Pariwisata Banten Mau Kemana

Apa yang anda ketahui tentang Banten? Saya yakin dua hal ini akan muncul dalam 5 jawaban teratas. Pertama, jalan rusak. Ini adalah jawaban dari orang yang pernah ke Banten, setidaknya melalui jalan tol Jakarta – Merak dan menikmati berjibaku diantara lubang-lubang menganga disana. Kedua, Banten sebagai daerah jawara. Baik orang yang pernah atau belum pernah datang ke Banten, image sebagai kampungnya para jawara tentu saja tertancap kuat. Tulisan singkat ini mencoba mengelaborasi kedua hal tersebut dalam konteks pariwisata di Banten.

Penyangga Jakarta

Sebagai Provinsi penyangga ibukota, Banten haruslah mendapatkan berkah dari posisinya itu. Istilah anak sekolah dalam ujian, posisi (harusnya) menentukan prestasi. Namun sayangnya, posisi yang strategis dan keistimewaan sebagai penghubung antara dua pulau utama di Indonesia, Jawa dan Sumatera, nampaknya berhenti jadi kekuatan potensial yang tak kunjung jadi aktual.

Sebagai contoh, Banten seharusnya menjadi pusat wisata bagi warga Jakarta. Jarak Jakarta – Serang hanya kurang lebih seratus kilometer, bisa ditempuh kurang dari dua jam seharusnya mampu memikat warga jakarta untuk berlibur di Banten, baik ke Anyer, Carita , Tanjung Lesung atau mungkin berwisata sejarah ke Banten lama. Apalagi pesaing utama Banten, yaitu kawasan Puncak di Bogor tak lagi nyaman karena dikepung macet total setiap akhir pekan.

Namun ketidakseriusan membangun akses nampaknya menjadi persoalan serius. Alih-alih bisa melancong dengan nyaman, pengunjung sudah harus bertemu jalan tol Jakarta – Merak yang sudah bertahun-tahun selalu rusak. Lubang di jalanan tak kunjung hilang, hanya pindah dari satu titik ke titik yang lain. Di kalangan pengguna jalan tol tersebar mitos bahwa kerusakan jalan tol Tangerang – Merak hanya bisa selesai jika harta karun yang tertanam di sepanjang jalur tol tersebut telah diketemukan.

Keluar jalan tol juga idem ditto. Kerusakan infratruktur, terutama jalan raya mendominasi ruas jalan di semua akses menuju kawasan wisata. Sebagai contoh hancurnya jalan antara Anyer dengan Carita disinyalir mengakibatkan kerugian di kalangan pelaku wisata sekitar 2 miliar perbulan. Selain itu, target hunian hotel di kawasan Anyer dan Carita terus menurun (http://Banten-id.com/artikel/150-jalan-rusak-pariwisata-Banten-rugi.html)

Coba perhatikan posting-an Ali Nurdin, Dekan FISIP UNMA di akun facebooknya (http://www.antaranews.com/berita/241537/gerakan-menggugat-jalan-rusak-di-banten)

 

Morning friends… berapa titik jalan rusak yang anda lalui hari ini? satu, dua, tiga, atau banyak? kalau tidak ada, anda beruntung… karena kami, di Banten, setiap hari harus berjibaku melewati jalan-jalan raya yang kondisinya rusak parah…”
“Padahal kami bukan provinsi yang miskin-miskin amat: setidaknya kami lebih kaya dibandingkan Bali, Sumatera Barat, atau Yogyakarta… tidak pantaskah rakyat kami mendapatkan layanan jalan raya yang mulus dari pemerintahnya????

 

Celakanya, alih-alih mendorong perbaikan jalan secara keseluruhan, pemerintah daerah malah nekat membangun proyek yang tidak masuk akal seperti jalan tol dan bandara di Banten selatan. Ini cara berpikir keliru para pengambil kebijakan yang lebih termotivasi mencari rente dari proyek, terutama pembebasan tanah dan infrastruktur.

Lebih masuk akal dan lebih bermanfaat bagi rakyat banyak rasanya jika pemerintah fokus memperbaiki jalur jalan umum. Rakyat bisa menjadi penikmat insentif dari baiknya transportasi yang bisa meningkatkan daya jual produksi seperti pertanian atau peternakan. Sudah saatnya perbaikan jalan masuk ke berbagai wilayah pelosok dan kawasan wisata di Banten, tak hanya diperbaiki di sekitar kawasan pusat pemerintahan dan bisnis milik kalangan tertentu saja.

Lebih masuk akal lagi merevitalisasi jalur kereta api sebagai sarana transportasi massal sampai jauh ke Labuan, bahkan dibuat melingkar sampai ke Merak. Program ini jelas berkontribusi langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks wisata, revitalisasi ini bisa diberi nilai tambah dalam bentuk kereta wisata yang terhubung ke kawasan wisata di Banten.

Harus diakui bahwa dalam penataan event dan pemberian informasi, ada kemajuan. Katakanlah kampanye ayo tamasya ke Banten atau website http://www.Bantenculturetourism.com mampu memberi informasi memadai bagi calon wisatawan datang ke Banten. Namun kampanye ini bisa membuat wisatawan justru kapok datang lagi karena buruknya akses jalan ke kawasan wisata.

Karena itu perbaikan akses ke kawasan wisata menjadi prasyarat mutlak untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Banten yang pada gilirannya berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Jika hal ini diabaikan oleh pemerintah, maka merekalah sesungguhnya yang paling bertanggungjawab pada kehancuran industri pariwisata di Banten.

Pencak Silat

Hal lain yang bisa jadi potensi besar adalah pencak silat yang dimiliki oleh para Jawara di Banten. Suka atau tidak, pencak silat berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banten, terutama di pedesaan. Banten-pun kadung lekat dengan sebutan daerah Jawara yang berkostum hitam-hitam membawa golok.

Sejujurnya, predikat ini sekarang lebih cenderung berkonotasi negatif. Jawara dalam arti orang yang memiliki kemampuan pencak silat mengalami peyorasi makna. Jika dahulu Jawara berada dalam tempat terhormat sebagai pejuang dalam berbagai peristiwa bersejarah di Banten, sekarang jawara seringkali diberi makna sebagai preman, baik preman kecil di pasar maupun preman proyek berdasi.

Tentu saja image ini merugikan Banten. Investor bisa takut untuk datang hanya karena citra semacam ini. Padahal pencak silat maupun jawara adalah asset Banten yang tak ternilai. Asset ini bisa memberi daya dongkrak yang luar biasa untuk pariwisata di Banten.

Saya membayangkan bahwa di Banten bisa dibangun pusat pencak silat tingkat dunia yang menjadi pusat pengembangan pencak silat baik dari aspek budaya maupun olahraga. Orang dari segala penjuru dunia akan datang ke Banten untuk belajar pencak silat atau menonton pertunjukan pencak silat yang digelar secara reguler dengan koreografi memikat. Secara ekonomi, hal ini tentu saja memberi manfaat finansial bagi pelaku kesenian dan olahraga pencak silat maupun masyarakat sekitar padepokan. Secara teoretis, inilah praktek dari apa yang disebut Community Based Tourism yang sesuai dengan konteks dan potensi di Banten.

Pemerintah Daerah Dengfeng di Henan, China sudah memulai itu dengan menjadikan Bela Diri Shaolin sebagai sarana menjaring wisawatan dari seluruh dunia datang untuk belajar dan menyaksikan pertunjukan Shaolin. Hal serupa juga dilakukan di Thailand, dimana Thaiboxing tak hanya menjadi kegiatan olahraga, tapi juga pertunjukan baik di pusat kota-kota besar maupun sasana di pelosok.

Jika hal ini terwujud di Banten, maka image jawara yang seram dan lekat dengan kekerasan akan menjadi lebih positif dan elegan tanpa kehilangan wajah maskulinnya.

Sebagai contoh, kegiatan keceran di berbagai padepokan silat di berbagai penjuru Banten yang diadakan di Bulan Mulid (Rabiul Awal) misalnya, bisa jadi magnet yang memikat wisatawan. Dalam kegiatan ini, wisatawan bisa menyaksikan pagelaran pencak silat tradisional semalam suntuk dan bertemu dengan jawara-jawara Banten sesungguhnya.

Penutup

Pertanyaan selanjutnya memang selalu, so what? Tentu saja jawabannya adalah berhenti terlalu banyak bicara dan mulai bekerja. Pemerintah membangun infrastruktur (baca: jalan) ke kawasan wisata dan pelaku wisata (swasta dan masyarakat) mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Jika ini bisa dilakukan, wisatawan tak hanya datang (dan kapok), tapi datang dan datang dan datang lagi ke Banten. Wallahua’lam bissawab.

oleh Abah Hamid

dimuat di Majalah dbuz, edisi 3 Maret 2011

 

Iklan

One comment

  1. ASSALAMU’ALAIKUM..ABAH..

    SIM ABDI NINGALI FOTO ABAH ANU DI LUHUR NGAJANTENKEUN ABDI UNINGA DEUI KA WAKTOS ABDI MURANGKALIH YUSWA 6 TAUN ABDI KUNGSI GADUH KAWANTEN DIPEURUEHAN PANON ABDI KU GURU SILAT ABDI.
    UPAMI ABDI GADUH WAKTOS HOYONG DIPEUREUHAN DEUI KU ABAH, SUPADOS ANU AYA DI PRIBADOS JANTEN KAUNINGA DEUI.

    NUHUN ABAH, WASSALAM..

    TI SIM ABDI

    ENDIEN B MAKARIM
    (LEUWISEMA, GAJRUG-CIPANAS
    LEBAK, BANTEN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s