ngobrol ngalor ngidul dengan Daromir.

masakan kali ini cukup enak, steak-nya matang (biasanya masih berdarah gitu) dan ada kentang gorengnya, belum lagi bermacam keju yang melimpah buat desert. zaitun (olive) yang tersedia juga dua macam, hijau dan hitam. oh ya, di perancis roti banquet selalu terhidang sebagai alat untuk menghabiskan sisa-sisa kuah makanan sampai piringnya tandas dan licin. kalau saja aku penggemar wine, pasti aku puas dengan bermacam wine yang tersedia, banyak yang unik dan setiap wine punya cerita tersendiri.

Malamnya, sambil pulang Jean Marc mengajak aku dan Gabriel melihat tempat dimana Paul Cezzane melukis Mt. Saint Victoria. Tempatnya unik dan indah sekali, sayang tengah malam jadi tak bisa mengambil gambar.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju penginapan kecil di kaki Mt. Victoria, Getape, tempat para pendaki guung biasa menginap dengan tarif hanya 12 euro semalam. Wah dibayari pula sama Jean Marc.

Catatan Perjalanan Ke Eropa (5)

8 november

Pagi aku sempat sarapan di hotel la manoir. Awalnya mau menghabiskan waktu dulu menggunakan jatah internet yang satu jam setiap hari-nya. Tapi Prof. Harald Tambs-lyche mengajak bergabung di meja-nya dan kami berdiskusi soal topik penelitian masing-masing. Ia bercerita banyak soal dinamika di Bangalore, India. Hmm pagi-pagi sudah dapat kuliah, he he, sambil ngupi-ngupi dan makan croissant pula.

Tak lama Jerome menjemput dan kami berangkat ke kampus. Rupanya disana diadakan acara penyambutan untuk peserta di cafetaria, jadi kami ngupi-ngupi sambil makan croissant (lagi).

Yang mengejutkan, seorang bule mendatangiku dengan hangat, “hai abdul, apa kabar?”, wajahnya tak aku kenal, namun dugaanku benar, dia Daromir Rudynkzi, dulu mahasiswa s3 UC Berkeley yang ketemu beberapa kali di Banten. Akhirnya kami berempat bersama Gabriel dan Jean Marc berdiskusi banyak soal banten dan indonesia, dengan bahasa indonesia, ditengah semua orang berbahasa perancis. Rupanya Jean Marc menjadi moderator dalam sesi dimana aku, Daromir dan Gabriel menjadi pembicara-nya.

Simposium dimulai, dan sesuai dugaaan, semua acara dari basa-basi sampai penyampaian makalah disampaikan dalam bahasa perancis, untunglah Gabriel berbaik hati menerjemahkan beberapa point penting dari setiap pembicara, sehingga sedikit banyak semua penyampaian materi bisa aku mengerti.

Sesi-ku sendiri dimulai pukul setengah tiga sore. Aku dan Daromir menyampaikan makalah dalam bahasa Inggris. Gabriel malah yang tampak tegang, he he. Daromir nampak percaya diri, ia menyampaikan presentasi berjudul “Engineering Enterpreneurial Ethics: from Faith in Development to Developing Faith in Contemporary Indonesia”.  Ini merupakan sari dari bukunya yang berjudul sama dan mendapatkan penghargaan sebagai book of the year dari masyarakat antropologi amerika.

Diskusi berjalan lancar dan cukup menarik juga. Selesai sesi formal, beberapa peserta mendatangiku mengajak diskusi soal presentasiku setelah selesai tanya-jawab.

Alhamdulillah, berarti topik yang aku angkat cukup menarik dan presentasiku dapat dimengerti, he he.

malam ini ditutup dengan makan malam bersama di sebuah hotel. Hmm makanannya enak, namun penyajiannya lama. bertahap sesuai urutan: pembuka, makanan utama dan penutup. Habis itu aku dianter Jean Marc dan Gabriel ke perempatan dekat hotel. Nekad aja cari jalan ke hotel sendiri, alamak pake nyasar segala, sekitar satu jam nyari pintu gerbang hotel, dalam hujan pula, hiks.

 

 

 

Catatan Perjalanan Ke Eropa (4)

7 November

Setengah tujuh pagi kami sudah berkemas untuk menuju universitas yang ternyata ada di kota Aix. Aku akan menginap di hotel yang disiapkan panitia selama dua malam, sementara Gabriel dan jean Marc akan menginap di hotel lain yang lebih murah di kawasan pedesaan di kaki gunung.

Hari Nampak cerah dan taka da hujan dan banjir di perjalanan. Hari ini aku dan Gabriel punya tugas dari Jean Marc untuk masuk kelas-nya dan menjelaskan topic penelitian kami bersama para mahasiswa S2. Menantang juga.

Presentasi dan diskusi berjalan baik, lebih lancar dari dugaan kami. Para peserta Nampak memahami dan tak henti bertanya soal topic yng saya tampilkan. Jean marc menjelaskan bahwa penjelasan kami membantu persiapan mahasiswa-nya untuk melakukan field-work tahun depan ke berbagai Negara.

Alhamdulillah, Jean-marc nampaknya puas dengan presentasiku. Ia banyak mengajak diskusi soal politik lokal banten, apalagi gabriel juga melakukan penelitian di Banten untuk disertasi-nya. Sambil makan siang aku bertemu dengan beberapa pemakalah pada simposium besok. beragam tema rupanya yang akan muncul, mulai dari gereja pantekosta di Swedia, Islam di mali, CSR di Thailand sampai Klub Baseball di taiwan. semua diteropong dengan sudut pandang etika enterpreneurship.

Seharian kami menghabiskan waktu di ruang kerja Jean-Marc dan malamnya mereka mengantarku ke hotel La Manoir yang disediakan untuk pembicara dari luar negeri. Hotelnya terletak di pusat kota Aix de Provence, agak sulit mencarinya, walaupun akhirnya ketemu juga. Hotelnya klasik, tak ada AC (karena dingin banget) dan internet hanya ada di lobby, gratis untuk pemakaian satu jam saja.

Catatan Perjalanan Ke Eropa (3)

6 November

Pagi dini hari aku sudah bangun, tak bisa tidur lagi. Akhirnya bisa juga memejamkan mata setelah sholat subuh. Bangun jam sepuluh, semua sudah bangun kecuali Itsuko. Kami menyiapkan sarapan bersama dan menikmati sarapan menjelang siang.

Siang hari-nya Gabriel mengajakku trekking menuju kastil povente. Jean marc juga ikut, akhirnya kami bertiga berjalan mendaki bukit menuju kastil di tengah gerimis. Sambil jalan Jean-marc bercerita bahwa Brad Pitt juga memiliki rumah di kawasan Povente. Bradd datang dan tinggal di rumahnya selama Festival Cannes diselenggarakan setiap tahunnya.

Melelahkan juga mendaki bukit sampai kastil, Jean Marc dan Gabriel Nampak lebih bugar dibanding aku yang masih jet-lag. AKhirnya sampai juga, kami sempat mengambili almond dari pohonnya langsung di sekitar kastil.

Setelah berkeliling kastil dan beberapa rumah disana kami pulang ke rumah. Wah rupanya Itsuko masak besar, ada steak, sayur “rattotalie” dan kentang.  Rasanya? No comment deh, tapi demi kebaikan bersama, harus dihabiskan, he he.

Setelah makan saya membantu Gabriel menerjemahkan beberapa mantra dan kidung silat berbahasa sunda dan menyiapkan presentasi untuk konferensi.

Tak lama, aku tertidur. Ngantuk sekali setelah minum panadol, kepala sakit setelah hujan-hujanan. Sayup-sayup terdengar suara itsuko menawarkan teh, namun aku terlalu ngantuk.

Celakanya, aku bangun jam satu malam, sakit perut dan tak bisa tidur lagi. AKhirnya aku membereskan presentasiku sampai jam 4 dan tidur-tidur ayam sampai jam 5 dini hari.

Catatan Perjalanan Eropa (2)

4 November

Semua di rumah langsung sibuk karena aku tiba-tiba pasti berangkat besok. Ayu dan Ilham paling sibuk berpaduan suara “Abah gak boleh berangkat”.

Mbak Onah juga sibuk memenuhi pesanan Ibun, mulai dari legging sampai kluwek.

Aku malah banyak bengong dan gendong Ilham yang tiba-tiba sakit panas.

Jam 3 diantar Ayah kami berangkat ke Bandara. Semua persiapan sudah oke, hanya saja beberapa bumbu mentah seperti daun salam dan kluwek dikeluarkan dari bagasi. Aku gak mau mengambil resiko, secara namaku ada di daftar nama anggota Al Qaida.

Semua berjalan lancar, jam 7 kami sudah masuk pesawat menuju KL-Schiphol – Marseille. Sampai KL sekitar jam sepuluh malam, semua berjalan lancar. Hanya sempat kebingungan mencari gate untuk penerbangan selanjutnya.

5 November

Situasi pesawat amat menyiksa pantat. Penerbangannya 16.5 jam. Belum lagi perubahan waktu, mundur enam jam. Apalagi duduk di sit-A sekat jendela. Jadi agak susah ke toilet karena musti melewati orang-orang yang tidur. Untung makanan cukup bersahabat, jadi tak masalah, hanya menghindari daging-dagingan karena tak jelas daging siapa eh apa. Di pesawat inilah orientasi terhadap waktu juga berubah, tak jelas jam berapa karena perbedaan waktu Indonesia – Belanda 6 jam.

Tiba di Schiphol, aku kebingungan. Gak jelas musti kemana, dan gak jelas juga dimana Ibun yang akan menjemputku. Di belanda aku akan menghabiskan waktu selama sekitar 8 jam, dari pukul enam pagi sampai berangkat lagi ke Marseille pukul dua siang.

Clingak-clinguk muter-muter di dalam bandara, akhirnya ketemu hotspot gratis-an selama 30 menit dan berhasil mengaktifkan bbm. Akhirnya berkomunikasi via bbm dan menentukan meeting point di hall 2 kedatangan.

Setelah proses imigrasi akhirnya berhasil ketemu dengan ibun, setelah 3 bulan berpisah. Kami akhirnya menuju Tilburg, sekitar 1.5 jam menggunakan kereta dari Schiphol.

Hmm hijau sekali pemandangan di luar jendela kereta, dengan sapi, biri-biri dan kuda yang merumput. Cuaca cukup dingin, tapi tak dingin sekali.

Kondisi ini kontras dengan asumsi awalku bahwa kehidupan di Negara eropa yang modern identic dengan “symbol modernisasi” seperti gedung bertingkat dan macet. Mungkin ada, tapi pemandangan di perjalanan memang seperti di lukisan-lukisan ato cerita Cinderella.

Kami tak lama di Tilburg, sekedar mengantarkan laptop dan menikmati pasta masakan ibun yang enak. Siangnya kembali mengejar kereta ke Schiphol.

makan bersama, setelah 4 bulan tak bertemu

Tak dinyana, di Schiphol kami betemu dengan Mbak Anna, Dosen Unair yang dulu bersama belajar bahasa di Malang. Ia dan suaminya baru datang dari Maastricht menuju Amsterdam, mau merayakan Idul Adha.

Bertemu Mbak Ana di Schipol

Pemeriksaan di Schiphol berlangsung amat ketat, semua benda logam mesti dikeluarkan, termasuk sabuk musti dibuka. Untung sepatu tak mesti dilepas. Penerbangan berlangsung lancar dengan pesawat kecil walaupun di sekitar Marseille mengalami turbulensi hebat.

Sampai bandara Marseille, menunggu Gabriel sekitar setengah jam dan kami menuju rumah Professor Jean Marc, dosen pembimbing Gabriel, ahli Kanuragan secara akademik maupun praktis. Ia juga pendiri dan Guru Merpati Putih di Perancis. Cocok-lah sama Gabriel yang juga guru silat dengan lisensi dari H. Chasan.

Perjalanan darat menuju Ponteve dilalui di tengah badai dan kadangkala banjir kecil. Ponteve merupakan desa di pegunungan, sekitar 70 kilometer dari Marseille.

Jean Marc dan istrinya Itsuko menyambut kami dengan hangat. Gabriel sempat membantu memasak, makanannya ayam dan nasi, ditambah salad+bawang, dengan cemilan buah olive. Enak? Hmm no comment deh, tapi demi menghormati tuan rumah, musti dihabiskan.

Setelah mengobrol ngalor-ngidul, aku akhirnya tidur di kamar anaknya Jean Marc.

Catatan Perjalanan Eropa (1)

Pra Keberangkatan

2 November

Hari-hari di Anyer amat menggelisahkan. Tak ada kepastian kapan visa akan keluar. Gabriel memang kirim email bahwa kamis visa kemungkinan turun, tapi tak ada jaminan.

kegelisahan musti dijawab. Aku menelepon TLS Contact menanyakan kabar Visa. Jawabannya, belum keluar. Besoknya diminta menelepon lagi besok setengah sepuluh dan kalau masih belum langsung menghubungi kedutaan perancis. Hmmm

Malamnya, selesai penutupan acara (dan tak ada pengumuman menang ato kalah), aku memutuskan pulang ke Jakarta. Sampai serang lewat tengah malam, jadi memutuskan tinggal dulu di rumah jelek di serang.

3 November

Sudah mencatat beberapa nomor telepon, karena jam 9-11 aku berada di bis menuju Jakarta. Duh, tegang sekali.

Jam 10, masuk email memmberitahukan paspor sudah bisa diambil. Bisa diambil? Taka ada keterangan apakah visa didapatkan atau ditolak. Aku coba mengakses account TLS-ku di BB, tak bisa. Akhirnya turun bis di Pancoran langsung sarapan di circle K Pancoran, mencari wifi gratis. Tetap saja, infonya, bisa mengambil paspor, cuma mesti bawa slip penyerahan dokumen. Nah lo, slipnya dimana pula?

Akhirnya merubah rencana, tadinya mau ke TLS contact, jadinya pulang dulu cari slip dan ketemu Ilham dan Ayu.

Slipnya gak ada pula, walaupun dicari bolak-balik. Akhirnya menelepon petugas TLS dan boleh mengambil paspor asal bikin surat pernyataan diatas materai bahwa slip-nya hilang.

Sore-nya aku ke kantor TLS contact di Gedung UOB Buana lt. 17. Nah sampai di gedung, aku diarahkan satpam melalui lift untuk pekerja. Kenapa pula ini, padahal sudah mepet sebelum kantor TLS tutup. Di lift pekerja, seorang satpam bilang, “pake sandal ya pak?”. Atsaga, kurang ajar bener nih aturan gedung.

Urusan di TLS selesai, aku turun melalui lift biasa, dan begitu bertemu satpam yang mengarahkan ke lift pekerja, langsung aku Tanya “ saya diminta lewat belakang, karena pake sandal?”. Ia menjawab “iya pak, aturan di gedung ini”

AKu langsung marah dan minta aturan tertulis, eh si satpam malah bilang ini keputusan Direktur, tapi direktur sibuk, blab la blab la. Duh kalo gak inget besok mau ke negeri orang udah gw tonjok. Secara ini melukai perasaan terdalam penggemar sandal seperti aku.

Hari ini berakhir gembira karena visa sudah di tangan sekaligus gara2 diskriminasi pengelola gedung uob buana terhadap pemakai sandal.

Kesibukan Menjelang Ke Perancis

Hari ini rabu sore, kurang dua hari aku musti terbang ke Marseille. Nah, persoalannya adalah visa sampai sekarang belum turun. Senin lalu Kedubes Perancis menelepon dan menyatakan ada kekurangan dokumen domisili. Aku langsung kontak Gabriel dan rupanya ia langsung menelepon Kedutaan Perancis. malamnya ia mengirim e mail, persoalan selesai, visa akan turun hari kamis. duh, tapi kamis adalah kurang sehari sebelum terbang hari jumat. semoga tak ada masalah lagi…..

Minggu ini juga ada surat dari Doshisha University, aku diterima untuk kuliah program Doktor di Contemporary Asian Studies, Graduate School of Global Studies. Alhamdulillah, satu langkah selesai. Selanjutnya mengejar beasiswa Dikti. Jika dapat, mulai September 2012 blog ini akan ditulis dari Kyoto.

Satu lagi guys and gals, sejak kemarin sampai besok saya dikarantina di Anyer. Ada workshop penulisan buku ajar by Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Acara sebenarnya presentasi naskah buku dan proposal riset. Sudah dilakukan, tinggal tunggu hasil saja. Semoga ada yang lolos, buat sangu ke Perancis.