26 mei

Hari ini harusnya masih di serang. Disana, Lab administrasi negara Untirta sedang mengadakan simposium nasional otonomi daerah, untuk hari ketiga. Namun kegiatan akademik sudah selesai, tinggal city tour ke kawasan banten lama. Aku izin ke kawan-kawan untuk tidak ikut. Sore ini aku akan terbangke Bangkok untuk mengadakan penelitian soal politik lokal di Bangkok. Timnya terdiri dari Okamoto (assoc. Prof. Kyoto University), Jun Honna ( prof. Ritsumeikan University) Ken Miichi ( assoc. Professor perfectur iwate university), Wataru Kusaka (Researcher CSEAS Kyoto University), Nobuhiro aizawa ( Research Fellow  di Chulalongkorn university), Abdul Hamid ( Universitas Tirtayasa) dan Achmad Suaedy (Wahid Institute).

Penelitian kali ini adalah bagian dari penelitian “Local Politics in Capital City in Southeast Asia”. Manila dan Jakarta sudah, kali ini giliran Bangkok. Penerbangan berjalan lancar dan tepat waktu. Antrian di imigrasi juga lancar, aku datang sengaja agak jauh sebelum waktu boarding. Seorang pemuda menyalip dan memohon duluan untuk mengantri. Melihat wajahnya pucat karena sudah dipanggil berkali-kali, aku bolehkan menyalip antrian di depanku. Hmm, aku juga pernah hampir ketinggalan pesawat dari KL tahun lalu dan waktu kitu juga memohon untuk menyalip antrian. Hmm, lega rasanya, seperti membayar hutang sampai lunas.

Di pesawat aku berkenalan dengan seorang ibu asal thailand yang bekerja di jakarta. Ia hendak pulang bertemu suaminya. Ibu Cit, nama beliau– bercerita tentang anak perempuannya yang seumur denganku tapi tak mau menikah, maunya kuliah saja. Aku bilang, mungkin bukan gak mau, tapi “not yet”, ia tersenyum. Anaknya itu sedang studi doktor di amerika. Ia bersemangat sekali bercerita sampai menunjukkan foto anak gadisnya itu. He he, trus aku cerita deh kalau sudah menikah dan punya dua buntut. Wajahnya terlihat kecewa gimana gitu, ha ha.  Turun pesawat si Ibu mengajakku bareng ambil bagasi. “aku harus mengenalkan kau pada my suami” katanya. Aku nurut saja. Alhasil suami istri tersebut mengantarku sampai ke hotel 38 Citadines Shukumvit 16, gratis. Lumayan, kalo naik taksi habis sekitar 400 baht. Di perjalanan ke hotel sempat nyasar-nyasar. Si Bapak gak bisa bahasa Inggris, jadilah aku ngobrol sama Bu Cit dan suaminya kadang nimpali pake bahasa Thai. Maunya mereka mengajak makan malam, namun aku tolak dengan halus. Hmm, baru bayar hutang, sudah punya hutang baru.

Hotelnya nyaman dan cukup lengkap, termasuk peralatan masak dan free akses internet.  Malamnya ku mengubungi kawan2 tim yang lain via email. Okamoto membalas ” Jam 9 di lobby, ada kuliah di Chula”.

Siap boss….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s