Kyoto, 9 – 22 Desember 2010

Awalnya adalah pembicaraan singkat di lorong redaksi Kompas untuk menulis politik lokal di Jakarta, bulan September.

Muncul surat undangan yang dikirim Seto, mencari tiket murah (dapet lima juta pp jakarta – kansai bo !!!)  dan ngurus visa, alhamdulillah lancar. Proses menulis yang cukup panjang dan melelahkan, karena kali ini topiknya lebih ke Local Politics in Capital City, jadi pastinya urban gitu, padahal biasanya nulis rural politics.

Jadilah berangkat ke CSEAS Universitas Kyoto menjadi pembicara dalam International Symposium Local Politics and Social Cleavage in Transforming Asia, 9 – 22 Desember 2010. Penerbangan dengan Garuda berjalan amat baik, tepat waktu (belakangan teman2 yang pake MAS mengalami penderitaan tak terperi, masak Prof. Syarif harus menunggu 10 jam di KL dan Wahyu harus lewat jalur Shanghai karena ditinggal pesawat).

Ini kali kedua bersimposium disini, dua tahun lalu juga menjadi pembicara soal Islam di Indonesia. Klik serial catatan perjalanannya di: edisi 1, edisi 2, edisi III, dan edisi iv. Soal jalan-jalan di Kyoto baca catatan perjalanan tadi saja, ada perjalanan ke kampung yakuza di Kamagasaki, kawasan remang-remang di Kyoto, mancing di obama, museum manga, pokoknya kemana-mana deh. kali ini mau bercerita dengan foto saja.

Pembicara simposium 2010 datang dari Indonesia, Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong dan Thailand. Mereka ahli-ahli asia tenggara. Kali ini kita tak bicara hasil penelitian, tapi membahas rencana penelitian masing-masing tiga tahun ke depan. Aku sendiri presentasi soal “Dibo Piss: The Politics of Free Hearses in Jakarta”.

Musim gugur sudah mau lewat, musim dingin belum mencapai puncaknya, suhu rata-rata sekitar 4-6 derajat celcius. Mengatasinya ya dengan jaket tiga lapis, plus tutup telinga dan sarung tangan. Training mengatasi dingin di Malang ternyata belum cukup.

Di Kyoto menginap di weekly mansion, satu gedung dengan Dr. Wahyu (satu ruang kerja juga). Ternyata isinya lengkap (mesin cuci, microwave, heater, tv, kulkas, rice cooker, dl). Tau gitu bawa bahan makanan sebanyak-banyaknya dari Indonesia, terutama mie instant (hemat mode: on). Maklum kebanyakan mie instan disana mengandung b2. belum lagi kopi instant disana rasanya agak aneh gitu, ndeso ya?.

Selain simposium, nulis dan baca, tentu saja kegiatannya jalan-jalan. Kemana aja ya? kali ini ke kuil bersama Wahyu dan Prof. Syarif, belanja ke Sanjo, beberapa kali makan malam bersama (martabak jepang, mie terpedas sedunia, pizza, sate ayam, sushi, dll), ditraktir motoko dan jafar (thanks), beli ipad di Kyoto Stasiun (akhirnya wahyu dan Jafar mau nganter, ha ha)  dan dijamu di rumah Okamoto Sensei dan Yumi.

Oh ya, selain ke Kyoto, aku juga menyempaykan jalan ke Hiroshima, menenunaikan janji ke ibuku untuk menengok kakakku. wah ternyata lebih dingin, nol derajat bos.

Hmm, belum bisa nulis banyak nih, lihat gambar-gambarnya aja ya, nanti ceritanya diupdate

Presentasi soal politik lokal jakarta

Saat menjadi pembicara, satu panel dengan Wataru dan Ken jadi moderator

Jafar dan Wahyu mengajakku ke Kamogama Jinja, luar biasa suhunya hangat, masih ada momiji, seperti lukisan.

Para Pembicara simposium usai kegiatan selama dua hari selesai.

Oh ya, sebagai peneliti tamu dapat fasilitas ruang kerja, ini dia. btw ipad mah fasilitas pribadi, he he

Iklan

One thought on “Kyoto, 9 – 22 Desember 2010

  1. Ping balik: 2010, ngapain aja « www.abdul-hamid.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.