Bekerja Sebagai Tim

Saya beruntung memimpin sebuah program studi yang sebagian besar dosennya adalah anak-anak muda. Mereka pintar-pintar dan hebat-hebat sehingga tidak sulit membayangkan Prodi IP Untirta bisa bersaing di tingkat nasional atau mulai unjuk gigi di dunia intenasional di tahun-tahun depan.

img_2461

Yang sekarang saya sedang lakukan adalah membangun tim secara terus-terusan. Organisasi tak boleh memunculkan Superman-superman atau superwoman-superwoman. Yang harus muncul adalah Superteam yang terbentuk dari sinergi potensi orang-orang hebat di dalamnya. Pemimpin bekerja sebagai konduktor agar tercipta irama yang merdu, dari berbagai alat musik yang dimainkan. Justru kalau semuanya pegang terompet atau piano suaranya pasti monoton dan gak keruan bukan?

Tahun ini alhamdulillah sebagian besar dosen mendapatkan dana penelitian yang  harus terpublikasi. Targetnya, semua pemenang dana penelitian di Prodi memiliki scopus-id di akhir tahun atau awal tahun ini.

Salah satu program baru yang hendak kami mulai di semester besok adalah melaksanakan perkuliahan berbahasa Inggris. Ini harus dimulai untuk membangun kultur global. Membiasakan yang memang harusnya sudah biasa.

Ada usul mata kuliahnya?

 

Iklan

Mudik Ke Jepang

September ini bulan yang amat sibuk. Sebagai kaprodi, saya mengawal dua kegiatan yang penting: Dialog Publik dan Seminar Nasional. Keduanya merupakan kegiatan penting, upaya mengokohkan positioning Prodi Ilmu Pemerintahan Untirta di tingkat nasional.

Tapi sebagai ilmuwan, saya punya target pribadi: Setiap tahun bisa hadir dalam komunitas akademik di luar negeri, minimal setahun sekali. Tujuannya tentu untuk menjaga kewarasan.

Pada tahun 2016 saya jadi Visiting Researcher di Bangkok Office-nya CSEAS. Tahun 2017 saya jadi peserta short-course tentang citizenship di Belanda.

Nah tahun ini ada beberapa kesempatan. Pertama, Sensei menawarkan saya menjadi pembicara di sebuah seminar di Cambridge. Ini sebetulnya wow sekali. Namun mesti saya tolak karena terbentur persoalan dana dan tema yang tidak terlalu saya kuasai.

Kedua, paper saya lolos untuk disampaikan dalamThe 6th International Academic Identities Conference di Research Institute for Higher Education, Hiroshima University, 19-21 September 2018. Awalnya saya tidak akan berangkat. Alasannya sama dengan yang pertama, soal biaya.

Hanya ketika panitia mengirimkan daftar judul dan pemakalah, saya terkejut. Saya satu-satunya pemakalah dari Indonesia. Yang lain dari kampus-kampus beken dunia semacam Oxford, Cambridge, Imperial College, Sidney, de el el.

Jadilah akhirnya nekad harus berangkat.

Presentasi berjalan baik walaupun sebagian besar pembicara menyampaikan paparan tentang “ilmu pendidikan”, sementara saya fokus membahas kebijakan pendidikan tinggi, tentunya terkait riset.

Screenshot 2018-10-01 14.36.42

Semoga upaya kecil ini bermanfaat meletakkan Untirta di peta dunia pendidikan tinggi 🙂

Buat saya, itung-itung mudik ke Jepang, negara kedua tempat belajar banyak tak hanya di kampus tapi di masyarakat.

WhatsApp Image 2018-10-01 at 15.04.39 (1)WhatsApp Image 2018-10-01 at 15.04.39WhatsApp Image 2018-10-01 at 15.04.40

Meningkatkan Ranking Perguruan Tinggi Menuju Kelas Dunia (Atau Akhirat Saja?)

Kemarin Kemriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) merilis 100 PT terbaik non-vokasi. Ada yang naik, dan tidak sedikit yang turun.

Tulisan sederhana banget ini tentu tak bermaksud memberi resep cespleng menaikkan ranking perguruan tinggi. Hanya memberikan mindset bahwa ranking adalah hasil dari proses aktivitas harian yang dilakukan di PT. Jika berkesesuaian dengan mekanisme atau kriteria perankingan oleh Kemeriting, maka ranking naik, demikian sebaliknya.

Ranking yang dibuat Kemeriting ini sebetulnya berkesesuaian dengan peringkat-peringkat kampus kelas dunia yang belakangan ini ramai dikejar-kejar perguruan tinggi di Indonesia. Huff, padahal dunia hanya sementara ya, he he

Karena itulah mengejar ranking dunia termasuk ranking Kemeriting ini tentu saja membutuhkan prasyarat keduniaan juga. Kalau berbagai aktivitasnya lebih ke akhirat seperti menerima penghafal kitab suci, kegiatan mengaji, upacara dan lain-lain, saya pikir lebih baik kita fokus membuat dan mengejar peringkat kampus kelas akhirat saja.

Nah, balik ke pemeringkatan Kemristekdikti. Apa saja sih aspek dan bobot setiap indikator dalam klasterisasi Perguruan Tinggi 2018? Perhatikan gambar di bawah, perbandingan antara penghitungan tahun 2017 dan 2018 menurut Kemeriting. 

Screenshot 2018-08-25 06.01.20

Nah berikut sumber data-nya

Screenshot 2018-08-25 06.14.48

Secara lebih teknis di bawah ini ada perhitungannya:

Screenshot 2018-08-25 06.16.33Screenshot 2018-08-25 06.16.42Screenshot 2018-08-25 06.16.46Screenshot 2018-08-25 06.16.50Screenshot 2018-08-25 06.16.53Screenshot 2018-08-25 06.16.56Screenshot 2018-08-25 06.17.01

Tapi lagi-lagi, hal di atas musti diperhatikan jika memang kita mau mengejar peringkat Kemeriting untuk kelak jadi kampus Kelas dunia. Sementara, sekali lagi saya hanya mengingatkan pada diri sendiri dan jamaah sekalian, kalau dunia hanya sementara. Akhirat lebih utama.

Wallahu mu’affiq ila aqwami thoriq

Wassalamualaikum Wr. Wb

Ujung Tombak

Dulu saya pernah menulis tentang, Jadi kaprodi Ngapain Aja. Tulisan itu semacam refleksi atau bisa dibaca sebagai laporan akuntabilitas a la blogger, he he

Nah sekarang saya masih kaprodi, tapi beda lokasi. Semenjak Februari saya pulang kandang, jadi Kaprodi di S1 Ilmu Pemerintahan FISIP Untirta. Masih jadi ujung tombak, adanya di ujung trus ditombakin 😉

Situasinya agak berbeda juga sih.

Di S2, saya nyaris tidak punya pasukan. Hanya ada Sekprodi dan Staf Administratsi. Akibatnya lumayan jungkir balik, Kaprodi merangkap Chief Editor Jurnal, webmaster, dan lain-lain. Alhamdulillah, JIPAGS berkembang baik, web juga, serta berbagai kegiatan, termasuk mendatangkan akademisi berskala internasional. Mutu akademik juga lumayan terjaga. Maklum, keinginan saya waktu itu sederhana: Mahasiswa terlayani dengan baik dan mutu akademik terjaga. Saya selalu percaya bahwa Pascasarjana harus jadi etalase akademik Universitas.

Nah karena sesuatu hal, saya balik kandang ke FISIP menjadi Kaprodi di Ilmu Pemerintahan.

Tantangannya, selain meraih akreditasi lebih baik, termasuk juga membangun tim yang kuat, maklum sebagian besar dosennya adalah generasi millenial, termasuk saya.

Kabar baiknya adalah saya punya pasukan. Maka saya fokus membangun dan menarik manfaat dari berbagai jejaring yang saya miliki. Alhamdulillah, program perdana adalah menghadirkan Kepala P2P LIPI, Mas Firman sebagai Dosen Tamu dalam Kuliah Umum. Selain itu, Prodi IP Untirta dan P2P LIPI juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama.

Jurnal juga mendapat perhatian khusus. Sebetulnya JoG sempat belajar dari JIPAGS, sebelum JIPAGS diserang negara api. JoG sebagai jurnal yang dikelola secara fokus dan serius berkembang pesat. Saya hanya membantu dan memfasilitasi, ada Bung Dian yang “megang”. Nah salah satu bentuk fasilitasi adalah meminta kesediaan teman-teman akademisi produktif di berbagai institusi riset/pendidikan tinggi untuk menjadi mitra bestari. Pengelola juga saya ceburkan ke jaringan pengelola jurnal pemerintahan/politik dan mengikuti berbagai kegiatan penguatan. Alhamdulillah, beberapa waktu lalu JoG terindeks DOAJ, punya DOI dan tahap berikutnya mengejar akreditasi.

Jaringan lain yang bekerja adalah dengan kawan-kawan pegiat anti korupsi. Prodi IP yang memiliki mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi bertemu ngopi-ngopi dengan teman2 ICW dan menyepakati untuk bekerjasama mengintegrasikan Akademi Anti Korupsi ICW yang memiliki program e learning dalam mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi. Dosen pengampunya Bung Gozali dan Mbak Shanty. Kerjasama juga akan diperluas dalam bentuk riset dan pengabdian pada masyarakat. Nantikan launchingnya 31 Agustus, kabarnya ada menteri dan ketua KPK yang bakal hadir.

Prodi IP juga punya kerjasama manis dengan Untirta TV, membangun program e learning. Content dikerjasamakan produksinya dengan UTV, sementara platform dikerjakan oleh Bung Anis.

Nah, Prodi IP juga akan menggelar seminar nasional di bulan September. Sudah cukup banyak peserta mengirim paper untuk dibentangkan. Alhamdulillah. Selain harus sukses, ini menjadi batu loncatan menuju Seminar Internasional di tahun depan.

Nah urusan dalam negeri juga tak kalah penting. Hal pertama dalah kurikulum yang alhamdulillah beres. Beres dalam arti beres disusun, disahkan, disosialisasikan dan diberlakukan. Kerja keras semua dosen IP berbuah baik, di bawah koordinasi Mbak Ika.

Nah hasil lain adalah lulusnya sebagian mahasiswa angkatan pertama. Kabarnya, lulusan terbaik Untirta tahun ini juga dari Prodi IP. Si lulusan terbaik juga sedang berusaha keras meraih beasiswa LPDP. Doakan ya.

Nah kabar baik lain ya banyak juga yang musti disyukuri. Ruangan jadi luas, ada dispensernya, ada tambahan dosen baru, dan lain-lain. Oh ya jika dulu di MAP musti jadi webmaster, sekarang Ada Bung Anis yang lebih mumpuni. Saya bantu-bantu upload saja.

Semoga segala hal baik yang diniatkan berjalan baik ya. Saya selalu percaya kalau keberhasilan organisasi ketika yang bekerja adalah Superteam, bukan Superman, apalagi WonderWoman.

Peringkat Untirta Menurut KemristekDikti (Revisi 17 Agustus 2018)

Tuisan ini merupakan catatan yang saya titipkan di blog ini. Musababnya saya ingin tahu peringkat Untirta, kampus tempat saya mengajar secara pasti.

Peringkat ini versi Kemristekdikti dulu saja ya, ingin tahu fluktuasinya dan sesuai yang ada di laman http://pemeringkatan.ristekdikti.go.id/index.php/. Ditambah sumber-sumber lain yang kredibel.

Berikut  pemeringkatan tahun 2015, 2016, 2017, ditambah tahun 2018 yang masih anget dari kompor.

  1. Tahun 2015

Tahun 2015 belum ada mekanisme searching (pemeringkatan) dengan menggunakan kolom search. Jadi berbasis dokumen pemeringkatan yang dikeluarkan Kementerian. Dokumennya bisa diklik di sini.

Untirta berada di peringkat 194.

Screenshot 2018-03-15 14.32.56

2. Tahun 2016

Tahun 2016 Untirta sudah menggunakan halaman khusus pencarian peringkat. Jika diklik dan dimasukkan Kode Untirta 0001042 maka didapatkan peringkatnya naik ke 74.

Screenshot 2018-03-15 14.06.45

3. Tahun 2017

Sama mekanismenya dengan tahun 2016. Hasilnya tahun 2017 turun ke peringkat 83

Screenshot 2018-03-15 14.06.57

4. Tahun 2018

Pemeringkatan tahun 2018 didapatkan dari rilis Kemristekdikti. Untirta berada di peringkat 88 untuk Perguruan Tinggi Non Vokasi. Wah nampaknya persaingan semakin ketat.

Screenshot 2018-08-17 17.12.45Screenshot 2018-08-17 17.12.54

Dengan demikian Untirta berada di Klaster 2. Untuk klasterisasi bisa disimakfin160818_Laporan Klasterisasi PT Indonesia 2018.

Menguji Calon Dosen

Kemarin saya menjadi salah satu penguji calon dosen tetap non PNS di kampus tempat saya bekerja.

Wah saya langsung merasa tua. Menguji anak-anak muda yang usianya sekitar 10 tahun lebih muda. Lucu juga ya, rasanya belum lama diuji sekarang menguji.

Yang menarik dari rekrutmen dosen baik yang saya alami sebagai pihak direkrut maupun merekrut adalah bahwa rekrutmen dosen memang belum sampai ke tingkat mencari ilmuwan, masih mencari pegawai.

Aspek portofolio akademik misalnya bukanlah faktor utama, hanya menyelinap dalam proses wawancara saja. Dan sebetulnya dari aspek umurpun, syarat usia maksimal 35 tahun tentu saja membuat kita kesuitan mencari calon mumpuni.

Ditambah dalam sistem rekrutmen dosen kita (Baca: NKRI), ketika saatnya mengajukan jabatan fungsional, maksimal hanya jadi lektor.

Mari tengok status Khoirul Anwar, akademisi Indonesia yang sudah 14 tahun bekerja di dunia akademik di Jepang dan pulang kampung ke tanah air:

Alhamdulillah tadi sore telah menyelesaikan isian form pengajuan jabatan fungsional akademik (JFA) dengan total kum (sekitar) 2.257,8 (7 paten (3 granted), pengajaran, penelitian selama 14 tahun di Jepang (24 jurnal, 88 conference paper), pengabdian masyarakat). Meskipun semua akan hangus dan diakui hanya 200 (Lektor 200), semoga ini tetap bermanfaat. Mohon doa agar bisa istiqomah, Insya Allah, setelah ini akan “memulai hidup baru” sebagai dosen di Indonesia beserta penjenjangannya. Semoga bisa segera sampai 850 lagi.🙂

Jadi coba bayangkan. Bahkan penerima nobel sekalipun hanya akan jadi Lektor ketika pertama kali jadi dosen tetap di Indonesia. Makanya, jadi dosen asing saja 🙂

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 9 Juli 2018)

Dear rekan-rekan semua, bersama ini saya posting Jurnal Elektronik Terakreditasi edisi I 2018. Nah untuk kali pertama jurnal terakreditasi menggunakan sistem peringkat, I-6 dengan ratusan jurnal masuk ke dalam kategori terakreditasi.

Screenshot 2018-07-20 09.29.16Screenshot 2018-07-20 09.29.27

Mangga disimak

Baca lebih lanjut

Perpustakaan Kampus

Saya beruntung pernah menikmati beberapa kampus dengan perpustaan yang luar biasa. Di Kyoto sewaktu saya studi S3 di Doshisha, perpustakaan adalah tempat saya menghabiskan waktu. Selain meminjam buku, juga untuk belajar. Perpustakaan berada beberapa lantai ke dalam bumi. Terdapat ruang baca di permukaan tempat membaca beberapa hardcopy jurnal dan buku. Di kampus terpisah terdapat ruang belajar yang bisa dipakai untuk berdiskusi, semacam study room, lengkap dengan layar besar untuk latihan pesentasi kelompok di setiap meja-nya. Nah di ruangan belajar tersebut saya dan Pak Ishaq membimbing beberapa mahasiswa master dari Afghanistan menyelesaikan tesisnya.

14171838312_ba76eb88ac_o

Oh ya, jika kita membutuhkan buku dan koleksinya tak tersedia, bahkan kita bisa memanfaatkan jaringan perpustakaan atau bahkan meminta perpustakaan untuk membelikan. Kadang minta Sensei membelikan juga sih pake anggarannya. What? Dosen diberi anggaran untuk beli buku? Ya begitulah…

Masih di Kyoto, selama dua kali menjadi Visiting Researcher di CSEAS Kyoto University, perpustakaan CSEAS menjadi tempat favorit untuk mendapatkan (baca: meminjam dan baca) koleksi buku-buku super lengkap tentang Asia tenggara, wabilkhusus Asia Tenggara. Kita bisa mendapatkan koleksi majalah Tempo atau bahkan Sabili lengkap. Karena itu, jika kita menulis tentang Indonesia, khususnya Indonesia modern, perpustakaan ini menjadi salah satu pilihan utama untuk studi pustaka.

Saya paham seriusnya perpustakaan CSEAS berburu bahan pustaka, karena pernah beberapa kali menemani Okamoto Sensei berburu buku langka. Kantor CSEAS-Jakarta di Kertanegara adalah tempat transit buku-buku tersebut sebelum dikapalkan ke Jepun.

Terakhir ketika saya short-course di Belanda, tentu saja perpustakaan Leiden menjadi tempat favorit. Sebagian besar waktu saya habis di perpustakaan universitas yang menyimpan koleksi amat lengkap, hardcopy maupun digital. Librarian mengatakan bahwa koleksi Indonesia jika disusun-panjang, sekitar 12km. Tentu inilah tempat terbaik di dunia untuk studi pustaka Indonesia.

whatsapp-image-2017-10-26-at-13-43-20

***

Saya tentu tidak mau mengeluh tentang kondisi perpustakaan di tanah air, apalagi di kampus tempat saya bekerja. Oh ya, kampus tempat saya dulu kuliah di Depok sejatinya punya konsep yang keren. Perpustakaannya seperti bukit telletubies yang ditutupi rumput-rumput. Ndilalah ketika bulan lalu ke sana, ternyata konstruksi bangunannya gak kuat, kabarnya bocor dan retak di beberapa tempat. jadilah tanah dan rumputnya dibuangin. Sayang banget ya

Perpustakaan_Universitas_Indonesia

Nah karena malam ini karena tidak bisa tidur, maka secara random saya searching foto-foto perpustakaan terbaik di dunia menurut beberapa website. Hmm, saya sepakat bahwa walaupun sebagian besar naskah yang dibutuhkan untuk belajar atau meneliti sekarang berbentuk digital, peran perpustakaan tidak bisa diremehkan, malah menjadi semakin penting.

Maka saya sudah tidak terkesima dengan perpustakaan kampus yang grande ala ruang makan di Hogwart, tapi lebih ke perpustakaan yang nyaman untuk belajar dan bekerja, dengan akses internet kecepatan tinggi serta menyediakan ruang untuk berdiskusi. Tentu tanpa mengganggu yang lain.

Ini dua tempat yang memberikan ide. Pertama adalah Walter C. Langsam Library – University of Cincinnati. (sumberfoto:http://www.collegerank.net/amazing-college-libraries/) Ini oke dan lucu banget, instagrammable. langsam-library-univ-cincinnati

Rasanya kok fresh banget ya. Suasana fresh begini penting, apalagi jika sedang menulis paper, skripsi, tesis atau disertasi. Pasti melancarkan peredaran darah di otak 😉

He he, sok tau ya?

Nah kalau satu lagi, Princeton University’s Julian Street Library (Sumberfoto: https://www.ecollegefinder.org/2014/04/28/worlds-coolest-college-libraries/)

Julian-Street-LibrarySaya kesengsem (baca: suka banget) sama sofa dan cahanya. Kayaknya tenaaang banget untuk membaca. Pasti membaca yang sulit-sulit jadi lebih mudah ya, he he, apalagi sambil minum kopi yang enak, hmmm

Tentu sudah ada kali ya, kampus dengan suasana macam begini di tanah air (CMIIW).  Yang jelas aspirasi saya sebagai dosen jelata millennial ya apa yang saya tulis di instagram:

Perpustakaan mestinya bisa menjadi tempat yang paling nyaman di kampus. Ia bisa digunakan untuk membaca, merenung, bekerja atau berdiskusi (ada ruang khusus yang privat). Koleksi yang lengkap dan berjaringan dengan kampus lain, akses internet kencang, ruangan sejuk, sofa empuk, meja dengan banyak colokan dan beberapa komputer siap akses koleksi digital.

Nah tentu saja, ini mesti jadi investasi terbesar ketika membangun sebuah kampus. Walaupun tentu saja jika sedikit kreatif bisa berkolaborasi dengan berbagai perusahaan sekitar kampus atas nama CSR. Masak sih nggak bisa?

 

Home Coming Day FISIP UI

Sebenernya, dalam beberapa waktu ini saya sedang banyak berurusan dengan FISIP UI, he he

Sekira dua minggu lalu, saya dan Mas Arie Dekan FISIP UI sama-sama ketemu dan dilantik menjadi pengurus HIPIIS di Jakarta. Beberapa hari kemudian saya mengikuti pelatihan Metodologi Etnografi Jaringan Sosial di Puska Antrop. Di sela-sela kegiatan sempat ketemu Ipul, makan bareng habis solat jumat.

Nah hari ini, dateng juga ke HCD (Home Coming Day) FISIP UI, tergiur iming-iming ada paguyuban pengedar kafein FISIP UI bakal buka lapak di sana. Kalau ngumpul, yaaah pastinya angkatan senior yang semangat ngumpul mah, angkatan kita-kita mah masih pada (masa-nya) sibuk, struggle of life, ha ha. Jadilah gak ada ekspektasi yang gimanaaa gitu, kecuali rencana ngambil kaos teman2 yang banyak dititip ke emaknya anak2 yang juga nitip karena sedang TL. Semangatnya nunjukkin tempat kuliah yang bagus ke anak-anak, ngasuh

Sesuai woro-woro nyampe kampus jam 10 sama bocah-bocah. Alhamdulillah walaupun masih sepi, ketemu sama Marbot Mushola Al Hikmah, pedagang Takor darurat, beberapa staf FISIP yang masih kenal, beberapa dosen-dosen ketika kuliah dan teman seangkatan yang udah dateng beberapa biji dan lain angkatan. Karena masih sepi sempat banyak bikin foto sama Ayal dan Ilham

WhatsApp Image 2018-05-05 at 10.07.00

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.14.41Sesuai rencana sempat ngopi dua kali, di paguyuban kafein dan filosofi kopi, he he

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.15.12

WhatsApp Image 2018-05-05 at 13.50.30

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.14.23Makan di Takor, ngobrol cukup banyak sama beberapa kawan.

WhatsApp Image 2018-05-05 at 12.59.08

Nah, siangnya sempat lihat fashion show sebelum Ayal dan Ilham mulai bosan dan ngajak pulang. Seneng juga sih ketemu dan mengamati alumni FISIP UI lintas angkatan. Yang semangat memang angkatan senior-senior sesepuh, rame banget kayak cendol

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.14.00

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.13.54Hanya memang bocah-bocah udah pada bosen dan tepar, apalagi pada kecewa karena gak ada booth yang jual es kepal milo ;). Alhasil gak tega dan pulang. Gak sempet dah ngambil kaos, maksudnya gak sempet nunggu lebih lama lagi, dari sejak jam 10 sampe jam 3, kasihan bocah2. Nyamber kaos di booth merchandise aja akhirnya, kembaran lagi sama Ilham. Kayaknya begitu kita pulang bakalan rame, malam minggu soalnya..

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.13.45

Yang penting ngopi, dan kopi yang saya beli dari Paguyuban Pengedar Kafein dengan embel-embel Gayo Wine, emang enak banget. Rasa wine-nya mantap, eh

WhatsApp Image 2018-05-05 at 21.53.58

WhatsApp Image 2018-05-05 at 21.48.19

 

Respon-respon Terhadap Isu Dosen Asing

Media sosial menjadi sarana berkespresi yang menarik untuk melihat berbagai sudut pandang terhadap isu dosen asing yang mau digaji Kemeriting (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi). Saya sendiri juga cukup aktif di medsos, sebagai sarana berbagi dan tukar pikiran.

Terdapat berbagai sudut pandang mengenai rencana masuknya dosen asing tersebut. Saya ambil tiga ekspresi yang menurut saya menarik. Oh ya satu sudut pandang dari HA sudah saya tampilkan di tulisan sebelumnya.

Ekspresi menarik datang dari Dr. Wahyu Prasteyawan, sahabat baik, Dosen UIN Syahid Jakarta yang dalam setahun, selama 3 bulan mengajar di GRIPS, Tokyo. Ia menulis

Screenshot 2018-04-24 08.51.02

Belakangan beliau Japri rencana bukunya yang segera terbit di NUS

Screenshot 2018-04-24 09.06.38

Nah itu Mas Wahyu, bisa ikut jawab pertanyaan beliau?

Apakah dosen lokal dengan kualifikasi setara dosen asing berhak atas gaji yang sama dengan dosen asing?

Nah pendapat Prof Arief Anshory Yusuf juga menarik,

Screenshot 2018-04-24 11.20.04

Yang lebih senior, Prof Khairurijal, role model saya di dunia ghoib akademik salah satu Ilmuwan Produktif Indonesia, Ketua LPPM ITB dan Awardee Habibie Award juga menyampaikan ekspresi yang hmm, provokatif 🙂

Screenshot 2018-04-24 09.08.52

Menarik ya..

Dan ekspresi tersebut tak berlebihan, karena prestasi akademik Prof. Khairurrijal memang wow banget. Beliau juga banyak membidani lahirnya berbagai upaya meningkatkan publikasi di banyak kampus, termasuk kampus tempat saya mengajar. Berikut profil Sinta Prof Khairurrijal…

Screenshot 2018-04-24 09.10.44

Ah saya gak tega membandingkan dengan screenshot profil Sinta Bos pengambil kebijakan pendidikan tinggi yang sedang ramai beredar karena tidak memiliki publikasi terindeks scopus padahal keras sekali menyuruh dosen publikasi terindeks scopus.

Ada komentar?

Atau masih nyuruh mingkem karena dianggap gagal paham?

 

Masih Soal Dosen Asing

Banyak yang tidak mengerti, seakan-akan akan dimasukannya dosen asing dengan gaji sekitar Rp.65 juta/bulan hanya sekedar persoalan keirian dosen pribumi terhadap mereka.

Padahal naiknya isu ini adalah gunung es dari persoalan manajemen SDM pendidikan tinggi kita yang betul-betul buruk.

Dengan isu ini, sebetulnya, semua sepakat bahwa gaji tinggi (baca: pantas) adalah prasyarat mutlak bagi dihasilkannya produktivitas ilmiah yang pantas. Sederhananya, dosen cukup ngurusi ngajar dan riset tanpa mencari penghasilan tambahan di luar sana. Sibuk jadi anggota komisi ini dan itu, bisa menolak tampil di TV untuk jadi komentator segala hal, atau gak mesti jadi calo tanah.

Kalau memang Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) memang menganggap gaji dosen kita sudah pantas, berikan saja gaji yang sama untuk dosen asing. Jika menganggap itu tak pantas dikaitkan dengan target yang hendak dicapai, berarti memang selama ini gaji dosen Indonesia tak pantas.

Gak mungkin kalau dosen asing protes soal gaji trus dibilang bahwa pintu rezeki itu banyak, silahkan ngobyek, harus ikhlas dan mari bersyukur kan?

Inilah ketidak adilan, mental inlander dan diskriminasi yang ada di bawah sadar para pengambil kebijakan pendidikan tinggi kita.

Alih-alih menaikkan tunjangan fungsional dosen yang sebelas tahun gak naik (Baca Perpres 65 tahun 2007), kebijakan terakhir terhadap dosen pribumi adalah mengancam menghentikan tunjangan sertifikasi dosen bagi lektor kepala (Baca Permenristekdikti 20 2017) terkait publikasi. Jadi mental inlandernya kentara sekali, menginjak bangsa sendiri dan memuja asing setinggi-tingginya.

Manajemen SDM pendidikan tinggi kita jadi terlihat betul-butul buruk, menggaji dosen pribumi terlalu rendah tapi mengharapkan mereka berproduksi seperti dosen asing yang (akan) dibayar tinggi.

Ada juga tanggapan di beberapa orang yang pernah mengajar di negara asing, bahwa angka segitu sudah pantas, tidak berlebihan. Misalnya orang ini:

Screenshot 2018-04-23 08.17.05

Lha kalau logika Kemeriting diaminin, maka jika gaji HA sebagai dosen asing sebesar 50-60 juta maka gaji dosen pribumi Jepangnya cuma seperlimanya atau  5-10 juta? Nggak kan Bro?

Itulah, butuh berpikir dan bukan hawa nafsu sebelum membuat posting atau berkomentar, jadinya ngawur.

Dosen asing yang masuk ya mestinya ikut sistem di mana dia bekerja. HA digaji segitu ya karena segitulah standard gaji dosen di level dia di Jepang. Kalaupun lebih tinggi karena kualifikasi, reputasi dan portofolio yang lebih baik, bukan karena soal asing dan pribumi.

Lantas bagaimana?

Tentu saja saya ndak menolak dosen asing. Tapi mereka musti terintegrasi dengan sistem yang ada. Bukan diistimewakan dengan kebijakan double standard seperti sekarang. Kalau situasinya masih seperti sekarang ya berikan gaji seperti kepada dosen Indonesia. Kalau sakit ya disuruh berobat pake BPJS 🙂

Saya yakin banyak anak-anak muda Indonesia yang punya potensi besar jadi promising top scientist di masa depan. Tapi mereka mungkin merinding dan melipir duluan melihat dunia pendidikan tinggi kita yang ajaib. Jadilah memilih kerja di perusahaan swasta, ngajar di kampus luar, dan tempat-tempat lain yang memperlakukan secara pantas.

Jadi tantangannya ya  dengan membuat profesi dosen menjadi atraktif, dan digaji pantas. Kalau ndak ya mereka-mereka yang terbaik (Katakanlah alumni lpdp yang lulus dari kampus-kampus terbaik di dunia dan dibiayai negara selama kuliah) pasti akan memilih bekerja di sektor yang memperlakukan mereka dengan lebih pantas.

Begitu, btw gak usah bikin tagar-tagaran kan?

 

 

 

Dosen Asing vs Dosen Pribumi

Screenshot 2018-04-20 22.35.30

Membaca berita bahwa dosen asing mau digaji 5000 US dolar (sekitar 65 juta rupiah)  (https://www.jpnn.com/news/datangkan-200-dosen-asing-gaji-hingga-rp-65-juta) oleh Kemeriting, dan itu pastinya pakek duit mbahmu rakyat , maka setelah geleng-geleng kepala, ada beberapa hal yang mau saya sampaikan, sebagai dosen pribumi (baca: WNI) yang merasa (lagi-lagi) terdiskriminasi.

  1. Di dunia akademik mancanegara, sepemahaman saya yang terjadi adalah kesetaraan (CMIIW). Tak ada beda yang njomplang antara dosen asing dengan dosen pribumi. Kamsudnya, kalau dosen asing asal Indonesia jadi Associate Professor di Jepang, maka rate-nya akan mengikuti  standar take home pay Associate Professor di Jepang. Kalaupun dibayar agak istimewa, itu karena keahlian dan reputasi, bukan soal asing atau pribumi. Sampai sini paham?
  2. Ketika Kemeriting membuat ancer-ancer gaji hingga 65 juta rupiah untuk dosen asing, maka sesungguhnya Kemeriting paham bahwa pendapatan dosen pribumi di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan standar internasional. Karena kalau kemeriting tidak paham, maka dosen asing akan digaji sama seperti dosen universitas negeri (sebagai standar) di Indonesia. Yang kalau mau lebih sejahtera silahkan mengajukan jabatan fungsional yang besaran tunjangannya kecil banget dan gak naek-naek dari tahun 2007. Kalau masih kekecilan suruh dosen asing itu ikut ngantri sertifikasi dosen, termasuk ikut test bahasa inggrisnya. Lho kok test bahasa lagi? ya musti ikut, lha wong dosen pribumi alumni UK, USA atau Aussie juga mesti kok. Ini demi kesetaraan dan keadilan. Lha kalau dosen asing sudah dapet serdos masih merasa pendapatannya kecil, maka dipersilahkan saja ngobyek dan bersyukur. Lho nanti ngajar dan risetnya gak optimal? berarti bapak-bapak di kemeriting mulai paham toh problem kenapa pendidikan tinggi Indonesia gak maju?
  3. Kalau menganggap point nomor (2) berlebihan dan berpikir “wah dosen asing nggak bakalan mau”, dan tetep ngotot bahwa secara wajar mereka musti digaji sekitar 65 juta untuk menghasilkan riset dan publikasi berkualitas, saya punya solusi lebih menyenangkan. Jadikan gaji 65 juta sebagai standar gaji dosen yang wajar di Indonesia. Katakanlah dosen Asisten ahli (Instructor)THP-nya mulai 30 juta, dosen lektor (Assistant Professor) 40 juta, Lektor kepala (Associate Professor) 50 juta dan dosen Professor 65 juta. Asyik kan?
  4. Kalau usul nomor (3) dianggap aneh, ya berarti kemeriting yang aneh, berada dalam sesat pikir, berpikir a la  inlander, rendah diri dan selalu menganggap yang serba asing itu hebat dan tinggi.
  5. Hmm, trus piye? Saya kasih saran gratis. (1) Naikkan dulu standar pendapatan dosen Indonesia, katakanlah minimal dua kali lipat take home pay guru SD Negeri di Jakarta (https://megapolitan.kompas.com/read/2018/01/11/17331311/gaji-guru-pns-di-dki-maksimal-rp-14-juta-sebulan),  (2) Rekrut anak-anak bangsa sendiri menjadi dosen tetap, doktor-doktor alumni kampus-kampus terbaik dunia, katakanlah lulusan beasiswa LPDP yang kuliahnya dibiayai dari uang negara juga. (3) Proses rekrutmen tentu saja diperbaiki dengan mengedepankan portofolio akademik untuk mencari ilmuwan, bukan semacam tes yang sama untuk mencari pegawai Pemda.
  6. Tiga hal di nomor (5) saja dijalankan, kita tidak butuh mengimpor dosen asing, perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia akan berkembang secara cepat dan alamiah, tidak instant.
  7. Semoga kali ini Bapak-bapak di Kemeriting paham, rasanya saya sudah menjelaskan dengan bahasa dan logika yang sederhana.

Catatan: Penggunaan kata pribumi hanya untuk menaikkan tensi biar menjadi isu publik lebih luas dan menjadi kontras untuk kata “asing”. Makna pribumi di sini adalah Warga Negara Indonesia.

-AH