Malang

Judul diatas tentu saja bersifat taksa. Pembaca bisa mengartikan, wah sedang susah nih abah hamid (dirundung malang), atau wah abah hamid mau ke malang nih. Ya, pendapat kedua benar, anda dapat gelas. saia hendak ke malang, tidak dua atau tiga hari, tapi tiga bulan, phew.

Yup, pengumuman pelatihan bahasa inggris dosen dari dikti sudah ada, dan alhasil saia mulai tanggal 11 Oktober sampai tiga bulan ke depan mesti belajar bahasa inggris di Universitas Negeri Malang. Sama sekali tidak terbayang. Inginnya pelatihannya di bandung (itb) atau depok (ui) saja, jadi masih bisa mengerjakan hal-hal lain. Tapi malang? ya amfun

jadi pekerjaan hari ini adalah melimpahkan semua tanggungjawab, terutama mengajar baik di UI, Untirta maupun UT ke kolega yang lain. Untung sudah pernah mewant-wanti bahwa saia berkemungkinan akan ditugaskan dikti belajar bahasa. Pekerjaan lain juga terpaksa dilimpahkan, riset dengan LSI dan kawan-kawan Kyoto bulan November juga akan saya limpahkan, diskusi Lab ANE juga terpaksa digantikan (jadi monitoring aja). Nah yang repot kegiatan seminar di malaysia dan jepang. di jepang lebih santai karena belum ada undangan resmi dan masih di akhir tahun. Tapi jadwal berangkat ke malaysia sama persis dengan jadwal dimulainya pelatihan. duh, mana dah beli tiket pake uang sendiri pula, pulang – pergi.

moga-moga dikti mau berkompromi ya

yups, ngatur-ngatur, loby-lobby

Iklan

Kesibukan-kesibukan

Dua minggu ini kesibukan cukup mendera. Terutama mengajar, di UI, Untirta plus di UT. Untuk pertama kali setelah lima tahun aku tak mengajar mata kuliah pemerintahan dan politik desa di UI (hiks sedih) karena persoalan jadwal. Jadilah hanya mengajar pengantar ilmu politik setiap hari senin. Di Untirta selasa dan rabu dengan intensitas amat padat. Bayangkan, ada kelas yang baru dimulai pukul delapan malam.

Untuk di UT, memang hal yang baru. Awalnya hendak menolak, tapi ternyata pertemuan hanya delapan kali sampai pertengahan November, jadi tidak terlalu mengganggu. Hanya saja pelaksanaannya hari minggu, jadi keluarga yang harus mengalah. Yup, asyik saja mengajar Bapak/Ibu Guru SD tentang menulis ilmiah.

Tempat mengajarnya di SDN Gorda 1, tak begitu jauh dari jalan tol. Jadilah aku pelanggar lalu lintas sekurang-kurangnya selama dua bulan, turun dan mencegat bis di jalan tol. (maaf ya)

Kesibukan lain, mempersiapkan diskusi bulanan Lab Ane Untirta dengan TIFA. Semoga lancar, membangun lembaga dan suasana akademik ceritanya. Kegiatan pertama rencananya tanggal 21 Oktober 2010, meleset dari jadwal awal tanggal 7 Oktober. Selanjutnya diskusi akan diadakan rutin selama kurun enam bulan setiap hari kamis di minggu pertama setiap bulannya di ruang Teleconference Untirta.

Oh ya, Puskapol UI juga ngajak rapat hari senin lalu, diajak ikut dalam kegiatan pengembangan kapasitas lembaga dan peneliti puskapol. Lumayan, jadi kesempatan untuk banyak belajar.

Kesibukan lain, menyiapkan pertemuan cendekia banten. Semoga lancar, acaranya tanggal 3 Oktober di Kebon Kubil Serang jam 9 pagi. Semoga kawan-kawan cendekia Banten yang sudah lama tak berkumpul bisa bersilaturahim dan berdiskusi.

Semua kesibukan ini membuat gak bisa nulis. Padahal terobsesi menulis untuk buku dan jurnal. Permintaan nulis untuk Radar Banten dalam HUT Provinsi Banten juga belum sempat dilakukan.

Oh ya, kesibukan lain, rencananya tanggal 5 Oktober harus berangkat ke Bandung ikut sebuah seminar. Minggu depannya juga berangkat presentasi dalam seminar internasional di Selangor. Tapi masih cari biaya ongkos dan akomodasi dan konsumsi. Pembiayaan dari institusi belum pasti. Sementara nombok pake uang pribadi.

Terkadang miris juga, berkegiatan ilmiah sulit sekali dilakukan. Padahal membawa nama baik institusi. Tapi seperti kata Bondan, ya sudahlah…..

Kabar-kabar Gembira

Hari kemenangan tentu saja membawa kebahagiaan. Tentu saja kebahagiaan utama adalah sukses menyelesaikan ibadah puasa ramadhan. Bertemu keluarga besar dengan komplit juga adalah kebahagiaan lain. Sejenak melupakan rutinitas, walaupun teteup saja aku mudik dengan setumpuk (tepatnya dua tumpuk) buku politik yang mesti dibaca.
Kebahagiaan kedua adalah keluarnya hasil test toefl dan tpa dari dikti. Tentu saja hasilnya masih tak betul-betul memuaskan, tapi menunjukkan perkembangan berarti. Yup, masih harus bekerja keras. Sebagai orang yang memilih jalur akademisi sebagai jalan pedang, jadi kuliah atau tidak di luar negeri pastinya harus berteman dengan bahasa satu ini.
Kebahagiaan ketiga, aku terpilih untuk menjadi pembicara soal politik lokal di Jepang. Ya, pertengahan desember, jika Allah mengijinkan kakiku kembali akan menginjak Kyoto. Bulan desember, artinya akan bertemu salju. Keinginan terdalamnya tentu saja studi doktoral disana tahun ini atau tahun depan. Tapi dapat kesempatan berseminar disana saja sungguh sebuah kehormatan dan anugerah.
Hanya memang panitia menanggung akomodasi dan transport disana, jadi biaya penerbangan mesti berusaha mencari juga nih.

Anyer, 12 September 2010
Sent from my BlackBerry® Berry Prima Limited Edition

Lebaran

dua hari lagi idul fitri. di indonesia biasa disebut lebaran. penasaran juga apa makna lebaran? dari bahasa apa? apakah dari kata lebar + imbuhan “an”? yang jelas ini bahasa lokal, karena ada sebutan lain di luar idul fitri yang pake kata lebaran, misalnya lebaran haji, lebaran anak yatim atau lebaran monyet.
nah tradisi yang mengikuti lebaran (baca: idul fitri) adalah mudik. mudik artinya kira-kira pulang ke kampung halaman, bertemu orang tua dan kerabat yang lama tak bersua. sebetulnya ini tak khas indonesia, di jepang hari natal juga jadi ajang mudik, biasanya mereka bertemu dan makan malam dengan keluarga besar, begitu juga imlek di china dimana puluhan juta orang bergerak ke kampung masing-masing.
nah, hari ini aku juga mudik ke kampung halaman di pandeglang, banten. dua anak sudah beberapa hari lalu “disimpan” di neneknya, sekarang tinggal abah dan emaknya.
happy lebaran day….

Catatan dari pembaca Buku Membaca Banten Membaca Indonesia.

Ditulis oleh Fitri Suciwiati, Pengelola Rumah Buku Lentera Kalbu, Pandeglang.
Setelah membaca buku seri Banten Bangkit#2, MEMBACA BANTEN MEMBACA INDONESIA yang ditulis oleh empat bersaudara asal Pandeglang (Abdul Malik, Zainal Mutaqin, Abdul Hamid, Rahmatullah) yang berisi esai-esai kepemimpinan: Membangun Karakter, Menebar Pemikiran– terbersit dalam pikiran saya : “Betapa besar sumbangan pemikiran yang mereka tulis (khususnya) untuk Pandeglang.
Kenapa Pandeglang? Karena Pandeglang sebagai bagian dari Banten Kecil telah mampu melahirkan kaum intelektual tapi (sayangnya) masih berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini yang masih sulit berkembang dan carut marut– baik secara politik maupun infrastruktur. Apa sebab? Saya yakin salah satunya lantaran budaya literasi (baca-tulis) di Pandeglang masih rendah. Budaya baca belum masuk ke warga, aparat serta dewan. “Inget ga sama anggota dewan Pandeglang yang cuma beli 2 buku setahun di acara Pandeglang Membaca yang di gelar Forum Pandeglang Bangkit Mei lalu?” Ujar Gol A Gong, direktur Gongpublising, penerbit buku ini.
Budaya Literasi Menuju Demokrasi Berkualitas. Salah satu judul esai di atas yang ditulis oleh Abdul Hamid dalam buku ini menarik perhatian saya. Lanjutkan membaca “Catatan dari pembaca Buku Membaca Banten Membaca Indonesia.”

Menolak Pemilihan Gubernur Oleh DPRD

Sekitar dua minggu lalu, saya diundang mengisi talkshow di salah satu stasiun televisi lokal di Banten. Temanya menarik dan menggelitik, Pemilihan Gubernur oleh DPRD. Selain saya, Pak Aeng Haerudin, Ketua DPRD Banten juga menjadi pembicara.
Wacana mengembalikan pemilihan Gubernur ke DPRD nampaknya sedang menjadi agenda setting yang digulirkan dari Jakarta ke daerah. Presiden SBY misalnya, dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR, Jakarta, Senin 16 Agustus 2010 menyampaikan keprihatinannya soal tingginya biaya politik dan maraknya politik uang dalam pemilihan kepala daerah. Elit lain, seperti K.H. Hasyim Muzadi, Dien Syamsuddin, dan belakangan Marzukie Alie serta Gamawan Fauzi menggoreng isu itu di berbagai media massa.
Ada beberapa alasan utama dalam wacana tersebut: Pertama, penafsiran pasal 18 UUD 1945; kedua, mengurangi politik uang; ketiga; kedudukan gubernur sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat; keempat, penghematan biaya pemilukada.
Lanjutkan membaca “Menolak Pemilihan Gubernur Oleh DPRD”

Kembali Mengajar

Dosen-dosen Departemen Ilmu Politik FISIP UI

Sejak tanggal 30 agustus kegiatan belajr di UI sudah mulai. rutinitas juga sudah mulai berjalan, mengajar di depok setiap hari senin. Bedanya, mata kuliah yang diampu berkurang. Semester ini hanya mengajar pengantar ilmu politik. politik dan pemerintahan desa tak bisa mengajar karena waktunya berbenturan dengan jadwal mengajar di untirta. perkembangan lain, departemen ilmu politik juga tak menoleransi dosen yang belum selesai S2. jadi ada beberapa kolega yang tak bisa mengajar.

Jadwal di untirta hari selasa dan rabu, siang dan malam, mengajar pengantar ilmu politik, metode penelitian sosial dan politik lokal. masih ada tugas tambahan sebagai kepala lab yang tampaknya bakal cukup sibuk, soalnya sudah ada kesepakatan kegiatan sekitar enam bulan dengan TIFA.
Lanjutkan membaca “Kembali Mengajar”

Nasi Uduk Kebon Kacang Puas Hati

suatu hari di bulan desember 2008 (he he, ini remake posting dari blog lama). Daripada bengong di rumah, aku dan si dia istriku memutuskan hang out. kebetulan waktu itu ada diskon 30% di gramedia grand Indonesia. hmm, jalanan lengang, tapi jelang lokasi jalanan mulai pamer paha (padat merayap tanpa harapan), mungkin karena libur sekolah. Alhamdulillah akhirnya parkir di Plaza Indonesia. Jalan sedikit sih, tapi gak apa-apa. Luar biasa ramai, orang berjubel dan antrian di kasir sampai 7 meter panjangnya. Istriku gagal mendapatkan bilangan fu, aku mendapatkan sekali peristiwa di banten selatan-nya Pram dan alia serta ilham mendapatkan The Firm Farm.
hmm, cape ngantri kami memutuskan cari makan. istriku pengennya the dome, diskon juga, aku sih jelas pengen nasi uduk kebon kacang, lama gak kesana. Lanjutkan membaca “Nasi Uduk Kebon Kacang Puas Hati”