Tips Ngopi Untuk Millennial

Sri Mulyani pernah mengkhawatirkan bahwa generasi millennial kebanyakan ngopi di kafe. Tentu bukan khawatir kalau-kalau paru-parunya jadi item, he he. Tapi pada konsumsi berlebih yang bisa menjebol kantong, bikin gak bisa nabung atau investasi.

screenshot 2019-01-20 17.15.36img_3089img_8035

Saya sebagai millennial sulung yang doyan ngopi sempat tercenung juga. Jangan-jangan kita kebanyakan ngopi dan gak bisa nabung atau investasi.

Hmm, walaupun dipikir-pikir mungkin juga karena gaji dosen juga gak gede, he he. Tapi tentu penting menghindari status biar tekor asal kesohor (di medsos).

Karena itulah tips ini saya buat, ehemmmm.

1.Ngopi itu harus hobby, bukan karena panjat sosial. Kalau gak suka ngopi jangan ngopi, mending ngelakuin hobby yang lain: nginang, masak, naik gunung, hidroponik atau yang lainnya.

2. Ngopi di rumah itu oke lho. Sebisa mungkin mempelajari kopi yang enak untuk dibuat sendiri. Banyak bertebaran di internet. Metode ngopi bisa ditubruk, pake v60, pake mesin kopi, french kiss press, dll. Nah biji kopi udah banyak yang jual, bahkan ada kopi rasa wine, cokelat, dsb. Saya biasa belanja di pasar modern BSD. Beli beragam biji dengan kuantitas sedikit. Dengan buat sendiri kita bisa berekspresi. Mesin buat giling kopi juga gak mahal lho.

screenshot 2019-01-20 17.47.39screenshot 2019-01-20 17.48.36

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.16whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.17

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.17 (1)

3. Kalau nongkrong, upayakan di kafe lokal. Eksplor banyak kafe di sekitar anda, cari yang enak dan terjangkau. Ada? Pasti ada. Kafe lokal juga belum tentu enak dan harganya masuk akal. Tapi saya gak pernah menyesal sih, saya selalu menganggap ketika ngafe dan dapet zonk, ini pelajaran. gak akan ke sana dan cari tempat lain. Selama ini sih lebih banyak yang enak daripada yang zonk. Karena saya ngafe buat kerja, maka ada tiga pilar penting: kopinya enak, tempatnya enak, dan wifinya kenceng.

img_1303

img_3600

img_9059

img_1191

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.20

4. Kalau kafe berjaringan internasional ya boleh-boleh saja sih. Hanya mesti rasional. Nongkrong di kafe mahal seperti kafe putri duyung gak bikin anda lebih keren kok. Saya nongkrong di kafe apapun biasanya berdasarkan rasionalitas. Pertama, kalau ada kebutuhan menulis segera ketika kepala sedang cerah saya akan ke kafe. kalau di sana ada kafe lokal ya tentu ke sana, kalau adanya kafe putri duyung mau bagaimana lagi. Begitu juga ketika berjanji ketemu dengan seseorang membicarakan hal penting. Kalau nongkie-nongkie lala-lala doang mah, nyaris gak pernah.

img_9556

 

5. Rasionalitas lain tentu memanfaatkan diskon. Nasib membuat saya memiliki beberapa kartu kredit. Ndilalah itu berguna buat ngopi di tempat mihil. Kartu BCA krisflyer bisa saya pake ngopi gratis (Sebenernya Rp. 1,-) di kafe putri duyung Bandara dengan menunjukkan boarding pass. Nah kartu Mega selain saya pakai belanja di transmart carrefour karena diskon 10% saya pakai untuk ngopi, khususnya menjamu teman di Kafe Biji Kopi dan daun teh yang satu grup sama mereka. Lumayan, untuk harga tertentu diskonnya 50%.

9aba4377-fb63-48ee-b615-48e0dee03605

6. Upayakan ketika di kafe kita menghasilkan sesuatu yang nilainya lebih dari harga kopinya. Buat saya kafe adalah ruang kerja yang saya sewa seharga kopi. Murah kan? Dari duduk di kafe ada paper yang beres, ide yang dituliskan, kerjasama tertentu, dan sebagainya. Produktif secara santai, termasuk tulisan di blog ini.

Begitu deh tipsnya. Ada yang mau menambahkan?

Catatan: tulisan ini tidak disponsori cafe manapun. Tapi kalau ada yang mau mengundang untuk direview, mangga saja. pembaca blog ini sekitar 700-1000 perhari.

Iklan

Kenapa Saya Belum Pensiun dari Facebook

Kenapa saya belum pensiun dari Facebook? Kamsudnya sebagai pengguna facebook?

Sebagian besar millennial dan generasi yang lebih muda mulai beralih ke media sosial yang lebih segar. Sebagian bermain kata-kata di twitter, sebagian bermain gambar di instagram.

Saya pun punya akun di keduanya.

Namun bagi saya facebook ini seperti rumah rakyat kebanyakan. Facebook tempat saya mengecek arus, ombak dan angin bertiup. Terkadang saya menceburkan diri ke berbagai komunitas aneh-aneh untuk sekedar testing the water tadi. Kadang sanggup bertahan lama sebagai silent rider. Kadang gak kuat juga lalu keluar.

Di facebook juga saya suka membaca orang. Ada yang jago segalanya. Segala isu dikomentari, hebat pokoknya.

Ada yang narsia banget. Kapanpun-dimanapun diposting.

Ada yang hobinya menebar jempol dan dijempoli. Bahkan menjempoli statusnya sendiri dan membalas setiap jempol dengan mengatakan: thanks jempolnya.

Facebook juga mengajarkan bahwa kebijaksanaan (wisdom) dan kecendekiaan tidak tergantung usia dan pendidikan. Ada tua-tua keladi penebar hoax, walaupun ada yang muda. Yang kacau ha itu, sudah tua, pendidikan tinggi pula tapi hobby berkomentar nyinyir sambil membagi berita-berita dari sumber tidak jelas.

Anda dan saya masuk kategori yang mana?

Ngopi sesudah Ngajar

Saya menutup hari ini di emmetropia. Ia adalah kedai kopi yang menyajikan kopi enak di bilangan gading serpong. Maunya sih langsung pulang. Tapi kalau sampe rumah biasanya paling enak naro laptop, mulai beberes, maen sama kucing atau menggoreng pisang. Bisa gak kelar tulisan yang musti dibikin.

Oh ya sore ini saya memilih manual brew Flores Honey. Enak pisan.

whatsapp image 2019-01-14 at 15.15.12

Pagi tadi sampai siang saya ngajar di Sentul, School of Government and Public Policy (SGPP).  SGPP ini sudah lama saya dengar, namun baru sekali ini ke sini.  Lokasinya berada di bukit, satu kawasan dengan BNPT, BNPB, Indonesia Peace and Security Center, dan juga UNHAN.

Saya diminta jadi dosen tamu oleh Kang Doktor Erry, menyajikan salah satu kasus kebijakan publik. Nah karena bosen dengan isu politik, saya bawa tema: Research and Academic Career in Indonesian Higher Education. Tema ini saya kembangkan dari materi serupa yang saya sampaikan dalam konferensi soal Higher Education di Hiroshima tahun lalu. Kebeneran sedang menulis juga satu kolom untuk buku yang akan diterbitkan JETRO.

screenshot 2019-01-14 15.35.19

Jadilah cuap-cuap dalam bahasa Inggris selama hampir 2.5 jam: jam 9 – 11.30. Lumayan juga, biasanya konferensi hanya presentasi maksimal 15 menit. Untunglah suasana kelas sangat aktif. Para mahasiswa merespon dengan berbagai pertanyaan dan opini yang amat konstruktif. Oh ya, SGPP ini kampus untuk level master. Jadi para mahasiswa memang sebagian besar memiliki latarbelakang pekerjaan yang beragam: ada dosen, pegawai swasta, aktivis NGO, pegawai pemerintah, dsb. Yang juga menarik semua perkuliahan diberikan dalam Bahasa Inggris. Oh ya, semua mahasiswa di sini kuliahnya dengan beasiswa lho.

whatsapp image 2019-01-14 at 15.15.20

Jadi selama  2.5 jam kita membincang berbagai persoalan pendidikan tinggi secara terbuka. Saya senang sekali, bisa membawa masalah dunia pendidikan tinggi ke fora akademik semacam ini. Maklum, sebelumnya lebih banyak saya tulis dalam blog ini.

Oh ya, ngomong-ngomong di Program Studi Ilmu Pemerintahan Untirta, semester depan juga akan ada mata kuliah pilihan Citizenship yang akan disampaikan dalam Bahasa Inggris. Pengajarnya team teaching, dosen-dosen millennial Prodi IP 😉

Dilema Dosen Millennial Memberi Nilai

Tahukah anda saat-saat tersulit seorang Dosen?

Ya, ketika Ia harus memberi nilai kepada mahasiswa-mahasiswi-nya. Maklum dosen masa kini (baca: millennial) tentu harus memberi nilai dengan cara sebaik-baiknya. Bukan jamannya jadi dosen diktator: jual diktat terus beli motor, trus ngasih nilai bagus untuk yang beli diktat.

Nah, kesulitan menilai ini terbentang dalam dua aspek sekaligus. Pertama, kesulitan teknis dan Kedua, kesulitan substansial plus perasaan.

Kesulitan pertama tentu saja menyangkut membaca dan memberikan nilai bagi sekian puluh sampai sekian ratus mahasiswa/i dengan beragam kualitas tulisan tangan, mulai dari yang bagus banget sampai yang aduhai. Butuh kemampuan tersendiri membaca dan memahami, plus tentu saja memberikan nilai yang diupayakan seobyektif mungkin. Bagi dosen serius ini makan waktu berhari-hari, apalagi jika ditambah tugas yang juga harus dibaca. Pokoknya teler

Kesulitan kedua terkait dengan substansi nilainya itu sendiri. Jika soalnya pilihan ganda tentu saja lebih mudah. Tinggal bikin kunci jawaban dan diperiksa dengan mudah, bahkan oleh siapapun. Teknik jadulnya adalah buat lembar jawaban yang dibolongin pake obat nyamuk, he he. Trus dilihat di lobangnya jawaban yang betul, diitung, beres dah.

Lah tapi mosok soal Pengantar Ilmu Politik atau Metode Penelitian Sosial pilihan ganda? Saya bisa diomelin Ibu Miriam Budiardjo. Jadi tentu saja soal essay. Dan meriksanya tentu saja penuh subyektivitas, walaupun tentu saja dibuat seobyektif mungkin. Dan ada saja dinamika yang mungkin terjadi. Mulai dari contek-mencontek, tulisan gak kebaca, salah menilai, dan sebagainya.

Yang menghibur, kadang-kadang mahasiswa juga suka-suka memanggil dosennya, mulai dari yang sok akrab sampai yang mengganti nama saya, Hamid jadi Hamit, untung gak amit-amit

13575636_10154406973579015_509502139_o13570341_10154406973754015_342669792_o13569845_10154406973594015_370113997_o13549145_10154406973714015_1476789773_o

Yang susah adalah contek mencontek. Jika ada beberapa jawaban yang plek-uplek sama, saya pasti kasih diskon cukup besar. Masalahnya terkadang kita gak tau, siapa mencontek siapa. Dan apakah contek mencontek dilakukan atas dasar suka sama suka atau terpaksa. Gimana coba memberi nilainya? Sementara ini sih saya memberi diskon yang sama besarnya untuk lembar jawaban yang sama .

Nah, karena dosen juga manusia, dan sebagai #dosenngopi banyak juga mahasiswa datang memberi sesajen kopi saya menegaskan bahwa pemberian nilai tidak terkait hal-hal tersebut. Ya kadang sih terbersit, tapi saya coba tepis. Nilai ya nilai, kopi ya kopi he he.

Nah bagaimana jika salah memberikan nilai? Saya menganggap bahwa prinsip utamanya adalah mahasiswa tidak boleh dirugikan. Jadi kalau ada kebingungan, ya harus disesuaikan tanpa merugikan mereka.

Walaupun yang saya tidak sukai adalah soal tekanan sesudah memberikan nilai.

Entah kenapa setelah era smartphone ini, segera sesudah album nilai dirilis, akan ada banyak WA masuk menanyakan nilai, bahkan meminta tugas. Jawabannya: sepanjang tidak ada kesalahan input nilai, ya nilai harus diterima apa adanya. Seperti cinta 🙂

Begitu kira-kira

 

 

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 10 Desember 2018)

 

Pada tanggal 10 Desember Kemenristekdikti mengeluarkan akreditasi jurnal edisi 3. Padahal baru Oktober lalu Kemristekdikti merilis Jurnal Elektronik Terakreditasi edisi II 2018. Nah silahkan cek ratusan jurnal masuk ke dalam kategori terakreditasi dan juga jurnal-jurnal yang sebelumnya terakreditasi LIPI. Hal ini sekaligus mengakhiri kerancuan atau dualisme akreditasi Dikti dan LIPI

Mangga disimak

Baca lebih lanjut

Pedoman PAK Terbaru 2018

Baru-baru ini, Kemeristekdikti merilis pedoman PAK terbaru. Terdapat beberapa hal yang baru. Misalnya bagi calon Guru besar ada syarat tambahan pernah membimbing atau menguji calon doktor, atau pernah mendapatkan penelitian simlitabmas atau penelitian internal sebesar Rp. 100juta. Duh ada-ada saja ya, kapan saia jadi guru besar
Screenshot 2018-12-04 06.53.31
Selengkapnya bisa didownload di sini:

https://abahamid.files.wordpress.com/2018/12/topik-2-pedoman-operasional-pak_2015-2018_4-hal-plus-alasan-tolak.pdf

Bekerja Sebagai Tim

Saya beruntung memimpin sebuah program studi yang sebagian besar dosennya adalah anak-anak muda. Mereka pintar-pintar dan hebat-hebat sehingga tidak sulit membayangkan Prodi IP Untirta bisa bersaing di tingkat nasional atau mulai unjuk gigi di dunia intenasional di tahun-tahun depan.

img_2461

Yang sekarang saya sedang lakukan adalah membangun tim secara terus-terusan. Organisasi tak boleh memunculkan Superman-superman atau superwoman-superwoman. Yang harus muncul adalah Superteam yang terbentuk dari sinergi potensi orang-orang hebat di dalamnya. Pemimpin bekerja sebagai konduktor agar tercipta irama yang merdu, dari berbagai alat musik yang dimainkan. Justru kalau semuanya pegang terompet atau piano suaranya pasti monoton dan gak keruan bukan?

Tahun ini alhamdulillah sebagian besar dosen mendapatkan dana penelitian yang  harus terpublikasi. Targetnya, semua pemenang dana penelitian di Prodi memiliki scopus-id di akhir tahun atau awal tahun ini.

Salah satu program baru yang hendak kami mulai di semester besok adalah melaksanakan perkuliahan berbahasa Inggris. Ini harus dimulai untuk membangun kultur global. Membiasakan yang memang harusnya sudah biasa.

Ada usul mata kuliahnya?

 

Mudik Ke Jepang

September ini bulan yang amat sibuk. Sebagai kaprodi, saya mengawal dua kegiatan yang penting: Dialog Publik dan Seminar Nasional. Keduanya merupakan kegiatan penting, upaya mengokohkan positioning Prodi Ilmu Pemerintahan Untirta di tingkat nasional.

Tapi sebagai ilmuwan, saya punya target pribadi: Setiap tahun bisa hadir dalam komunitas akademik di luar negeri, minimal setahun sekali. Tujuannya tentu untuk menjaga kewarasan.

Pada tahun 2016 saya jadi Visiting Researcher di Bangkok Office-nya CSEAS. Tahun 2017 saya jadi peserta short-course tentang citizenship di Belanda.

Nah tahun ini ada beberapa kesempatan. Pertama, Sensei menawarkan saya menjadi pembicara di sebuah seminar di Cambridge. Ini sebetulnya wow sekali. Namun mesti saya tolak karena terbentur persoalan dana dan tema yang tidak terlalu saya kuasai.

Kedua, paper saya lolos untuk disampaikan dalamThe 6th International Academic Identities Conference di Research Institute for Higher Education, Hiroshima University, 19-21 September 2018. Awalnya saya tidak akan berangkat. Alasannya sama dengan yang pertama, soal biaya.

Hanya ketika panitia mengirimkan daftar judul dan pemakalah, saya terkejut. Saya satu-satunya pemakalah dari Indonesia. Yang lain dari kampus-kampus beken dunia semacam Oxford, Cambridge, Imperial College, Sidney, de el el.

Jadilah akhirnya nekad harus berangkat.

Presentasi berjalan baik walaupun sebagian besar pembicara menyampaikan paparan tentang “ilmu pendidikan”, sementara saya fokus membahas kebijakan pendidikan tinggi, tentunya terkait riset.

Screenshot 2018-10-01 14.36.42

Semoga upaya kecil ini bermanfaat meletakkan Untirta di peta dunia pendidikan tinggi 🙂

Buat saya, itung-itung mudik ke Jepang, negara kedua tempat belajar banyak tak hanya di kampus tapi di masyarakat.

WhatsApp Image 2018-10-01 at 15.04.39 (1)WhatsApp Image 2018-10-01 at 15.04.39WhatsApp Image 2018-10-01 at 15.04.40

Meningkatkan Ranking Perguruan Tinggi Menuju Kelas Dunia (Atau Akhirat Saja?)

Kemarin Kemriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) merilis 100 PT terbaik non-vokasi. Ada yang naik, dan tidak sedikit yang turun.

Tulisan sederhana banget ini tentu tak bermaksud memberi resep cespleng menaikkan ranking perguruan tinggi. Hanya memberikan mindset bahwa ranking adalah hasil dari proses aktivitas harian yang dilakukan di PT. Jika berkesesuaian dengan mekanisme atau kriteria perankingan oleh Kemeriting, maka ranking naik, demikian sebaliknya.

Ranking yang dibuat Kemeriting ini sebetulnya berkesesuaian dengan peringkat-peringkat kampus kelas dunia yang belakangan ini ramai dikejar-kejar perguruan tinggi di Indonesia. Huff, padahal dunia hanya sementara ya, he he

Karena itulah mengejar ranking dunia termasuk ranking Kemeriting ini tentu saja membutuhkan prasyarat keduniaan juga. Kalau berbagai aktivitasnya lebih ke akhirat seperti menerima penghafal kitab suci, kegiatan mengaji, upacara dan lain-lain, saya pikir lebih baik kita fokus membuat dan mengejar peringkat kampus kelas akhirat saja.

Nah, balik ke pemeringkatan Kemristekdikti. Apa saja sih aspek dan bobot setiap indikator dalam klasterisasi Perguruan Tinggi 2018? Perhatikan gambar di bawah, perbandingan antara penghitungan tahun 2017 dan 2018 menurut Kemeriting. 

Screenshot 2018-08-25 06.01.20

Nah berikut sumber data-nya

Screenshot 2018-08-25 06.14.48

Secara lebih teknis di bawah ini ada perhitungannya:

Screenshot 2018-08-25 06.16.33Screenshot 2018-08-25 06.16.42Screenshot 2018-08-25 06.16.46Screenshot 2018-08-25 06.16.50Screenshot 2018-08-25 06.16.53Screenshot 2018-08-25 06.16.56Screenshot 2018-08-25 06.17.01

Tapi lagi-lagi, hal di atas musti diperhatikan jika memang kita mau mengejar peringkat Kemeriting untuk kelak jadi kampus Kelas dunia. Sementara, sekali lagi saya hanya mengingatkan pada diri sendiri dan jamaah sekalian, kalau dunia hanya sementara. Akhirat lebih utama.

Wallahu mu’affiq ila aqwami thoriq

Wassalamualaikum Wr. Wb

Ujung Tombak

Dulu saya pernah menulis tentang, Jadi kaprodi Ngapain Aja. Tulisan itu semacam refleksi atau bisa dibaca sebagai laporan akuntabilitas a la blogger, he he

Nah sekarang saya masih kaprodi, tapi beda lokasi. Semenjak Februari saya pulang kandang, jadi Kaprodi di S1 Ilmu Pemerintahan FISIP Untirta. Masih jadi ujung tombak, adanya di ujung trus ditombakin 😉

Situasinya agak berbeda juga sih.

Di S2, saya nyaris tidak punya pasukan. Hanya ada Sekprodi dan Staf Administratsi. Akibatnya lumayan jungkir balik, Kaprodi merangkap Chief Editor Jurnal, webmaster, dan lain-lain. Alhamdulillah, JIPAGS berkembang baik, web juga, serta berbagai kegiatan, termasuk mendatangkan akademisi berskala internasional. Mutu akademik juga lumayan terjaga. Maklum, keinginan saya waktu itu sederhana: Mahasiswa terlayani dengan baik dan mutu akademik terjaga. Saya selalu percaya bahwa Pascasarjana harus jadi etalase akademik Universitas.

Nah karena sesuatu hal, saya balik kandang ke FISIP menjadi Kaprodi di Ilmu Pemerintahan.

Tantangannya, selain meraih akreditasi lebih baik, termasuk juga membangun tim yang kuat, maklum sebagian besar dosennya adalah generasi millenial, termasuk saya.

Kabar baiknya adalah saya punya pasukan. Maka saya fokus membangun dan menarik manfaat dari berbagai jejaring yang saya miliki. Alhamdulillah, program perdana adalah menghadirkan Kepala P2P LIPI, Mas Firman sebagai Dosen Tamu dalam Kuliah Umum. Selain itu, Prodi IP Untirta dan P2P LIPI juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama.

Jurnal juga mendapat perhatian khusus. Sebetulnya JoG sempat belajar dari JIPAGS, sebelum JIPAGS diserang negara api. JoG sebagai jurnal yang dikelola secara fokus dan serius berkembang pesat. Saya hanya membantu dan memfasilitasi, ada Bung Dian yang “megang”. Nah salah satu bentuk fasilitasi adalah meminta kesediaan teman-teman akademisi produktif di berbagai institusi riset/pendidikan tinggi untuk menjadi mitra bestari. Pengelola juga saya ceburkan ke jaringan pengelola jurnal pemerintahan/politik dan mengikuti berbagai kegiatan penguatan. Alhamdulillah, beberapa waktu lalu JoG terindeks DOAJ, punya DOI dan tahap berikutnya mengejar akreditasi.

Jaringan lain yang bekerja adalah dengan kawan-kawan pegiat anti korupsi. Prodi IP yang memiliki mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi bertemu ngopi-ngopi dengan teman2 ICW dan menyepakati untuk bekerjasama mengintegrasikan Akademi Anti Korupsi ICW yang memiliki program e learning dalam mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi. Dosen pengampunya Bung Gozali dan Mbak Shanty. Kerjasama juga akan diperluas dalam bentuk riset dan pengabdian pada masyarakat. Nantikan launchingnya 31 Agustus, kabarnya ada menteri dan ketua KPK yang bakal hadir.

Prodi IP juga punya kerjasama manis dengan Untirta TV, membangun program e learning. Content dikerjasamakan produksinya dengan UTV, sementara platform dikerjakan oleh Bung Anis.

Nah, Prodi IP juga akan menggelar seminar nasional di bulan September. Sudah cukup banyak peserta mengirim paper untuk dibentangkan. Alhamdulillah. Selain harus sukses, ini menjadi batu loncatan menuju Seminar Internasional di tahun depan.

Nah urusan dalam negeri juga tak kalah penting. Hal pertama dalah kurikulum yang alhamdulillah beres. Beres dalam arti beres disusun, disahkan, disosialisasikan dan diberlakukan. Kerja keras semua dosen IP berbuah baik, di bawah koordinasi Mbak Ika.

Nah hasil lain adalah lulusnya sebagian mahasiswa angkatan pertama. Kabarnya, lulusan terbaik Untirta tahun ini juga dari Prodi IP. Si lulusan terbaik juga sedang berusaha keras meraih beasiswa LPDP. Doakan ya.

Nah kabar baik lain ya banyak juga yang musti disyukuri. Ruangan jadi luas, ada dispensernya, ada tambahan dosen baru, dan lain-lain. Oh ya jika dulu di MAP musti jadi webmaster, sekarang Ada Bung Anis yang lebih mumpuni. Saya bantu-bantu upload saja.

Semoga segala hal baik yang diniatkan berjalan baik ya. Saya selalu percaya kalau keberhasilan organisasi ketika yang bekerja adalah Superteam, bukan Superman, apalagi WonderWoman.

Peringkat Untirta Menurut KemristekDikti (Revisi 17 Agustus 2018)

Tuisan ini merupakan catatan yang saya titipkan di blog ini. Musababnya saya ingin tahu peringkat Untirta, kampus tempat saya mengajar secara pasti.

Peringkat ini versi Kemristekdikti dulu saja ya, ingin tahu fluktuasinya dan sesuai yang ada di laman http://pemeringkatan.ristekdikti.go.id/index.php/. Ditambah sumber-sumber lain yang kredibel.

Berikut  pemeringkatan tahun 2015, 2016, 2017, ditambah tahun 2018 yang masih anget dari kompor.

  1. Tahun 2015

Tahun 2015 belum ada mekanisme searching (pemeringkatan) dengan menggunakan kolom search. Jadi berbasis dokumen pemeringkatan yang dikeluarkan Kementerian. Dokumennya bisa diklik di sini.

Untirta berada di peringkat 194.

Screenshot 2018-03-15 14.32.56

2. Tahun 2016

Tahun 2016 Untirta sudah menggunakan halaman khusus pencarian peringkat. Jika diklik dan dimasukkan Kode Untirta 0001042 maka didapatkan peringkatnya naik ke 74.

Screenshot 2018-03-15 14.06.45

3. Tahun 2017

Sama mekanismenya dengan tahun 2016. Hasilnya tahun 2017 turun ke peringkat 83

Screenshot 2018-03-15 14.06.57

4. Tahun 2018

Pemeringkatan tahun 2018 didapatkan dari rilis Kemristekdikti. Untirta berada di peringkat 88 untuk Perguruan Tinggi Non Vokasi. Wah nampaknya persaingan semakin ketat.

Screenshot 2018-08-17 17.12.45Screenshot 2018-08-17 17.12.54

Dengan demikian Untirta berada di Klaster 2. Untuk klasterisasi bisa disimakfin160818_Laporan Klasterisasi PT Indonesia 2018.