Catatan Soal (nasib) Dosen di Malaysia dan Indonesia

Tak disangka tak dinyana, dalam konferensi internasional sebumi di UKM, aku bertemu kawan lama sesama bekas aktivis mahasiswa di UI. Nangkula dulu wakil ketua BEM UI dan aku Ketua Senat FISIP UI. Kini ia mengajar di Program Studi Arsitektur di UKM. Ia sempat mengajar di UI sebagai dosen BHMN, namun memilih untuk berkarir di Malaysia, sempat mengajar di berbagai perguruan tinggi sebelum akhirnya memilih di UKM. Perbincangan hangat dengan TKI intelektual kita ini menimbulkan berbagai perenungan yang cukup dalam yang tanpa sadar membandingkan bagaimana kehidupan dosen di Indonesia dan Malaysia.

Tulisan ini tak bermaksud mengeluh. Namun memberi informasi yang serba terbatas dari perbincangan dengan kawan lama, yang semoga saja menginspirasi siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini agar lebih serius mengurusi kehidupan kaum intelektual. Tulisan semacam ini (soal kesejahteraan peneliti indonesia) setidaknya pernah dua kali dimuat di Kompas dengan penulis Ikrar Nusa Bakti dan Asvi Varman Adman.
Oh ya, sebelum lanjut membaca ditegaskan, biaya hidup di malaysia dan Indonesia tidak jauh berbeda, nasi campur ikan disini sekitar sepuluh ribu rupiah.
Perbandingan
Gaji seorang dosen paling junior (Master) di UKM sebesar sekitar lima belas juta rupiah dengan biaya hidup tak berbeda jauh dengan Jakarta. Dosen senior (bergelar doktor tapi belum profesor) tentu saja lebih besar, sekitar dua puluh juta rupiah. Itu baru gaji pokok, belum pendapatan dari grant-grant penelitian. Hmm sebagai contoh lain, sila dibuka link berikut, daftar gaji di UTM Malaysia : http://www.utm.my/academic/requirements/http://www.utm.my/academic/requirements/
Sementara, menurut Nangkula, seorang dosen di UKM mendapatkan grant penelitian tiga sampai empat setiap tahunnya. Paling sedikit 45 juta rupiah dan sekitar 150 juta rupiah setiap grant. Grant itu digunakan untuk proses penelitian dan mengikuti konferensi di berbagai belahan dunia tanpa takut kehabisan dana. Maka, Nangkula dengan semangat menceritakan bahwa dalam setahun ini saja ia bisa berseminar di berbagai negara di Asia Timur, Eropa atau sesekali di Indonesia.
Selain itu dana grant tersebut juga dipakai untuk membeli buku-buku terbaru yang dipakai untuk penelitian tersebut. Seorang dosen dalam melakukan penelitian dibantu oleh Graduate Research Assistant (GRA). GRA mendapatkan gaji dari dana grant tersebut. Seorang GRA bergelar bachelor akan mendapat sekitar tiga sampai lima juta rupiah. Sedangkan GRA bergelar master akan mendapatkan lima sampai enam juta rupiah.
Nah, banyak mahasiswa Ph.D inilah yang menjadi GRA, membayar biaya kuliah dan membiayai hidupnya dari sumber ini. Abdul Aziz, Dosen Metalurgi Untirta sekarang menjadi GRA dan mahasiswa Ph.D di program studi metalurgi di UKM.
Namun seorang dosen juga dinilai berdasarkan Key Performance Indicator (KPI), berapa kali menulis jurnal, berapa kali membentangkan paper dalam seminar internasional, atau berapa mahasiswa yang dibimbing. KPI ini yang menjadi dasar dalam kenaikan gaji setiap tahun dan juga kenaikan karir (misal dari Dosen Senior menjadi Professor Madya).
Bukan bermaksud mengeluh atau membandingkan. Dosen dan peneliti di Indonesia harus betul-betul membanting tulang untuk sekedar hidup. Berlebihan? Rasanya tidak. Seorang dosen junior bergelar master hanya memiliki pendapatan sekitar dua juta rupiah. Dosen senior bergelar Doktor hanya bisa membawa pulang uang sekitar tiga juta rupiah setiap bulannya. Jika sudah disertifikasi mungkin bisa mendapatkan empat sampai lima juta rupiah. Proses sertifikasi berlangsung amat sangat lambat dan berdasarkan Daftar Urutan Kepangkatan (DUK) alias urut kacang. Keamanan finansial rasanya baru bisa didapatkan jika sudah mendapatkan jabatan fungsional Professor, yaitu sekitar 13 juta rupiah. Itupun pembayarannya dilaporkan berlangsung tersendat-sendat.
Jangan heran istilah dosen mengasong atau mengamen masih menjadi hal yang lazim di Indonesia, di kampus manapun. Amat biasa seorang dosen mengajar di dua, tiga atau empat universitas untuk sekedar bertahan hidup.
Dana-dana penelitian memang mulai digulirkan oleh Dirjen Dikti. Namun banyak persoalan teknis yang masih menghantui terutama dalam penyelenggaraannya di berbagai perguruan tinggi. Di kampus tertentu ada Pemotongan dana penelitian oleh oknum tertentu secara semena-mena dan tidak senonoh dilaporkan terjadi. Jumlahnya juga masih jauh untuk bisa bersaing dengan kolega-kolega di Malaysia.
Kelebihan lain adalah adalah berlimpahnya infrastruktur, terutama referensi baik buku maupun jurnal serta dana-dana penelitian. Tak ada hambatan menemukan buku dan jurnal terbaru di perpustakaan. Selain itu pihak kampus melanggan jurnal terbaru via internet sehingga literature lama dan baru bisa diakses dengan mudah.
Maka jangan heran jika kemudian terjadi fenomena brain dain. Orang-orang terbaik Indonesia sebagai warga dunia memilih tempat yang bisa memberikan kehidupan lebih baik dan mengembangkan diri lebih baik, dimanapun itu. Apakah kawan semacam itu lantas kita bilang tidak nasionalis?
Jika kondisi semacam ini terus terjadi, nampaknya bisa diramalkan (mama luren mode:on), Indonesia memang akan semakin tertinggal.
Bagaimana menurut anda?

About these ads

63 thoughts on “Catatan Soal (nasib) Dosen di Malaysia dan Indonesia

  1. Rahmi SR

    absolutely agree Pak.
    saya awalnya kaget ternyata gaji dosen di Indonesia besar juga ya (saya membandingkan dengan gaji guru *in case ayah saya adalah guru*) tapi ketika mengetahui dosen di Malaysia lebih “sejahtera” saya lebih kaget. haha
    okey Pak, Indonesia bukan cuma butuh satu orang baik ya? (mengutip perkataan Bapak di kelas) tapi butuh banyak untuk “merubah” Indonesia.
    semoga akan ada banyak orang-orang baik yang lahir (termasuk saya) hehe ;D. amiin

    Reply
    1. www.abdul-hamid.com Post author

      gaji dosen di indonesia besar? he he. gaji dosen ui lebih kecil dari guru SD di jakarta yang mendapat TKD. saya bilang, titik aman finansial seorang dosen adalah ketika ia mampu mengejar jabatan fungsional profesor. itupun pembayarannya tersendat.

      Reply
    2. Gembok

      Besar gimana, 14 tahun mengabdi jadi dosen gaji 2 juta kalah dengan guru SD, Tentara berpangkat prada(Gol Ia), apalagi departemen lain.

      Reply
  2. wongnyasar

    kalo soal gaji, emang sih itu negara kerajaan malaysia bisa menang dan tarikin orang2 indon jadi dosen di situ. tapi pigimana soal kebebasan akademik? apa seorang dosen bisa nulis kolom, artikel, buku yang isinya ulasan kritis peraturan ini-itu, sistem sosial-politik, en juga pemerintahan itu kerajaan? ini pula yang jadi dasar bagi banyak tki-intelektual untuk hanya ngetem di kerajaan itu, ato paling2 menjadiken 4-5 taon di situ sbg “pengalaman” yang notabene untuk bikin panjang cv – dan hampir ndak ada yang punya niat untuk menetap. para penghuni menara gading di malaysia itu jarang kali bikin perubahan bagi masyarakat – sampe2 udeh impoten, dan tugas utama dalam mendidik masyarakat malah diambil oleh para pembuat pilem. ini bukan suara keraguan atas mutu penelitian di malaysia, melainkan cuman preferensi logis: daripada buang2 waktu baca buku terbitan malaysia, mending nonton pilem bikinan amir muhammad, yasmine ahmad (alm.), dll.

    Reply
    1. www.abdul-hamid.com Post author

      Saya percaya kebebasan akademik amat penting, tapi saya juga percaya bahwa gaji yang baik juga tak kalah penting. Daripada berwacana soal nasionalisme, brain drain, dsb, pemerintah harusnya mulai serius memikirkan kesejahteraan dosen (dan juga peneliti).
      Sebagai perbandingan, gaji gayus PNS 3A sudah 12 juta rupiah, gaji professor yang merupakan puncak karir seorang dosen hanya 13 juta rupiah. So, cita-cita puncak karir dosen di Indonesia (baca: Professor) = pns golongan 3A di depkeu. kumaha bos?

      Reply
      1. wongnyasar

        loh, dirjen pajak kan bagian dari depkeu, yang di jaman sri mulyani ada perombakan besar2an en pemberian paket gaji spesial (alias, sengaja digedhe-in). alasannya: biar birokrasi menjadi lebih efisien, en ngak korup lagi. kalo sekarang sih, ya laen ceritanye! jadi, gaji gayus yang gedhe itu emang khusus untuk ambtenar2 depkeu aja.
        soal gaji dosen, ya ini dimana2 loh dosen emang cuman terima seemprit dibanding CEO, dubes, dll. pasalnya, kepuasan dosen adalah mengajar en melakukan penelitian, bukan komersil. oki, gaji yang seemprit itu dikompensasi dgn adanya dana2 penelitian. parahnya di negeri indon tercintrong, status dosen dijadiken macem2 untuk nyambi politik, bisnis, dll.
        gaji dosen di negeri serumpun kerajaan itu emang cukup luar-biasa, pasalnya ingin tarikin orang2 asing – ini trik yang dicontek dari singapura-pura itu.

  3. Dr. Erman Anom

    sdr ku A. Hamid kena sabar dengan dosen di Indonesia… saya di tawar jd dosen di UKM tak saya ambil…. saya mau ngajar di Indonesia… oh ya… di UKM udah ditumbuhkan Pusat kajian Indonesia-malaysia… yang kita lemparkan ide waktu sesi forum di sebumi tempo hari, nah teman-teman dosen di Indonesia bisa joint kajian dengan teman-teman dosen di UKM. saya sekarang lagi mau menggarap penelitian itu “Pola Komunikasi dalam menyelesaikan masalah TKI” peneliti Dr. Mus chairil Samani (UKM), Dr. Erman Anom (Univ. Esa Unggul, Dr. Indrawadi Tamin (Univ. Esa Unggul).

    Dr. Erman Anom

    Reply
    1. hardi Andani

      saya yakin, walau di luar negeri gaji dosen berkali-kali lipat, masih banyak dosen yang bededikasi tinggi untuk mencerdaskan bangsanya sendiri walau untuk kehidupan sehari-harinya masih tertatih-tatih…..

      Reply
  4. Arimogi

    Wow, I don’t know what to say, but this article very inspiring, I hope our ‘you-know-who’ will have new resolution for our lovely country,
    my greet for one Indonesia…

    kind regards,
    AM.2011

    Reply
  5. deceng

    yang paling berkesan bagi saya bukan urusan gaji saja, mau melamar jadi dosen pun dibuat rumit, pelik dan kadang malah dihina (itu terjadi di PTN dan PTS kita); yah mungkin saatnya belajar ke negara jiran itu :)

    Reply
    1. fernano ferdinand

      aDuh ………………
      negara indonesia ku.
      padahal indonesia ini negara terbesar,,,,,, diasia…
      dan merupakn paru- paru dunia,,
      sekarang tergantung sistem pemerintah qta,
      harus dganti dan dirubah ,,

      Reply
  6. Gembok

    Hidup dimanapun sama, yg penting pengabdian kepada Tuhan dan berguna bagi sesama manusia. Kalo jadi Dosen di Indonesia hanya dibuat merana dg gaji yg kecil sehingga terkadang jadi tukang ojek(beneran) hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak yg biayanya selangit, sehingga tidak bisa menjalankan kewajibanya sebagai dosen dengan benar malah menjadi sumber masalah. Mengapa tidak pindah ke negeri yg lebih baik dalam memperlakukan kita sehingga bisa menyumbangkan karya terbaiknya. Soal Nasionalisme, nasionalisme adalah membela “bumi dipijak langit dijunjung”(renungkan) dimana kita berada disitu harus kita bela. Orang Cina yg sudah menjadi warga Indonesia seharusnya punya rasa nasionalisme terhadap Indonesia, demikian juga orang Indonesia yg sudah menjadi warga Malaysia seharusnya punya rasa Naionalisme terhadap Malaysia.

    Reply
  7. Armansyah

    Indonesia akan terus tertinggal kalau pemerintahannya dihuni oleh orang-orang yang seperti sekarang ini. Memang secara khusus/pribadi mereka tidak memiliki keahlian, tidak jujur dan juga korupsi. Tetapi sebab utama dosen atau peneliti ataupun orang-orang jenius lainnya tidak akan bisa mendapatkan ksejahateraan yang layak karena mereka tidak didukung oleh Pemerintah Indonesia, soalnya yang duduk di pemerintahan sekarang ini ataupun yang dulu-dulu, bisanya cuma sirik (baca: iri hati) pada kelompok intelektual dan nggak bisa menerima kenyataan mereka (kaum intelelktual) itu lebih cerdas dari orang-orang pemerintahan Indonesia selain itu juga tidak mensupport dana bagi suatu Research atau penelitian karena tidak ada keyakinan dan karena faktor iri hati itu juga, jadi wajar jika Indonesia tidak bisa menjadi negara yang maju, dan kaum intelektualnya lebih memilih tinggal dan bekerja di negara asing dan mendapatkan kesejahteraan selayaknya dan membuat negara itu menjadi semakin maju….*Maaf jika bahasanya terkesan serius*………………

    Reply
  8. tomo

    bukan rahasia lagi jika dosen-dosen di malaysia lebih sejahtera dibandingkan di Indonesia. kalau masalah kebebasan akademis, sama aja di Indonesia dengan di Malaysia. pengalaman teman ibu saya yg juga seorang dosen di malaysia gajinya bersihnya 50 juta per bulan belum termasuk tunjangan atau grant ini-itu. teman ibu saya ini jadi dosen di Indoneia dan malaysia.

    Reply
  9. tomo

    saya pikir orang di Indonesia gak perlu mengingkari kenyataan hanya karena alasan nasionalisme membela bangsa menolak kenyataan bahwa dosen di malaysia jauh lebih makmur dibandingkan di Indonesia

    Reply
  10. tomo

    jika anda memang orang Indonesia yg fanatik dengan nasionalisme, saya sarankan jangan bicara nasionalisme omong kosong. nasionalisme cuma di atas kertas. nasionalisme dalam wacana saja. pakai bukti dari segi pembangunan juga. nasionalisme tanpa pembangunan dan kemajuan DI MASYARAKAT hanya NASIONALISME OMONG KOSONG. yg saya cemaskan justru nasionalisme menjadi faktor utama kemunduran bangsa ( contohnya : nasionalisme hanya menjadi alat menekan orang, nasionalisme membuat rakyat indonesia semakin terisolasi dari kemajuan global).

    Reply
    1. tomo

      saya bahkan punya rencana mengambil lowongan kerja dosen di malaysia lagi. dengan pendapatan finansial dan kemakmuran yg lebih akan menyediakan kebebasan akademis lebih tinggi. gak perlu lagi jadi dosen rangkap-rangkap kayak di Indonesia.

      Reply
      1. fernano ferdinand

        jangan pernah coba menjual namamU di ziran tuh,
        karena negara sangat membutuhkan pengajaran yang lebih efisien, dan efektif,.
        walaupun negara qta ini tidak begitu banyak menjanjikan pendapatan atau gaji.
        kita harus tetap semangat , mendidik atau mengajar kan yang terbaik pada negara indonesia, karena negara kita ini krisis pendidikan dan pengangguran begitu banyak , bahkan ada lagi . dia bersekolah sampai s2, tidak ada pekerjaaan, dan di pengangguran..
        jedi harusklah kita syukurin……..

  11. Keluarga Harestya

    Ehm…memang, sangat memprihatinkan negeri kita tercinta ini…
    Saya bercita2 menjadi dosen peneliti di Malaysia selama beberapa tahun dan mempelajari ekonomi islam di sana (yg sudah lebih maju dibanding Indonesia)..utk kemudian kembali ke negeri Indonesia tercinta dan membangun peradaban ekonomi Islam yg nyata.

    agak muluk, tapi semoga Alloh memudahkan. Amin

    Reply
  12. Dimas

    Kenapa ya orang Indonesia yang pintar & ditawari ngajar di Malaysia mesti DICACI-MAKI.
    Kenapa bukan maki-maki koruptor yang ngembat APBN, yang dipakai beli apartemen mewah di Singapura. Kenapa bukan maki-maki anaknya koruptor yang pada turun ke jalan pamer mobil impor ex showroom.

    Saya sendiri calon doktor, tapi saya baru tahu dari rekan saya sesama dosen (di Jakarta) bahwa pendapatan doktor di Indonesia segitu kecilnya.

    Setelah belajar, menuntut ilmu lama-lama dan mahal-mahal, sebagai muslim, di mana saya mau mengamalkan semua yang saya pelajari? Ngajar itu pekerjaan halal. Saya di Jerman, di Australia, di Rusia mendapat penghormatan yang pantas. Omongan kita didengar, pendapat ilmiah kita disegani. Di tanah air, dari presiden sampai lurah nggak ada yang peduli. Lu mau doktor kek, santri Gontor kek…urus diri masing-masing…BBM naik kek, listrik mahal kek, EGP…

    Reply
  13. Fari Nasution

    Sdr. Dimas, tulisan anda memang sudah lama diposting tapi ada baiknya saya turut mencermati pula. Mungkin konteks -nya jauh berbeda lantaran tulisan ini membandingkan kesejahteraan dosen di Indonesia versus kesejahteraan dosen di Malaysia. Alangkah baiknya jika saya memberikan gambaran kesejahteraan dosen di Amerika Serikat, yang notabene adalah negara barometer pendidikan tinggi dan litbang.

    Alhamdulillah saya baru mendapatkan gelar doktor saya dibidang manajemen sistem informasi dari sebuah universitas negeri di Paman Sam sini. Menurut rekan sesama dosen, jika saya pulang dan mengabdi untuk akademia di Indonesia, maka saya akan menjadi pakar untuk bidang yang minoritas. Maksudnya justru sangat dibutuhkan lantaran di Indonesia kebanyakan adalah pakar IT atau pakar computer science. Akan tetapi saya justru menerima pinangan kontrak dari sebuah research university besar dinegeri Paman Sam ini dengan gaji yang bahkan jauh melebihi gaji dosen di Malaysia plus tunjangan kesehatan (kontrak ini untuk setahun saja). Saya pun mendapatkan biaya akomodasi US$1500 untuk konferensi dan seminar (ini hanya posisi kontrak setahun saja lho). Universitas tersebut menjanjikan akan menaikkan gaji saya dan memberikan tunjangan2x lainnya tahun depan jika saya ditawarkan posisi dosen reguler.

    Pembaca yang budiman, dosen di Amerika Serikat hidup dalam dunia -nya sendiri (alias ivory tower) dimana kebebasan berekspresi dan berakademik sangat dijamin oleh negara dan gaji -nya mendekati gaji CEO sebuah perusahaan kecil. Setiap lulusan doktor yang akan berkarir sebagai dosen reguler (atau dosen inti jika meminjam istilah di UI) menerima gaji kotor antara US$ 60000-US$ 110000 per tahun akademik/9 bulan (alias Rp. 60 juta – Rp. 110 juta per bulan). Gaji ini memang belum dipotong pajak penghasilan. Selain daripada itu, seorang dosen junior memperoleh tunjangan kesehatan komprehensif, termasuk untuk mata dan gigi, plus akomodasi travel yang tentu -nya jauh diatas US$ 1500 yang saya terima. Setiap summer, dosen mendapatkan research grant selama 3 bulan (saya kurang tau kisaran pastinya). Sebuah angka yang sangat fantastis! Tentu anda akan berargumen bahwa biaya hidup di Paman Sam sangat tinggi, tapi tentu kesejahteraan tersebut akan imbas jika anda menjadi dosen di New York City. Tapi bagaimana jika menjadi dosen di kota kecil seperti misalnya di kota Tupelo (state Mississippi)? Biaya hidup -nya tentu sangat jauh lebih kecil daripada biaya hidup di New York City akan tetapi gaji dosen plus tunjangannya tetap sama. Dan angka yang saya berikan tersebut adalah angka bagi dosen junior seperti saya (gaji saya belum segitu tentunya karena posisi saya ini kontrak setahun).

    Dosen junior di Amerika Serikat biasanya berada dalam masa probation selama 5 tahun. Sistem ini disebut dengan nama sistem tenure-track. Selama 5 tahun ini, sang dosen diwajibkan menjalankan tugas penelitian dan publikasi ke journal papan atas, tugas mengajar dan mendapatkan evaluasi mengajar yang memuaskan dari mahasiswa, dan tugas pelayanan akademik (tridharma perguruan tinggi). Jika sang dosen bekerja di research university macam Harvard University, Purdue University, UCLA, atau MIT, maka beban penelitian -nya sangat berat dibandingkan tugas lainnya (research:teaching:service = 6:3:1). Tapi jika sang dosen bekerja di teaching university (biasanya universitas kecil macam California State University at Fresno), maka beban mengajar lebih ditekankan (research:teaching:service = 3:6:1). Gaji dosen junior di teaching university pun lebih kecil, dengan gaji awal antara US$ 60000-US$ 75000 per 9 bulan (berarti Rp. 60 juta – Rp. 75 juta per bulan). Dimasa-masa ini, sang dosen disebut sebagai Assistant Professor. Jika sang dosen lolos masa probation tersebut maka pangkat beliau naik menjadi Associate Professor, dengan gaji dan tunjangan yang tentunya lebih baik. Gaji seorang Associate Professor berkisar antara US$ 130000- US$155000 per 9 bulan (alias Rp. 130 juta-Rp. 150 juta per bulan). Jika sang dosen mendapat gelar Associate Professor, maka beliau disebut sudah tenured dan memiliki kebebasan akademik penuh dan job security yang pasti. Tidak ada satu alasan apapun yang bisa membuat dosen tersebut dipecat dari university tempat beliau berkarir kecuali beliau berlaku asusila. Jika akhirnya sang dosen dianggap pantas menjadi seorang Professor, maka gaji -nya menjadi US$ 170000-US$ 210000 (alias Rp. 170 juta-Rp. 210 juta). WOW!!! Gaji yang mendekati gaji seorang CEO diperusahaan skala kecil! Sistem pangkat tenure-track dan renumerasi + tunjangan a la negeri Paman Sam ini banyak dicontoh dan diadopsi oleh negara2x Asia Timur yang sudah maju macam Singapura dan Hong Kong. Konon gaji dosen di National University of Singapore dan di University of Hong Kong juga tidak kalah bombastis dan bahkan kesejahteraannya cenderung lebih baik. Dosen di Hong Kong dibelikan apartment oleh university tempat beliau berkarir. Silahkan anda intip di http://www.glassdoor.com dan masukan nama perguruan tinggi asing yang anda minati. Terakhir saya lihat gaji Assistant Professor (alias dosen junior) di National University of Singapore menurut glassdoor.com adalah antara SG $82000-SG $108000 per 9 bulan, alias Rp. 69 juta-Rp. 91 juta per bulan.

    Nah pembaca yang budiman, karir dosen itu lebih dari sekedar pengabdian. Karir dosen adalah sebuah profesi. Dosen juga seorang manusia yang memiliki keluarga dan harus memikirkan makanan, pendidikan, dan kesejahteraan anak-anak -nya. saya mengutip pernyataan Tomo, jika nasionalisme hanyalah omong kosong yang malah bisa dijadikan alat untuk menekan orang. Kita sudah lihat apa yang terjadi dengan, ambil contoh, mantan menteri keuangan kita yang juga seorang doktor, tapi diperalat secara politik. Kiprahnya besar di negeri Paman Sam ini, beliau konon adalah pucuk kepemimpinan kedua di institusi finansial kelas dunia tersebut. Saya pribadi memandang diri saya sebagai “a citizen of the world,” alias dibelahan bumi manapun yang saya pijak adalah ciptaan Tuhan. Adalah tugas dan kewajiban saya sebagai khalifah untuk mengabdi kepada Tuhan dimanapun saya berada tanpa dibatasi oleh sebuah kebangsaan.

    Mohon maaf atas pernyataan dan tulisan saya, tapi ini hanyalah sekedar opini (selain dari fakta kesejahteraan dosen dinegeri Paman Sam tentu -nya).

    Reply
    1. roy

      membandingkan dosen di indonesia dengan di malaysia adalah sesuatu yang sangat TEPAT DAN WAJAR.

      kerana kedua negara adalah RUMPUN MELAYU dan negara ISLAM. menggunakan BAHASA YANG SAMA.. tapi yang satu memberikan kesahteraan kepada dosennya (malaysia), dan yang satu lagi ( indonesia) membiarkan dosennya MATI DAN TANAM SENDIRI..

      Reply
      1. wong nyasar

        Rumpun melayu? orang ambon, papua, sunda, apa kagak marah dibilang “melayu”? apa djangan2 mereka mesti djadi “melayu” utk bisa dapet KTP? Omong2, apa jang dimaksud dgn “melayu” selain identitas politik belaka?
        Negara islam? ini NKRi – negara kesatuan republik indonesia. NKRi harga mati. Ada tertulis di mana NKRi itu negara islam?
        Kalok mao sedjahtera, ja silahken migrasi adja ke KL. Ngak usah mati sia2 di NKRi.

      2. agus suoriadi

        serumpun melayu…atau malayunesia…buka diartikan sebagai suku melayu tapi ras melayunesia..indonesia bahkan hampir semua asia tenggara ras nya sama..wajar lah para dosen atau bahkan pekerja kasar mencari kehidupan yg lebih layak..manusiawi..walau sampai ke negeri seberang….

  14. Dosen "teraniaya"

    Saya barusan lulus S3 dari salah satu kampus besar Jepang dengan beasiswa yang bukan berasal dari APBN. Sebelum berangkat S3, saya dosen honorer di salah satu PTN, selesai S3 saya diminta kembali. Dengan itikad baik saya kembali untuk mengabdi di Indonesia. Yang sungguh membuat saya kecewa adalah jurusan dimana tempat saya bekerja sebagai dosen honorer tidak mau mengajukan formasi S3/IIIC, mereka hanya membuka formasi S2/IIIB. Yang artinya kalau saya masuk formasi IIIB/S2 saya harus menunggu 3-4 tahun untuk ke IIIC/Lektor. Dan pada saat pengajuan Lektor nanti saya bisa memasukkan ijasah S3 namun kum atau pointnya di “nol” kan karena ijasah S3 tertanggal sebelum SK Pengangkatan. Dengan kata lain ijasah S3 saya tidak ada harganya. Saya kembali ke Indonesia setelah lulus S3 sudah berkorban dengan “menolak” tawaran Professor saya untuk postdoc yang secara jelas penerimaan bulanan 40 jutaan. Saya tidak mempersoalkan point/kum 50 dari ijasah S3, yang saya persoalkan adalah saya telah membuang waktu sia-sia selama S3. Teman seangkatan honorer saya yang menjadi PNS pada saat saya S3 sekarang sudah mengajukan lektor tanpa harus susah payah S3, lha masak dengan ijasah S3 saya harus mulai IIIB / Asisten ahli. Terus terang saya dalam proses pindah bekerja keluar negeri dan ini bukan berarti saya tidak cinta Indonesia……tapi kondisi yang memaksa saya memilih bekerja diluar negeri

    Reply
    1. www.abdul-hamid.com Post author

      Mas BWinarta yang baik, boleh sumbang saran gak? lebih baik bertahan saja di Indonesia, dan kejar guru besar secepat mungkin. Saya yakin dalam tempo kurang dari 10 tahun sampeyan sudah bisa jadi Guru besar. Existing condition memang menyedihkan, namun trend-nya penghargaan terhadap dosen berkualitas akan semakin baik dan dunia perdosenan di Indonesia semakin kompetitif lho. Sudah baca draft permendikbud tentang jabatan fungsional dosen? disana misalnya dituliskan bahwa kalau untuk jadi lektor mesti punya tulisan di jurnal terakreditasi, untuk naik ke lektor kepala mesti punya tulisan di jurnal internasional. Saya yakin tak banyak yang bisa melalui-nya, dan diantara sedikit yang bisa melaluinya ya Mas BWinarta itu. Apalagi golongan IIID sudah bisa mengajukan ke Guru besar lho. Kalau patah arang, ada baiknya searching profil dosen-dosen yang mendapatkan fungsional guru besar di usia muda seperti mas Eko Prasodjo yang sekarang jadi Wakil MenPan. Salam. btw saya sedang di jepang, baru mulai D1

      Reply
    2. agus suoriadi

      dosen teraniaya…saya sangat paham..perasaan anda..anda hanyalah menjalankan tanggungjawab buat keluarga anda..keputusan anda sangat tepat..dan begitulah bobroknya birokrasi kita..

      Reply
  15. Adi

    Cengeng semua ah anda-anda….Mengecewakan !

    Punya gelar doktor tapi tidak kreatif hanya bisa berpangku tangan menunggu fasilitas pemerintah. Dosen dan akademisi itu dimana-mana memang gajinya kecil, di luar negeri juga tidak mudah anda menjadi tenured professor, paling banter juga dikasih meja kecil di pojokan jadi postdoc atau temporary research assistant etc… jgn bangga deh. jadi bahan ledekan anak2 bachelor dan master, That poor little old PhD in the corner… alias postdoc…

    Makanya kreatif ! saya dari dulu sebelum PhD juga sudah tahu kerja di academia gajinya kecil, makanya ilmu yang saya pelajari ketika PhD itu saya terapkan saja dengan menjadi konsultan dan manager di bidang saya. Seharusnya PhD itu memiliki power otak dua kali lipat orang biasa, saya lulus PhD pulang ke Indonesia, tidak hanya terlena dalam akademia tapi dalam waktu singkat mempelajari finance, ekonomi, manajemen, hukum,business process, Supply Chain management,, proses manufaktur dan langsung bisa menguasai konsepnya jauh lebih baik daripada praktisi yang berpuluh-puluh tahun disitu sehingga saya langsung jadi senior manager di perusahaan besar dan juga konsultan. Income berpuluh kali lipat dosen. Saya dosen hanya part time saja, bagi-bagi ilmu dan pengalaman saja, tidak mengharapkan gaji.

    Sekali lagi, bagi para PhD, your brain power is your strength !!!

    Use that, dan stop complaining. Jangan pernah bergantung sama orang lain, apalagi pemerintah !!

    Reply
    1. www.abdul-hamid.com Post author

      Dear mas Adi yang keren, selamat ya sudah jadi Ph.D dan manager senior di perusahaan besar. Nah, jika andaikan semua Ph.D yang baru lulus dan berstatus dosen tetap di PTN/PTS di Indonesia mengambil langkah seperti Mas Adi lakukan kira-kira bagaimana nasib kampus, mahasiswa atau lebih besar lagi, pendidikan tinggi di Indonesia? Bubar-jalan kan? Semuanya memilih jadi konsultan dan ngajar sekedar jadi hobby, he he. Banyak juga kawan saya yang cukup kreatif seperti Mas Adi, misalnya menjadi dosen terbang di Malaysia sambil sesekali mengajar di kampus asalnya. Motivasi-nya ya uang, tapi mahasiswa bimbingan nasibnya bagaimana? penelitiannya kapan? Saya sendiri melihat jika memang dunia pendidikan tinggi di Indonesia mau kuat, perbaikan fasilitas (lab, library, dll) serta peningkatan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan adalah hal yang tidak bisa ditawar. Biar orang-orang kayak Mas Adi mau jadi dosen tetap lho. Saya pikir cuma di Indonesia (baca: jakarta) gaji dosen biasa di UI lebih kecil daripada guru SD di jakarta. Bukan mengecilkan guru SD, tapi bukannya jadi dosen musti doktor dan baca jurnal terus? salam.

      Reply
    2. agus suoriadi

      ada benernya pak adi..tapi maksud mereka agar bekerja jadi dosen penuh.dan mengabdi buat pengembangan ilmu..secara fokus..gak kesana kemari pelajari ini itu yg gak bidangnya buat menambah income..

      Reply
  16. Darmawan Soegandar

    Dulu saya pernah berpikir hal yang sama pak Abdul hamid (http://darmawansoegandar.blogspot.com/2011/02/inilah-negeriku-indonesia.html) seiiring berjalannya waktu, saya mulai banyak ragu. Bagaimana sebenarnya saya harus menilai para “TKI intelektual” yang bapak istilahkan. Mungkin kita memang tidak bisa menapik bahwa kuliah, mengejar ilmu itu memang investasi. Dan sebagai investor yang baik kita memang menginginkan return yang layak. Jadi tampaknya keputusannya terpulang pada posisi dan kepentingannya sendiri, terutama kepentingan dan posisinya di keluarga yang harus dipertanggungjawabkannya. Saya sendiri walaupun sedikit belajar di pascasarjana, pekerjaan saya adalah sebagai staf TU di sebuah madrasah di atas pegunungan patuha bandung. Jadi jelas secara strata sosial lebih rendah dari dosen kan?
    Jadi tampaknya saya harus mulai belajar memahami dan memaklumi posisi, pak abdul hamid, pak tomo dan belakangan pak adi. Jadi selamat berkarir saudara-saudara, semoga apa yang saudara harapkan tercapai. amin

    Reply
    1. www.abdul-hamid.com Post author

      Kita memang tak bisa menggeneralisir semua kasus Pak, mesti dilihat satu persatu. Ada yang memilih hengkang karena memang mencari kehidupan ekonomi lebih baik, ada pula yang merasa ilmunya lebih berkembang karena keterbatasan sarana (seperti: lab). Itu pilihan masing-masing dan pertanggungjawabannya juga masing-masing. Kecuali memang ada kewajiban yang mesti ditunaikan seperti ikatan dinas karena beasiswa dari pemerintah RI, ya harus menunaikan kewajibannya itu dulu. Yang jelas fenomena brain drain memang terus terjadi. yang menarik adalah ditengah tak adanya inisiatif dari pemerintah RI menarik putra-puteri terbaik bangsa yang ada di dalam negeri, ada entitas swasta melakukannya, seperti Surya University. Mereka memberi ruang dan juga nampaknya kesejahteraan memadai bagi potensi-potensi terbaik bangsa yang selama ini berkarir di center of exelence di luar negeri. Di saat yang sama misalnya kita justru menyaksikan bagaimana Dahlan Iskan memperlakukan Danet, pembuat mobil listrik secara kurang elok. Inilah paradox negeri kita Pak…

      Reply
  17. Prasko

    Klo saya mah bahagia jd dosen..anak2 pada pinter n sukses ikut seneng..biarpun gaji kecil ya seneng aja…ukuran sukses adalah menjadi orang baik dan jujur bukanlah harta yang melimpah…Nabi tidak meninggalkan harta tapi yang ditinggalkan adalah ilmu…klo memang didunia ini hidup kita pas2an mungkin nanti di surga kita berlebih…he..he…salam kenal pak hamid..sukses selalu.

    Reply
  18. akma

    UUD
    ujung ujungnya duit

    seshngguhnya Allah akan meninggikanderajat orang yg berilmu drpd yg lain

    wajar kl ingin sejahtera

    pd akhirnya tgl 2×1 kan

    dunia miskin, Allah yg akan mengkayakan

    Reply
  19. Tukang ngajar

    Istri gue dosen FK UGM punya temen profesor senior dari Kelantan Malaysia. Sang prof terkaget-kaget ketika tanya gaji istri saya yg ga jauh dari UMR Jakarta. Jadi dosen di Indo cuma diplekoto bayangkan mana ada pejabat yang tugasnya cuci alat, bersih-bersih lab, ngitung duit, ngetik, ngurus pembelian, kuitansi, perjalanan, bikin SPJ, bla-bla….sampe presentasi, nulis buku-jurnal, penelitian, bikin paten, produk sampe jualan produk. Gaji tunjangan yang ga seberapa banyak habis untuk nomboki penelitian, beli laptop, beli buku, printer, kertas, internet, bayar asisten, seminar, publikasi. Usulan naik pangkat 2 tahun lebih ga beres bolak-balik Dikti-UGM. Jangan salahkan klo banyak orang pintar cari ladang di negeri orang.

    Reply
  20. Damailah Duniaku

    Memang miris nasib para dosen… Padahal biaya hidup di Indonesia saat ini bahkan jauh lebih mahal ketimbang di Malaysia…! Tahun 2005, ketika saya di Malaysia, saya masih ingat, untuk makan di kedai nasi hanya butuh uang 3 RM (sekitar 9000 rupiah, itu sudah sistem ngambil sendiri), sdangkan di jakarta untuk makan serupa itu paling tidak butuh uang 12 ribu….

    Reply
  21. Nursalam

    Saya pribadi sebenarnya tidak penting berapa besar gaji yg sy dapatkan sebagai dosen, karena sudah memilih profesi tsb. Kalau memang 2 juta yah begitulah, asalkan sesuai dengan aturan yang berlaku. Apakah cukup untuk biaya keluarga dan kebutuhan lainnya? pastinya tidak. Namun sy sadar diri karena belum serdos, belum doktor, fungsional masih asisten ahli, tentunya tidak sama dengan rekan lain yg sdh serdos, sdh doktor, fungsional lektor/lektor kepala. Dengan proses dan waktu yg berjalan pastinya akan juga spt mereka. Itulah namanya “ADIL”, adil tdk berarti jumlah yg didapat sama kan? Yang jadi masalah ketika ada “KETIDAK-ADILAN” atau diskriminasi, ketika PNS atau dosen di institusi negara lainnya tetap mendapatkan tunjangan kinerja sementara dosen Kemdikbud tidak mendapatkannya. Di sisi lain, dosen juga tetap mengisi laporan kinerjanya sebagai PNS serta administrasi lainnya.

    Reply
  22. Fuad

    Saya sangat bercita-cita jd dosen, tapi sampai skrg masih belum kesampaian, perjuangan saya untuk mencapainya, berangkat malam2 ke luar kota bersepedah untuk mencari beasiswa, daftar dosen, terxta masih belum dikabulkan, walaupun skrg msh ditakdirkan untuk berkarir dulu di perusahaan, sya tidak akn berhenti mengejarnya, seharusnya kalian semua mensyukurinya…. banyak orang yg menginginkannya.

    Reply
    1. Brillian

      Lebih baik jangan jadi dosen mas fuad, tuh pada mengeluh. Cari pekerjaan lain yang halal, gaji tinggi. Dosen miskin, gk bs nyicil rumah, gk bs biayai anak2 kuliah.

      Reply
  23. kang galuh

    persetan dengan nerei ini yang boborok..diisi oleh otak otak kotor dan bodoh yang menjabat ..sumber daya manusia unggulan pasti memilih kesejateraan hidup..lama-lama jadi warga negara bukan indonesia..negeri ini yang katanya kaya..tapi pejabat-pejabat, anggota dewannya sebagai pengambil keputusan dapat ilmu dan gelarnya banyak yang palsu dan instan..makanya hancur berantakan negeri ini.

    Reply
  24. Mr X

    Miris bacanya tapi memang begini lah kenyataan yg terjadi di Indonesia, begitu banyak sumber daya tapi tidak mampu mengelolanya sendiri karena para pakar akademisi dan orang2 pintar lebih memilih rumput tetangga yang lebih hijau.. awal dari maju nya sebuah negara adalah seberapa banyak kah pengajar berkualitas yang dimiliki nya, saya masih ingat ketika ITB, UI dan UGM begitu melegenda di Asia pada tahun 90an.. tetapi sekarang.. NTU singapore, Institute tekhnologi maleysia sudah melangkahi perguruan tinggi di Indo bahkan Chulalongkorn thailand pun sudah diatas ITB (*menurut 4ICU, Webometrics).. saya pun pernah ditawari untuk berkarir di thailand dan menetap disana..

    Reply
  25. minang

    Kalau di Indonesia biasanya gaji kecil, tapi kemudian ada tunjangan dan honor lain-lain, jadi take home pay nya bisa beberapa kali lipat dari gaji pokok. Kalau di luar negeri (paling tidak di Amerika) berdasarkan pengalaman pribadi, gaji ya gaji aja. Tidak ada honor untuk menghadiri rapat atau honor untuk ikut di komite ini atau itu. Tidak ada juga tunjangan isteri atau anak. Lalu di Amerika terkena potongan pajak federal, pajak state (provinsi) dan medicare, yang totalnya tergantung tingkat gaji kita. Makin besar gaji, makin besar pula potongannya sampai dengan 35% dari Adjusted Gross Income (Pendapatan yang sudah di kurangi hal2 yang bisa dihitung sebagai tax deductible semacam sumbangan sosial, beberapa pengeluaran menyangkut pendidikan dan kesehatan, pengeluaran bunga hypothek dll). Selain itu, di Indonesia biasanya pengajar bisa bekerja di beberapa universitas. Kalau di US, biasanya mereka hanya bekerja di satu universitas saja dan banyak universitas menerapkan aturan yang ketat untuk dosen nya kalau mau mengajar sampingan di tempat lain (lewat online misalnya). Selain itu gaji dosen di US juga tidak sama di satu universitas. Biasanya dosen di fakultas business gaji rata-ratanya paling tinggi. Sementara dosen di fakultas sastra atau ilmu sosial seperti sejarah gaji nya jauh lebih kecil (bisa cuma setengahnya). Gaji dosen di US ini juga tergantung pasaran gaji yang ada saat ini. Bisa jadi, seorang dosen yang baru di-hire tahun ini, gaji nya lebih besar dari seorang dosen yang sudah bekerja lebih lama, karena pasaran gaji dosen sekarang untuk jurusan tertentu sangat tinggi. Misalnya seorang dosen baru jurusan Accounting saat ini di Amerika bisa ditawarkan gaji antara $110.000 s/d $130.000 pertahun, karena demandnya banyak, tapi supply nya kurang. Sementara kolleganya di Dept Accounting yang sudah bekerja 10-12 tahun mungkin saat ini hanya bergaji $90.000 – $100.000 karena waktu mereka di hire, pasaran gajinya tidak terlalu tinggi. Jadi memang kadang-kadang hidup ini tidak adil, tapi yang penting kita mensyukuri saja apa yang telah kita dapati, karena masih banyak orang yang hidupnya lebih susah dari kita :).

    Reply
  26. Maha Santri

    Teringat saat mengajukan dana penelitiaan ke pemerintah, mudah sekali pejabat kita mengatakan “SYUKUR-SYUKUR DIKASIH”, walau sebenarnya yang dikasihkan itu sudah “disembelih”. Bravo Petisi Dosen Tangkal Budaya Bobrok Birokrasi!!!

    Reply
  27. Elita Rahmi

    pada S-3 saya jatuh sakit, dan dilarikan ke rumah sakit umum. di opname 4 hr. Saya PNS telah bekerja dosen 18 tahun. dan dirawat dgn menggunakan askes. begitu hari keempat saya harus sudah membayar sekitar 3,5 juta . wau bagi mhs 3,5 juta sangat besar. sementara ngaji saya sudah abis dipotong Bank. bagi sy saleri dosen indonesia sangat memalukan. kita jangan mimpi bisa punya rumah atau beli mobil utk sekedar ke kantor tidak kena panas kalau tidak pinjam bank. mari kita galakkan membayar salery secara wajar manusiawi dan lakukan komperatif dengan gaji dosen di negara lain.
    Dosen indonesia sarat akan traaveling, bagaimana ilmunya mau nambah??? akibatnya aout put kitapun sangat rendah karena diajar oleh dosen “katak di bawah tempurung”. trim info salery dosen kita yang amat murah. solusinya harus kita suarakan lantang agar negeri ini mendengar

    Reply
  28. budiono

    kita semua berharap indonesia menjadi lebih baik, dari sendi manapun.banyak hal-hal lain yg bisa kita kritisi dan tindak lanjuti. mari kita mulai dari diri kita sendiri dengan ikhlas krn tuhan yang maha esa.

    selamat berjuang

    Reply
  29. Tasiwan

    tahun 2014 ini,,, gaji dosen sudah bisa untuk bisa beli laptop 3 sekaligus… itu kisah dosen pascaku di semarang….

    Reply
  30. Brillian

    Saudara2ku sesama dosen, saatnya anda hengkang dari pekerjaan kuli sbg dosen di tanah air. Mari hijrah ke negara yg bisa memberi kita pendapatan yg lebih tinggi. Mari kita keluar semua dari dosen.

    Reply
  31. Anon

    Wah, masih ada saja follow-up diskusi di postingan blog ini. Saya pernah menulis komen disini, tapi saya memilih menulis dengan identitas berbeda :-)
    Saya setuju agar jangan wacana nasionalisme dipakai untuk menekan kebebasan individu sebagai warga dunia dari kesempatannnya untuk mencapai potensi -nya secara maksimal. Disini saya menyiratkan bahwa ada dari dosen di Indonesia, terutama yang bergelar doktor, yang tidak bisa mencapai potensi -nya secara maksimal. Maksudnya?
    Sekarang kembali ke konsep pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi, atau university, adalah wadah tempat para intelek berkumpul untuk mengembangkan, berbagi dan menyalurkan ilmu pengetahuan. Konsensus global adalah sang intelek sebagai individu yang bergelar doktor -lah (atau setara s3 di Indonesia) yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugas2x tersebut. Konsensus global juga menuntut agar seorang individu yang bergelar doktor agar mempublikasikan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan -nya (atau karya ilmiah -nya) dengan sesama individu yang bergelar doktor dilembaga pendidikan tinggi atau lembaga penelitian lainnya tanpa memperdulikan batas wilayah (ini bersifat global). Konsensus -nya, sekali lagi, adalah jurnal ilmiah, atau minimal seminar atau konferensi akademik, menjadi wadah bagi individu2x tersebut untuk saling berbagi ilmu pengetahuan. Disaat dana (mulai dari dana penelitian, pengadaan peralatan pengembangan ilmu pengetahuan, bahkan dana kesejahteraan dan gaji) yang diperuntukkan bagi sang individu tersebut terkompromi, atau bahkan tidak memadai, maka tentu kualitas ilmu pengetahuan yang dikembangkan individu tersebut patut dipertanyakan.
    Kalau menilik problematika diparagraf atas, dampak dari kompromi tersebut adalah jarangnya hasil karya ilmiah dosen atau peneliti Indonesia yang muncul di jurnal akademik internasional yang memiliki impact factor yang tinggi. Apa itu impact factor? Impact factor adalah index rata2x sebuah karya ilmiah dijurnal tersebut yang dalam waktu 2 tahun sebelumnya dikutip oleh dosen atau peneliti lain. Jumlah dosen yang sukses mempublikasikan karya ilmiah -nya dijurnal akademik dengan impact factor yang sangat tinggi inilah sebagai salah satu indikator utama yang mendongkrak popularitas, atau ranking, sebuah lembaga pendidikan tinggi.
    Bagaimana kondisi di Indonesia? Di Indonesia, lantaran sang individu, seperti saya mengutip Pak Abdul Hamid, terpaksa “mengamen” demi menyambung hidup dan menyekolahkan anak2x -nya dikota besar, maka hampir bisa dipastikan sulit untuk bisa menghasilkan quality research yang patut dipublikasikan di high impact jurnal akademik. Sukur2x masih bisa publikasi dan menghadiri seminar/konferensi akademik, yang notabene didunia akademik publikasi diwadah ini kurang dipandang, atau kurang dianggap. Apalagi jika dosen tersebut, karena konon katanya kreatif dan street smart, akhirnya mengajar paruh waktu karena menjadi manajer didunia profesional. Dampak besarnya adalah, patutkah dunia pendidikan Indonesia disebut sebagai higher education, ataukah further education, alias SMA kelas 13, 14, 15, dan 16?? Sang dosen tidak berkontribusi secara maksimal dalam kapasitasnya sebagai individu intelek yang mengembangkan ilmu pengetahuan, tapi bisa2x -nya menyalurkan suatu ilmu pengetahuan kepada peserta didik?? Apalagi bisa2x -nya seorang individu dengan gelar setara s2, bahkan s1, yang jelas2x tidak dididik untuk memiliki kompetensi sebagai pengembang ilmu pengetahuan, diembankan tugas untuk menyalurkan ilmu pengetahuan?? Belum lagi mental bangsa ini yang menyukai produk impor dan meremahkan R&D, alias litbang. Benar2x terputus link antara dunia litbang dengan swasta yang seharusnya bisa menjadi sponsor utama litbang disaat pemerintah gagal menjadi sponsor.
    Akibatnya, sedikit sekali PT di Indonesia yang pantas disebut sebagai higher education, yakni tidak lain tidak bukan adalah ITB, UI dan UGM. Sisanya?? Saya masih geleng2x kepala menyaksikan marketing ploy sebuah PT swasta di Jakarta yang berani2x -nya menggunakan frase “world class university”, yang (mohon maaf) saya anggap tidak lain hanyalah further education. Tidak pantas disebut higher education.
    Bagaimana dengan Malaysia? Semangat ambisi negeri jiran ini untuk meraih cita2x “wawasan 2020″ mendorong pemimpin dan pengambil kebijakan negeri mereka untuk menggelontorkan dana dan program ambisius dalam litbang dan dunia pendidikan tinggi. Secara dana, fasilitas untuk pengembangan ilmu pengetahuan mereka, minimal peralatan lab (lagi2x hanya ITB, UI dan UGM yang bisa bersaing dalam hal ini), lebih memadai dibandingkan fasilitas serupa di Indonesia. Plus research funding dan grant yang sangat generous seperti Pak Abdul Hamid tulis di artikel utama. Kalau saya telaah output program litbang di PT Malaysia, mereka mewajibkan agar dosen2x mereka mempublikasikan karya ilmiah mereka di high impact jurnal akademik yang terindex di SCOPUS atau ISI. Silahkan lihat database jurnal2x akademik tersebut dan lihat impact factor -nya, maka anda akan mengerti maksud saya. Tetap saja sih, tidak semua PT di Malaysia yang sesukses seperti yang saya jabarkan diatas dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berkualitas. Tidak sedikit juga yang sebenarnya bersifat sebagai further education. Tapi yang benar2x true higher education jumlah -nya lebih banyak daripada PT di Indonesia.
    Lho, pemerintah Indonesia kan bahkan mewajibkan mahasiswa untuk mempublikasikan karya ilmiah -nya dijurnal2x akademik?? Kembali lagi ke persoalan dana yang berdampak kepada terhambatnya publikasi ke wadah tersebut. Kenyataannya, kebanyakan dosen kita hanya publikasi di seminar/konferensi akademik. Wong dosen -nya aja merana koq :-)
    Lalu bagaimana? Apakah benar profesi seorang dosen semata pengabdian saja? Bagaimana dengan keluarga dan anak2x -nya? Bagaimana bisa maju bangsa kita kalau kualitas karya ilmiah -nya saja dipertanyakan karena sang dosen terpaksa “kreatif” dalam menyambung hidup, entah “mengamen” atau menjadi manajer? ;-) Lalu, masih pantaskah kita memaksakan notion nasionalisme untuk menekan kolega2x kita yang sukses memaksimalkan kapasitas dan kompetensi -nya dinegeri orang padahal negeri tersebut menyediakan sarana dan prasarana -nya? Semoga ini bukan fenomena brain drain, melainkan diaspora semata yang dimana mereka akan kembali, walau setelah 2 atau 3 generasi ke depan, disaat pemimpin dan pengambil kebijakan negeri ini sadar akan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kemajuan bangsa.
    Think about, think twice…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s