Trio Macan Mandi Telanjang Bulat di Bathtub

Setelah sekian lama hanya posting yang normal-normal saja, rasanya pengunjung blog ini makin sepi saja. Karena itu setelah berpikir keras akhirnya aku memutuskan menampilkan foto yang paling seksi, hot dan menantang.

Siapa yang tak kenal trio macan?

Penampilan mereka yang menggemaskan membuat iman dan imin para pria naik dan turun. Mereka memang fenomena yang luar biasa. Tak sembarangan bisa mendapatkan foto mereka, apalagi jika sedang mandi dan tak memakai sehelai benangpun. Salah-salah kita dianggap paparazzi dan dikejar-kejar mereka.

sumber: http://caughtontheweb.blogspot.com/2009/03/three-tigers-in-tub.html
Iklan

Rawon Nguling Malang

Rawon Nguling, Maknyusssssss

Rasanya tak perlu bercerita banyak untuk mengungkapkan betapa nikmatnya makanan dalam gambar diatas. Hmm, rawon tutup dengkul + rawon buntut + otak, tempe, perkedel tempe, dll. Gratis lagi, ada yang bayarin, ho ho ho

Habis makan rawon, minumnya  jeruk nipis pake es (soalnya kalo gak pake es namanya jeruk nipi)

enak eh maknyuss pokoknya

Depot Rawon Nguling, Malang, dekat alun-alun Kota Malang.

Melulu Politik

Astaga, ternyata dalam beberapa hari ini aku melulu menulis soal politik, wabil khusus mengkritik presiden dan tifatul. duh kenapa ya negeri ini selalu dikelola orang-orang ngaco. Padahal pengennya nulis yang lain, seperti sarapan spaghetti, nyuci baju tengah malam,  kuliner kota malang, angin imlek, bikin kopi yang enak, nulis puisi cinta, pokoknya diluar politik lah.

Maklum-lah, tuntutan satu hari satu posting-an membuat menulis mengalir begitu saja. Karena ikut mikirin negara dan keki sama tifatul dan esbeye, jadinya ya nulis politik.

Politik menarik sih, secara aku ngajar itu, tapi merusak mood. Sory ya

Instruksi dan Nyali Presiden

sumber: kompas, 190111

Setelah menggelar rapat soal Gayus Tambunan, Presiden kembali (baca: lagi-lagi) mengeluarkan instruksi soal penanganan dugaan mafia pajak.  Yang juga menarik adalah Presiden menugaskan Wakil Presiden untuk menggordinasi dan mengawasi pelaksanaan instruksi tersebut. Ada dua hal menarik disini.

Pertama, nampaknya ada yang salah dengan Presiden. Entah kenapa semua persoalan dihadapi dengan rapat, koordinasi, pembentukan tim (atau satgas) dan instruksi. Ini namanya kepemimpinan seolah-olah. Seolah-olah persoalan selesai begitu saja begitu rapat selesai, tim dibentuk dan instruksi dijalankan.

Yang dibutuhkan adalah nyali presiden untuk memastikan bahwa semua pembantunya menjalankan tugasnya dengan baik. Polisi dan kejaksaan misalnya harus mampu membersihkan diri agar pemberantasan hukum berjalan dan menyeret siapapun yang terlibat. Ini yang belum dilihat publik. Ribuan instruksi dikeluarkan-pun jika pembantu presiden tak mau menjalankan dan presiden tak punya nyali menegur, ya percuma.

Kedua, imbas dari kecilnya nyali presiden memastikan instruksinya dijalankan adalah dilimpahkannya penanganan kasus gayus ke wakil presiden. Ini tricky, agar jika kemudian kasus ini tidak selesai (nampaknya presiden yakin ini gak selesai), maka yang disalahkan publik adalah boediono dan bukan esbeye.

Bagaimana menurut anda?

Presiden Kalian Itu Lho

Hari ini presiden kalian menggelar rapat soal kasus Gayus, bersama Menko Polhukam dan Menkum HAM, Menko Perekonomian, Jaksa Agung, Kapolri, Kepala BIN, Ketua PPATK dan Ketua Satgas Pemberantasan Mafia Hukum

Saya cuma berpikir, bukankah clue untuk kasus ini begitu terang benderang? Kenapa sih setiap masalah cuma bisa ditindaklanjuti dengan rapat, dan rapat, dan rapat ato paling maksimal koordinasi atau memberi petunjuk. Apa tidak bisa setiap instansi menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik?

sumber: kompas, 170111

Saya jadi kasihan sama Presiden kalian, betapa sesungguhnya ia dipantati oleh para pembantunya. di depan presiden kalian semua pejabat bilang “iya pak”, “nggih pak”, “siap pak”, tapi di belakang sesungguhnya mereka mengangkangi perintah presiden kalian itu. Karena mereka paham bahwa presiden cuma bisa ngomong tapi sebenernya tak punya kemampuan atau nyali untuk memastikan bahwa perintahnya dijalankan.

Siapa bilang juga presiden kalian tak bisa mengintervensi hukum. bisa dan harus, ingat penegakan hukum tak semuanya wewenang lembaga yudikatif. Tapi jaksa agung dan kapolri adalah bagian dari lembaga eksekutif yang notabene dibawah presiden kalian.

Please deh pak presiden, bangun, saksikan bahwa pembantu-pembantumu tak memantati semua perintahmu. menurunnya kepuasanpublik terhadap anda terutama dalam bidang hukum adalah buah pengkhiantan pembantumu pada perintahmu bos. Ayo bersikap tegas sama pembantumu, malu sama badan gede.

masih ada waktu jadi pemimpin yang baik dan tegas, inget lho pak, kepemimpinanmu harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah

Iri

Aku baru sadar pagi ini bahwa aku amat suka membaca biografi singkat seseorang. Lebih khusus, pekerjaan, pendidikan, prestasi dan tanggal lahir. Ya, bagaimanapun mengetahui bahwa ada orang sebaya denganku yang memiliki prestasi luar biasa amat menantang (kalau tidak dikatakan iri). Katakanlah, kelahiran 1980, tapi sudah dapat gelar Doktor dan memiliki reputasi akademis yang hebat. Wah hebat, dan itu memacuku untuk tidak mau kalah. Umur masih 34, tapi sudah jadi Professor, wah mantap, kepalaku pasti sudah melayang-layang, bisa nggak ya kayak begitu ?

Ya, aku memang realis, hidup dengan target-target yang jelas. Kadang-kadang semua target ini menekanku, kenapa tak bisa hidup itu mengalir saja, seperti sungai bengawan solo?

Untuk profil kalangan bisinis khususnya sosialita, biasanya tak terlalu menekan. Katakanlah umur 31 sudah jadi Direktur Utama perusahaan. Kadangkala keirian ini dilatarbelakangi persoalan kelas sosial ini dan kemudian melahirkan permakluman. Aku belum sekaya mereka karena dulu gak pernah sekolah TK (apa hubungannya ya?) atau maklum dulu masa kemasan (baca: golden age) boro-boro penuh kesempatan belajar dan bermain, tapi sibuk di kebun membantu orang tua. Banyak permakluman-permakluman lain.

Aku ingat sekitar tujuh tahun lalu, waktu masih kuliah, aku dan Asep Sadiana, kawan dari Cilacap—pernah berbincang. Kita menggugat Tuhan, kenapa ada anak yang beruntung dilahirkan di keluarga kaya dan dapat semua fasilitas yang membuatnya sukses (termasuk semua jaringan bokap ketika lulus kuliah) dan ada anak tak beruntung yang walaupun cemerlang mesti tertatih-tatih meraih kesuksesan dan tetap saja lebih banyak yang tak sukses daripada sukses.

Biarlah aku tetap iri dan ini menjadi pukulan menyakitkan untuk menjagaku tetap bangun. Aku takut ketika aku sudah tak bisa iri, maka aku berhenti berlari.

 

Hari-hari Terakhir di Malang

Tinggal satu minggu lagi aku tinggal di Malang. Kota yang selalu dingin, berangin dan lebih sering hujan daripada tidak. Kota dimana banyak makanan enak yang membuat pipi semakin gembil dan program diet menjadi berantakan. Setelah itu semua kembali seperti semula, menjalani kehidupan segitiga: Kalibata – Serang – Depok.

Saatnya kembali mengajar mahasiswa, membimbing skripsi, berseminar,  menulis dan membaca.

Ada banyak rencana di kepala, namun belum saatnya dituliskan. Semoga seminggu terakhir membawa kesan dan manfaat.

Mencari Gelar Atau Ilmu

Konon Indonesia adalah negara yang penduduknya menggilai gelar akademik. Hal ini terlihat dari banyaknya pejabat dan politisi yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang sarjana, master maupun doktor. Di sebuah universitas terkemuka, berkali-kali media meliput sidang doktor para pejabat dan politisi.

Jika benar mereka mencari ilmu, sudah barang tentu penegelolaan negara ini dilakukan dengan mengindahkan kaidah-kaidah keilmuan. Namun kenyataannya tidak kan? korupsi yang jelas praktek pengingkaran kebenaran menjadi praktek lumrah dalam penyelenggaraan pemerintahan, pusat sampe daerah.

Pertanyaannya, ilmu atau gelar yang dicari?

Jika kecurigaan bahwa mereka mencari gelar akademik, apakah gelar akademik mendorong prestasi dalam karir mereka? Atau gelar akademik memang memiliki nilai tingi secara sosial. Saya cenderung yang kedua.

Tengok saja, dalam beberapa acara pernikahan, gelar akademik disebutkan secara lengkap oleh MC.

Bagaimana menurut anda?

Oh ya, satu lagi perlu ada srvey persepsi terhadap orang Indonesia soal gelar akademik.

True Love

Bermula dari pertanyaan seorang dosen di kelas minggu lalu. Cinta apa yang paling tinggi?

hmm bermunculanlah bermacam-macam jawaban, mulai dari cinta sejati, cinta tak bersyarat, cinta itu memberi, cinta itu tak harus memiliki, dan sebagainya.

Pulanglah aku ke kost, dan cilakanya malam tak bisa tidur. jadilah nonton film Letters to Juliet. Film ini diawali oleh dibalasnya surat sang nenek yang dikirimnya ke Juliet (adegan ini gak awal-awal banget, tapi adegan sebelumnya cua bumbu aja kok). Yang membalas surat bernama Sophie, seorang penulis pemula (sebelumnya dia fact checker) yang masuk kedalam tim sekretaris Juliet.

Hmm seorang nenek dianter cucunya mencari cinta sejati setelah lima puluh tahun terpisah. Sang cucu protes, dia menganggap pencarian neneknya mengabaikan eksistensi dirinya (hmm penafsiranku tentu saja bisa salah, tonton sendiri deh). Dibantu Sophie, mereka mencari cinta sejati sang nenek di italia.

eng ing eng, setelah pencarian panjang dan hampir putus asa ketemulah dengan si kakek, yang kebetulan sudah jadi duda. Film diakhiri dengan pernikahan si kakek dan si nenek dan jadiannya cucu si nenek dengan Sophie (yang memutuskan pertunangan dengan seorang chef).

si nenek menemukan cinta sejatinya, setelah terpisah selama lima puluh tahun.

hmm jadi kepikiran dan muncullah banyak pertanyaan:

1. Bagaimana kalo suaminya si nenek masih hidup, apakah dia akan mencari cinta sejatinya?

2. Bagaimana perasaan si nenek (sebenarnya) terhadap suaminya yang telah memberinya cucu. pura-pura cinta?

3. Bagaimana kalau cinta sejatinya si nenek ternyata masih punya istri yang sehat wal afiat?

4.Bagaimana perasaan si kakek “cinta sejati” (sebenarnya) terhadap istrinya yang telah memberinya cucu. pura-pura cinta?

5. Apakah si kakek “cinta sejati” itu akan menceraikan istrinya begitu si nenek datang, jika istrinya masih hidup?

(hmm menarik juga menjadikan lima soal ini sebagai soal uts atau uas mahasiswa ya, he he, tapi mata kuliah apa? gak mungkin politik lokal)

so,  bagaimana menurut anda? Apa sih cinta sejati itu? atau ada nggak sih cinta sejati itu?

catatan: sumber gambar, http://ohdediku.wordpress.com/2009/07/09/punk-rock-jalanan-ceritamu-ceritaku-cerita-kita-bersama/jump-for-love/

Do-Gi

Do-Gi artinya dosen gilo, he he. tentu saja kata gilo tidak merujuk ke penyakit jiwa, tapi lebih ke arah sifat kekanak-kanakan agak ekstrim yang ternyata menempel pada setiap orang, termasuk dosen. Maklumlah, selama kurang lebih tiga bulan, aku berkumpul bersama beberapa puluh dosen dari berbagai penjuru Indonesia, dari berbagai bidang ilmu, dengan berbagai karakter, tapi memiliki persoalan yang sama: kejenuhan.

Ya, jenuh juga tinggal berjauh-jauh dari pekerjaan dan keluarga, menjalani hal yang sama setiap hari-nya, belajar english dari jam 7 pagi sampe jam 3 sore. Disaat-saat itulah biasanya kegilaan muncul. mau buktinya, let see pictures below

menganggap galon sebagai .........., ups, isi sendiri titik-titiknya
menggila di jatim park, kayak bocah, he he he
mana yang paling gilo (baca: nggilani)
ngumpet di dalam patung, astaga !
Akhirnya foto semua dosen (kecuali bu Ana), udah pake batik masih gilo, he he

Kaldu Super Al-Ghozali

Rekans, lama ya aku tidak posting soal kuliner. Nah, kali ini jika ke Sampang, Madura mampirlah ke Kaldu Super UD Al-Ghozali. Menu spesialnya ya Kaldu Super. Dagingnya lembut mudah diambil dari tulang, dan sumsumnya bisa diseruput pake sedotan. Dijamin maknyuss.

Jangan nyasar, ini tampak depan depotnya.
Bagaimana, super kan?
Enaknya, sampe gigitan yang terakhir

Depot UD Al-Ghozali, Jalan Diponegoro Sampang, Madura Jawa Timur, Indonesia.