MEMBANGUN WORLD CLASS RESEARCH, LOKALISASI MENUJU GLOBALISASI[1]

“What is your research topic?”

Pertanyaan ini seringkali diajukan ketika penulis berinteraksi dengan kolega dari berbagai Universitas di luar negeri. Ada semacam keseragaman pertanyaan yang menyergap ketika kita memperkenalkan diri sebagai seorang dosen atau peneliti. Mereka menanyakan apa yang sedang kita teliti (current research) atau setidaknya minat kita secara spesifik. Malu rasanya ketika tak bisa menunjukkan bahwa jika ternyata sedang tak melakukan riset apapun.

Kepakaran

Minat kepada satu topik tertentu yang spesifik menegaskan kedalaman seorang dosen/peneliti dalam satu aspek ilmu tertentu. Seringkali hal ini bertentangan dengan kenyataan di lapangan bahwa sebagai dosen dan peneliti kita seringkali memiliki prinsip palu gada. “Apa yang elu mau gue ada”. Seringkali seorag dosen/peneliti (merasa) menjadi pakar di semua bidang ilmu.

Hal ini tentu saja tidak mesti salah, sepanjang kita mampu mendalami setiap bidang yang kita anggap kita pakar didalamnya. Mampukah itu? Disana letak persoalannya.

Yang jelas, alangkah lebih baiknya jika seorang peneliti memang memiliki satu atau dua keahlian spesifik yang tak hanya didapatkan dari kuliah atau membaca, tapi dari serangkaian penelitian empiris yang intensif. Pengakuan terhadap kepakaran biasanya ditunjukkan oleh seberapa banyak tulisan atau hasil penelitian dari seorang peneliti dikutip oleh kolega baik didalam negeri maupun di dunia internasional. Semakin sering, maka semakin otoritatif seorang peneliti dalam sebuah ilmu atau topik tertentu.

Namun tentu saja menjadi pakar terkenal bukanlah tujuan, tapi dampak dari keseriusan mendalami satu bidang tertentu. Dalam pembekalan yang dilakukan bagi peserta field school mahasiswa Graduate School ASAFAS Kyoto University di Ujung Kulon, Associate Professor Okamoto Masaaki menyampaikan sebuah petuah bijak

“Jangan mengejar keterkenalan, tapi yang penting bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala kita. Jika sudah kehilangan curiousity, tidak bisa hidup lagi di dunia akademis. ”

Hambatan

Tentu saja ada beberapa hambatan yang membuat peneliti dan penelitian tak berkembang. Hal yang utama adalah soal minimnya dana penelitian dan minimnya kesejahteraan peneliti. Hal ini memang persoalan nasional. Perbandingan sederhana pernah penulis lakukan dengan kawan karib yang menjadi pengajar di Universitas Kebangsaan Malaysia. Pendapatan sebagai dosen perguruan tinggi disana lima sampai tujuh kali lipat dosen di Indonesia. Dana yang dikelola sebagai dana penelitian oleh seorang dosen bisa mencapai satu miliar pertahun tanpa potongan. Maka melakukan penelitian termasuk mendiseminasikan hasilnya ke belahan dunia manapun bukan sebuah persoalan. Kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan anak sudah ditanggung sampai anak ke-lima.oleh negara dengan kualitas terbaik.

Persoalan inilah yang kemudian seringkali membuat penelitian mengalami kekurangan kedalaman dan diposisikan sebagai proyek mencari pendapatan untuk menambal lubang-lubang di dapur. Kualitas seringkali terabaikan dan penelitian menjadi rutinitas yang tak berkontribusi banyak bagi persoalan masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Apalagi jika kemudian rutinitas mengajar juga jauh lebih dominan porsinya dan menyita waktu dan dilakukan di banyak tempat demi mengejar setoran.

Lebih parah lagi jika kemudian penelitian kehilangan peran utamanya dalam menemukan kebenaran karena tekanan dan bayaran kekuasaan. Dalam konteks ini, penelitian yang merupakan proyek dari instansi tertentu sudah ditentukan hasilnya dan penelitian hanya dilakukan untuk melegitimasi kebijakan instansi tersebut.

Hal lain yang mengganggu adalah penelitian juga acapkali dianggap sekedar kewajiban dosen dalam mencari kredit untuk kebutuhan kenaikan jabatan fungsional belaka. Hal ini tak sepenuhnya bisa disalahkan karena merupakan sistem pengembangan karir bagi dosen di Indonesia. Namun ketika terlalu terfokus ke masalah mencari angka kredit, esensi pengembangan ilmu pengetahuan bisa tak tercapai bahkan dirusak dengan praktek-praktek “menghalalkan segala cara” seperti memalsu hasil penelitian atau plagiarisme. Birokratisasi dalam dunia penelitian juga acapkali tak bersifat memfasilitasi, tapi lebih sering menghambat proses penelitian.

Hambatan lain adalah sindrom selebritis yang kerapkali menjangkiti sebagian peneliti. Menjamurnya media dan beragamnya jenis media seperti koran, majalah, tabloid, televisi, radio dan juga internet membuka ruang bagi para  dosen dan peneliti menjadi komentator berbagai peristiwa. Ketika peluang ini dimanfaatkan untuk melakukan pendidikan bagi masyarakat, sosialisasi ilmu pengetahuan atau menjernihkan berbagai keruwetan di masyarakat, maka manfaatnya amat besar sekali. Namun ketika hal ini menjadi sarana membangun eksistensi belaka dan dosen/peneliti menjadi komentator untuk segala peristiwa apapun yang terjadi mulai dari politik, sepakbola sampai fenomena alam ghoib, maka ia menjadi banci tampil yang sibuk tampil di berbagai media dan tak lagi sempat melakukan aktivitas riset.

Lokalisasi dan Globalisasi

Dengan segala hambatan diatas, apakah masih ada kesempatan bagi peneliti/dosen di Untirta untuk membangun world class research sebagai bagian dari upaya membangun world class university? Apakah Untirta harus bertarung apple to apple, katakanlah dengan Big Four University di Indonesia: UI, ITB, UGM, IPB?

Sebagai Universitas Nasional yang ada di daerah, maka lokalitas seharusnya menjadi kekuatan peneliti/dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Untirta seharusnya menjadi pusat data dan kajian ilmu pengetahuan soal Banten, mulai dari sejarah, politik – pemerintahan, ekonomi, biologi, teknik industri, kelautan dan semua bidang ilmu lain.

Mengeceknya sederhana saja. Siapa ahli badak jawa yang ada di ujung kulon dari Untirta? Siapakah ahli pencak silat tradisional dari Untirta? Siapakah ahli Gunung Krakatau dari Untirta? Siapakah ahli Gunung Karang dan Gunung Pulosari? Siapa ahli selat sunda?

Inilah pertanyaan-pertanyaan dasar tentang keahlian terhadap lokalitas yang ada di Banten. Atau apakah segenap peneliti dalam dan luar negeri yang hendak meneliti Banten datang ke Perpustakaan Untirta untuk melakukan studi literatur dan menemukan hasil-hasil penelitian dosen/peneliti Untirta tentang Banten? Ya, mereka datang dan sebagian besar mereka kecewa karena tak banyak yang bisa didapatkan.

Hal ini tentu saja tak melulu menjadi persoalan Untirta dan Banten, tapi merupakan persoalan peneliti(an) di Indonesia. Hans Dieters Evers, seorang sosiolog terkemuka dari Jerman mengatakan:

“ …. sudah merupakan anggapan umum bahwa pada saat ini sumbangan para sarjana Indonesia kepada khazanah karya akademis Internasional tentang negerinya sendiri amat kurang dibandingkan sumbangan sarjana negara tetangga seperi Malaysia, Muangthai, Singapura, dan Filipina” (Hadiz dan Dhakidae, 2006: 1)

Hal ini kemudian menjadi tantangan ditengah maraknya masuk peneliti luar banten, dalam dan luar negeri, melakukan penelitian tentang Banten. Amat aneh rasanya jika kemudian ahli-ahli Banten yang menjadi rujukan otoritatif adalah orang di luar Banten. Ini yang penulis rasakan ketika tahun 2008 menjadi pembicara dalam sebuah internasional di Kyoto. Terdapat empat pemakalah yang menyajikan makalah tentang Banten, dan hanya penulis yang berasal dari Indonesia. Lainnya dari Taiwan dan Jepang dan sumber utama penelitian mereka adalah arsip-arsip tentang Banten yang berlimpah di Leiden, Belanda.

Jika dikaitkan dengan judul diskusi publik kali ini, maka sesungguhnya membangun duna penelitian berkualitas internasional bisa dimulai dengan menjadi ahli persoalan-persoalan lokal yang ada di Banten. Istilah kerennya, dengan lokalisasi menembus globalisasi.

Menembus dunia global tentu saja dengan membangun jejaring keilmuan dengan kolega dari berbagai universitas di seluruh dunia. Internet hadir sebagai hub bagi jejaring keilmuan tersebut. Setiap tulisan yang kita posting di internet sesungguhnya tersebar luas dan dapat diakses oleh siapapun di belahan dunia manapun. Kolaborasi dan kerjasama amat dimungkinkan dengan cara sederhana seperti itu.

Namun menembus dunia global tak hanya merupakan tantangan akademik, tapi juga etik. Originalitas dan penghargaan terhadap karya orang lain merupakan syarat yang tak bisa ditawar. Plagiarisme merupakan hal yang amat haram dan bisa membuat pelakunya terbenam ke dasar lumpur dan tak dihargai sama sekali.

Penutup

Gagasan utama dari tulisan singkat ini adalah menawarkan para dosen dan peneliti untuk menjadi ahli di aras lokal. Kedalaman pemahaman yang ditunjang oleh riset intensif sesungguhnya membuka peluang untuk bicara di tingkat global. Minat dunia akademis internasional terhadap hal-hal yang bersifat lokal sesungguhnya hal yang sudah berlangsung lama dan terus berlangsung. Banten adalah locus yang memiliki dinamika amat menarik dalam berbagai aspek untuk dikaji: politik lokal, ekonomi, korupsi, infrastruktur, pariwisata, kemiskinan, kekurangan gizi, pendidikan, pertanian, transportasi – perhubungan, mistik, bela diri, biota laut, ekosistem pantai, dan sebagainya menunggu dikaji oleh para dosen/peneliti dari Banten wabil khusus Untirta.

Sebagai tambahan yang tak kalah penting adalah pelembagaan dari proses membangun kepakaran para peneliti/dosen tersebut. Untirta sebagai lembaga mesti memfasilitasi dengan menyediakan infrastruktur, suasana kondusif dan memfasilitasi jejaring individual peneliti menjadi jalinan kerjasama yang bersifat kelembagaan, baik dengan Universitas lain maupun dengan lembaga pemerintah. Semuanya harus diletakkan pada upaya meningkatkan kualitas universitas dan bukan sekedar keuntungan orang-per-orang. Wallahua’lam bissawab.


[1] Pengantar Diskusi Publik Membangun World Class Research, Lab Administrasi Negara FISIP Untirta, 8 Maret 2011

[2] Abdul Hamid. Kepala Lab Aministrasi Negara FISIP Untirta, meminati masalah-masalah politik lokal, Penelitan yang dipublikasikan antara lain The Kiai in Banten: Shifting Roles in Changing Times in Masaaki, (eds.), Islam in Contention: Rethinking Islam and State in Indonesia (Kyoto: Center for Southeast Asian Studies; Jakarta: Wahid Institute; Taipei: Center for Asia-Pacific Area Studies, 2010) dan Okamoto Masaaki and  Abdul Hamid, Jawara in Power 1999 – 2007, Indonesia,  Cornell University pp.109-138) October 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s