Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia

Posted on Updated on

Screenshot 2016-02-04 10.08.24
Menarik, untuk pertama kali Kementerian Ristek Dikti membuat pemeringkatan 3.320 (Tiga ribu tiga ratus dua puluh) perguruan tinggi di Indonesia, negeri dan swasta.
Sebagaimana ditulis di atas, ukurannya empat hal:

a. kualitas sumber daya manusia;

b. kualitas manajemen;

c. kualitas kegiatan kemahasiswaan; dan

d. kualitas penelitian dan publikasi ilmiah

Nah berdasarkan kriteria tersebut ditetapkan peringkat dan klasifikasi PT di Indonesia. Ada lima klasifikasi. Yang mengejutkan, UI ada di peringkat empat, kalah oleh ITB, UGM dan IPB.

Nah kampus saya mengajar ada di peringkat 194….

Filenya SK-nya bisa didownload di sini, pemeringkatannya di sini.

Sabbatical, Adakah Aturannya di Indonesia?

Posted on Updated on

Jangan buru-buru menuduh saya agen wahyudi atau remason ya sebelum membaca tulisan ini !

***

Salah satu alasan mengapa dosen di luar negeri bisa menghasilkan karya ilmiah berkualitas, adalah berbagai kebijakan yang serba mendukung. Penghasilan cukup, ruang kerja yang nyaman, dana riset memadai, dan akses ke pustaka mutakhir (bahkan bisa request).

Nah satu hal yang juga lazim adalah sabbatical. Sabbatical atau lengkapnya sabbatical leave adalah kebijakan cuti, meninggalkan tugas akademik dan administratif dalam satu kurun tertentu untuk kepentingan riset atau menulis karya akademik dengan tetap mendapatkan penghasilan dari intitusi tempatnya bekerja.

Seorang kawan misalnya, peneliti Islam asal Jepun selama setahun ini berada di Indonesia. Ia tinggal di Jakarta dan beberapa kota lain untuk mengumpulkan data dan menulis hasil penelitiannya terdahulu.

Nah karena cukup waktu dan dana, biasanya peneliti yang sehabis sabbatical menghasilkan riset-riset yang menarik dan berkualitas.

Seperti judul tulisan ini, apakah sabbatical leave diatur bagi dosen di Indonesia?

Ada sodara-sodara.

Silahkan simak pasal 32 PP37 tentang Dosen Screenshot 2015-11-03 10.01.40

Nah, tinggal bagaimana Dikti dan kampus tentunya membuat aturan lebih lanjut. Atau kalau sudah ada tolong beri tahu saya di kolom komentar, soalnya Sensei menawarkan menulis buku di kampus tempat saya sekolah dulu :)

 

Golongan Berapa Minimal jadi Guru Besar?

Posted on Updated on

Dahulu ada diskusi seru soal golongan kepangkatan berapa minimal untuk bisa diangkat menjadi guru besar. Beberapa orang keukeuh (baca: ngotot) bahwa ada aturan atau akan ada aturan minimal 4D. Isu itu menguat baik di percakapan online maupun offline. Namun tak ada yang bisa menunjukkan bukti aturannya.

Nah barusan saya ndak sengaja menemukan potongan SK seorang guru besar yang masih fresh, diangkat bulan Desember lalu (Nama dan asal kampusnya ditutup, privacy). Golongannya masih 3D.

gubes_FotorKenapa saya merasa penting menuliskan hal ini beserta gambar di atas.

Karena banyak tahayul di dunia pendidikan tinggi. Kadangkala tahayul inilah yang dipersepsikan sebagai aturan.

Tetap semangat ya :)

 

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 20 Januari 2016)

Posted on Updated on

Dear rekan-rekan semua, baru saja Dikti menerbitkan SK hasil akreditasi jurnal ilmiah tahun 2015 periode I dan II. Sebagaimana diketahui setiap tahun ada dua kali proses akreditasi jurnal ilmiah. Entah kenapa kali ini dumumkannya barengan, padahal hasil akreditasi periode pertama sudah ada di tanggal 21 September 2015. Biar kompak kali ye :)

Screenshot 2016-01-20 21.46.15

Nah selengkapnya, berikut daftar jurnal terakreditasi Dikti yang masih berlaku, silahkan dikoleksi ;)

Daftar Jurnal Terakreditasi Dikti Periode I Tahun 2015

Daftar Jurnal Terakreditasi Dikti  Periode II Tahun 2015

Daftar Jurnal Terakreditasi Periode II Tahun 2014 (Masa berlaku 5 tahun sejak ditetapkan)

– Daftar Jurnal Terakreditasi Periode I Tahun 2014 (masa berlaku 5 tahun sejak ditetapkan)

– Daftar Jurnal Terakreditasi Periode II Tahun 2013 (masa berlaku 5 tahun sejak ditetapkan)

– Daftar Jurnal Terakreditasi Periode I Tahun 2013 (masa berlaku 5 tahun sejak ditetapkan)

– Daftar Jurnal Terakreditasi Periode II Tahun 2012 (masa berlaku 5 tahun sejak ditetapkan)
– Daftar Jurnal Terakreditasi Periode I tahun 2012 (masa berlaku 5 tahun sejak ditetapkan)
– Daftar Jurnal Terakreditasi Periode II tahun 2011 ( masa berlaku 5 tahun sejak ditetapkan)
– Daftar Jurnal Terakreditasi Periode I tahun 2011 (masa berlaku Agustus 2011-Agustus 2016)

-Daftar Jurnal Terakreditasi 2009 – 2011 (Masa Berlaku bisa dilihat di masing-masing Jurnal)

Dari Pertemuan dengan Sensei

Posted on

Saya sempat cerita kalau beberapa waktu lalu sempat ketemu pembimbing saya sewaktu di Jepun.

Pertemuan berlangsung sekitar dua jam, sambil makan donat dan minum kopi di Bandara. Ia sekedar transit untuk malamnya terbang ke Haneda. Kami ngobrol ngalor ngidul, soal masa lalu, masa kini dan masa depan.

Sensei tak terlalu terkejut mendengar cerita-ceritaku soal dunia kampus di Indonesia. Ia lama terlibat di dunia pendidikan tinggi di Indonesia, sempat di dua kampus dan mengurusi beasiswa untuk para dosen dan birokrat juga.

Ia paham tensi politik di kampus di Indonesia seringkali tinggi sekali dan tak masuk akal.

Oh ya, ia menawarkan beberapa kegiatan kolaborasi internasional, termasuk bersedia sekali untuk menjadi pembicara tamu.

Wah senang, jalan internasionalisasi sebetulnya terbuka lebar.

Ehem sudahlah.

Tapi tampaknya tawaran paling menarik adalah kembali ke kampus di Kyoto barang beberapa bulan untuk menulis buku dan mengajar satu atau dua kelas.  Dan tentu saja untuk minum kopi di tepi sungai bebek…

bebek kamo

Kenapa Arif Kirdiat dan Kota Serang

Posted on Updated on

Kemarin, sehabis kondangan di Cilegon saya dan keluarga main ke rumah dunia. Anak-anak memang suka main ke sana, terutama Ayal yang membenamkan diri berjam-jam di istana komik.

Saya sendiri terlibat obrolan ngalor ngidul bersama beberapa orang. Salah satu topik yang dibahas mendalam adalah tentang kepemimpinan politik di Banten, terutama di Kota Serang.

Saya sendiri memang memimpikan lahirnya pemimpin yang baik di Banten. Pemimpin yang tidak lahir dari kemampuan beriklan dan politik uang. Pemimpin yang popularitasnya lahir dari kontribusi nyata di masyarakat.

Muak saja rasanya jika di belahan lain Indonesia pemimpin memamerkan kinerjanya, berlomba memamerkan prestasi, tapi begitu keluar tol kota Serang, yang kita saksikan hanya pemimpin dan calon pemimpin yang memamerkan wajahnya belaka di baliho dan spanduk.

Membaca berita soal Banten, langka menemukan berita soal prestasi, tapi melulu soal korupsi. Lha apakah tak ada yang punya potensi jadi pemimpin yang baik, keren, santun, jujur dan sederhana?

Kelemahan mereka yang selama ini getol menyuarakan perubahan di Banten, pandangan anti korupsi atau anti dinasti adalah hanya pandai berkerumun dan menggerutu. Lihat saja hasil pilkada serentak tahun lalu. Calon dari berbagai dinasti memenangkan pilkada di empat kabupaten/kota. Dinasti dicaci dan dirindu. Dicaci para aktivis, namun dirindu oleh mereka yang terlibat langsung dalam dunia politik formal, seperti partai politik.

Nah, saatnya sebetulnya para penggerutu untuk terlibat langsung dalam dunia politik, bahasa kerennya: Terlibat dalam gerakan elektoral.

Jika berharap partai politik susah, maka kenapa tidak mencoba jalur independen? Jika bertarung di level Provinsi terlalu berat (biaya, energi, peluang, dll), kenapa tidak di level kabupaten/kota saja dahulu.

Karena itulah kemudian, muncul ide mendorong Arif Kirdiat sebagai calon independen Walikota di Kota Serang.

12112428_10207790399579290_225894522483691_n

Ada tiga hal yang mesti dijawab.

Pertama, kenapa Arief Kirdiat? Saya punya jawaban sederhana, karena kita tidak bisa memaksa Ridwan Kamil atau Bu Risma maju jadi pemimpin politik di Kota Serang. Tapi kita bisa mendorong orang yang punya potensi untuk menjadi pemimpin seperti Ridwan Kamil atau Bu Risma.

arif1

Arif sudah membuktikan kontribusinya bagi masyarakat luas, tanpa anggaran negara, maka tidak salah jika mempercayakan anggaran negara dipercaya oleh orang seperti Arif.

Jika ia bisa membangun puluhan jembatan di berbagai pelosok Banten bahkan Indonesia maka saya percaya ia bisa menyelesaikan bajir di Warung Pojok dan berbagai persoalan infrastruktur lain di Kota Serang.

warjok
Sumber: https://pasangmata.detik.com/contribution/72517

Jika beberapa waktu ini masyarakat kota serang resah dengan peredaran minuman keras, maka saya percaya Arif bisa menyelesaikannya karena ia bukan peminum miras bahkan cukup keras dalam isu ini.

Belakangan Arif bahkan sukses membela karyawati muslimah di Matahari Mall of Serang untuk bisa mengenakan jilbab ketika bekerja.

Arif punya nurani dan keberanian untuk bertindak. Bukankah orang seperti itu yang kita butuhkan?

Arif selalu berkelakar bahwa ia mendukung saya untuk jadi Walikota dan dia wakilnya. Tidak, ada perbedaan besar saya dan Arif. Sebagai akademisi, ketika ada sebuah persoalan, saya lebih tertarik menuliskannya dalam paper dan mengirimkannya ke jurnal. Nah sebagai seorang Aktivis sosial, ketika ada sebuah persoalan, Arif akan menyelesaikannya sekuat tenaga.

***

Kedua, kenapa Kota Serang?

Salah satu komentar di fesbuknya Mas Gol A Gong mengharapkan Arif untuk langsung saja maju jadi Gubernur Banten. Kalau saya mah, sekalian saja jadi Presiden Republik Indonesia.

Kota Serang memadai untuk mendorong keberhasilan upaya melahirkan pemimpin yang berkualitas. Luas wilayahnya tak terlalu besar, karakternya urban, jumlah penduduknya tak terlalu besar, masyarakat melek informasi. Karakternya tak berbeda jauh seperti Kota Bandung yang dipimpin oleh Ridwan Kamil atau Surabaya yang dipimpin oleh Risma. Energi dan biaya yang dikeluarkan tak terlalu besar, berbeda jika bertarung di tingkat Provinsi.

Tapi jika berhasil, dampaknya akan besar karena Kota Serang adalah Ibukota Provinsi Banten.

Lagipula kecenderungan mutakhir dalam perkembangan politik di Indonesia, pemimpin nasional lahir dari daerah. Ini merupakan perubahan dalam proses sirkulasi elit nasional belakangan ini.

Ketika bicara calon-calon pemimpin nasional sekarang semua bicara Walikota Bandung atau Walikota Surabaya. Bukankah Presiden kita hari ini adalah bekas Walikota Solo dan hanya sekitar dua tahun menjadi Gubernur Jakarta?

Ketiga, kenapa calon independen?

Dalam pilkada serentak terakhir di Banten, beberapa calon sukses memborong partai politik. Tak ada proses rekrutmen yang cukup fair dan transparan di partai politik. Belajar dari pengalaman inilah maka mendorong calon independen adalah jalan yang masuk akal.

Hal ini juga bisa jadi upaya untuk melihat seberapa kuat partisipasi masyarakat mendukung Arif Kirdiat dalam bentuk mengumpulkan KTPnya.

Bagaimana menurut anda?

Atau kita menjadi penggerutu saja?

Kabar-kabar

Posted on Updated on

Dua hari ini, ada banyak pertemuan dan kabar-kabar yang berdatangan.

Pertemuan tentu saja saya dengan seorang sahabat di kampus UI Depok. Kami berbincang tentang banyak hal, utamanya masa depan, termasuk beberapa rencana riset bareng.

Setelah itu banyak kabar, ada duka cita dan suka cita. Tapi saya mau membagi yang lain, perbincangan dengan sahabat.

Seorang sahabat yang lama banget tak ketemu tiba-tiba minta izin menelpon via WA. Ia doktor alumni Harvard University dan masih berada di luar negeri, ingin berbincang tentang karier di dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Kami berbincang riang dan dalam. Maklum lama tak bertukar kabar pula.

Ternyata kami punya keprihatinan yang sama. Terlalu banyak urusan administratif dan politik di kampus-kampus di Indonesia. Dosen masih berurusan dengan persoalan-persoalan mendasar dan memang mengabaikan riset yang serius. Tentu saja ada banyak skema riset, namun pengalaman beberapa kawan, terlalu banyak kekangan administratif. Lha bagaimana, di ruang dosen sebuah universitas saya menyaksikan seorang dosen sibuk menulisi kwitansi banyak sekali dengan tandatangan berbeda-beda, entah untuk pembayaran apa. Ketika ditanya, jawabnya singkat: laporan hasil penelitian.

Di Malaysia, seorang kawan yang dosen senior memiliki anggaran riset yang membuatnya mampu “menggaji” dua atau tiga mahasiswa S3 bimbingannya sebagai bagian dari tim riset alias Research Assistant (RA). Ia bisa fokus ke substansi karena persoalan administrasi bisa dibantu para RA.

Di Indonesia, banyak kisah dosen-dosen berebut jabatan struktural, ada yang menikam kawannya, kasak-kusuk, jegal sana-sini, cakar-cakaran dan sebagainya. Tentu saja yang dicari adalah tunjangan untuk bayar cicilan mobil, pinjaman bank atau membiayai gaya hidup. Ide atau kontribusi? Nanti dulu, yang penting bisa berkonco.

Satu semester sekembali dari Jepun, produktivitas saya semakin menurun. Rutinitas membunuh kreativitas. Ditambah pula terlalu banyak diskusi dan pembicaraan yang tak mencerahkan. Diskusi melulu soal jabatan, uang dan proyek. Capek deh

Kembali ke kawan saya yang alumni Harvard, saya mengingatkan beliau untuk membaca beberapa kisah beberapa orang besar di dunia ilmu pengetahuan yang pada akhirnya memilih tinggal dan berkarya di luar karena terabaikan di negeri sendiri.

Sebagai penutup diskusi, saya sampaikan sebuah “peringatan dini”: orang besar dengan pemikiran besar ketika “pulang” jangan terlalu berharap dihargai layak sesuai dengan ilmu, jaringan, karya akademik, dan sebagainya. Justru bisa jadi ia dibuang, ditikam, dicakar, ditendang, dibunuh dan disia-siakan karena dianggap sebagai ancaman.

Mau bukti?

 

Curug Gendang

Posted on Updated on

Ah, ini mah mau nostalgia saja.

Semasa muda, baik SMP maupun SMA, saya banyak menghabiskan waktu di sini, ketika kegiatan Pramuka.

Maka ketika beberapa waktu lalu tetiba sampai ke carita dan ternyata pantainya (perhutani) tak seindah gerbangnya, diputuskanlah untuk nsik ke curug gendang. Jadilah hiking pagi-pagi, naik dan turun total delapan kilometer.

Masalahnya memang bawa anak2 kecil. Ternyata mereka bukan masalah, melaju tak henti walaupun medannya nggak gampang. Tapi lumayan, terhibur sama monyet dan alam yang indah.

1935125_10153905775499015_6770255136338917733_n

Bonusnya tentu saja berenang di curug gendang.

2015-12-25 09.56.34

Hmm kayaknya hiking bisa jadi alternatif liburan yang keren dan sehat :)

Saya, Apa dan Kekuasaan

Posted on Updated on

Salah satu ajaran almarhum Apa (panggilan untuk Bapak saya) adalah soal bagaimana memaknai jabatan atau kekuasaan.

Sewaktu masih hidup, selepas subuh berjamaah kami sering berbincang. Saya dipanggil dan Apa biasanya mulai mengajak diskusi. Sebetulnya lebih ke arah monolog, beliau menyampaikan berbagai hal yang ada dalam pikirannya.  Saya sendiri lebih banyak mendengarkan sambil terkantuk-kantuk.

Saya tak banyak merekam apa yang disampaikan. Ya pembicaraan kami ngalor ngidul soal politik, pendidikan, kehidupan sosial dan sebagainya.

Namun saya memang lebih banyak belajar dari sikap-sikap Apa dalam kehidupan sehari-hari, terlepas ada beberapa hal yang saya tak setujui.

Sekilas Apa memang keras, mamah bercerita bahwa Apa mempertahankan tanah yang sekarang kami tempati dengan menenteng-nenteng golok. Kalau tidak mungkin dikerjai penjual tanah, dipindah ke kapling yang lain.

Nah, soal beragama Apa juga keras. Ia mewajibkan kami untuk sholat berjamaah lima waktu, baik di rumah maupun mushola. Ada masa-masa, Apa selalu sholat subuh bersama kami di mushola dekat rumah. Biasanya Apa dipersilahkan menjadi Imam dan mengimami tanpa doa qunut. Belakangan ada seorang makmum yang selalu melakukan sujud sahwi ketika diimami oleh Apa.

Apa mengalah dan tak mau berkonflik, semenjak menyadari itu Ia memilih menjadi Imam subuh bagi keluarganya di mushola kecil kami di rumah.

Nah, bagaimana dengan kekuasaan?

Apa orang yang cenderung menghindari kekuasaan. Mamah bercerita bahwa Apa sebetulnya ditugaskan ke Kantor Departemen Agama di Bogor. Namun ia tak tahan dengan budaya Depag yang tak sesuai idealismenya dan memilih kembali menjadi guru di PGAN Cihideung Pandeglang. Alasan lainnya karena dikejar-kejar janda cantik di Bogor. Sementara Mamah memang mengajar di SMEP Pandeglang.

Apa memang akhirnya menjauh dari urusan kekuasaan. Ia memilih menyibukkan diri (hanya) mengajar dan berkebun.

Ini banyak membentuk sikap saya belakangan ini. Entah kenapa kekuasaan tidak banyak menarik hati saya. Jika dulu sewaktu muda semangat mengejar kekuasaan atas nama perubahan, sekarang saya lebih dingin menyaksikan kucing-kucing lapar berebut tulang. Menyaksikan mereka cakar-cakaran tak lagi membuat marah, tapi sedih. Bahkan ketika saya yang kena cakar.

 

 

 

 

Sensei dan Pembimbing

Posted on Updated on

Besok Sensei mengajak bertemu. Ia akan transit di Cengkareng sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepun.

Sensei tetaplah Sensei walaupun saya bukan lagi mahasiswa bimbingannya lagi semenjak lulus tahun lalu.

***

Saya menulis topik ini karena mendapatkan beberapa curhat dari beberapa mahasiswa paskasarjana di Indonesia. Ya, entah kenapa persoalan mereka sama: kesulitan bertemu pembimbing sekaligus mendapatkan bimbingan.

Dosen Indonesia yang sulit ditemukan stand by di kampus membuat mahasiswa sulit menemukannya. Seorang kawan sengaja membangun hubungan khusus dengan satpam kampus untuk mendapatkan informasi tercepat dan terakurat kapan sang pembimbing ada di kampus.

Kolega lain kesulitan mengatur jadwal sidang data karena dialah (dan bukan sekretariat) paska yang mengatur jadwal sidang. Bayangkan mengatur lima atau enam orang sibuk untuk berkumpul dalam posisi relasi kuasa yang lemah. Ujungnya bisa keluar dana untuk membelikan tiket si penguji atau pembimbing.

Karena itulah lama-kelamaan saya memahami kenapa mahasiswa paskasarjana yang pejabat (bupati, anggota dpr, walikota, dsb) bisa lulus cepat dari mahasiswa biasa. Mereka lebih mampu memfasilitasi pembimbing dan penguji.

Tentu saja butuh data yang lebih serius mengupas persoalan ini.

Kembali ke Sensei.

Hubungan mahasiswa dan pembimbing (Sensei) di Jepun seperti anak dan orangtua.

Ini bisa positif atau negatif.

Positifnya, Sensei membantu urusan mahasiswanya di aspek akademik maupun non akademik. Bagi saya  misalnya, Ia membantu urusan sekolan anak, membantu kesulitan finansial (bukan sebaliknya), dan lain-lain.

Ia mengundang kami para mahasiswanya untuk makan bersama dan kadang memberi otoshidama (angpau) untuk anak-anak saya :)

Soal bimbingan, Sensei mengatur ritme sesuai rencana studi kami. Kami mahasiswanya diminta mengajukan daftar buku yang dibutuhkan yang kemudian ia belikan dengan anggarannya sebagai dosen. Saya yang memang ingin lulus tepat waktu mendapat treatmen khusus dan bimbingan intensif. Disertasi dibahas ketat, kalimat perkalimat.

sensei.jpg

Maka ketika ada pesta zemi (istilah sekelompok yang diimbing Sensei) di rumah Sensei, saya dan Sensei malah diskusi intens di lantai dua.

Ada juga negatifnya, mahasiswa sulit mengatakan tidak kepada Sensei. Ini seperti tabu. Jangan pernah melawan Sensei. Ada beberapa kasus kegagalan akademik yang timbul dari pertentangan antara mahasiswa dan Sensei.

***

Saya sendiri lulus tepat waktu dan mendapat hadiah istimewa setelah wisuda. Sebuah pena made in Japan dan sebutir melon yang enak sekali.

Ngapain di 2015, Mau Ngapain di 2016

Posted on Updated on

Saya gagal mencari refleksi 2014 dan proyeksi 2015 di blog ini. Duh, padahal itu rutinitas yang semestinya terjaga. Bukan untuk sombong atau riya, tapi untuk mendokumentasikan apa yang dilakukan dan terjadi dalam hidup serta berencana lebih baik.

Tahun ini saya menulisnya terlambat, baru di hari ini.

Baiklah, saya akan memulai, sudah ngapain saja di 2015?

Tahun 2015 adalah tahun penentuan dalam hidup. Saya menargetkan bisa pulang ke tanah air bersama keluarga, membawa serta ijazah doktor. Alhamdulillah tercapai. Akhir Oktober saya diwisuda dan menjadi murid Sensei pertama yang meraih gelar Doktor. Semoga senior2 saya segera menyusul.

wpid-received_10153138227817078.jpeg

2015 juga tahun penting bagi anak-anak, pulang ke Indonesia setelah beberapa lama menjadi urang Kyoto. Alhamdulillah, anak-anak bisa bersekolah di SDIT Al Fityan yang bagusnya melebihi ekspektasi saya. Ke Sekolah bisa bersepeda baik berangkat maupun pulang, mempertahankan kemandirian yang sudah beberapa tahun dibangun.

Screen Shot 2016-01-05 at 11.17.40 AM

Kami menyebut ini masa transisi yang berat untuk semua anggota keluarga. Karena itulah saya tidak pergi ke ruang publik dan lebih banyak bersama keluarga. Senang rasanya mengetahui anak2 punya teman, Ilham lancar membaca dan Ayu ikut pramuka.

Oh ya ngomong2 kemandirian, pulang dari Jepun juga berarti hidup mandiri di Karawaci di rumah kontrakan karena rumah kami masih dikontrak. Mbulet kan?

Ibun juga sudah kembali ke kantornya, begitu juga saya. Karawaci adalah jalan tengah, sama2 jauh baik ke kantor Ibun maupun ke Untirta, tempat saya mengajar :)

Target berolahrga rutin memang belum tercapai, tapi berat badan saya menurun drastis. Entah kenapa kurang doyan makan. Jadilah akhir 2015 saya mencapai berat badan terendah selama tujuh tahun terakhir. Baju-baju dan celana lama terpakai kembali.

Blog ini juga mencapai reputasi yang baik dan stabil. Pengunjung tahun 2015 sebesar 284,806 orang dengan views 464,839, rata2 lebih seribu orang views perhari. Lumayan banget. Thanks sudah berkunjung :)

Screen Shot 2016-01-05 at 11.00.57 AM

Namun di tahun 2015 ini ada juga beberapa kegagalan. Pertama, saya gagal berolahraga rutin. Ada keinginan berlatih silat atau Thaiboxing yang belum terwujud karena satu dan lain hal. Semoga segera terealisasi.

Kedua, secara akademik saya tidak produktif. Keberhasilan di 2015 (lulus, dapat reward dan sebagainya) adalah buah dari produktivitas di tahun sebelumnya, 2014. 2015 ini tak ada karya akademik baik paper maupun buku. Harus segera bangkit kalau ndak akan semakin terbenam dan malu.

Nah mau ngapain di 2016?

Ada beberapa rencana sederhana.

Pertama, Kembali produktif. Ya harus dimulai, kembali ke riset dan menulis. Harus ada publikasi di jurnal nasional dan internasional. Pun rencana menulis buku harus dituntaskan.

Ketiga, olahraga rutin. Tubuh yang menua membutuhkan olahraga. Saya ndak mau berakhir tragis di usia muda.

Keempat, nah ini agak2 keduniawian. Bagaimanapun renovasi rumah tinggal harus dilakukan. Ilham dan Ayu sudah butuh kamar sendiri2. Bismillah, semoga ada rejeki.

kelima, kembali ke ruang publik. Anak2 sudah mandiri, saatnya saya pelan2 kembali ke ruang publik. Ada peran-peran keummatan yang harus dijalankan. Tentu setelah bertapa sekian tahun, tak mudah kembali ke dunia persilatan.

Lha bagaimana soal jabatan?

Bagi saya jabatan itu amanah yang harus dilakukan sungguh dan akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sesuatu yang harus dikejar mati2an. Jadi tak termasuk rencana hidup yang harus dituliskan :)

Salam.

Mengenang Pak Ben

Posted on Updated on

Pak Ben adalah salah seorang raksasa ilmu sosial terkemuka. Bukunya, “Imagined Community”, menjadi rujukan terpenting ketika bicara negara bangsa atau nasionalisme. Ia mencintai Indonesia, dan meninggal di Indonesia.

Kabar meninggalnya beliau kemarin pagi sungguh mengejutkan. Bagaimana tidak, beberapa waktu lalu ia masih sempat bicara di FIB UI. Sayang saya tak bisa hadir.

Saya sendiri memiliki kenangan khusus tentang Pak Ben.

Sekira dua tahun yang lalu, 17 Desember 2013 – saya diajak oleh beberapa kawan untuk jalan bareng Pak Ben. Ia datang ke Jepang untuk menerima sebuah penghargaan. Pak Ben memang memiliki hubungan baik dengan para ahli asia tenggara di Kyoto. Beberapa adalah teman dan juga muridnya di Cornell.

Saat berkenalan, saya diperkenalkan sebagai salah satu penulis Jawara in Power di majalah Indonesia. Sejak itu sepanjang jalan ia memanggilku jawara.

Ia nampak sepuh karena memakai tongkat, namun amat bersemangat. Kami berjalan berkeliling kawasan Korea town, dan mampir di sebuah Onsen untuk mandi air panas. Setelah makan siang kami juga berkeliling di kawasan red-light district yang mirip banget sama kawasan dolly, dan makan malam di restoran Hyaku Pakku, salah satu bangunan tua bekas rumah prostitusi terkenal. (Kelakuan ilmuwan sosial ya, jalan-jalannya ke tempat beginian)

Dalam berbincang, tak ada kesan snob, besar kepala, sombong, atau merasa hebat. Ben nampak santai, menikmati segala aktivitas dan lebih banyak mengobrol ringan. Saya yang anak kemaren sore lebih banyak mengamati obrolan mereka-mereka yang sudah saling kenal.

Ndilalah, Ben menyapa akrab dalam bahasa Indonesia pula: “Sudah lama kuliah?”

Aku menjawab: “Baru setahun Pak Ben” (deg-degan takut ditanya macem-macem yag sulit-sulit)

Ben bertanya sambil tersenyum “Pusing ya kuliah”

Aku menjawab “He he, iya musti banyak baca”

Dia lantas tertawa kecil dan berkata “He he, iya lah, kuliah memang harus pusing, itu namanya belajar”

Percakapannya berlanjut dengan cerita Pak Ben bahwa ia juga masih kerapkali datang ke Indonesia, mengunjungi beberapa tempat tertentu.

Waaa, senang sekali. Bicara dengan orang besar dalam ilmu pengetahuan dengan akrab, tanpa harus mengernyitkan kening dan merasa terintimidasi.

Screen Shot 2013-11-29 at 9.51.44 AM

***

Saya sungguh jarang minta potret bersama tokoh. Namun malam itu saya minta foto berdua bareng Pak Ben. Saya belajar tentang kerendah hatian.

Selamat jalan Pak Ben.