Dilema Pagi

Apa hal terbaik yang bisa dilakukan setelah solat subuh?
Hmm, setiap malam sebelum tidur, saya selalu berniat untuk lari besok paginya. Apalagi saya mulai terpengaruh majalah-majalah kesehatan dan bertekad bulat untuk hidup lebih sehat.
Namun biasanya setelah solat subuh saya buka laptop dan mulai fesbukan bekerja. Entah mulai menulis paper, ngeblog atau merapikan file. Ditambah minum kopi dan makan cookies, beuh seperti Pangeran Keraton.
Inilah dilemanya, setiap malam berniat membakar kalori besoknya, namun yang dilakukan adalah menambah kalori dari gula di kopi dan cookies.
Hmm dilema yang tak mudah karena rasanya sudah bertahun-tahun ada banyak tulisan yang dihasilkan di pagi hari. Tapi mungkin saatnya perut sixpack juga dihasilkan di pagi hari.
Wew

Guru SD Berprestasi: Cecep Arief Rahman alias Assassin di The Raid2 Berandal

Ada banyak pemilihan sosok berprestasi, pun di kalangan pendidik.

Namun bagi saya, sosok berprestasi adalah mereka yang bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Cecep Arif Rahman, Guru SDN 3 Tegal Panjang, Sucina Raja, Garut mewakili definisi tersebut. Anda kenal Cecep?

Nah pertanyaan diubah, anda tahu film The Raid2 Berandal? Anda tahu Assassin, lawan paling tangguh Rama di film tersebut? Anda kenal orang di poster film di bawah ini?

Ya, sosok di sebelah kanan adalah Kang Cecep. Ia guru sekaligus pendekar pencak silat dari perguruan Panglipur, pemeran Assassin yang piawai memainkan Kerambit.

Tentulah ada kontroversi soal kekerasan dalam film tersebut. Namun bagi saya, kehadiran Kang Cecep menaikkan marwah pencak silat di mata dunia.

Ia tetaplah Kang Cecep, Guru SD yang sebelum diangkat menjadi PNS mengabdi sebagai Guru Bantu selama 5 tahun. Sosok yang mengajar selama 3-4 hari di kelas dan kemudian mengurusi perpustakaan dan administrasi di dua hari yang lain.

Bagi kita, untuk menjadi sosok berprestasi tentu saja bukan dengan main film atau latihan pencak silat, tapi dengan fokus di bidang kita sedalam-dalamnya. Ya, anda yang mengajar komputer bisa mendalami ilmu komputer, mengambil berbagai sertifikasi dan mengikuti berbagai pelatihan. Anda yang guru agama bisa ikut kompetisi Da’i agar bisa melakukan Dakwah lebih luas. Anda yang Guru Tata Negara bisa mempelajari ilmu anda lebih dalam sehingga bisa menjadi panutan dan referensi bagi teman-teman dan masyarakat di tengah carut marutnya dunia politik kita.
Kang Cecep sendiri amat mencintai pekerjaannya sebagai Guru, apakah tertarik menjadi artis? Ia menjawab

“Nasib orang siapa yang tahu. Saya sangat mencintai pekerjaan saya sebagai guru dan saya hanya ingin bermain silat dan memperkenalkan silat sejauh mana saya bisa,”

Ya, Kang Cecep aktif memperkenalkan Silat ke berbagai negara, terutama Perancis. Hmm saya jadi ingat, di negara ini Silat berkembang cukup pesat. Sahabat saya Gabriel orang Perancis, adalah salah satu Pendekar Silat TTKDH, pembimbing studi doktoralnya, Prof. Jean Marc ternyata pendiri Merpati Putih di Perancis. Saya pernah menginap di rumahnya di Marseille. Oh ya, dulu Gabriel pernah memberikan saya satu rekaman gerakan silat Panglipur yang diperagakan Kang Cecep.
Kembali ke Kang Cecep, ini video beliau mengajar Pencak Silat ke murid-muridnya dari mancanegara,

Sumber: 
1. http://hot.detik.com/movie/read/2014/04/11/145907/2552375/229/mengenal-lebih-dekat-cecep-arief-rahman-pembunuh-di-the-raid-2-berandal
2. http://bandung.bisnis.com/read/20130320/34247/326203/aktor-baru-film-the-raid-2-jagoan-silat-dari-garut

Klarifikasi Tentang lama kuliah S2 Menjadi 4 Tahun

Belakangan ini dunia pendidikan tinggi dihebohkan oleh berbagai pemberitaan bahwa lama kuliah S2 dan S3 menjadi lebih lama dari sebelumnya. Hal ini dikarenakan oleh diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Nah dalam peraturan tersebut dinyatakan dalam pasal 17 ayat 2 dan 3

(2) Untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan program sebagaimana  dimaksud dalam Pasal 5, mahasiswa wajib menempuh beban belajar paling sedikit:
a. 36 sks untuk program diploma satu;
b. 72 sks untuk program diploma dua;
c. 108 sks untuk program diploma tiga;
d. 144 sks untuk program diploma empat dan program sarjana;
e. 36 sks untuk program profesi;
f. 72 sks untuk program magister, magister terapan, dan spesialis satu;
dan
g. 72 sks untuk program doktor, doktor terapan, dan spesialis dua.
(3) Masa studi terpakai bagi mahasiswa dengan beban belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagai berikut:
a. 1 (satu) sampai 2 (dua) tahun untuk program diploma satu;
b. 2 (dua) sampai 3 (tiga) tahun untuk program diploma dua;
c. 3 (tiga) sampai 4 (empat) tahun untuk program diploma tiga;
d. 4 (empat) sampai 5 (lima) tahun untuk program diploma empat dan program sarjana;
e. 1 (satu) sampai 2 (dua) tahun untuk program profesi setelah menyelesaikan program sarjana atau diploma empat;
f. 1,5 (satu koma lima) sampai 4 (empat) tahun untuk program magister, program magister terapan, dan program spesialis satu setelah menyelesaikan program sarjana atau diploma empat; dan
g. paling sedikit 3 (tiga) tahun untuk program doktor, program doktor terapan, dan program spesialis dua.

Nah ramailah dunia persilatan pendidikan membahas kedua hal di atas. Kebanyakan beritanya adalah lama kuliah Master menjadi 4 tahun dan beban kuliah Doktor yang amat berat, 72 SKS. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran mereka yang akan mengambil program Pascasarjana.

Screenshot 2014-09-13 22.43.41

Nah, untunglah tak lama kemudian DIkti membuat klarifikasi dalam bentuk surat ke PTN maupun Kopertis, isinya bahwa sebagian besar jumlah SKS yang membengkak adalah untuk keperluan penelitian dan publikasi:

Untuk magister beban 72 sks sebagaian besar digunakan oleh mahasiswa untuk melaksanakan penelitian, sehingga sebagai contoh proporsinya:
– Perkuliahan : ±32 sks
– Proposal Thesis : ± 5 sks
– Penelitian dan Penulisan Thesis : ±20 sks
– Seminar : ± 5 sks
– Karya Ilmiah : ±10 sks
Berdasarkan CP pada butir 3, maka untuk Doktor 72 sks sebagian besar digunakan oleh mahasiswa untuk melaksanakan penelitian, sehingga sebagai contoh proporsinya:
– Perkuliahan : ±12 sks
– Proposal Disertasi : ± 5 sks
– Penelitian dan Penulisan Disertasi : ±30 sks
– Seminar : ± 5 sks
– Karya Ilmiah Internasional : ±20 sks

Jadi kekhawatiran bahwa kuliah S2 akan mencapai 4 tahun sudah terbantahkan. Lengkapnya silahkan baca suratnya di bawah ini. Semoga bermanfaat.

Silahkan download surat resmi dengan stempel Dikti di sini

Solusi Persoalan Beasiswa Dikti versi Mendikbud

Ada banyak hal yang terjadi hari ini.
1. Beasiswaku mencair, Alhamdulillahirobbil’alamin.
Ada masalah sih dengan jumlahnya, tapi nanti saja hal tersebut dibahas. Semoga ratusan teman-teman yang menunggu pencairan juga segera mendapat haknya, amin.

2. Diwawancarai beritasatu tv soal beasiswa dikti.
Yups langsung ketemu Pak Supriadi Rustad via skype. Wah rupanya beliau “mengenal” saya (baca: mereken kalau bahasa Jawa) dengan baik, “Abdul Hamid Kyoto” yang bermasalah dengan nama, he he. Semoga dengan kenal malah bisa berkomunikasi dengan baik ya, bukan sebaliknya. InsyaAllah maksud kita baik kok. Nanti saya akan tayangkan videonya ya.
3. Ada twit dari Pak Nuh tentang persoalan beasiswa ini. Bisa dibaca di bawah ini

Silahkan dibaca berurutan. Intinya akan dibentuk unit khusus untuk menangani beasiswa.

Ini ide yang menarik dan patut diapresiasi karena persoalan beasiswa memang tidak hanya pada beasiswa luar negeri saja, tapi juga beasiswa yang lain seperti Bidik Misi atau BPPS. Kita berharap ini diselesaikan secara permanen. Niat baik saja tidak cukup bukan? butuh cara yang baik juga.

Nah, tapi tentu saja kita berharap ini bukan memindahkan masalah dari Dikti ke unit yang baru. Karena itu butuh sistem pengelolaan yang baru, semacam BLU yang tidak terikat dengan skema pencairan yang menurut Dikti memang menghambat.

Atau gabungkan saja semua ke LPDP yang sudah establish agar dana-dana di Dikti bisa dialokasikan ke penguatan perguruan tinggi di dalam negeri, terutama pasca sarjananya?

Bagaimana menurut anda?