Manfaat “Negative Campaign” dan “Black Campaign”

Seorang wartawan menghubungiku;

“Black Campaign sudah marak. Mnrt bpk, apakah perilaku itu dpt membuat pemilih pesimistis dn mengurangi partisipasi rakyat?”

saya jawab

” Black campaign dan negative campaign positif (baca: bermanfaat) untuk mendorong rakyat mencari info sebanyak-banyaknya tentang kandidat sebelum memilih”

Ia bertanya lagi

“Tp kadangkala black campaign malah membuat panas di tgkt bawah terutm para pendukung cln, bgm mnrt bapak”

(hmm maksa banget nih)

Saya jawab lagi

” Panas gpp lah, masak pemilukada adem ayem. Black Campaign dan negative campaign menyeimbangkan positive campaign yang cenderung menyajikan kelebihan kandidat secara berlebihan dan tak proporsional”

………………

Pembaca, mestinya memang didefiniskan dulu bedanya black campaign itu binatang macam apa. khawatir disama-ratakan, maka saya pake kedua istilah itu, black campaign dan negative campaign. Sepembacaan saya, sepanjang ada sumber yang bisa dikonfirmasi (dalam kasus banten ada laporan ICW soal dana hibah yang tentu ada argimentasinya) maka itu bukan black campaign, tapi negative campaign.

Tapi jika ada sms dari nomor yang misterius (ditelp yang jawab veronica atau salah sambung) soal kejelekan kandidat tertentu, atau pola lain yang sumber info-nya gak jelas, maka itu baru black campaign.

Jadi please, musti tertib make konsep.

Dalam konteks politik di Indonesia dimana kampanye (positif) dilakukan dengan mengeksplorasi kelebihan calon dengan tak proporsional, narsis, berlebihan dan tak menggunakan argumentasi memadai, maka negative campaign, bahkan black campaign berguna. dengan argumentasi yang saya sampaikan ke om wartawan diatas tentunya.

Iklan

(lagi-lagi) Mengurus Visa

Masih soal visa, soalnya ini memang menghabiskan energi euy…

Hari ini tuntas sudah pengurusan visa schengen dengan main destination ke Perancis. Persoalan awalnya adalah kebingungan tipe visa-nya, awalnya bisnis, tapi kemudian sama mas di TLS Contact (pihak ke-3) yang ngurus Visa Perancis diganti jadi personal. Persoalan lain adalah soal dokumen akomodasi yang kurang kuat, karena hanya melampirkan undangan dari host di sana dan keterangan domisilinya, walaupun dari balaikota. harusnya pake semacam surat izin dari walikota bagi host untuk menerima tamu asing. Nah, surat undangan dari penyelenggara seminar juga tak menyebutkan pembiayaan akomodasi. tapi sudahlah, sudah bolak-balik bikin surat via email dengan Gabriel, semoga kali ini tembus (duh kayak pembalut aja)

Sebelumnya penyebutan namaku di undangan pake Professor Abdul Hamid, University of Jakarta. Nah universitasnya udah dibenerin tapi malah dipanggil Dr. Abdul Hamid, dan tetep ada Dear Professor-nya. Yah anggap saja doa biar tahun depan sekolah doktornya dimulai.

tugas selanjutnya memperbaiki paper, apapun yang terjadi tulisan musti tetap beres dan musti terbit tahun depan di Jurnal Moussons.

Pilkada Banten

Maaf buat beberapa pihak yang menanti statemen atau analisis saya soal pilkada Banten. Saya tak tertarik mengamati pertarungan politik dalam pilkada kali ini.

Sederhana saja, pilkada kali ini telah dimenangkan oleh incumbent dengan membuat design besar memecah suara chalenger jauh sebelum pilkada dimulai. Tentu saja persoalannya tak seperti melihat wayang dimainkan dalang. tapi jauuuuh sebelum pilkada dimulai ketika hubungan patron-client diantara beberapa pimpinan parpol yang sekarang “seakan-akan” jadi challenger dengan orang terkuat di banten saat ini. Mencegah agar partai diluar partai pengusung incumbent berkoalisi. dan design besar itu berhasil.

Lihat saja pertarungan di akar rumput, bahkan di facebook, dua pendukung chalenger saling ribut dan saling tuding. sementara incumbent bisa ketawa-ketiwi.

sesudah pilkada? karakter kartel akan muncul lagi, merapat ke pemenang dan kembali mencari rente.

wallahua’lam bissawab.